Home / Tarbiyah / Menanamkan Sikap Bela Islam Kepada Anak Sejak Dini

Menanamkan Sikap Bela Islam Kepada Anak Sejak Dini

Salah satu pilar pendidikan aqidah kepada anak adalah menanamkan kecintaan pada Islam dan rela berkorban demi Islam. Sebab hal ini menununjukkan komitmen keislamaan seseorang.  Semakin tinggi tingkat pengorbanan semakin tinggi pula tingkat komitmen seseorang terhadap Islam.  Inilah teladan yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabat radhiyallahu ‘anhum serta generasi Salafus Shalih lainnya.  Berikut beberapa contoh kongkret yang terjadi pada masa salaf’

  1. Ibu-ibu Memotivasi Putranya Untuk Berjihad

Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Asy-Sya’bi bahwa ada seorang ibu memberikan sebilah pedang kepada putranya agar ikut dalam  perang uhud, padahal ia masih kecil. Sang ibu melatih tangannya agar kuat membawanya. Sesudah itu ia membawanya ke hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Ya Rasulullah ini anakku akan ikut berperang”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “ Nak, bawa pedang itu ke sini’. Beliau ucapkan kata-kata ini dua kali. Kemudian beliau berkata lagi: “Wahai anakku barangkali kau merasa takut?” Anak itu menjawab: “ Tidak sama sekali ya Rasulullah”.

  1. Ibu-Ibu Merasa Senang Dengan Kesyahidan Anak Mereka.

Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Haritsah bin Rabi’ radhiyallahu ‘anhu ikut perang Badar, padahal ketika itu ia masih kecil. Kemudian sebatang panah mengenai tubuhnya yang menyebabkannya meniggal dunia.  Ibunya kemudian menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Ya Rasulullah aku telah mendengar tentang kesyahidan anakku. Maka apabila anakku termasuk ahli surga aku akan bersabar. Namun jika tidak Allah maha melihat apa yang aku perbuat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda: “Wahai ummu Haritsah, dia tidak di satu surga saja tetapi dia berada di surga yang paling tinggi.”

  1. Bapak-Bapak Menyertakan Anak-Anak Mereka Ke Medan Perang

Imam Bukhari rahimahullah  meriwayatkan dari Urwah bin Zubair radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata: “Adalah Zubair bin  Awwam radhiyallahu ‘anhu menyertakan Abdullah bin Zubair radhiyallahu ‘anhu dalam perang Yarmuk. Zubair membawanya di atas kuda dan kemudian menitipkannya kepada seseorang. Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah dalam Tahdzib Al-Atsar (1/94) meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Zubair radhiyallahu ‘anhu bahwa dia berkata: “Aku dan Umar bin Salamah radhiyallahu ‘anhu berada di atas kuda perang pada perang khandaq.  Aku mengangguk-angguk lalu aku memperlihatkan berkecamuknya perang. Maka aku melihat  ayahku berjalan di atas tanah berlumpur maju mundur untuk menyerang musuh”.

  1. Menangis dan Sembunyi-sembunyi hingga Diizinkan Berjihad

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Sa’id bin Abi Waqqas radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata: “Rasulullah pernah melarang Umair bin Abi Waqqas radhiyallahu ‘anhu untuk ikut perang Badar dan menganggapnya terlalu kecil. Makai ia pun menangis hingga diizinkan ikut”. Beliau juga berkata: “Akulah yang membantunya menyarungkan pedang. Aku saat itu ikut berperang padahal di wajahku baru tumbuh dua rambut yang aku usap dengan tanganku.” (Kanzul Umal 5/270)

Di era kontemporer ini anak-anak kita menghadapi pendangkalan aqidah dan penyimpangan  akhlak yang luar biasa. Di antara cara yang paling efektif dalam menjaga mereka adalah dengan menanamkan loyalitas dan pengorbanan kepada dinul Islam.  Bagaimana kita tanamkan cinta Islam sejak dini dalam konteks kekinian? Berikut hal-hal yang seyogyanya  kita perhatikan:

  1. Tanamkan Tauhid Sejak Dini

Menanamkan tauhid sejak dini bisa dilakukan dengan menananmkan bahwa Allah subhanahu wata’ala lah satu-satunya Ilah yang berhak diibadahi dan ditaati. Contoh sederhana yang bisa kita praktekkan adalah membiasakan anak untuk selalu taat dan takut melanggar aturan Allah.  Ada satu kisah yang cukup masyhur yang bisa kita contoh. Satu saat  Umar bin Khattab  sedang melakukan inspeksi terhadap rakyatnya pada malam hari, beliau dapati dialog seorang gadis dengan ibunya yang berjualan susu. Sang ibu berkata pada sang anak: “Nak bagaimana kalau kita campur susu ini dengan air?” Sang anak menjawab: “Jangan, nanti Amirul Mukminin tahu”. Sang ibu berkata lagi: “Ah, Amirul Mukminin tak akan tahu”. Sang anak berkata lagi: “Kalau Amirul Mukminin tak tahu maka Allah pasti tahu”.

Tanamkan pula pada anak agar selalu mengukur semua aktivitasnya dengan ridho Allah.

وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Dan keridaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar ”. (QS At-Taubah: 72)

Biasakan  berkata kepada anak saat melarang sesuatu yang tidak baik: “Nak, Allah nggak ridho dengan yang seperti ini”. Atau: “Nak, lakukanlah Allah ridho dengan yang seperti itu”. Jangan biasakan anak dengan motivasi-motivasi yang bersifat duniawi, meski sesekali juga perlu.

  1. Jangan Biarakan Anak-Anak Terwarnai Oleh Virus Yang Merusak Aqidah

Hari ini tidak saja serangan fisik yang dilancarkan kepada anak-anak kita, lebih dari itu adalah perang budaya dan identitas . Oleh karena itu semenjak dini para orang tua harus membiasakan  anak-anak untuk menghindari segala bentuk peniruan membabi buta terhadap budaya orang-orang kafir sebagai bentuk pelaksanaan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia adalah bagian dari mereka.” (HR Abu Dawud). Tanamkan dalam diri kita dan keluarga kita bahwa kita ini mulia karena kita Islam. Tanamkan dalam diri anak kita bahwa syirik dan musyrik adalah puncak kehinaan di dunia dan akhirat.

Kita bisa memulai dari hal-hal yang kecil seperti bagaimana kita memilihkan pakaian untuk anak kita. Hindari pakian anak-anak yang mengandung gambar-gambar tokoh-tokoh kartun fiktif yang justru merusak akidah dan akhlak semacam Doraemon ataupun yang lainnya.  Jangan anggap sepele persoalan ini, sebab hal ini sadar atau tak sadar akan membentuk karakter  dan gaya hidup anak kita.

Termasuk juga yang sangat penting adalah memilihkan tontonan buat anak kita. Sangat disayangkan di era keterbukaan dan kecanggihan tekologi informasi ini justru banyak orang tua yang larut. Anak-anak dibiarkan bebas mengakses dunia maya tanpa ada kontrol ketat dari orang tua. Bahkan tak jarang anak-anak usia SD sudah mendapatkan fasilitas smartphone yang canggih  berikut kuota internetnya, padahal sebenarnya belum membutuhkannya

  1. Biasakan Mereka Untuk Ikut Merasakan Penderitaan Kaum Muslimin

Dunia Islam hari ini tengah terluka dengan luka yang belum ada yang dapat menyembuhkannya secara tuntas, bahkan luka itu kian menganga dalam. Palestina, Rohingya, Iraq dan Suriah adalah contoh paling kongkrit dan kasat mata. Kasus yang terbaru dan menjadi tranding topic internasional adalah pengepungan dan bombardir kota Aleppo oleh koalisi rezim Asad, Iran dan Rusia. Hal ini ditambah dengan minimnya dukungan dari Arab sunni dan kaum Muslimin. Dalam hal ini loyalitas dan pembelaan kita kepada Islam dan kaum Muslimin dipertaruhkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ لَمْ يَهْتَمّ بِأَمْرِ المُسْلِمِيَن فَلَيسَ مِنْهُمْ

“Siapa yang tak peduli dengan urusan kaum muslimin maka ia bukan bagian dari mereka.” (HR Thabrani)

Anak-anak semenjak kecil harus kita tanamkan sikap peduli dan ikut merasakan beban penderitaan kaum muslimin. Ada banyak sarana yang dapat kita gunakan, misalnya latih mereka untuk hidup sederhana sejak kecil seraya tanamkan pada mereka bahwa ada jutaan teman-teman mereka di tempat lain yang jauh menderita. Ceritakan pada mereka bagaimana penderitaan saudara-saudara mereka. Atau tontonkan kepada mereka video-video kondisi terkini kaum muslimin , tentu dalam batas yang wajar.  Jangan lupa pula biasakan mereka ulntuk mendo’akan saudara mereka yang tengah  menderita.

  1. Melatih Berinfak fi Sabilillah

Satu hal yang tak boleh dilupakan adalah melatih mereka untuk berinfak demi membantu sudara-saudara mereka kaum muslimin yang tengah ditipma musibah.  Ajak mereka untuk menyisihkan uang saku mereka. Latihan ini akan berefek ganda , yang pertama akan membentuk karakter hidup hemat dan sederhana. Yang ke dua akan menumbuhkan kepedulian kepada Islam dan kaum muslimin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Baca Juga

Dermawan ; Lipatkan Harta Kekayaan

Kedermawanan adalah akhlaq terpuji lagi mulia. Ia merupakan himpunan dari kebaikan, kemurahan, kekayaan jiwa, dan ...

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami

DIBUKA KEMBALI PSB-2020/2021-Gel-(2) khusus Unit-DIDMulai 1 Maret 2020
+ +