BerandaKajianTarbiyahMetode Pendidikan Rasulullah SAW (Bagian. 1)

Metode Pendidikan Rasulullah SAW (Bagian. 1)

- Advertisement -spot_img

Mendidik merupakan tugas mulia yang dibebankan kepada setiap manusia, karena mendidik akan mengantarkan seseorang kepada derajat yang tinggi (mulia), terlebih pendidikan tersebut bermuara kepada konsentrasi mencetak orang-orang yang hanya tunduk dan patuh kepada syariat Allah.

Namun demikian, seorang pendidik harus memerhatikan rambu-rambu ketika mendidik sehingga ia sampai kepada tujuan utama yang hendak dicapai. Aktivitas pendidikan tidak akan mencapai target utama yang diinginkan jika tidak memerhatikan konsep atau rambu-rambu yang telah ditetapkan.

Marilah kita perhatikan bagaimana metode Rasulullah SAW dalam mendidik para sahabat  sehingga mereka menjadi khairu umat (umat terbaik). Perhatian Nabi SAW terhadap metode pendidikan sangat besar sekali, karena beliau sangat paham dengan kondisi objek yang dihadapinya.

Mengapa Rasulullah SAW berhasil mendidik para sahabat sehingga menjadi khairu umat (umat terbaik)? Berikut diatara metode yang biasa digunakan oleh Rasulullah SAW, yaitu:

  1. Keteladanan dengan budi pekerti yang baik dan luhur.

Diantara metode pengajaran beliau yang paling besar pengaruhnya ketika memerintahkan sesuatu adalah metode keteladanan. Beliau adalah seorang sosok yang selalu mengerjakan sesuatu terlebih dahulu sebelum memerintahkannya kepada orang lain. Tidak diragukan lagi bahwa metode ini memberikan pengaruh sangat besar pada orang yang diperintahkan untuk mengerjakan sesuatu dan dapat membantu orang yang diperintah dengan mudah memahami apa yang diperintahkan kepadanya, dibandingkan metode ceramah atau memberikan penjelasan, karena metode teladan merupakan fitrah pendidikan.

Setelah perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah SAW memerintahkan para sahabat untuk bertahallul dan menyembelih binatang mereka, namun mereka tidak melakukannya bahkan menganggap bahwa berperang lebih utama daripada perjanjian Hudaibiyah. Setelah beliau menceritakan hal itu kepada istri beliau, Ummu Salamah radhiyallahu anha, lalu sang istri mengatakan agar beliau melakukannya perbuatan tersebut terlebih dahulu. Setelah beliau melakukannya, maka barulah para sahabat melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Demikian pula dalam riwayat Abu Daud disebutkan, ketika ada seseorang datang kepada beliau dan bertanya bagaimana cara berwudhu’, dan beliau pun memberikan contoh kepada sahabat tersebut. Begitu pula ketika beliau mengajarkan shalat kepada para sahabatnya.

 

Sungguh, Al-Qur’an adalah akhlak Rasulullah SAW. imam as-Syathibi rahimahullah berkata dalam kitabnya al-I’tisham, “Akhlak beliau hanyalah Al-Qur’an, karena beliau menjadikan wahyu sebagai penguasa atas dirinya, sehingga ilmu dan amal beliau sesuai dengan wahyu. Beliau senantiasa cocok, menyuarakan, tunduk, dan mendukung keputusan wahyu.”

  1. Mengajarkan syariat secara bertahap.

Rasulullah Saw selalu memerhatikan tahapan dalam pengajaran. Beliau mendahulukan perkara yang paling penting, kemudian tingkatan di bawahnya. Beliau mengajarkan sedikit demi sedikit dan berangsur-angsur, agar lebih mudah diterima dan lebih kokoh mengakar di dalam hati, baik untuk dihafal maupun dipahami. Seperti, beliau mengajarkan iman kepada para sahabat sebelum Al-Qur’an, kemudian mereka belajar Al-Qur’an sehingga keimanannya semakin bertambah.

Demikian pula pesan Nabi Saw kepada Mu’adz bin Jabal ketika mengutusnya ke Yaman. Selain itu, beliau mengajarkan sepuluh ayat kepada para sahabat, lalu mereka mengamalkannya, mengarjakan sepuluh ayat kepada para sahabat, mereka memahami makna yang terkandung di dalamnya, lalu mengamalkannya. Beliau tidak menambahnya sebelum mereka mengamalkannya.

  1. Metode canda dan humor.

Senda gurau dan akan menghibur manusia dan meringakan beban kelelahan yang menimpanya. Oleh karena hidup tidak terlepas dari hal-hal yang pahit dan tidak menyenangkan. Sehingga canda humor akan meringankan semua itu terhadap jiwa. Manusia akan bisa belajar lebih banyak dengan senyuman dan kegembiraan daripada belajar dengan wajah yang cemberut dan mengernyitkan wajah.

Rasulullah SAW terkadang bercanda dan melontarkan humor kepada para sahabatnya, akan tetapi beliau tidak pernah mengatakan kecuali kebenaran. Beliau sering menyelipkan ilmu di tengah canda dan humor tersebut. Seperti, ketika ada seorang laki-laki meminta unta (zakat) kepada beliau, maka Nabi hendak memerikan anak unta kepada laki-laki tersebut. Kemudian orang itu berkata: apa yang bisa aku lakukan dengan anak unta? Beliau SAW menjawab: bukankah unta dewasa juga dilahirkan oleh induknya?.

  1. Memerhatikan perbedaan kondisi masing-masing orang yang belajar.

Nabi SAW sangat memerhatikan perbedaan individu diantara orang-orang yang belajar, baik sekedar orang yang mendengar maupun yang bertanya.

Di dalam musnadnya, imam Ahmad meriwayatkan hadits dari Abdullah bin Amru bin al-‘Ash RA, dia berkata: ketika kami sedang bersama Nabi Saw, datanglah seorang pemuda lalu berkata: wahai Rasulullah, bolekah aku mencium istriku padahal aku sedang berpuasa? Beliau menjawab: tidak boleh. Kemudian datang lagi seorang kakek-kakek, lalu bertanya: bolehkah aku mencium istriku padahal aku sedang berpuasa? Beliau menjawab: boleh.” Lalu kami pun saling memandang satu sama lain, sehingga Rasulullah saw bersabda, “Aku tahu mengapa kalian saling memandang satu sama lain. Sesungguhnya orang tua itu dapat menahan nafsu syahwatnya.”

Contoh lain, ketika Abu Dzar meminta nasihat kepada beliau, maka beliau bersabda: bertakwalah kepada Allah dimanapun kamu berada, dan ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik yang akan menghapusnya, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik. (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Demikian pula ketika seorang laki-laki meminta nasihat kepada beliau, maka beliau bersabda, “Jangan marah”. Beliau terus mengulangi perkataan itu berkali-kali. Setiap kali mengulanginya, beliau bersabda, “Jangan marah.” Begitu pula ketika seorang arab badui meminta nasihat kepada beliau untuk menunjukkan amalan yang memasukkannya ke dalam surga dan menjauhkannya dari neraka, maka beliau bersabda: sembahlah Allah, jangan berbuat syirik, mendirikan shalat yang wajib, membayar zakat yang diwajibkan, dan berpuasa Ramadhan.

  1. Metode dialog dan tanya jawab.

Salah satu metode pengajaran beliau yang menonjol adalah dialog dan tanya jawab. Cara ini dapat membangkitkan perhatian pendengar dan memancing minta mereka terhadap jawaban, mendayagunakan pikiran untuk menjawab, agar jawaban Nabi Saw –jika mereka tidak mampu menjawabnya- lebih mudah dipahami dan berpengaruh ke dalam jiwa.

Diantara bentuk metode ini adalah Rasululllah SAW pernah meminta pendapat sahabat seandainya ada sungai di depan pintu rumah salah seorang diantara mereka, dia mandi disitu setiap hari sebanyak lima kali, apakah masih tersisa kotoran pada dirinya sedikit pun? Demikian pula, Rasulullah Saw pernah bertanya kepada para sahabat: siapakah muslim itu, tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut? Tahukah kalian siapakah yang bertanya tentang islam, iman dan ihsan itu?

Pertama kali beliau bertanya kepada mereka, kemudian yang kedua beliau sendiri yang menjelaskan jawaban atas  pertanyaan tersebut. Hal ini merupakan cara untuk menstimulasikan ingatan mereka. Salah satu contoh terkenal tentang metode tanya jawab adalah hadits Jibril AS keika mengajarkan tentang Islam, iman dan ihsan (Azzam, Ed.).

Baca juga kelanjutan artikel ini dengan klik link :

Metode Pendidikan Rasulullah SAW (Bagian. 2)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
12,700PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
9,600PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami