BerandaMateri KhutbahKhutbah JumatPenghujung Ramadhan, Puncak Kesungguhan Seorang Mukmin

Penghujung Ramadhan, Puncak Kesungguhan Seorang Mukmin

- Advertisement -spot_img

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بَلَّغَنَا شَهْرَ رَمَضَانَ، وَمَنَّ عَلَيْنَا بِبُلُوغِ عَشْرِهِ الْأَوَاخِرِ، أَيَّامًا مُبَارَكَةً يَتَضَاعَفُ فِيهَا الْأَجْرُ، وَتُفْتَحُ فِيهَا أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ وَالْمَغْفِرَةِ، وَيَتَسَابَقُ فِيهَا الْمُؤْمِنُونَ إِلَى الطَّاعَاتِ وَالْقُرُبَاتِ. نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَنَشْكُرُهُ عَلَى نِعْمَةِ الْإِسْلَامِ وَالْإِيمَانِ، وَعَلَى مَا أَعَانَنَا عَلَيْهِ مِنَ الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ وَتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ.

وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً نَرْجُو بِهَا النَّجَاةَ يَوْمَ نَلْقَاهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الَّذِي كَانَ أَشَدَّ النَّاسِ اجْتِهَادًا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ وَاهْتَدَى بِهَدْيِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ،

فَإِنِّي أُوصِيكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللَّهِ؛ فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ لِلْمُؤْمِنِ فِي دُنْيَاهُ وَأُخْرَاهُ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي فَرِيضَةِ الصِّيَامِ:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Mukadimah: Ramadhan Hampir Pergi, Apakah Iman Kita Masih Menyala?

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Alhamdulillah segala puji syukur sudah wajib kita panjatkan kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā atas karunia, taufik, hidayah dan inayah-Nya yang tercurahkan kepada kita semua sehingga kita masih diberi kesempatan dan kekuatan untuk tetap istiqomah menjalankan ibadah Ramadhan sampai di penghujungnya.

Tak lupa shalawat serta salam senantiasa tersampaikan kepada baginda Nabi agung Nabiyullah Muhammad ﷺ yang kita nantikan syafa’at beliau di akhirat kelak, semoga juga tersampaikan shalawat dan salamnya kepada keluarga beliau, para sahabat dan orang-orang yang senantiasa menepaki sunnah-sunnahnya sampai akhir hayat. Amin.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Ramadhan adalah tamu agung yang datang hanya setahun sekali. Ia datang membawa cahaya, menyejukkan hati yang kering, dan menghidupkan jiwa yang lama tertidur. Di awal kedatangannya, kita menyambutnya dengan penuh kegembiraan. Masjid-masjid dipenuhi oleh jamaah, lantunan Al-Qur’an terdengar di berbagai penjuru, dan semangat ibadah terasa begitu kuat. Namun hari-hari berlalu begitu cepat. Tanpa terasa, kini kita telah berada di penghujung Ramadhan. Bulan yang penuh rahmat ini perlahan bersiap meninggalkan kita. Maka di saat-saat seperti inilah seorang mukmin seharusnya berhenti sejenak untuk merenung: setelah hampir sebulan kita menjalani Ramadhan, apakah iman kita masih menyala, atau justru mulai redup di akhir perjalanan?

Realitas yang sering kita saksikan sungguh mengundang renungan. Di awal Ramadhan, shaf-shaf shalat begitu rapat dan penuh. Masjid terasa hidup dengan jamaah yang berbondong-bondong menunaikan ibadah. Namun ketika Ramadhan memasuki sepuluh malam terakhir, justru sebagian jamaah mulai berkurang. Padahal inilah saat-saat paling mulia dalam bulan Ramadhan. Allah ﷻ berfirman:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (ajal).” (QS. Al-Hijr: 99).

Ayat ini mengingatkan kita bahwa ibadah tidak boleh berhenti di tengah jalan. Seorang mukmin tidak mengenal kata lelah dalam ketaatan hingga akhir hayatnya. Justru keikhlasan dan keteguhan seorang hamba terlihat dari bagaimana ia bertahan sampai akhir. Maka jika Ramadhan hampir pergi, semestinya semangat kita bukan semakin melemah, tetapi semakin kuat. Sebab seorang hamba yang memahami nilai Ramadhan akan berusaha menutupnya dengan amal yang terbaik.

Fenomena Akhir Ramadhan: Masjid Sepi, Pasar Ramai

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Di penghujung Ramadhan, kita sering menyaksikan sebuah fenomena yang patut direnungkan bersama. Pada malam-malam pertama Ramadhan, shaf-shaf shalat tarawih tampak rapat dan penuh. Masjid hidup dengan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an dan doa-doa yang dipanjatkan dengan penuh harap. Namun ketika Ramadhan memasuki sepuluh malam terakhir, pemandangan itu perlahan berubah. Shaf-shaf mulai renggang, jamaah qiyamul lail semakin berkurang, dan sebagian orang tidak lagi terlihat di masjid sebagaimana di awal bulan. Di saat yang sama, pemandangan yang berbeda justru terlihat di luar sana. Pasar, mall, dan pusat-pusat perbelanjaan semakin padat oleh orang-orang yang sibuk menyiapkan berbagai keperluan hari raya. Seakan-akan perhatian manusia beralih dari menutup Ramadhan dengan ibadah kepada menyambut Idul Fitri dengan urusan dunia.

Padahal, justru sepuluh malam terakhir inilah puncak kemuliaan Ramadhan. Inilah saat-saat paling berharga yang tidak akan pernah kembali hingga tahun berikutnya, bahkan mungkin tidak semua dari kita akan bertemu kembali dengannya. Rasulullah ﷺ mengingatkan sebuah kaidah penting dalam kehidupan seorang mukmin. Beliau bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

“Sesungguhnya amal itu tergantung pada penutupnya.” (HR. Al-Bukhari, no. 6607).

Hadits ini mengajarkan kepada kita bahwa nilai sebuah amal sangat ditentukan oleh bagaimana ia diakhiri. Seperti seorang pelari yang mendekati garis akhir, justru saat itulah ia mengerahkan sisa tenaga terbaiknya. Demikian pula seorang mukmin dalam Ramadhan. Ketika bulan suci ini hampir berlalu, semestinya semangat ibadah semakin kuat, bukan semakin melemah. Sebab yang paling indah dalam perjalanan iman adalah ketika seseorang mampu menutupnya dengan kesungguhan dan ketaatan.

Perumpamaan: Pelari yang Sudah Mendekati Garis Finish

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Para ulama salaf telah memberikan gambaran yang sangat indah tentang hakikat perjalanan ibadah di bulan Ramadhan. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:

إِنَّ اللَّهَ جَعَلَ رَمَضَانَ مِضْمَارًا لِخَلْقِهِ، يَسْتَبِقُونَ فِيهِ بِطَاعَتِهِ إِلَى مَرْضَاتِهِ، فَسَبَقَ قَوْمٌ فَفَازُوا، وَتَخَلَّفَ آخَرُونَ فَخَابُوا.

“Sesungguhnya Allah menjadikan Ramadhan sebagai arena perlombaan bagi hamba-hamba-Nya. Di dalamnya mereka berlomba-lomba dalam ketaatan untuk meraih keridaan-Nya. Maka ada orang-orang yang berhasil mendahului hingga mereka memperoleh kemenangan, dan ada pula yang tertinggal sehingga mereka merugi.” (Ibnu Rajab Al-Hanbali, Lathaif al-Ma‘arif).

Perkataan ini memberikan gambaran bahwa Ramadhan bukan sekadar rutinitas ibadah tahunan, tetapi sebuah perlombaan menuju keridaan Allah. Dalam perlombaan itu ada orang-orang yang bersungguh-sungguh hingga sampai di garis kemenangan, dan ada pula yang tertinggal karena kelalaian. Maka seorang mukmin yang memahami nilai Ramadhan akan berusaha memanfaatkan setiap sisa waktunya untuk memperbanyak amal kebaikan sebelum kesempatan yang mulia ini benar-benar berlalu.

Para ulama juga memberikan perumpamaan yang sangat menarik tentang akhir perjalanan ini. Mereka mengatakan bahwa seorang penunggang kuda ketika telah melihat garis finish di hadapannya, justru akan memacu kudanya lebih kencang agar dapat mencapai tujuan dengan kemenangan. Ia tidak akan memperlambat langkah, apalagi berhenti sebelum sampai pada garis akhir. Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah menukil sebuah ungkapan indah:

إِنَّ الْخَيْلَ إِذَا دَنَتْ مِنْ غَايَةِ الْمِضْمَارِ بَذَلَتْ غَايَةَ جُهْدِهَا لِتَسْبِقَ، فَلَا تَكُنِ الْخَيْلُ أَفْطَنَ مِنْكَ.

“Sesungguhnya kuda-kuda pacu ketika telah mendekati akhir lintasan perlombaan, ia akan mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendahului. Maka jangan sampai kuda itu lebih cerdas darimu.” (Ibnu Rajab Al-Hanbali, Lathaif al-Ma‘arif).

Perumpamaan ini sangat dalam maknanya. Jika seekor kuda saja memahami bahwa kemenangan ada di garis akhir, maka seorang mukmin seharusnya lebih memahami hal itu. Ketika Ramadhan hampir berpisah dengan kita, semestinya kita tidak melemah dalam ibadah, tetapi justru memacu diri lebih kuat lagi dalam qiyamul lail, tilawah Al-Qur’an, istighfar, dan doa. Sebab boleh jadi inilah Ramadhan terakhir dalam kehidupan kita, dan kita ingin agar ia berakhir dengan ketaatan yang terbaik di sisi Allah.

Teladan Nabi ﷺ di Sepuluh Malam Terakhir

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Jika kita ingin mengetahui bagaimana seharusnya sikap seorang mukmin di penghujung Ramadhan, maka lihatlah teladan terbaik dari Rasulullah ﷺ. Beliau adalah manusia yang paling bertakwa kepada Allah, namun ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan, beliau tidak mengendurkan ibadahnya. Justru pada saat itulah kesungguhan beliau semakin terlihat. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan bahwa Rasulullah ﷺ apabila telah masuk sepuluh malam terakhir Ramadhan, beliau menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan semakin bersungguh-sungguh dalam ibadah. Nabi ﷺ bersabda dalam riwayat tersebut:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ الْأَوَاخِرُ أَحْيَا اللَّيْلَ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ، وَشَدَّ مِئْزَرَهُ

“Apabila telah masuk sepuluh malam terakhir Ramadhan, Rasulullah ﷺ menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan bersungguh-sungguh dalam ibadah.” (HR. Al-Bukhari, no. 2024; Muslim, no. 1174).

Hadits ini memberikan pelajaran yang sangat dalam bagi kita. Rasulullah ﷺ tidak hanya meningkatkan ibadahnya secara pribadi, tetapi beliau juga menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan qiyamul lail, doa, dan tilawah Al-Qur’an. Bahkan beliau tidak ingin keluarganya kehilangan keberkahan malam-malam tersebut, sehingga beliau membangunkan mereka agar turut merasakan keindahan beribadah di malam Ramadhan. Inilah teladan yang sangat mulia: ketika Ramadhan hampir berakhir, seorang mukmin tidak larut dalam kesibukan dunia, tetapi justru semakin mendekatkan diri kepada Allah. Ia menghidupkan malamnya dengan ibadah, mengajak keluarganya untuk berbuat kebaikan, dan berusaha agar sepuluh malam terakhir Ramadhan menjadi saat-saat terbaik dalam seluruh perjalanan ibadahnya.

Sekilas Kisah Salafus Shalih Menjelang Perpisahan dengan Ramadhan

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Berbeda dengan sebagian manusia pada zaman ini yang justru semakin lalai ketika Ramadhan hampir berakhir, para ulama salafus shalih memiliki perasaan yang sangat berbeda. Mereka justru diliputi kesedihan ketika Ramadhan hendak berpisah dengan mereka. Bukan karena mereka merasa lelah dengan ibadah, tetapi karena mereka khawatir apakah amal yang telah mereka lakukan selama Ramadhan benar-benar diterima oleh Allah atau tidak. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah mengatakan bahwa seorang mukmin sejati adalah orang yang menggabungkan antara melakukan amal kebaikan dan rasa takut amalnya tidak diterima oleh Allah. Hati mereka tidak dipenuhi rasa bangga atas ibadah yang telah dilakukan, melainkan dipenuhi harapan dan kecemasan: berharap agar amal mereka diterima, namun juga takut jika ternyata semua itu tidak bernilai di sisi Allah. Inilah keadaan hati orang-orang saleh. Mereka tidak pernah merasa puas dengan amalnya, dan mereka menyadari bahwa Ramadhan adalah kesempatan yang sangat berharga. Karena itu ketika Ramadhan hampir pergi, mereka semakin bersungguh-sungguh dalam ibadah, seakan-akan mereka sedang berusaha mengejar sisa-sisa rahmat dan ampunan Allah sebelum pintu kesempatan itu benar-benar tertutup.

 

Renungan: Jangan Sampai Kita Kehilangan Lailatul Qadr

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Di antara keistimewaan terbesar pada sepuluh malam terakhir Ramadhan adalah adanya malam yang sangat agung, yaitu Lailatul Qadr. Malam yang nilainya tidak dapat dibandingkan dengan malam-malam lainnya. Allah ﷻ berfirman:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3).

Para ulama menjelaskan bahwa seribu bulan itu setara dengan lebih dari delapan puluh tiga tahun ibadah. Artinya, seseorang yang mendapatkan Lailatul Qadr seakan-akan ia telah beribadah sepanjang puluhan tahun dalam satu malam. Namun betapa menyedihkannya jika pada malam-malam yang penuh kemuliaan itu sebagian manusia justru tenggelam dalam kesibukan dunia, sibuk berbelanja, sibuk mempersiapkan perayaan hari raya, sementara kesempatan yang begitu agung perlahan berlalu tanpa disadari. Bisa jadi pada saat manusia sibuk dengan urusan dunia, malam yang lebih baik dari delapan puluh tiga tahun ibadah justru lewat begitu saja. Karena itu seorang mukmin yang memahami nilai malam-malam Ramadhan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia akan menghidupkan malamnya dengan doa, istighfar, dan ibadah, berharap agar Allah mempertemukannya dengan malam yang penuh kemuliaan itu.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَتَقَبَّلْ صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُتَّقِينَ.
أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

 

Penutup Pesan Khutbah: Semangat Sampai Akhir

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Kini Ramadhan telah berada di penghujungnya. Hari-harinya yang tersisa adalah kesempatan terakhir yang mungkin tidak akan pernah kembali lagi dalam kehidupan kita. Betapa banyak orang yang dahulu berpuasa bersama kita, namun tahun ini mereka telah lebih dahulu dipanggil oleh Allah dan tidak lagi memiliki kesempatan untuk merasakan Ramadhan. Karena itu jangan sampai kita termasuk orang yang baru menyadari nilainya setelah Ramadhan benar-benar pergi. Selagi pintu-pintu rahmat masih terbuka, selagi malam-malam Ramadhan masih tersisa, marilah kita menutupnya dengan amal-amal terbaik: menghidupkan malam dengan shalat, memperbanyak istighfar, memanjatkan doa dengan penuh harap, memperbanyak sedekah, serta mendekatkan diri kepada Al-Qur’an. Jadilah seperti seorang pelari yang ketika melihat garis akhir di hadapannya justru mempercepat langkahnya dengan seluruh sisa tenaga yang ada. Demikianlah seharusnya seorang mukmin di akhir Ramadhan, semakin mendekati akhir justru semakin kuat semangatnya dalam beribadah, berharap agar perpisahan dengan Ramadhan menjadi perpisahan yang indah, penuh dengan rahmat, ampunan, dan keberkahan dari Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.

فَيَا عِبَادَ اللَّهِ أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى زَادُ الْقُلُوبِ، وَنُورُ الطَّرِيقِ، وَعِصْمَةُ الْعَبْدِ فِي الشِّدَّةِ وَالرَّخَاءِ. فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَاسْتَمْسِكُوا بِالْهُدَى، وَأَكْثِرُوا مِنَ الِاسْتِغْفَارِ، فَإِنَّهُ أَمَانُ الْعِبَادِ وَسَبَبُ الرَّحْمَةِ وَدَفْعِ الْبَلاءِ.

فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ  إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.

اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ عَلَى نِعْمَةِ بُلُوغِ رَمَضَانَ، وَنَسْأَلُكَ يَا رَبَّنَا أَنْ تَجْعَلَنَا فِيهِ مِنَ الْمَقْبُولِينَ، وَأَنْ تَتَقَبَّلَ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَتِلَاوَتَنَا لِكِتَابِكَ، وَأَنْ لَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْمَحْرُومِينَ. اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى حُسْنِ خِتَامِ هَذَا الشَّهْرِ الْمُبَارَكِ، وَوَفِّقْنَا لِاغْتِنَامِ مَا بَقِيَ مِنْ أَيَّامِهِ وَلَيَالِيهِ، وَاجْعَلْنَا فِيهَا مِنَ الْمُجْتَهِدِينَ فِي الطَّاعَةِ، الْمُقْبِلِينَ عَلَيْكَ بِقُلُوبٍ خَاشِعَةٍ وَنُفُوسٍ مُخْلِصَةٍ. اللَّهُمَّ بَلِّغْنَا لَيْلَةَ الْقَدْرِ، وَاجْعَلْ لَنَا فِيهَا نَصِيبًا وَافِرًا مِنَ الرَّحْمَةِ وَالْمَغْفِرَةِ وَالْعِتْقِ مِنَ النَّارِ.

اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَيَا مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا إِلَى طَاعَتِكَ. اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا صِدْقَ الْإِيمَانِ وَكَمَالَ الْيَقِينِ، وَزَيِّنْ قُلُوبَنَا بِالطَّاعَةِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمُسْتَقِيمِينَ عَلَى أَمْرِكَ فِي رَمَضَانَ وَبَعْدَ رَمَضَانَ. اللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِيمَهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ، وَاخْتِمْ لَنَا شَهْرَ رَمَضَانَ بِالْقَبُولِ وَالْمَغْفِرَةِ وَالرِّضْوَانِ، وَلَا تَجْعَلْنَا بَعْدَهُ مِنَ الْغَافِلِينَ. اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عُتَقَائِكَ مِنَ النَّارِ فِي هَذِهِ اللَّيَالِي الْمُبَارَكَةِ، وَأَدْخِلْنَا بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ. آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
12,700PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
9,600PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami