Home / Usroh / Agar Ramadhan Selalu Membekas

Agar Ramadhan Selalu Membekas

Tak terasa gema takbir idul fitri menandai berakhirnya bulan suci Ramadhan. Bulan yang tidak saja penuh dengan rahmat, tetapi juga telah menjadi bagian dari kultur kehidupan kita. Selama sebulan penuh, anjuran untuk memperbanyak pahala, menahan hawa nafsu dan melakukan kebaikan sosial terus disuarakan oleh para ustadz, muballigh, kiyai dan tokoh masyakarat. Pada bulan itu pula, nuansa keberagamaan berubah secara drastis. Umat Islam tampak begitu khusyuk dan taat beribadah. Pasalnya, semua dari kita mengerti bahwa puasa memiliki makna bukan sekedar menahan lapar dan haus tetapi juga meninggalkan tindak kejahatan, dan memperbanyak ibadah.

Ramadhan telah meninggalkan kita. Pelbagai ritual dan tradisi yang mengiri bulan suci ini pun secara perlahan mulai kita tinggalkan. Tak ada lagi tarawih, buka bersama, tadarus yang kita lakukan secara antusias di setiap waktu, i’tikaf, dan amal-amal kebaikan yang lain. Bahkan idul fitri sebagai perayaan kemenangan umat Islam dalam melawan hawa nafsu dan tindakan kejahatan sudah mulai terlupakan pula. Kita mulai merasa bebas untuk kembali pada kebiasaan dan rutinitas sebelum ramadhan. Termasuk bebas untuk melakukan berbagai kemaksiatan dan kejahatan sekalipun.

Lantas apa yang sebaiknya kita lakukan pasca ramadhan dan hari raya idul fitri, agar Ramadhan tetap memberi pengaruh dalam kehidupan kita?

Sesungguhnya melakukan kebaikan dan meninggalkan kejahatan tidak saja dianjurkan oleh Islam pada bulan Ramadhan, namun berlaku di sepanjang kehidupan kita. Ramadhan menjadi begitu istimewa karena pada bulan tersebut berbagai peristiwa penting terjadi, di antaranya seperti turunnya al-Qur’an, diwajibkannya berpuasa, dan zakat fitrah. Artinya, memperbanyak ibadah dan menjauhi kejahatan merupakan perintah yang disyariatkan secara universal. Itu berarti pula, meskipun ramadhan telah jauh meninggalkan kita, namun segala prestasi yang kita raih selama ramadhan tetap mengakar dan memberikan pengaruh positif dalam hidup kita. Itulah makna taqwa sebagai tujuan akhir dari puasa kita.

Oleh karena itu, berlalunya bulan Ramadhan bukan berarti berakhirnya kewajiban kita untuk selalu melakukan ibadah, berbuat kebajikan, dan meninggalkan kejahatan. Sebaliknya, pasca Ramadhan ini kita dituntut untuk terus meningkatkan derajat ketaqwaan pada bulan-bulan berikutnya. Kebajikan dan amal ibadah setelah bulan suci Ramadhan, menunjukkan diterimanya ibadah puasa, dan mendapatkan hikmah puasa (lailatul qadar). Maka jika setelah Ramadhan seseorang semakin rajin melakukan amal ibadah, menolong orang lain dan kebajikan lainnya, berarti orang tersebut benar-benar melakukan puasa. Sebaliknya, jika seseorang justru semakin nakal, jahat, brutal, ataupun menindas orang lain, sudah bisa dipastikan bahwa ibadah puasa orang tersebut tidak memberikan arti apapun. Dan sungguh ini sebuah kerugian besar.

Lalu, sejauh mana Ramadhan memberi kesan dan pengaruh terhadap perilaku kita sepeninggalnya?

Sejatinya pasca Ramadhan kita diharapkan untuk tetap istiqamah dan mampu serta terbiasa dengan melakukan berbagai aktivitas ibadah dan amal shalih untuk hari-hari berikutnya selama sebelas bulan, baik berupa amalan wajib maupun amalan sunnat. Karena pada bulan Ramadhan kita telah ditraining secara fulltime 30 hari berturut-turut untuk melakukan berbagai aktivitas ibadah dan amal shalih. Di antara pelajaran yang bisa kita simpulkan dari Ramadhan adalah:

 

Pertama: Semangat Beribadah dan Beramal Shalih

Ramadhan mengajarkan kita untuk semangat beribadah dan beramal shalih. Karena Allah akan memberikan pahala berlipat ganda bagi mereka yang berhasil melakukan berbagai amal ibadah dan kebajikan. Maka, pasca Ramadhan ini semestinya kita harus mampu mempertahankan ibadah dan amal shalih kita baik secara kualitas maupun kuantistas. Sekali lagi kita harus menyadari bahwa ibadah dan amal shalih itu tidak hanya disyariatkan untuk bulan Ramadhan saja, tapi sesungguhnya diperintahkan sepanjang masa selama kita hidup di dunia yang fana ini. Allah Ta’ala berfirman, “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56).

Bahkan kita diperintahkan untuk berlomba dalam kebaikan setiap saat, bukan hanya pada bulan Ramadhan. Allah Ta’ala berfirman;

فَاسْتَبِقُواْ الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونُواْ يَأْتِ بِكُمُ اللّهُ جَمِيعاً إِنَّ اللّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Q.S Al Baqarah [2]:148)

 

Kedua: Menjaga Diri dari Maksiat

Ramadhan telah mengajarkan kepada kita bagaimana mengendalikan diri dari hawa nafsu. Sebab saat berpuasa, kita dituntut untuk menahan diri dari makan, minum, hubungan suami istri, berkata kotor, bertengkar, mencaci maki dan sebagainya. Maka, sudah sepatutnya setelah Ramadhan kita mampu mengendalikan diri dari hawa nafsu dan maksiat, baik berupa perkataan yang haram seperti ghibah, mencaci maki, menghina, menipu, menfitnah dan sebagainya, maupun perbuatan yang haram seperti mencuri, merampok, mencopet, korupsi, memukul, membunuh dan sebagainya. Dengan demikian, pasca Ramadhan perilaku kita menjadi lebih baik.

 

Ketiga: Menumbuhkan Rasa Empati dan Kepedulian Terhadap Sesama

Ramadhan mengajarkan kita untuk berempati dan peduli terhadap sesama seperti orang fakir dan miskin, anak-anak yatim, Al Gharimin, Ibnu sabil, dan lain sebagainya, dengan anjuran memperbanyak infaq, shadaqah dan zakat. Begitu pula untuk saling mencintai dan mengasihi sesama muslim. Maka, pasca Ramadhan kita diharapkan tetap membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan uluran tangan, baik saudara kita seiman di tanah air maupun di wilayah lain seperti Palestina, Suriah, Rohingya dan lainnya.

 

Keempat: Selalu Menjaga Shalat Berjama’ah

Dengan adanya syariat shalat tarawih berjamah, witir dan qiyam lail di masjid maupun di mushalla, kita dibiasakan untuk istiqomah menjalankan shalat secara berjamaah. Pada saat shalat tarawih, masjid-masjid dan mushalla-mushalla penuh dengan jama’ah. Bahkan pada awal Ramadhan jama’ah membludak, dan tidak bisa menampung kapasitas pengunjung. Walaupun pada akhir Ramadhan jama’ah  semakin berkurang, namun tetap lebih ramai dibandingkan dengan pada hari-hari selain Ramadhan. Maka, diharapkan pasca Ramadhan kita terbiasa melakukan shalat lima waktu berjama’ah di masjid terutama bagi kaum laki laki.

 

Kelima: Menjaga Shalat-Shalat Sunnah

Ramadhan menggalakkan kepada kita untuk semangat melakukan ibadah sunnah. Pahala amalan sunnat pada bulan Ramadhan dihitung seperti pahala wajib di bulan selainnya (HR. Baihaqi). Oleh karena itu, orang berlomba-lomba melakukan amalan sunnah seperti shalat tarawih dan lainnya. Maka, pasca Ramadhan kita diharapkan kita untuk tetap istiqamah dalam menjaga shalat-shalat sunnat seperti rawatib, dhuha, tahiyatul masjid, setelah wudhu’, tahajjud, witir, shalat sunat fajar (sebelum shubuh) dan sebagainya.

 

Keenam: Suka Membaca Al-Quran

Ramadhan telah menggalakkan kita untuk tadarus (berinteraksi) dengan Al-Qur’an, karena Ramadhan adalah bulan Al-Quran. Tidak mengherankan bila pada bulan Ramadhan, bacaan Al-Quran menggema di mana-mana. Umat Islam dengan semangat dan antusias bertadarus Al-Quran dengan membaca, memahami, mentadabburi, menghafal dan mempelajarinya. Bahkan para sahabat Nabi n saling berlomba dalam menghatamkan Al Qur’an. Sahabat Utsman bin Affan bahkan sanggup menghatamkan Al Qur’am sekali dalam semalam. Maka, sepeninggal Ramadhan kita diharapkan terbiasa dengan membaca Al-Quran dan berinteraksi dengannya pada setiap saat.

Itulah di antara pelajaran yang bisa kita simpulkan selama mengikuti training ramadhan, semoga kita termasuk hamba-hambaNya yang sukses dan pantas mengenakan toga ketaqwaan pasca ramadhan ini. Yang jelas kesuksesan ramadhan kita sangat bergantung pada kuantitas dan kualitas ibadah kita pada hari-hari setelah ramadhan ini. Wallahu a’lam bish shawab.

 

Oleh : Ustadzah Siswati

Baca Juga

Mengajarkan Adab Bermajelis Kepada Anak-anak

Pernahkah kita merasa risih dan jengah dengan perilaku anak-anak di sebuah majlis? Dari yang berlarian ...

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami