Home / Tarbiyah / Pilar-pilar Mendidik Anak

Pilar-pilar Mendidik Anak

 

Kewajiban utama bagi orang tua adalah memberikan pendidikan terbaik bagi anak. Pendidikan bagi anak merupakan hak yang harus dipenuhi. Bila ini diabaikan maka akan terjadi malapetaka, bukan saja bagi anak tapi lebih-lebih kepada kedua orang tuannya. Bencana dunia dan akhirat. Sebab ia adalah amanah yang dipikulkan di pundak setiap orang tua. Dan setiap amanah wajib ditunaikan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.” (An Nisaa’: 58).

Sebaliknya setiap amanah yang diabaikan maka itu adalah kedzaliman yang akibatnya bisa saja dunia akhirat. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu  Rasululllah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:

الظُّلْمُ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Kezaliman akan berbuah kegelapan pada hari kiamat” (HR Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu orang tua wajib mengetahui banyak hal terkait pendidikan sang buah hati. Di antara yang paling penting adalah orang tua harus mengetahui skala prioritas, tahapan serta pilar-pilar utama kesuksesan pendidikan anak. Banyak orang tua yang gagal mendidik anak karena tak memiliki skala prioritas atau abai dalam hal-hal yang mendasar yang menjadi pilar utama pendidikan anak.

Perlu disadari bahwa pendidikan atau tarbiyah adalah merupakan serangkaian tahapan proses yang harus ditempuh selangkah demi selangkah, dari yang asasi menuju kepada yang penting hingga kemudian pelengkap dan penyempurna. Setiap jenjang usia memiliki target yang harus dicapai. Jangan sampai hal-hal yang sebenarnya hanya pelengkap, atau bahkan kurang penting namun justru  selalu dipenting-pentingkan. Akibatnya hak-hak dasar anak dalam pendidikan terabaikan.  Mendidik adalah proses membangun kepribadian seorang anak, harus ada pilar-pilar kokoh yang menopang seluruh sisi bangunan.

 

Pertama, Pendidikan Tauhid

Dalam pendidikan seharusnya orangtua mengenalkan anak-anaknya dengan Allah l  sebagai penciptanya dan pencipta alam semesta dan isinya (Tauhid Rububiyyah dan Tauhid Asma’ was-Shifat) serta kewajiban untuk hanya beribadah kepada Allah saja (Tauhid Uluhiyyah)  sejak dini. Harapannya keimanan anak-anak kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala  benar-benar melekat dan tertanam dengan kuat di hati mereka.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ (12) ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ (13) ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آَخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ (14)

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (QS. Al-Mu’minun: 12-14).

Berkaitan dengan Tauhid Uluhiyyah,  Allah kisahkan nasehat Luqman kepada anaknya.

يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar.” (QS: Luqman: 13)

 

Kedua, Pendidikan Akhlak

Pada pendidikan ini kita tanamkan karakter-karakter baik kepada mereka, kita ajarkan dan kita bimbing anak-anak kita untuk memahami tentang adab-adab dalam kehidupan mereka. Baik adab kepada diri sendiri, maupun adab terhadap orang lain, serta adab beramal dalam kehidupan sosial mereka. Pendidikan akhlak sangat penting dalam kehidupan manusia, karenanya Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda “Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan (pada hari kiamat) dari akhlak yang baik”. (HR. Abu Dawud).

Pendidikan akhlak telah diajarkan dalam Islam dan menjadi misi diutusnya Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Al-Bazzar)

Para Salaf dan para Imam begitu menekankan pendidikan adab ini sebelum yang lainnya. Dalam  kitab Siyar A’lamin Nubala’ karya Adz Dzahabi rahimahullah  disebutkan bahwa ‘Abdullah bin Wahab rahimahullah  pernah berkata;

مَا نَقَلْنَا مِنْ أَدَبِ مَالِكٍ أَكْثَرُ مِمَّا تَعَلَّمْنَا مِنْ عِلْمِهِ

“Yang kami nukil dari (Imam) Malik lebih banyak dalam hal adab dibanding ilmunya.” –

Imam Malik  bercerita tentang masa kecilnya: “Dulu ibuku menyuruhku untuk duduk bermajlis dengan Rabi’ah Ibnu Abi ‘Abdirrahman (salah seorang  pembesar Tabi’iin),  Ibuku berkata: “Pelajarilah adab darinya sebelum mengambil ilmunya.”

Adalah Imam Ibnu Qasim, salah satu murid senior Imam Malik menyatakan, ”Aku telah mengabdi kepada Imam Malik bin Anas selama 20 tahun. Dari masa itu, 18 tahun aku mempelajari adab sedangkan sisanya 2 tahun untuk belajar ilmu”.

 

Ketiga, pendidikan ibadah

Pada pendidikan ini kita ajarkan dan kita bimbing anak-anak kita untuk beribadah dengan baik dan benar sesuai dengan syari’at yang telah ditetapkan oleh Allah dan Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam. Karena hakikat manusia yang sesungguhnya adalah sebagai ‘Abdullah, yaitu hamba Allah yang senantiasa beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan menjalankan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (QS:Adz-Dzariyat : 56)

Hendaknya sejak kecil putra-putri kita diajarkan bagaimana beribadah dengan benar sesuai dengan tuntunan Rasulullah. Mulai dari tata cara bersuci, shalat, puasa serta beragam ibadah lainnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Al-Bukhari).

Dalam hadits yang lain beliau bersabda, Ajarilah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka ketika mereka berusia sepuluh tahun (bila tidak mau shalat-pen).”  

Dengan melatih mereka dari dini, insya Allah ketika dewasa, mereka sudah terbiasa dengan ibadah-ibadah tersebut.

Ketiga pilar pendidikan utama di atas merupakan tiga mata rantai pendidikan yang tidak bisa dipisahkan pelaksanaanya dalam kehidupan manusia. Ketiganya saling melengkapi sehingga menjadi rangkaian pendidikan yang utuh dan sempurna.

Tiga pilar itulah yang seharusnya juga menjadi filosofi lahirnya sebuah lembaga pendidikan yang bernama sekolah yang bergerak dalam bidang pendidikan dan dikelola secara tersruktur guna membantu kita para orangtua dalam memberikan pendidikan kepada anak-anaknya. Lahirnya lembaga pendidikan yang bernama sekolah bukan berarti menggugurkan kewajiban kita sebagai orangtua dalam memberikan pendidikan secara langsung kepada anak-anak kita. Akan tetapi pendidikan utama tetap bertumpu kepada kita sebagai orangtua. Jika kita sebagai orangtua memberikan pendidikan yang baik kepada anak-anak kita, baik secara langsung maupun melalui lembaga pendidikan yang bernama sekolah, maka insya Allah kita akan melahirkan generasi yang baik pula di masa yang akan datang, demikian juga sebaliknya. Wallahu A’lam.

 

Oleh : Ust. Syahidan Sulthoni, S.Psi

Baca Juga

Dermawan ; Lipatkan Harta Kekayaan

Kedermawanan adalah akhlaq terpuji lagi mulia. Ia merupakan himpunan dari kebaikan, kemurahan, kekayaan jiwa, dan ...

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami

DIBUKA KEMBALI PSB-2020/2021-Gel-(2) khusus Unit-DIDMulai 1 Maret 2020
+ +