Home / Tarbiyah / Dermawan ; Lipatkan Harta Kekayaan

Dermawan ; Lipatkan Harta Kekayaan

Kedermawanan adalah akhlaq terpuji lagi mulia. Ia merupakan himpunan dari kebaikan, kemurahan, kekayaan jiwa, dan keutamaan. Orang yang dermawan adalah orang yang senantiasa mencurahkan kebaikan kepada siapapun yang membutuhkan uluran tangannya, tidak membedakan siapapun baik diminta maupun tidak.

Orang yang dermawan tentu akan senantiasa ikhlas dalam berderma, tidak ada niatan untuk mencari sesuatu apapun bahkan tidak berharap mendapatkan balasan dari orang yang ditolongnya. Apa yang dilakukanya semata-mata hanya mengharap pahala dan keridhaan-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا (8) إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا (9)

 “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberikan makanan kepadamu hanyalah untuk mendapatkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (QS. Al-Insan: 8-9)

Al-Hasan pernah ditanya, “Siapakah orang yang dermawan itu? Beliau menjawab, “Yaitu orang yang seandainya dunia ditanganya maka ia akan menafkahkanya, kemudian setelah itu ia tidak melihat adanya hak baginya pada dunia itu.”

Hal ini terjadi karena kebaikan, kemurahan hati, dan keutamaan yang menghiasi dirinya yang bersumber dari keimanan yang benar dan niat yang ikhlas dalam beramal. Sehingga hatinya bersih dan bersinar. Dengan jiwanya yang bersih itulah menyebabkan kekikiran lenyap dan yang muncul kepermukaan adalah kasih sayang, kemurahan hati dan kedermawanan.

Karenanya, agama Islam sangat menekankan kepada pemeluknya untuk bersikap dermawan dan mencela tabiat kekikiran. Dalam hal ini, Islam menganjurkan supaya sesama kaum muslimin berlomba-lomba mengejar kebajikan, dan menjadikannya sebagai kegiatan utama dalam kehidupan sehari-hari.

Orang yang memiliki sifat dermawan hidupnya akan lebih bahagia, karena kedermawanannya akan melapangkan dadanya. Secara sosial, orang yang dermawan akan disenangi oleh banyak orang. Sehingga orang pun tidak enggan untuk bergaul dengannya. Sebaliknya orang yang tamak hidupnya akan diiringi dengan kegundahan. Karena hampir bisa dipastikan banyak orang  akan lari darinya.

Orang-orang yang menginfakkan hartanya baik dalam keadaan senang ataupun susah senantiasa memperoleh perhatian Allah subhanahu wa ta’ala. Para malaikat berdoa memohon tambahan rezeki bagi mereka yang mau menafkahkan hartanya. Allah pun juga sudah berjanji apabila seseorang bersedekah, Allah akan mengganti dan melipat-gandakannya, sebagaimana tercantum dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِئَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya dijalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir terdapat seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)

Demikianlah kemurahan Allah bagi siapa saja yang mau mendermakan hartanya. Harta itu tidak akan berkurang dengan didermakan, akan tetapi justru menjadi salah satu sebab berlipatnya harta kekayaan.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala yang lain:

وَمَآاَنْفَقْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَهُوَ يَخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ

 “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya, dan Dialah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39)

Lihatlah bagaimana Ibnu Katsir menguraikan penjelasan yang amat menarik mengenai ayat ini. Beliau mengatakan, “Selama engkau menginfakkan dan mendermakan sebagian hartamu pada jalan yang Allah subhanahu wa ta’ala perintahkan dan jalan yang dibolehkan, maka Allah lah yang akan memberi ganti pada kalian didunia, juga akan memberi ganti berupa pahala dan balasan di akherat kelak.” (Tafsir Al-Qur’an Al-Azdim, 11/293)

Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu juga disebutkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَيَقُولُ الْآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

 “Tidak ada suatu hari pun ketika seorang hamba melewati paginya kecuali akan turun (datang) dua malaikat kepadanya lalu salah satunya berkata; “Ya Allah berikanlah pengganti bagi siapa yang menafkahkan hartanya.” Sedangkan yang satunya lagi berkata; “Ya Allah berikanlah kehancuran (kebinasaan) kepada orang yang menahan hartanya (bakhil). ” (HR. Bukhari dan Muslim)

Nabi saw pun menyemangati sahabat Bilal bin Robbah untuk berinfak dan beliaupun mengatakan jangan khawatir miskin. Beliau bersabda,

أَنْفِقْ بِلاَلً وَلاَ تَخَافَنَّ مِنْ ذِي اْلعَرْشِ إِقْلاَلاً

 “Berinfaklah wahai Bilal! Janganlah takut hartamu itu berkurang karena ada Allah yang memiliki ‘Arsy (Yang Maha Mencukupi). ” (HR. Al Bazzar dan Ath Thabrani dalam Al Kabir. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih . Lihat Shahihul Jaami’ no. 1512)

Bahkan Nabi n menegaskan sendiri bahwa harta tidaklah mungkin berkurang dengan sedekah. Beliau bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ

 “Harta tidak akan berkurang dengan dishadaqohkan, dan tidak Allah mengampuni hambanya kecuali Allah akan memuliakannya, dan tidaklah seseorang itu tawadhu’ karena Allah kecuali Allah akan mengangkat derajatnya. ” (HR. Muslim)

Makna hadits di atas sebagaimana dijelaskan oleh Yahya bin Syarf An Nawawi ra ada dua penafsiran. Pertama,  harta tersebut akan diberkahi dan akan dihilangkan berbagai dampak bahaya padanya. Kekurangan harta tersebut akan ditutup dengan keberkahannya. Ini bisa dirasakan secara indrawi dan lama-kelamaan terbiasa merasakannya. Kedua,  kalaupun secara bentuk harta tersebut berkurang, namun kekurangan tadi akan ditutup dengan pahala di sisi Allah dan akan terus ditambah dengan kelipatan yang amat banyak.

Di dalam hadits yang lain  juga dijelaskan;

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ؛ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ، وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya untuk disakiti. Siapa yang membantu kebutuhan saudaranya maka Allah akan membantu kebutuhannya. Siapa yang menghilangkan satu kesusahan seorang muslim maka Allah menghilangkan satu kesusahan baginya dari kesusahan-kesusahan hari qiyamat. Dan, siapa yang menutupi (aib) seorang muslim maka Allah akan menutup aibnya pada hari qiyamat.” (HR. Al-Bukhari)

Untuk itu, sebagai hamba Allah subhanahu wa ta’ala dan umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam marilah kita berusaha menanamkan dan menumbuhkan sifat kedermawanan pada diri kita. Dengan cara melatih dan membiasakan diri kita untuk mendermakan apa yang kita bisa dan kita miliki kepada siapapun yang membutuhkan uluran tangan kita. Pasalnya, akhlaq itu dapat melekat dan menghiasi diri kita dengan latihan dan pembiasaan diri.

Akhirnya, marilah kita memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar Allah menganugrahkan berbagai macam potensi pada diri kita dan memberikan kemampuan kepada kita untuk mendermakan apa yang kita miliki kepada siapa saja yang membutuhkannya, serta menjauhkan diri kita dari sifat pengecut dan kebakhilan.

 

Oleh : Ust. Ahsanul Huda

 

Baca Juga

Mengenalkan Rasulullah kepada Anak

Saat mendidik anak, setiap orang tua hendaknya mengajarkan sirah Nabawiyah kepada anak-anaknya. Sirah Nabawiyah merupakan ...

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami