BerandaKabar PondokPengalaman Iktikaf Di Ponpes Darusy Syahadah

Pengalaman Iktikaf Di Ponpes Darusy Syahadah

- Advertisement -spot_img

Pengalaman Iktikaf Di Ponpes Darusy Syahadah
Oleh Trimanto Ngader (penulis lepas di www.kompasiana.com)

Bagi pegawai formal seperti saya, bisa ikut iktikaf di 10 hari terakhir Ramadhan adalah hal yang tidak mudah. Kendala utamanya adalah belum libur kerja.

Lalu saya berpikir, masak sih dari 365 hari yang kita miliki, tidak bisa menyisihkan 10 hari saja khusus untuk Allah, menyisihkan 0,027% saja dari waktu setahun yang kita miliki.

Memang afdhal-nya sih iktikaf itu selama 10 hari penuh full berada di masjid, tidak keluar dari masjid atau melakukan aktivitas lain selain beribadah. Itu afdhal-nya.

Jikalau kita tidak bisa menggapai yang utama, ya kerjakan saja sesuai kemampuan, toh iktikaf hukumnya tidak wajib. Daripada tidak ikut sama sekali, masih lebih baik ikut walau tidak sepenuhnya (tidak sempurna).

Akhirnya saya putuskan untuk ikut iktikaf, walau di siang harinya mesti izin untuk tetap masuk kerja. Atau bagi sebagian yang lain, karena dia orang perantau, ikut iktikafnya kurang dari 10 hari, sisa harinya digunakan untuk mudik.

Ikut iktikaf di Ponpes Darusy Syahadah yang berlokasi di Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali ini bukanlah hal yang tiba-tiba. Diawali dari rasa penasaran, seperti apa dan bagaimana sih pondok ini.

Beberapa waktu lalu, saya mendengar ponpes ini memiliki “citra buruk” di sebagian kalangan masyarakat.

Diperparah dengan gencarnya pemberitaan media massa yang memberikan stigma negatif terhadap personal atau lembaga pendidikan tertentu.

Saya termasuk orang yang tidak mudah percaya hanya dari mendengar, apa kata orang, sebelum mengenal dan melihat secara langsung agar sampai pada tahap “ainul yaqin“.

Berawal dari perkenalan saya dengan salah seorang ustadz pondok ini di sebuah BMT dan saya sempat bertanya perihal Darusy Syahadah.

Ditambah lagi tugas pekerjaan saya yang setiap tiga bulan sekali mesti mendatangi pondok ini untuk keperluan kelengkapan administrasi bagi santri yang mendapatkan bansos dari pemerintah.

Selanjutnya, saya pun mengenal beberapa ustadz yang lain, termasuk pegawai pondok dan beberapa santri.

Kesan pertama setelah bertemu dan ngobrol banyak hal dengan mereka, mereka ramah, hangat, bahkan ada yang humoris.

Saya merasakan sorot mata yang tulus, bersahabat, dan ekspresi persaudaraan.

Ketika mendengar di pondok ini mengadakan iktikaf, saya pun mantap memutuskan mendaftar. Terus terang, rasa penasaran saya terhadap pondok ini belum terjawab sepenuhnya.

Saya ingin melihat secara langsung kehidupan sehari-hari di pondok ini. Bagaimana lingkungannya, kebiasaan para asatidz, seperti apa anak-anak mereka, dan sebagainya.

Empat kali sudah saya ikut iktikaf di sana. Sudah banyak yang aku kenal, termasuk akrab dengan anak-anak mereka, juga menghafal nama anak-anak mereka.

Rasanya sudah seperti keluarga sendiri, seperti menjadi bagian dari mereka. Saya pun merasa bahagia bersama mereka.

Saya juga melihat kesederhanaan dari hidup mereka, sikap tawadhu’, manusia pembelajar, punya keteladanan, dan berorientasi akhirat.

Hal menginspirasi saya untuk beramal saleh lebih banyak lagi, selalu bermuhasabah (memperbaiki diri), dan berusaha meningkatkan kualitas spiritual.

Saya juga terkesan dengan akhlaqul karimah (budi pekerti) yang mereka tunjukkan.

Jika mereka sangat berhati-hati dalam ucapan agar tak sampai menyakiti orang lain, bagaimana mungkin terbesit dalam hati mereka untuk berbuat keburukan (baca: terorisme) di negeri yang mereka cintai?

Sekiranya mereka memperlakukan orang lain dengan begitu baik, mana mungkin mereka akan berbuat kekerasan yang akan menyakiti orang lain?

Sangat mustahil bukan, impossible.

Dengan demikian, betapa bodohnya seseorang yang hanya mendengar cerita orang lain atau membaca berita, kemudian membuat kesimpulan tertentu.

Buruknya lagi, ia lalu menyebarkan lagi rumor-rumor (kabar burung) itu kepada banyak orang, plus dibumbui dengan prasangka-prasangka dari dirinya sendiri.

Padahal di dalam Islam, ketika mendengar sebuah berita, kita dianjurkan untuk tabayun (konfirmasi), melakukan check dan recheck, mencari second opinion, mengumpulkan informasi dan data sebanyak mungkin, serta memandang suatu persoalan secara komprehensif.

Keutamaan Itikaf

  • Lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Selama 10 hari, kita sengaja meninggalkan segala urusan dunia dan mengkhususkan diri untuk memperbanyak ibadah. Kita melepaskan sejenak perihal dunia dan fokus kepada Sang Pencipta;
  • Sarana untuk bermuhasabah (introspeksi diri). Berusaha memperbaiki diri, menyesali perbuatan dosa yang telah dilakukan, taubat, dan menyucikan diri (tazkiyatun nafs);
  • Sarana untuk bertafakkur (merenung). Dalam dunia yang penuh hiruk-pikuk ini, kita membutuhkan waktu untuk menyendiri, berdiam diri, merenung tentang Tuhan dan segala ciptaannya, berkotemplasi untuk menemukan “Diri yang Sejati“. Juga untuk menyadari dari mana kita berasal, untuk apa kita diciptakan, dan akan ke mana setelah mati nanti;
  • Men-charge energi spiritual kita agar dalam kondisi penuh kembali, untuk menghadapi kehidupan setahun yang akan datang;
  • Selain itu, dengan beritikaf, kita akan didoakan oleh para malaikat, dijauhkan dari api neraka, dan mendapat ampunan dari Allah SWT.

Catatan:

Kegiatan utama itikaf di Darusy Syahadah adalah kajian Dhuha dengan tema tertentu dan kajian kitab menjelang ifthar, selainnya adalah kegiatan ibadah pribadi.

Biaya itikaf cukup murah, hanya sekedar untuk administrasi, karena biaya buka puasa dan sahur ditanggung oleh para donatur.

*Artikel ini diambil dari website kompasiana atas izin dari penulis.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami