Home / Tarbiyah / Menanamkan Sifat Tawadhu’ Pada Anak

Menanamkan Sifat Tawadhu’ Pada Anak

Urgensi Tawadhu’

Tawadhu’ adalah salah satu sifat terpuji yang harus dimiliki  seorang muslim. Karena dengannya seseorang akan menyadari bahwa semua kelebihan dan keistimewaan yang ia miliki bersumber dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan dengan tawadhu’ mampu melahirkan berbagai sikap yang mulia, seperti menghargai orang lain, saling menjaga dan menghormati perasaan masing-masing, sopan santun kepada yang lebih tua, serta munculnya kasih sayang di antara mereka. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah atsar Imam Syafi’i mengatakan:

التَّوَاضُعُ يُوْرِثُ الْمَحَبَّةَ

“Ketawadhuan akan melahirkan cinta dan kasih sayang”

Maka dari itu, sifat tawadhu’ harus menjadi sifat utama bagi orang yang beriman.  Karena ketika seseorang memiliki sifat tawadhu’ ia akan benar-benar menghambakan diri kepada Allah Ta’ala tanpa menganggap dirinya lebih tinggi dari orang lain. Di sinilah menjadi titik awal seseorang untuk terhindar dari sifat takabur (sombong). Lebih dari itu tawadhu’ adalah salah satu sifat terpuji yang paling ditekankan di dalam Al Qur’an, bahkan tawadhu’ merupakan ciri sifat pertama ibadurrahman, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْناً وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَاماً

“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS Al Furqan: 63)

“Ibadurrahman” atau hamba-hamba Allah yang Maha Rahman merupakan gelar khusus yang Allah berikan kepada hamba yang dicintainya, tidak semua orang mampu mendapatkannya. Mereka adalah hamba-hamba Allah yang memiliki keimanan dan dihiasai dengan ketakwaan, serta dikasihi dan disayangi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Penyayang. Mereka disebut secara khusus dengan disandarkan kepada salah satu asma’ Allah yaitu Ar Rahman menjadi Ibadurrahman, menunjukkan betapa kasih sayang Allah yang secara khusus akan Allah berikan kepada mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyayangi mereka, kerena keimanan dan ketakwaan serta sifat dan karakteristik positif yang melekat pada diri mereka. Penyandaran mereka terhadap salah satu asma Allah ini adalah keistimewaan tersendiri bagi mereka. Maka sifat tawadhu’ harus kita upayakan melekat pada diri anak sehingga mereka termasuk dari ibadurrahman hamba pilihan Allah Ta’ala.

 

Perintah Bersikap Tawadhu’

Allah Ta’ala telah memerintahkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk bersikap tawadhu’ kepada orang yang beriman, firman Allah Ta’ala:

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” (QS. Asy-Syu’ara: 215)

Begitu pula Allah Ta’ala melarang kita berlaku sombong dan merasa besar dari orang lain. Firman Allah Ta’ala:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Dan janganlah kamu palingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga memerintahkan kita untuk selalu menghiasi diri dengan tawadhu’. Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إليَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لاَ يَبْغِي أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ، وَلاَ يَفْخَرُ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

“Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian saling berlaku tawadhu’ sehingga tidak ada seorangpun yang membanggakan dirinya atas orang lain, dan tidak ada orang yang melampaui batas terhadap orang lain.” (HR. Muslim, no. 2865)

Selain itu, banyak contoh-contoh ketawadhu’an Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, di mana beliau masih memberi salam kepada anak kecil dan yang lebih rendah kedudukan di bawah beliau. Sebagaimana dikisahkan oleh sahabat Anas Radhiyallahu ‘Anhu.:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَزُورُ الأَنْصَارَ ، وَيُسَلِّمُ عَلَى صِبْيَانِهِمْ ، وَيَمْسَحُ بِرُءُوسِهِمْ

“Sungguh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam biasa berkunjung ke orang-orang Anshor. Lantas beliau memberi salam kepada anak kecil mereka dan mengusap kepala mereka.” (HR. Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya no. 459)

Seorang ulama pernah berkata, “Apabila engkau bertemu dengan seseorang, hendaklah engkau memandangnya lebih utama dari pada engkau, dan katakanlah kepada diri sendiri ‘mungkin dia lebih baik di sisi Allah dan lebih tinggi derajatnya dari pada aku.’ Bahkan ketika melihat seorang yang lebih kecil darinya kendaklah ia bergumam di dalam hatinya, jangan-jangan orang ini tidak pernah berbuat dosa kepada Allah, sedangkan diriku telah banyak bergelimang dosa yang menjadikan ia lebih baik dari pada aku di sisi Allah Ta’ala.”

 

Mendidik Anak agar Tawadhu’

Sebagai orangtua dan pendidik kita memiliki tangung jawab yang begitu besar terhadap pendidikan anak. Baik tidaknya anak sangat erat dengan baik tidaknya pendidikan yang kita berikan. Jika orangtua salah mendidik anak berarti ia telah menyesatkan masa depan anak tersebut, salah karena tidak melengkapi diri dengan ilmu yang memadai tentang merawat, mendidik, dan mengarahkannya untuk keselamatan dunia akhirat.

Salah satu hal terpenting dalam pendidikan anak adalah menanamkan sikap tawadhu’ kepada anak. Sehingga dengannya anak akan memiliki kepribadian yang baik dan terhindar dari sifat takabbur (sombong). Ada beberapa hal yang harus diperhatikan orangtua atau pendidik untuk menanamkan sikap tawadhu’ kepada anak, di antaranya adalah:

Pertama, metode mau’izhah hasanah baik tabsyir (kabar gembira) atau tandzir (peringatan)

Mau’izhah hasanah secara umum dapat diartikan sebagai ungkapan yang mengandung ungsur bimbingan, pendidikan, pengajaran, kisah-kisah, berita gembira, peringatan, pesan-pesan positif yang bisa dijadikan pedoman dalam kehidupan agar mendapatkan keselamatan di dunia maupun di akhirat. Metode ini merupakan salah satu metode pembelajaran di antara sekian banyak metode yang digunakan oleh para pendidik.

Untuk menumbuhkan sikap tawadhu’ terhadap anak seorang pendidik bisa menggunakan metode mau’izhah hasanah, baik dengan tabsyir maupun tandzir. Tabsyir berarti menyampaikan kepada anak mengenai pahala, imbalan, manfaat, dan keutamaan-keutamaan tawadhu’. Sedangkan tandzir adalah mengingatkan mereka perihal akibat, ancaman bagi orang yang takabbur. Hal ini sangat penting disampaikan kepada mereka sehingga mereka menyadari bahwa tawadhu’ adalah sifat yang harus dimiliki  bagi setiap muslim yang baik. Dengannya pula akan tumbuh rasa khauf (takut), raja’ (harap), dan kecintaan mereka dalam kepada Allah Ta’ala.

Kedua, tafakkur asal muasal manusia diciptakan

Untuk menumbuhkan ketawadhuan sangat diperlukan bagi orangtua atau pendidik untuk mengajak mereka bertafakkur tentang asal muasal diciptakannya manusia. Sehingga anak menyadari siapa dirinya, dia akan menilai bahwa dirinya adalah insan yang rendah dan hina. Karena manusia bila dilihat dari asal penciptaannya berasal dari setetes mani yang keluar dari saluran keluarnya air kencing. Kemudian menjadi segumpal darah, segumpal daging dan akhirnya menjadi seorang insan. Berawal dari tidak bisa mendengar, tidak melihat dan lemah kemudian menjadi insan yang sempurna penciptaannya. Allah Ta’ala berfirman:

مِنْ أَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهُ. مِن نُّطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ. ثُمَّ السَّبِيلَ يَسَّرَهُ

“Dari apakah Allah menciptakannya? Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya, kemudian Dia memudahkan jalannya.” (QS. ‘Abasa : 18-20)

Allah Ta’ala juga berfirman:

إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن نُّطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَّبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعاً بَصِيراً

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan ia mendengar dan melihat.” (QS. Al-Insan: 2)

Apabila anak menyadari kondisi manusia seperti hal di atas, maka akan tumbuh ketawadhuan dan hilang perasaan takkabur, sebagaimana Imam Ibnu Hibban mengatakan: “Bagaimana mungkin seseorang tidak tawadhu’ padahal ia diciptakan dari setetes mani yang hina dan akhir hidupnya ia akan kembali menjadi bangkai yang menjijikkan serta kehidupannya di dunia ia membawa kotoran?”

Ketiga, melatih anak untuk mengenali diri bahwa tidak ada kelebihan melainkan datang dari Allah

Menjadi hal yang lumrah seorang anak akan merasa bangga dengan prestasi atau kelebihan yang ia miliki. Akan tetapi sebagai orangtua atau pendidik haruslah menamkan pada diri anak bahwa sejatinya prestasi, kecerdasan, kekuatan, dan kelebihan yang ada adalah karunia dari Allah Ta’ala. Ketika anak sudah mengenali bahwa kelebihan yang ia miliki adalah karunia Allah Ta’ala pantang ia untuk sombonng dan berbangga diri terhadap orang lain.

Keempat, tidak berlebihan dalam memenuhi keinginan anak

Keinginan anak untuk selalu dikabulkan permintaannya merupakan suatu hal yang seringkali menjadi masalah bagi orangtua. Orangtua seharusnya tidak memenuhi semua permintaan anak apalagi kalau barang tersebut belum sesuai usianya.Terlalu memanjakan anak akan membawa dampak perkembangan anak yang tidak baik di kemudian hari.  Memanjakan anak secara berlebihan merupakan sebuah kesalahan besar yang menyebabkan rapuhnya jiwa seorang anak.

Perlu diketahui bahwa pola mengasuh dan mendidik anak seperti ini bisa membahayakan perkembangan anak. Untuk itu, para orangtua atau pendidik mesti berhati-hati sebelum terlambat. Sebab, anak yang selalu mendapatkan segala yang mereka inginkan akan tumbuh menjadi pribadi yang kurang baik dan tempramen. Sehingga, anak tumbuh dan terbiasa hidup diwujudkan keinginannya, royal, bersuka ria, egois, dan hanya mementingkan diri sendiri. Jika anak terbiasa dengan gaya hidup seperti ini maka akan sulit untuk bisa menghargai orang lain, sulit bersikap tawadhu’, bahkan ia lebih suka membanggakan dirinya dan meremehkan orang lain. Maka dari itu sudah seyogianya bagi orangtua untuk melatih anak dengan memenuhi keinginan anak berdasarkan asas manfaat dan kebutuhan, serta mngenalkan mereka bahwa setiap apa yang kita miliki kelak akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah Ta’ala.

Kelima, keteladanan

Orangtua atau pendidik harus memberikan keteladanan yang baik kepada anak. Karena berperilaku dan berakhlak dengan baik, taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, menjalankan syariat Allah, serta bersikap tawadhu’ haruslah dimulai dari orangtua atau pendidik. Bagaimana kita mengharapkan seorang anak yang memiliki ketawadhu’an sedangkan orangtua dan pendidik tidak memulai dari dirinya sendiri. Anak-anak akan mengikuti apa yang telah dicontohkan oleh orangtuanya ataupun pendidiknya dalam perilaku sehari-hari. Mereka sebagai rujukan moral dan sumber informasi, kedua hal ini harus  disadari orangtua dan pendidik. Sebagai rujukan moral atau keteladanan, orangtua dan pendidik dituntut bertingkah laku yang positif baik dalam berbicara maupun berperilaku, terlebih mengajarkan mereka bersikap tawadhu’.

Dari uraian di atas menjelaskan bahwa sebagai orangtua atau pendidik ternyata memiliki tanggung jawab yang begitu besar. Di antara tanggung jawab orangtua adalah mengenalkan dan menanamkan sikap tawadhu’ kepada anak atau peserta didik, sehingga terbentuknya kepribadian yang baik pada anak dan tumbuh menjadi generasi yang sholih berpredikat ibadurrahman. Wallahu a’lam bissawab.

 

Baca Juga

Mendidik Anak Untuk Jujur (Bagian 1)

Seorang ibu merasa kewalahan menghadapi puteranya yang berusia 9 tahun yang suka berbohong. Sang anak ...

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami