BerandaKajianAdabAdab Menjaga dan Memanfaatkan Waktu

Adab Menjaga dan Memanfaatkan Waktu

- Advertisement -spot_img

darusyahadah.com – Waktu lebih berharga dari pada harta. Oleh karena itu, seorang penuntut ilmu tidak akan menyia-nyiakan waktu yang dimilikinya. Waktu yang hilang tak mungkin bisa dikembali. Waktu yang terlewat tidak dapat diulang lagi. Diriwayatakan dari Ibnu Abbas radliallahu ‘anhuma dia berkata; Nabi –Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua kenikmatan yang sering dilupakan oleh kebanyakan manusia adalah kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al Bukhari, No. 6412)

Seorang muslim yang terkumpul pada dirinya dua kenikmatan, yaitu sehat badan dan waktu luang. Kedua nikmat tersebut harus disyukuri, agar kita tidak termasuk orang yang lalai. Di antara bentuk mensyukuri nikmat adalah dengan menggunakannya untuk taat kepada Allah.

Jika kita tidak memanfaatkan sehat dan waktu luang untuk ketaatan kepada Allah maka ia akan merugi. Karena setelah sehat adalah sakit dan setelah waktu luang adalah kesibukan. Sebagaimana seorang pedagang, dengan modalnya berharap keuntungan. Demikian halnya seorang muslim, dengan modalnya yang berupa sehat dan waktu luang berharap banyak manfaat. Apabila ia menggunakan kedua modalnya tersebut untuk ketaatan kepada Allah, maka ia telah beruntung. Namun sebaliknya, jika ia menyia-nyiakan waktu luang dan sehat badannya atau bahkan menggunakannya untuk bermaksiat, sungguh ia telah rugi.

Betapa pentingnya waktu, hingga Allah bersumpah dengan waktu. Dan tidaklah Allah bersumpah dengan sesuatu kecuali sesuatu tersebut merupakan perkara yang agung. Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman:

 

وَالْعَصْرِۙ١  اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ ٢  اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ٣

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al Ashr: 1-3)

Rasulullah -Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam- pun dengan tegas memerintahkan kita untuk menjaga waktu dengan sebaik-baiknya. Dari Abdullah bin Abbas, Rasulullah -Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam- pernah menasehati seseorang, seraya bersabda:

اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Jagalah lima perkara sebelum datangnya lima perkara; masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum kesibukanmu dan hidupmu sebelum matimu.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrok 4: 341)

Ibnu Umar – Radhiyallahu ‘Anhu- berkata:

وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِ

“Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum sakitmu, dan hidupmu sebelum matimu.” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari, no. 6416)

Apalagi penuntut ilmu, ia harus bisa menjaga dan memanfaatkan waktunya. Hendaknya ia selalu mengisi waktu dengan aktivitas yang dapat menambah dan menjaga ilmunya. Seperti belajar, menghapal, diskusi, mengulang pelajaran dan lain sebagainya. Sungguh kerugian yang besar bagi seorang pencari ilmu, jika waktu berlalu namun tidak ada ilmu yang didapat.  Ibunda ‘Aisyah –Radhiyallahu ‘Anha– berkata:

إذَا أَتَى عَلَىَّ يَوْمٌ لَا أَزْدَادُ فِيْهِ عِلْمًا يُقَرِّبُنِى إِلَى اللهِ فَلَا بُوْرِكَ لِى فِى طُلُوْعِ شَمْسِ ذَلِكَ الْيَوْمِ

“Jika hari-hariku bertambah sementara ilmuku untuk mendekatkan diri kepada Allah tidak bertambah, maka tidak ada berkah bagiku hari itu.” (‘Alauddin Ali bin Hisamuddin, Kanzul Umal fii Sunanil Aqwal wal Af’al, 10/169)

Dari Muhammad bin Wasi’ Al Azdi, ia berkata, Abu Darda’ -Radhiyallahu ‘Anhu- menulis surat kepada Salman Al Farisi, yang isinya sebagai berikut:

مِنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ إِلَى سَلْمَانَ : يَا أَخِي اغْتَنِمْ صِحَّتَكَ وَفَرَاغَكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَنْزِلَ بِكَ مِنَ الْبَلَاءِ مَا لَا يَسْتَطِيعُ أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ رَدَّهُ عَنْكَ

Dari Abu Darda’ kepada Salman, Wahai saudaraku manfaatkanlah masa sehatmu dan masa luangmu sebelum datang bala’ kepadamu yang tidak ada seorang pun dari manusia yang bisa menolaknya darimu.” (Al Khathib Al Baghdadi, Iqtidha’ul Ilmi Al ‘Amal, hal. 103).

Sebagian salaf mengatakan:

 اَلْعِلْمُ لَا يُعْطِيْكَ بَعْضَهُ حَتَّى تُعْطِيْهِ كُلَّكَ ، وَأَنْتَ إِذَا أَعْطَيْتَهُ كُلَّكَ كُنْتَ مِنْ إِعْطَائِهِ إِيَاكَ البَعْضَ عَلَى خَطَرٍ .

“Secuil ilmu tak akan pernah mendatangimu hingga kamu serahkan segenap waktumu untuk meraihnya. Jika kamu telah menyerahkan semua waktumu, maka kamu akan diberi ilmu setara dengan waktu yang yang telah kau berikan.” (Tadzkiratus Sami’ wal Muta’alim, hal. 206)

Imam An Nawawi ketika menjelaskan adab belajar berkata, “Sudah seharusnya seorang pencari ilmu bersemangat untuk belajar dan membiasakannya di setiap waktu, baik malam maupun siang, saat mukim maupun safar. Jangan sampai waktunya hilang untuk selain mencari ilmu kecuali untuk yang hal-hal darurat. Seperti makan, minum, tidur, istirahat untuk menghilangkan kebosanan dan sebagainya. Bubkan termasuk orang yang berakal yang diberi kesempatan meraih derajat pewaris para Nabi lalu ia meninggalkan warisan tersebut.” (Al-Majmu’, I/37)

Oleh karena itu, hendaknya para penuntut ilmu selalu menjaga waktunya. Menggunakannya untuk hal-hal yang bermanfaat, seperti belajar, menghapal, diskusi, mengulang pelajaran dan lain sebagainya. Tidak membiarkan waktu berlalu begitu saja, tanpa aktivitas yang berguna. Wallahu a’lam bish shawwab.   

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img

Memaknai Hakikat Rezeki

Related News
- Advertisement -spot_img

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami