Home / Adab / Jangan Malas Menelaah Kitab

Jangan Malas Menelaah Kitab

Hendaklah para pencari ilmu tidak malas untuk memiliki dan mempelajari kitab-kitab. Tidak hanya mencukupkan buku-buku kecil dan ringkasan, namun hendaklah ia juga menelaah kitab-kitab induk. Penuntut ilmu sudah seharusnya mengisi waktu luangnya untuk membaca dan menelaah buku. Tidak bermalas-malas dan menggunakan waktunya untuk hal yang sia-sia.

Membaca dan menelaah kitab adalah kebiasaan para ulama dan orang orang shalih terdahulu. Imam Ibnul Jauzi berkata, “Himmah para ulama’ terdahulu begitu tinggi. Hal itu terlihat dari banyaknya karangan mereka sebagi bukti amal mereka. Sayang, kebanyakan karya mereka tidak digunakan dengan sebaik-baiknya karena lemahnya himmah (semangat) pencari ilmu. Mereka lebih suka memilih (kitab) yang ringkas dan malas membuka keterangan yang panjang…. Jalan untuk meraih kesempurnaan dala mencari ilmu adalah dengan memperhatikan perjalanan hidup para salaf dan menelaah buku…. Demi Allah, hendaklah kalian banyak memperhatikan perjalanan hidup para salaf dan menelaah karya-karya mereka dan juga riwayat tentang mereka. Akan aku kabarkan keadaan diriku, “Aku tidak pernah puas dari menelaah buku. Jika aku melihat sebuah kitab yang belum pernah aku lihat, seakan mendapatkan harta yang melimpah.” (Shaidul Khatir, 387-388)

Ucapan Ibnul Jauzy ini terbukti bahwa sepanjang hidupnya beliau telah membaca lebih dari 20.000 jilid kitab.

Majduddin bin Taimiyah apabila masuk WC, berkata kepada kepada orang di sekitarnya“Bacalah kitab ini untukku, keraskanlah suaramu sehingga aku mendengarnya.” Hal ini dia lakukan karena ingin menjaga waktu buang hajatnya tidak sia-sia.

Al-Fath bin Khaqan selalu membawa kitab (buku) di saku bajunya. Apabila dia meninggalkan majlis untuk shalat atau kencing, dia mengeluarkan kitab dan membacanya sambil berjalan hingga dia sampai di tempat tujuan. Kemudian dia melakukan hal yang sama pada saat dia kembali kemajlisnya.

Tsa’lab (seorang imam qira’ah) tidak pernah berpisah dari kitabnya. Apabila dia diundang kesebuah walimah, dia mensyaratkan agar diletakkan tempat selebar kulit domba sebagai tempat kitab yang akan dibacanya.

Beberapa orang berkata kepada Abdullah bin Mubarak “Ketika engkau telah menunaikan shalat, mengapa engkau tidak duduk bersama kami? Dia menjawab, “Saya pergi untuk duduk bersama para sahabat dan tabi’in”. Mereka bertanya, “Di mana mereka?” Dia menjawab, “Saya pergi lalu membaca kitab-kitab, maka saya mengetahui amal-amal dan keteladanan mereka. Apa yang bisa saya lakukan bersama kalian? Sementara kalian hanya duduk membicarakan aib orang lain.”

Abdullah bin Abdul Azis Al-Umairi sering menyendiri di kuburan dengan membawa kitab (buku) untuk dibaca. Dia ditanya tentang itu, diapun menjawab, “Tidak ada nasihat yang lebih mendalam daripada kuburan. Tidak ada teman yang lebih baik daripada kitab. Dan tidak ada yang lebih menjamin keselamatan daripada kesendirian.” Ibn Asakir, selama 40 tahun tidak pernah menyibukkan diri kecuali dengan tasmi’ (mengulang hafalan hafalannya), mengumpulkan, menulis dan menyusun ilmu sampai pada waktu pergi buang hajat atau sambil berjalan.

Lihatlah perbedaan antara semangat para salaf terhadap kitab ilmu dibanding penuntut ilmu sekarang. Para penuntut ilmu hari ini hanya mencukupkan diri dengan membuka buku ringkasan dan tidak mau kembali kepada kitab induk. Mereka juga merasa sayang untuk membeli buku. Padahal itu adalah harta yang bisa diwariskan dan sangat besar manfaatnya untuk para penuntut ilmu.

 

Hal yang Perlu Diperhatikan saat Menelaah Kitab

Hasungan untuk menelaah kitab bukan berarti tidak perlu guru. Guru sangat dibutuhkan bimbingannya saat belajar.

Sungguh memprihatinkan sebagian penuntut ilmu saat ini. Mereka telah merasa cukup dengan menelaah kitab-kitab ilmu dan segara menjadi orang alim tanpa harus belajar langsung kepada guru dan ulama’. Hal ini merupakan kesalahan yang fatal dan sangat berbahaya. Imam Asy Syafi’I berkata:

مَنْ تَفَقَّهَ مِنْ بُطُوْنِ الْكُتُبِ ضَيَّعَ الْأَحْكَامَ

“Barangsiapa yang hanya belajar dari kitab-kitab, maka ia akan banyak menghilangkan banyak hukum.” (Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim Fi Adaabil Alim wal Muta’alim, karya Ibnu Jama’ah, hal. 213)

Para sala mengatakan:

مَنْ كَانَ شَيْخُهُ كِتَابَهُ فَخَطَأَهُ أَكْثَرُ مِنْ صَوَابِهِ

“Barangsiapa yang gurunya kitab maka salahnya lebih banyak dari pada benarnya.” Syarh Risalah Kitabil Iman, I/252)

Hendaknya para pencari ilmu hanya menjadikan buku sebagai pembantu dalam mencari ilmu. Bukan sebagai sumber ilmu utama sehingga ia merasa tidak butuh untuk duduk bersama para ulama’.

Akhirnya marilah kita simak wasiat Imam Asy Syafi’I kepada pencari ilmu berikut:

 

أَخِي لَنْ تَنَالَ الْعِلْمَ إِلَّا بِسِتَّةٍ سَأُنَبِّيْكَ عَنْهَا بِبَيَانِ ذَكَاءٌ وَحِرْصٌ وَاجْتِهَادٌ وَبُلْغَةٌ وَصُحْبَةُ أُسْتَاذِ وَطُوْلُ زَمَانِ

“Wahai saudaraku, kamu tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan enam perkara. Akan saya jelaskan kepadamu enam perkara tersebut, yaitu kecerdasan, rakus (terhadap ilmu), kesungguhan, kecukupan harta, dekat dengan ustadz dan waktu yang lama.” (Rihlatul ‘Ulama’ fi Thalibil ‘Ilmi, I/70)

 

 

Baca Juga

Jangan Menzalimi Guru

Beberapa tahun yang lalu ada seorang guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 2 Makassar, Dahrul (52), ...

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami