Home / Tarbiyah / Mendidik Anak Jujur (Bagian 2)

Mendidik Anak Jujur (Bagian 2)

Dusta adalah sebuah perilaku tercela yang apabila tidak ditangani sedini mungkin akan menjadi bisa menjadi kebiasaan. Para pendidik, khususnya orang tua harus mencurahkan perhatian dan melakukan upaya-upaya perbaikan dari kebiasaan berbohong ini agar tidak menjadi kebiasan buruk yang mengakar kuat dalam diri seorang anak.

Pada edisi yang lalu telah kami sebutkan beberapa pentunjuk Rasulullah agar anak selalu jujur dan menjauhi dusta. Di antaranya menjadi orang tua atau pendidik teladan dalam kejujuran, memberi anak pujian dan tidak berlebihan dalam menghukum anak. Pada edisi kali ini kami akan melanjutkan pembahasan tersebut. Adapun di antara petunjuk Rasulullah agar anak jujur adalah:

 

Jangan Mudah Berjanji kepada Anak

Janji adalah hutang. Berani berjanji beranrti harus siap memenuhi.  Bila tidak bersiap-siaplah anda akan dicap sebagai pembohong dan pengingkar janji. Oleh karena itu Rasulullah mengatakan bahwa mengingkari janji merupakan kararakter seorang munafik. Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخَلَفَ

“Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga. jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia ingkar, dan jika dipercaya ia berkhianat.” (HR Bukhari)

Banyak orang tua dan para pendidik tak menyadari bahwa anak sangat mengingat janji orang tua walau waktunya sudah berlalu cukup lama. Seringnya orang tua menunda janji atau membatalkan janji kepada anak akan berakibat  si anak melakukan pembalasan dengan berbohong agar keinginnanya terpenuhi. Oleh karena itu sebelum orang tua berjanji  pada anak sebaiknya  mempertimbangkannya dengan pertimbagan yang matang dan realisis.

 

Pilihkan Lingkungan dan Teman yang Jujur

Lingkungan yang baik hari ini menjadi kebutuhan primer bagi setiap keluarga. Sebab tak mungkin anak akan terus menerus berada di dalam rumah. Bila anak sudah mulai berosialisasi maka di situlah tingkat kepercayaan anak pada orang tua akan berkurang. Lebih-lebih saat anak memasuki masa remaja.  Karenanya orang tua harus pandai memilihkan lingkungan yang baik bila ingin buah hatinya terjaga. Seringkali kebiasaan berbohong pada anak diawali oleh pengamatan si anak terhadap teman-temannya. Si anak melihat bahwa dengan berbohong teman-temannya akan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Akhirnya sang anak melakukan copiying terhadap perilaku teman-temannya. Bila hal ini terjadi besar kemungkinan akan menjadi karakter menetap pada sang anak. Rasulullah bersabda:

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang bergantung pada agama temannya. Maka hendaknya ia melihat dengan siapa dia berteman. (Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 4833), at-Tirmidzi (no. 2378), Ahmad (II/303)

 

Jangan Sungkan Untuk Minta maaf

Bila orang tua salah atau belum menepati janji jangan sungkan untuk minta maaf. Salah satu kesalahan utama orang tua adalah egois dan enggan mengakui kesalahan di depan anak. Ada semacam aturan tak tertulis yaitu anak selalu salah dan orang tua pasti benar dan pasti paling tahu mana yang terbaik.  Padahal dunia anak kita jelas sangat berbeda dengan dunia orang tua saat masih kanak-kanak. Oleh karena itu orang tua seyogyannya harus mengikui perkembangan dan mengakui bila ada kekurangan-kekurangan. Jangan mengukur anak dengan situasi masa kecil orang tua di masa lalu. Berusahalah memposisikan anak sebagai teman diskusi sehingga anak betul-betul percaya kepada ortu

 

Tanamkan Rasa takut kepada Allah

Mendidik anak buka sekadar membiasakan anak-anak dengan peraturan yang kita buat. Lebih dari itu mendidik anak adalah menanamkan rasa takut dalam diri anak.  Rasa takut kepada Allah inilah yang bila telah tertanam dalam diri anak betul-betul akan menjadi konrol yang kuat bagin anak dalam setiap situasi dan waktu. Dengan cara inilah anak tak akan berani berbohong meski tak ada satupun makhluk yang mengawasi.  Karakter seperti inilah yang coba ditanamkan Rasulullah pada Ibnu Abbas Ra.

Kisah khalifah umar bin khattab berikut ini semoga menjadi contoh bagaimana menanamkan sebuah kejujuran pada anak. Khalifah Umar bin Khaththab merupakan sosok pemimpin setelah meninggalnya Rasulullah Muhammad SAW yang sangat disegani. Ini karena Umar terkenal sangat teguh menjaga amanah dan tidak mau menyimpang.

Kala itu, Umar sedang mengadakan perjalanan ke suatu tempat. Di tengah perjalanan, dia bertemu dengan seorang anak penggembala kambing.

Anak ini hidup sebatang kara karena kedua orang tuanya telah meninggal dunia. Dia pun hidup mengandalkan upah yang diperolehnya dengan menggembala kambing.

Melihat si anak itu, Umar kemudian ingin menguji apakah anak ini dapat bersikap jujur dan amanah. Maka, didekatilah si anak ini.

“Banyak sekali kambing yang kau pelihara. Semuanya bagus dan gemuk-gemuk. Juallah kepadaku barang satu ekor saja,” kata Khalifah Umar kepada si anak gembala.

“Saya bukan pemilik kambing-kambing ini. Saya hanya menggembalakan kambing-kambing ini dan memungut upah darinya,” kata anak gembala.

“Katakan saja kepada majikanmu, salah satu kambingnya dimakan serigala,” ucap Khalifah Umar.

Anak gembala itu terdiam. Sejenak kemudian, dia lalu berkata, “Di mana Allah? Di mana Allah? Jika tuan menyuruh saya berbohong, di mana Allah? Bukankah Allah Maha Melihat? Apakah tuan mau menjeruskan saya ke dalam neraka karena telah berbohong?”

Mendengar jawaban itu, Khalifah Umar menitikkan air mata. Dipeluknya anak gembala itu, lalu dia meminta agar si anak gembala itu mengantarkannya kepada sang majikan.

Setelah bertemu dengan majikan si anak gembala, Khalifah Umar kemudian menawar harga anak itu. Kesepakatan terjadi, dan si anak gembala ini dimerdekakan oleh Khalifah Umar.

Selain itu, Khalifah Umar juga membeli semua kambing yang digembalakan si anak tadi. Kambing-kambing itu kemudian diberikan kepada si anak gembala, dan menjadi hak penuh miliknya, sebagai hadiah atas kejujuran dan amanah si anak tadi.

 

Pujilah Kejujurannya

Saat ia berkata jujur, jangan diam saja. Berikanlah pujian agar ia mengerti, Anda menghargai kejujurannya. Katakan “Mama tahu sulit untuk mengatakan yang sebenarnya. Mama sangat bangga karena kamu sudah bisa terbuka dan terus terang.”

Dr. Markham pun menambahkan, jika ia berbohong saat menjatuhkan lampu, misalnya. Dan mengatakan bahwa lampu itu jatuh dengan sendirinya, tawarkan saja jawaban versi Anda seperti “Oh, adik bilang mungkin lampunya jatuh sendiri, tapi mama tidak pernah lihat lampu jatuh sendiri, ia kan tidak punya kaki seperti kita. Tapi kadang orang bisa tak sengaja menyenggol lampu saat sedang bermain, bukan?”

Lalu berempati dengan perasaan anak juga akan membantunya merasa nyaman. Misalnya dengan bertanya “Adik takut ya saat lampunya jatuh? Adik takut mama marah?” Dan ungkapkan bahwa mengatakan hal yang sejujurnya dan terus terang justru akan membuat Anda senang, apa pun itu yang terjadi. Tegaskan bahwa kejujurannya jauh lebih penting daripada lampu apa pun.

Mengatakan kepada anak bahwa kejujuran mereka membahagiakan kita, telah terbukti mengurangi kebohongan ketimbang sekadar menjanjikan untuk tidak menghukumnya (meski kita juga harus mengatakan itu, sih..). Ingat saja, tujuan kebohongan mereka kan sebetulnya untuk membuat kita senang.

 

Mendoakan Anak

Setelah semua usaha dan ikhtiyar ditempuh maka jalan terakhir yang tak boleh dilupakan adalah doa. Mendoakan anak-anak agar mereka menjadi anak sholih dan berkarakter jujur di manapun dan kapanpun. Karena doa orang tua untuk anaknya mustajab. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ

“Tiga doa yang mustajab dan tidak ada keraguan di dalamnya; doa orang yang terzhalimi, doa musafir dan doa orang tua untuk anaknya.” (HR. At Tirmidzi dan Ahmad)

Tugas orang tua hanyalah mengusahakan dan mendoakan anak agar menjadi shalih dan shalihah. Adapun hasil akhir adalah taufik dari Allah SWT. Wallahu a’lam

 

 

 

 

Baca Juga

Dermawan Tak Harus Hartawan

Islam adalah agama yang sangat menekankan agar orang menginfakkan harta kekayaannya di jalan yang baik, ...

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami