Home / Renungan / Dzikrullah, Penentram Hati

Dzikrullah, Penentram Hati

Di antara amal yang dapat menghidupkan hati adalah dzikrullah, berdzikir kepada Allah. Maka kebutuhan hati terhadap dzikir, sebagaimana kebutuhan tubuh terhadap makanan dan minuman. Karena hati seorang hamba tidak akan bisa hidup tanpa dzikir kepada Allah. Ibnu Qayyim menyebutkan, dzikir adalah makanan pokok bagi hati dan ruh. Apabila seorang hamba kehilangan dzikir, ia seperti tubuh yang tidak mendapatkan makanan pokok.

Sedang Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa dzikir bagi hati ibarat air bagi ikan. Jika ikan dikeluarkan dari air maka ikan tersebut akan mati. Demikian pula dengan hati yang dijauhkan dari dzikir, maka hati tersebut juga akan mati.

Suatu kali, Ibnul Qayyim Al Jauziyah menemui syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang sedang shalat subuh. Seusai shalat, ia berdzikir kepada Allah hingga hamper tengah hari. Kemudian beliau menoleh kea rah Ibnul Qayyim seraya berkata, “Inilah santapanku. Andaikan aku tidak mendapat santapan ini (dzikir), tentu kekuatanku akan hilang.”

Abu Musa Al Asy’ari meriwayatkan bahwa Rasul bersabda:

مَثَلُ الَّذِى يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِى لاَ يَذْكُرُ مَثَلُ الْحَىِّ وَالْمَيِّت

“Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah dengan yang berdzikir itu seperti orang yang hidup dengan orang yang mati.”(HR. Al Bukhari).

Yang demikian dikarenakan orang yang berdzikir kepada Allah, Allah akan menghidupkan hatinya dan melapangkan dadanya, maka hal ini seperti orang hidup. Adapun orang yang tidak berdzikir sesungguhnya hatinya tidak merasa tenang, wal iyaadzu billah dan Allah tidak melapangkan hati untuk (menerima) Islam sehingga hal ini seperti orang mati. Hendaknya permisalan ini bisa dijadikan pelajaran oleh semua manusia. Dan agar mereka mengetahui setiap kali hati lalai dari berdzikir kepada Allah maka hatinya akan mengeras atau bahkan mungkin hatinya akan mati, wal iyaadzu billah. (Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, Syarh Riyadhush Shalihin)

Demikian pula dzikir akan memeberikan cahaya bagi hati, memberikan pakaian kewibawaan dan keindahan, mendatangkan kecintaan kepada Allah, ketakwaan kepada-Nya, inabah kepada-Nya dan juga akan selalu diingat oleh Allah. Allah berfirman:

 فَٱذۡكُرُونِيٓ أَذۡكُرۡكُمۡ وَٱشۡكُرُواْ لِي وَلَا تَكۡفُرُونِ ١٥٢

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (Al Baqarah: 152)

Seandainaya faedah dzikir itu hanya yang tersebut dalam ayat di atas, sungguh hal itu sudah cukup sebagai suatu keutamaan dan kemuliaan. Karena selalu diingat oleh Dzat Yang Maha Suci, yaitu Allah. Dari Abu Hurairan, Rasulullah bersabda, Allah berfirman:

وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ

“Dan Aku selalu bersama hamba-Ku jika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku, dan jika ia mengingat-Ku dalam perkumpulan, maka Aku mengingatnya dalam perkumpulan yang lebih baik daripada mereka,.” (Muttafaqun’alaihi)

 

Bahkan dzikir merupakan amal yang paling utama. Seseorang bertanya kepada Salman, Amal apakah yang paling utama? Maka ia menjawab, “Tidakkah engkau membaca ayat Al Qur’an:

وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَر

“Dan berdzikir kepada Allah itu amal yang terbesar.”

Karena besarnya pahala dan banyaknya keutamaan dzikir, Ibnu Mas’ud pun lebih memilih berdzikir dari dapa berinfaq dengan harta. Beliau pernah berkata, “Bertasbih kepada Allah beberapa kali lebih aku aku sukai dari pada berinfaq fi sabilillah (di jalan Allah) dengan uang dinar sejumlah tasbih tersebut.”

Selain itu dzikir juga merupakan obat bagi kerasnya hati. Hati yang keras biasa sulit untuk menerima nasehat dan kebenaran. Namun dengan berdzikir hati akan lunak dan mudah untuk menerima kebenaran. Seseorang pernah menemui Hasan Al Bashri dengan berkata, “Aku adukan kepada anda tentang kerasnya hati ini.” Maka Hasan Al Bashri menjawab, “Lunakkan ia dengan dzikir!”.

Abdullah bin Busr meriwayatkan, seseorang bertanya kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya pintu kebaikan itu banyak. Sedangkan aku tidak mampu untuk memasuki semuanya. Maka tunjukkan kepadaku, mana pintu kebaikan yang aku mampu memasukinya dan jangan banyak-banyak, sebab aku bisa lupa.” Rasulullah menjawab, “Pastikan lisanmu selalu basah dengan dzikrullah.” (HR. At Tirmidzi).

Sehingga di antara amalan yang paling bermanfaat bagi kita adalah dzikrullah. Karena dengan dzikir, akan hilang kesedihan dan kegelisahan dari hati serta mendatangkan kegembiraan dan ketenangan. Berkenaan orang yang beriman Allah berfirman:

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Ar Ra’du: 28).

Akhirnya mari kita selalu basahi lisan kita dengan dzikir dan kita penuhi hati kita dengan banyak mengingat Allah. Karena dengan begitu hati kita selalu bersih, bahagia, tentram dan tenang.

Oleh : Ibnu Abdillah

Baca Juga

Manfaatkan Kuota Hidupmu

Manusia hanyalah pengendara di atas punggung usianya, digulung hari demi hari, minggu, bulan dan tahun ...

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami

+ +