Home / Renungan / Jangan Mengucapkan Selamat

Jangan Mengucapkan Selamat

Iman mengarahkan kekuatan untuk mencintai apa yang Allah cintai serta membenci apa yang dibenci oleh Allah. Itulah buah manis yang tumbuh dari pohon keimanan seorang hamba beriman. Sesungguhnya Allah adalah dzat yang paling layak diburu keridhoan-Nya. Maka hendaknya kita senantiasa memenuhi segala hal yang Allah ridhoi dan membenci apa yang Allah benci supaya cinta-cinta kita kepada-Nya adalah cinta murni bukan cinta palsu ataupun imitasi. Karena apabila cinta hamba kepada Rabb-nya palsu, maka ia tidak mempedulikan Rabb-nya atas apa yang Allah ridhoi ataupun yang Allah benci. Ia cuek dan lebih memperhatikan makhluq dari -Nya. Rabb kita berfirman:

“Hampir saja langit pecah dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh (karena ucapan itu) karena mereka menganggap Allah Yang Maha Pengasih mempunyai anak”. (QS Maryam: 90-91)

Tidak bisa dibayangkan betapa dahsyatnya murka Allah karena menuduh Allah mempunyai keturunan. Dan hal itu merupakan tuduhan yang sangat keji kepada Ar Rahman.

Dari Abu Musa Al Asy’ari RA, Rasulullah SAW bersabda:

مَا أَحَدٌ أَصْبَرُ عَلَى أَذًى سَمِعَهُ مِنَ اللَّهِ ، يَدَّعُونَ لَهُ الْوَلَدَ ، ثُمَّ يُعَافِيهِمْ وَيَرْزُقُهُمْ

“Tidak ada yang bersabar dari satu tuduhan menyakitkan kecuali Allah, menuduhnya memiliki anak tetapi Allah tetap mencukupi (kebutuhan) mereka dan memberikan rizqi kepada mereka.” ( HR. Bukhari no. 7378)

Ketika Allah menerangkan betapa bencinya Allah kepada orang yang menuduh-Nya bahwa Dia memiliki anak, lalu apakah kita selaku hamba-Nya rela berucap dengan yang Dia benci? Padahal telah sempurna segala kenikmatan hidup kita dari Allah, hanya karena sungkan dan segan kepada makhluq? Lalu kita mengucapkan ringan “selamat natal”?

Logika sederhananya ialah bahwa apabila ada yang menuduh ibu kita berzina dan memiliki anak dari zina, lalu apakah kita akan mengucapkan selamat kepada orang yang telah menuduh ibu kita berzina?

Janganlah kita mengira hal ini remeh, bisa jadi menurut kita remeh tetapi ternyata besar di sisi Allah. Allah berfirman:

إِذۡ تَلَقَّوۡنَهُۥ بِأَلۡسِنَتِكُمۡ وَتَقُولُونَ بِأَفۡوَاهِكُم مَّا لَيۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٞ وَتَحۡسَبُونَهُۥ هَيِّنٗا وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٞ ١٥

 “(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.” ( QS. An Nuur: 15)

Ingatlah berapa banyak terkadang manusia mengucapkan hal yang ia sangka remeh tapi ia dicampaikan ke neraka. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا ، يَزِلُّ بِهَا فِى النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ الْمَشْرِقِ

“Sesungguhnya ada hamba yang mengucapkan satu kalimat tertentu, yang tidak dia pikirkan akibatnya, namun menyebabkan dia tergelincir ke dalam neraka, yang dalamnya sejauh timur dan barat.” (HR. Ahmad 9157 & Bukhari 6477)

Berbuat baiklah kepada mereka, orang nashrani, selama mereka tidak memusuhi Allah dan Rasul, supaya mereka memahami kebaikan Islam. Tapi berbuat baik tetap memiliki batasan yang harus diperhatikan, yaitu tidak melanggar aturan agama.

Ya Allah jagalah lisan kami dari semua perkara yang Engkau benci dan Engkau tidak ridhoi. Barokallah fikum. La tansana min duaikum.

Oleh: Ust. Oemar Mita, Lc

Baca Juga

Mata, Pintu Masuk Kemaksiatan

Taqdim           Setan adalah musuh yang nyata bagi manusia. Musuh yang selalu berupaya untuk menyesatkan manusia ...

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami