Home / Tarbiyah / Penyebab Anak Durhaka kepada Orang Tua

Penyebab Anak Durhaka kepada Orang Tua

Musibah terbesar bagi orang tua adalah anak yang durhaka. Jika itu terjadi, jangan langsung menyalahkan anak-anak. Sebab, bisa jadi kesalahan terjadi pada diri ke dua orang tua itu sendiri. Ada banyak faktor yang menyebabkan timbulnya perilaku durhaka anak kepada orang tua. Semoga para ayah menghindarinya sehingga anak-anak tidak durhaka kepada kedua orang tua.

Di antara penyebabnya adalah sebagai berikut:

  1. Tidak Mendidik Anak-Anak Secara Islami

Tidak mungkin anak-anak akan menghormati dan berbakti bakti kepada kedua orang tua mereka, jika tidak dididik dengan baik, bahkan tidak mungkin anak-anak mendoakan mereka.

Allah  l  berfirman tentang doa kepada kedua orang tua:

وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيْرًا

“Dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” (QS. Al-Isra`: 24)

Pertanyaannya apabila para orang tua tidak pernah mengajarkan akhlak dan perilaku islami kepada anak-anak mereka pada masa kecil, lalu bagaimana mungkin anak-anak mereka akan mendoakan orang tuanya ketika besar nanti?

Nabi n sangat memperhatikan hal itu, sebagaimana yang diriwayatkan dari Ayub bin Musa, dari bapaknya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah  n  bersabda:

مَا نَحَلَ وَالِدٌ وَلَدًا مِنْ نَحْلٍ أَفْضَلَ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ

“Tidak ada pemberian orang tua kepada anaknya yang lebih baik dari pada akhlak yang baik.” (HR. At-Tirmidzi)

  1. Konflik Suami Istri

Pertengkaran dalam rumah tangga, hampir pernah terjadi dalam semua keluarga. Tak terkecuali keluarga yang anggotanya orang baik sekalipun.  Dulu keluarga Ali bin Abi Thalib  dan Fatimah c  juga pernah mengalami semacam ini. Dari Sahl bin Sa’d t  beliau menceritakan, “Rasulullah n  mendatangi rumah Fatimah x , dan beliau tidak melihat Ali t  di rumah. Spontan beliau bertanya: “Di mana anak pamanmu?” “Tadi ada masalah dengan saya, terus dia marah kepadaku, lalu keluar. Siang ini dia tidak  tidur di sampingku.” Kemudian Rasulullah n  bertanya kepada para sahabat tentang keberadaan Ali. “Ya Rasulullah, dia di masjid, sedang tidur.” Datanglah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ke masjid, dan ketika itu Ali sedang tidur, sementara baju atasannya jatuh di sampingnya, dan dia terkena debu. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap debu itu, sambil mengatakan:

قُمْ أَبَا تُرَابٍ، قُمْ أَبَا تُرَابٍ

“Bangun, wahai Abu Thurab… bangun, wahai Abu Thurab…” (HR. Bukhari 441 dan Muslim 2409)

Tentu tidak ada apa-apanya ketika keluarga kita dibandingkan dengan keluarga Ali dan Fatimah radhiyallahu ‘anhuma. Meskipun demikian, pertengkaranpun kadang terjadi di antara mereka.

Lalu apa yang membedakan konflik keluarga baik dengan yang tidak baik? Bedanya konflik dalam keluarga muslim yang baik selalu dikelola dengan syariat, sementara keluarga yang buruk konflik terus berlarut-larut tanpa kontrol dan melampaui batas.  Konflik model inilah yang akhirnya menjatuhkan wibawa orang tua di mata anak.

Secara fisik, bapak mempunyai fisik yang kuat, dan anak-anak takut jika ia memukul mereka. Hal nilah yang membuat anak sering kali anak menahan diri melawan ayah. Meski demikian ada dendam kesumat yang membara dalam diri mereka terhadap sang ayah. Berbeda dengan  dengan ibu, karena ia bersikap lembut dan sayang terhadap anak-anak, sehingga anak-anak lebih berani untuk menentang, dan tidak berbakti kepadanya, serta mengeraskan suara di hadapan ibunya. Yang lebih memprihatinkan  kadang kala dalam keadaan keluarga yang dipenuhi pertengkaran antara bapak dan ibu,  seorang bapak menyuruh anak-anak untuk menentang dan durhaka kepada ibunya. Na’udzubillah min dzalik.

Oleh karena itu agar konflik tidak berimplikasi negativ pada anak maka ada beberapa hal yang harus dihindari. Pertama hindari KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga). Yang juga tak kalah penting adalah jangan menampakkan konflik suami istri di hadapan anak, agar wibawa orang tua tak jatuh di hadapan mereka.

  1. Teman dan Lingkungan Buruk

Sungguh, teman yang berakhlak buruk mempunyai dampak  yang sangat besar dalam menjadikan anak berakhlak buruk serta durhaka kepada kedua orang tua. Sebab, seseorang itu akan selalu meniru sikap temannya. Sebagaimana diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah , bahwa Rasulullah n  bersabda:

اَلرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang itu tergantung dengan kebiasaan  temannya, maka hendaklah setiap kalian melihat siapa temannya.” (HR. At-Tirmidzi, ia mengatakan, “Hadits ini hasan gharib”)

Alangkah baiknya bila pasangan suami istri memperhatikan dan mengecek dahulu lingkungan sekitar rumah yang akan mereka tempati. Jangan terburu-buru memutuskan tinggal di sebuah lokasi sebelum mempertimbangkan plus dan minus lingkungan tersebut. Orang Arab  mengatakan:

لتَمِسُوا الجارَ قَبْلَ الدَّارِ

“Carilah tetangga sebelum mencari rumah”

  1. Menuruti Istri Secara Membabi Buta

Tak diragukan lagi bahwa hak-hak istri adalah kewajiban suami yang harus ditunaikan. Namun seorang  istri bukanlah penghalang seorang suami untuk berbakti kepada orang tuanya, terutama sang ibu. Bahkan mestinya seorang istri harus menjadi pendorong  bagi suami untuk lebih berbakti kepada orang tua. Solusi terbaik dalam hal ini adalah bersikap seimbang dan proporsional. Jangan sampai pula orang tua dengan alasan berbakti kemudian terlalu mencampuri keluarga anak

  1. Terlalu Memanjakan Anak-anak.

Hal ini bisa menjadi salah satu sebab anak durhaka kepada kedua orang tua. Orang yang bijaksana tentu tidak akan mendidik anak dengan memanjakannya. Akan tetapi akan mendidik dengan tegas, diiringi kelembutan dan kasih sayang sesuai dengan batasnya.

  1. Ada Hak-hak Psikologis Anak yang Terabaikan

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

أَنَّ الْأَقْرَعَ بْنَ حَابِسٍ أَبْصَرَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُ الْحَسَنَ فَقَالَ إِنَّ لِي عَشْرَةً مِنْ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ وَاحِدًا مِنْهُمْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (( إِنَّهُ مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ)) (رواه مسلم)

Bahwa Aqra’ bin Habis pernah melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang mencium Hasan. Dia (Aqra’ bin Habis) lalu berkata, “Sesungguhnya aku mempunyai sepuluh orang anak namun aku tidak pernah mencium satu pun dari mereka. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya barang siapa yang tidak menyayangi maka dia tidak akan disayangi.” (HR.Muslim)

Faktor utama adalah jika kedua orang tua selalu bertengkar, atau terlalu sibuk sehingga jarang sekali bertemu dengan anak-anak. Bapak sibuk bekerja mencari penghidupan duniawi hingga jarang memberikan sentuhan kasih sayang pada sang buah hati.  Atau ibu menjadi wanita karir. Jika demikian halnya, tentu anak tidak akan menghormati kedua orang tuanya kelak, tidak akan dididik dengan akhlak yang baik, dan tidak mengetahui hak-hak kedua orang tuanya.

Semoga kita menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak kita, dan menjadi anak-anak yang berbakti kepada orang tua kita. Aamiin.

 

 

Baca Juga

Tarbiyah Ramadhan Untuk Sang Buah Hati

Ramadhan tahun ini baru saja dimulai. Kehadirannya  yang  di nanti  umat muslim selalu membawa banyak ...

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami