BerandaKajianTarbiyahKisah Nabi Ya'qub dan Penanaman Sifat Amanah Dalam Diri Anak

Kisah Nabi Ya’qub dan Penanaman Sifat Amanah Dalam Diri Anak

- Advertisement -spot_img

Penanaman Sifat Amanah Pada Anak Dalam Kisah Nabi Ya’qub
Oleh Mujahid Ammar Syahida (Mahasantri Ma’had Aly li Ta’hil Al-Mudarrisin)

Manusia adalah makhluk sosial yang dalam menjalani kehidupannya tak bisa lepas dari bantuan orang lain. Oleh karena itu seseorang harus menjalin hubungan yang baik dengan sesamanya.

Dalam rangka menjaga hubungan terhadap sesama dibutuhkan rasa saling percaya satu sama lain. Rasa saling percaya tidak akan bisa tumbuh kecuali dengan adanya kesadaran dari masing-masing personal untuk selalu bersikap amanah.

Sifat ini memiliki andil besar yang akan mempengaruhi mudah tidaknya seseorang diterima di sebuah lingkungan masyarakat.[1]

Amanah merupakan akhlak mendasar yang menjadi karakter Nabi Muhammad ﷺ sejak beliau kecil hingga menjadi Nabi. Bahkan, kaum musyrikin sendiri menyebut beliau sebagai Ash-Shadiq Al-Amin (orang yang selalu jujur dan terpercaya).[2]

Belum lagi dalam Al-Qur’an, banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang menuntut umat Islam untuk berlaku amanah. Namun sungguh disayangkan, realita saat ini menunjukkan bahwa sifat amanah mulai pudar dari pribadi masyarakat kita.

Diantaranya banyak kasus tilep dan korupsi di negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim ini.

Data menunjukkan bahwa pada tahun 2023, sejak bulan Januari-Juni, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menerima 2.707 laporan dugaan korupsi selama periode semester I  tahun 2023.

Wakil Ketua KPK Johanis Tanak menjelaskan, laporan tersebut berasal dari lingkungan pemerintahan.[3]

Belum lagi kasus yang sempat viral, kasus tilep uang tabungan siswa yang dilakukan oleh beberapa oknum guru di Sekolah Dasar (SD) di Pangandaran, Jawa Timur pada bulan Juli 2023.[4]

Lalu pada bulan Agustus 2023, di Pontianak, seorang perempuan muda menggelapkan uang yayasan lembaga pendidikan sebanyak Rp 4 miliar.[5]

Masih banyak lagi kasus-kasus sejenis yang menunjukkan pudarnya sifat amanah dari masyarakat kita.

Ibnu Qoyyim mengatakan, “Hal yang sangat dibutuhkan oleh anak adalah perhatian terhadap akhlaknya. Dia akan tumbuh menurut apa yang dibiasakan oleh pendidiknya ketika kecil.”[6]

Perkataan yang senada juga diucapkan oleh seorang filsuf, Abu Was, “Perilaku buruk orang disebabkan oleh kebiasaan ketika kecil, ini terjadi jika akhlak mereka tidak diarahkan secara baik.”[7]

Maka karakter amanah harus diajarkan dan dibiasakan pada anak-anak sejak usia dini. Agar nantinya terbiasa berperilaku amanah dan karakter tersebut menjadi tabiat mereka.

Sehingga ketika dewasa mereka memiliki rasa tanggung jawab dan amanah terhadap tugas yang  diemban, baik itu jabatan, kekuasaan, harta dan lain sebagainya.

Dalam mendidik anak, Al-Qur’an telah memberikan banyak teladan dan tips. Di antara teladan atau role model dalam Al-Qur’an yang bisa diambil sebagai contoh dalam mendidik anak adalah Nabi Ya’qub ‘alaihissalam.

Beliau adalah seorang nabi sekaligus ayah dari 12 anak laki-laki yang di antaranya ada seorang nabi juga, yaitu Nabi Yusuf. Kisah Nabi Ya’qub dan anak-anaknya banyak dirujuk sebagai contoh parenting dalam keluarga.

Alasan kenapa mengangkat kisah Nabi Ya’qub dalam Surat Yusuf karena kisah tersebut telah Allah labeli sebagai sebaik-baik kisah dalam Al-Qur’an.[8]

Bukan berarti kisah-kisah yang lain tidak bagus, akan tetapi kisah ini adalah yang paling baik di antara yang terbaik.

Kisah Nabi Ya’qub dan Sifat Amanah

Suatu ketika Nabi Yusuf ‘alaihissalam bermimpi melihat matahari, melihat matahari, bulan, dan sebelas bintang bersujud kepadanya.

Yusuf kecilpun menceritakan mimpinya kepada sang ayah, Nabi Ya’qub ‘alaihissalam. Mendengar mimpi tersebut, Nabi Ya’qub meminta Yusuf untuk merahasiakan mimpinya tersebut dari saudara-saudaranya.

Makna dari mimpi tersebut adalah bahwa kelak Yusuf akan memiliki kedudukan yang tinggi. Sedangkan matahari dan bulan adalah kedua orangtuanya, dan sebelas bintang itu adalah saudara-saudaranya.

Alasan kenapa harus dirahasiakan karena Nabi Ya’qub khawatir akan muncul rasa iri dan hasad di antara saudara-saudara Yusuf terhadap Yusuf.

Di lain sisi, saudara-saudara Yusuf juga merasa iri karena di mata mereka, Nabi Yusuf lebih dicintai oleh sang ayah daripada anak yang lain.

Maka merekapun merencanakan untuk membunuh Yusuf, supaya perhatian dan cinta sang ayah beralih kepada yang lain. Akan tetapi, salah satu diantara mereka memberikan usulan lain yang lebih baik.

Ia berkata sebagaimana yang difirmankah Allah ﷻ,

قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ لَا تَقْتُلُوا يُوسُفَ وَأَلْقُوهُ فِي غَيَابَتِ الْجُبِّ يَلْتَقِطْهُ بَعْضُ السَّيَّارَةِ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ

“Salah seorang di antara mereka berkata, “Janganlah kamu membunuh Yusuf, tetapi masukkan saja dia ke dasar sumur agar dia dipungut oleh sebagian musafir jika kamu hendak berbuat.”[9]

Setelah sepakat, merekapun berusaha untuk merayu Nabi Ya’qub agar mengizinkan mereka membawa Yusuf pergi untuk bermain bersama mereka.

Awalnya Ya’qub keberatan, tapi setelah negosiasi yang alot, ia pun mengizinkan mereka pergi dan berpesan kepada mereka, terutama Rubil sebagai kakak tertua, untuk menjaga Yusuf.

Setelah sampai di suatu tempat, merekapun melaksanakan rencana tersebut. Mereka melepas baju Yusuf, lalu melemparkan sang adik ke dalam sumur.

Untuk menyempurnakan tipu muslihat tersebut, mereka menyembelih seekor domba dan melumurkan darahnya pada baju Yusuf.

Setelah malam datang, mereka pulang dalam keadaan berpura-pura menangis dan mendatangi sang ayah.

Mereka merancang cerita bohong tentang Yusuf yang dimakan oleh serigala karena lepas dari pengawasan. Ya’qub mengetahui kebohongan itu, tetapi ia memilih untuk bersabar dan berpaling.

Singkat cerita, (karena yang menjadi fokus dalam cerita ini adalah Nabi Ya’qub) Yusuf diambil oleh sebuah kafilah yang lewat, lalu dijual di pasar budak.

Ia dibeli oleh seorang menteri di Mesir (yang sering dipanggil sebagai Al-Aziz) untuk dijadikan pelayan di rumahnya. Lalu dari tempat tinggal Al-Aziz itulah terjadi peristiwa fitnah wanita hingga Yusuf dijebloskan ke penjara.

Di penjara, Yusuf memulai dakwahnya kepada dua penghuni penjara dan menafsirkan mimpi mereka.

Hingga akhirnya Yusuf dipanggil untuk menafsirkan mimpi sang Raja Mesir. Lalu ia pun dilepaskan dari penjara, dibebaskan dari tuduhan, dan diangkat menjadi menteri pangan atau bendahara negara.

Saat musim paceklik tiba, saudara-saudara Yusuf datang untuk meminta bahan makanan. Yusuf mengenali mereka tapi mereka tidak mengenali Yusuf.

Sebelum kembali, Yusuf berpesan supaya pada kesempatan berikutnya mereka membawa saudara yang tidak ikut saat itu, yaitu Bunyamin.

Jika tidak, mereka tidak akan mendapat bantuan bahan pangan sama sekali. Mereka pun pulang dan terjadilah percakapan dengan Nabi Ya’qub.

“Maka, ketika mereka telah kembali kepada ayah mereka (Ya‘qub), mereka berkata, ‘Wahai ayah kami, kita tidak akan mendapat jatah (gandum) lagi (jika tidak membawa saudara kami).

Oleh karena itu, biarkanlah saudara kami pergi bersama kami agar kami mendapat jatah. Sesungguhnya kami benar-benar akan menjaganya.’

Dia (Ya‘qub) berkata, ‘Bagaimana aku akan memercayakannya (Bunyamin) kepadamu, seperti halnya dahulu aku telah memercayakan saudaranya (Yusuf) kepada kamu?

Allah adalah penjaga yang terbaik dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.’

Ketika mereka membuka barang-barang mereka, mereka menemukan barang-barang (penukar) mereka dikembalikan kepada mereka.

Mereka berkata, ‘Wahai ayah kami, apa (lagi) yang kita inginkan?

Ini barang-barang kita dikembalikan, kita akan dapat mendatangkan bahan makanan untuk keluarga, dan kami akan menjaga saudara kami, serta akan mendapat tambahan jatah (gandum) seberat beban seekor unta.

Itu adalah suatu (tambahan) jatah yang mudah (bagi raja Mesir).’

Dia (Ya‘qub) berkata, ‘Aku tidak akan melepaskannya (pergi) bersama kamu, sebelum kamu bersumpah kepadaku atas (nama) Allah, bahwa kamu pasti akan membawanya kembali kepadaku, kecuali jika kamu dikepung (oleh musuh).’

Setelah mereka memberikan janji kepadanya, dia (Ya‘qub) berkata, ‘Allah adalah saksi terhadap apa yang kita ucapkan.’

Dia (Ya‘qub) berkata, ‘Wahai anak-anakku, janganlah kamu masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berbeda-beda. (Namun,) aku tidak dapat mencegah (takdir) Allah dari kamu sedikit pun.

(Penetapan) hukum itu hanyalah hak Allah. Kepada-Nyalah aku bertawakal dan hendaklah kepada-Nya (saja) orang-orang yang bertawakal (meningkatkan) tawakal(-nya).”[10]

Mereka pun berangkat bersama Bunyamin dan menghadap pada Yusuf sesuai permintaan ayah mereka. Hingga akhirnya Bunyamin ditahan atas tuduhan mencuri. Ini semua adalah muslihat yang dilakukan oleh Nabi Yusuf.

Dengan terpaksa mereka kembali pulang tanpa bisa memenuhi sumpah yang telah diucapkan kepada sang ayah. Kecuali Rubil, ia tetap tinggal di Mesir dan tidak ikut pulang.

Mendengar kabar ditangkapnya Bunyamin, kesedihan dan tangisan Nabi Ya’qub semakin menjadi-jadi hingga menyebabkan kedua matanya buta.

Ia kemudian memerintahkan anak-anaknya untuk kembali ke Mesir mencari kabar tentang Yusuf dan Bunyamin. Ia berpesan kepada mereka supaya tidak berputus asa dari rahmat Allah.

Setibanya di istana Yusuf, merekapun memohon dengan sangat agar Bunyamin dikembalikan, karena ia memiliki ayah yang sangat sedih disebabkan kehilangannya.

Saat itulah Yusuf mengungkapkan jati dirinya dan mengingatkan atas apa yang dahulu pernah mereka lakukan padanya. Seketika itu juga mereka terkejut dan mengaku bersalah.

Mereka memohon agar mereka dimaafkan. Yusuf pun memaafkan dan menyuruh mereka kembali ke rumah untuk menjemput sang ayah.

Ketika pulang menemui sang ayah, mereka segera mengakui kesalahan dan meminta ayahnya untuk memintakan ampunan.

Nabi Ya’qub pun memaafkan dan meintakan ampunan untuk mereka. Setelah itu merekapun pindah ke Mesir dan tinggal di sana.[11]

Penanaman Sifat Amanah

Memberi Tanggung Jawab

Di antara cara menanamkan amanah kepada anak adalah dengan melatihnya mengemban tanggung jawab. Sebab pemberian tanggung jawab kepada anak adalah salah satu pengajaran dalam bentuk praktik langsung.

Dengan begitu anak tidak hanya paham teori tentang amanah saja, tapi juga merasakan bagaimana rasanya mengembannya dan ia akan mengetahui langsung konsekuensi jika amanah itu ia tunaikan atau diabaikan.

Hal ini juga pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad ﷺ.

Imam Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Ja’far bahwa dia berkata, “Suatu hari Rasulullah pernah memboncengkanku di belakang beliau, lalu beliau menyimpankan rahasia padaku yang tidak akan aku katakana kepada seorang pun.”[12]

Dalam kisah Nabi Ya’qub dan anak-anaknya, pemberian tanggung jawab ini digambarkan ketika Nabi Ya’qub mengatakan pada Yusuf,

قَالَ يَابُنَيَّ لَا تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَى إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا لَكَ كَيْدًا إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Dia (ayahnya) berkata, “Wahai anakku, janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu karena mereka akan membuat tipu daya yang sungguh-sungguh kepadamu. Sesungguhnya setan adalah musuh yang jelas bagi manusia.”[13]

Nabi Ya’qub meminta pada Yusuf kecil untuk merahasiakan mimpinya dari saudara-saudaranya yang lain. Sedangkan rahasia adalah amanah yang harus dijaga oleh orang yang diminta untuk merahasiakan.

Sebagaimana yang dikatakan dalam hadits, dari Jabir bin Abdullah meriwayatkan dari Nabi Muhammad ﷺ bahwasanya beliau berkata, “Jika seseorang menceritakan sesuatu kemudian ia berpaling, maka cerita itu menjadi amanah.[14]

Selain kepada Yusuf, Nabi Ya’qub juga memberikan tanggung jawab kepada saudara-saudarnya yang lain tatkala mereka meminta izin untuk membawa Yusuf bermain ke hutan.

Pada saat itu Ya’qub mengamanahkan penjagaan Yusuf kepada para saudaranya, terutama yang paling tua, Rabil. Walaupun pada akhirnya mereka menyia-nyiakan amanah itu.[15]

Memberi Hukuman Atas Pelanggaran

Hukuman terkadang diperlukan dalam proses tarbiyah. Karena dengan hukuman anak tercegah dan tertahan dari akhlak yang buruk dan sifat tercela.

Hukuman membuat anak merasa jera untuk mengikuti syahwatnya dan melakukan hal-hal yang haram. Tanpa itu, anak bisa terbiasa dengan perilaku buruk dan kemungkaran.[16]

Hukuman dalam proses tarbiyah bisa bermacam-macam. Seorang pendidik haruslah memilih hukuman yang sesuai dengan kadar pelanggaran dan kondisi anak didik.

Di antara bentuk hukuman adalah dengan menampakkan rasa tidak ridha, menegur, melarangnya dari apa yang ia inginkan, memboikot dan terakhir adalah dengan pukulan.[17]

Dalam kasus Nabi Ya’qub dan anak-anaknya, beliau menghukum dengan melarang mereka dari apa yang mereka inginkan. Beliau tidak lagi memberi kepercayaan kepada mereka.

Seakan-akan beliau memberi tahu kepada anak-anaknya bahwa konsekuensi dari khianat ialah hilangnya kepercayaan pada mereka.

Hal ini ditunjukkan dalam ayat,

قَالَ هَلْ آمَنُكُمْ عَلَيْهِ إِلَّا كَمَا أَمِنْتُكُمْ عَلَى أَخِيهِ مِنْ قَبْلُ فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

“Dia (Ya‘qub) berkata, “Bagaimana aku akan memercayakannya (Bunyamin) kepadamu, seperti halnya dahulu aku telah memercayakan saudaranya (Yusuf) kepada kamu? Allah adalah penjaga yang terbaik dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.”[18]

Abu Manshur Al-Maturidy, ketika menafsirkan ayat tersebut beliau menukil perkataan Ibnu Mas’ud, bahwa jika seseorang telah terbukti bersalah atas sebuah tuduhan atau pengkhianatan dalam suatu perkara, maka boleh-boleh saja ia dituduh atau dicurigai dalam perkara lain meskipun belum ada bukti yang menunjukkan kesalahan pada perkara tersebut.[19]

Memberi Nasihat

Nasihat adalah salah satu metode yang efektif dalam membentuk keimanan, akhlak, mental dan sosial seorang anak.

Hal ini disebabkan nasihat memiliki pengaruh yang besar dalam memahamkan anak tentang hakikat sesuatu dan menyadarkannya akan prinsip-prinsip Islam.

Dalam Al-Qur’an, banyak sekali ayat-ayat yang menjadikan nasihat sebagai asas untuk manhaj dakwah, baik untuk individu maupun kelompok.[20]

Pada kepergian ke Mesir yang kedua kalinya, setelah saudara-saudara Yusuf membuat perjanjian dengan ayahnya untuk menjaga Bunyamin, Nabi Ya’qub menasihati mereka dengan mengingatkan bahwa Allah ﷻ menjadi saksi atas apa yang telah mereka ucapkan.

“Setelah mereka memberikan janji kepadanya, dia (Ya‘qub) berkata, ‘Allah adalah saksi terhadap apa yang kita ucapkan.’”[21]

Beliau juga memberikan nasihat pada mereka bahwa Allah ﷻ adalah sebaik-baik penjaga, maka hendaklah mereka bertawakkal pada Allah ﷻ dalam segala urusan.

Selain itu, sebagai bentuk ikhtiar agar anak-anaknya berhasil menjalankan amanahnya, yaitu membawa kembali Bunyamin dengan selamat, Nabi Ya’qub memerintahkan anak-anaknya untuk memasuki kota dari pintu yang berbeda-beda.

Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya bahwa alasan kenapa Nabi Ya’qub menyuruh mereka untuk masuk dari pintu-pintu yang berbeda adalah untuk menghindari ‘ain dari orang-orang yang melihat mereka.

Sebab jumlah mereka yang banyak dan mereka memiliki perawakan yang bagus dan wajah yang rupawan.[22] Wallahu a’lam bi shawab.

Kesimpulan

  1. Amanah adalah sifat terpuji yang harus dimiliki oleh setiap muslim dan harus ditanamkan oleh orangtua kepada anaknya.
  2. Kisah memiliki peran yang sangat penting dalam Al-Qur’an. Dengan kisah itulah Allah ﷻ menghibur, memotivasi, mengajari dan menguatkan hati Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman.
  3. Al-Qur’an memberikan contoh bagaimana seorang ayah menanamkan sifat amanah pada anak-anaknya dalam kisah Nabi Ya’qub yang tertulis dalam surat Yusuf.
  4. Di antara bentuk penanaman sifat amanah yang dilakukan Nabi Ya’qub adalah dengan:
  • Melatih mereka untuk berperilaku amanah dengan memberikan tanggung jawab, seperti menjaga rahasia.
  • Memberi hukuman/konsekuensi atas pelanggaran yang dilakukan anak.
  • Memberikan nasihat dan pengarahan supaya anak bisa menunaikan amanah dengan baik.

Referensi

[1] Ivan Gunawan Agung, “Psikologi Amanah: Konsep, Pengukuran, dan Tantangan,” Buletin Psikologi, Vol. 29, No. 2, Desember 2021, hal. No. 188.

[2] Muhammad Suwaid, Mendidik Anak Bersama Nabi,  Terj. Salafuddin Abu Sayyid, Cet. XI, (Solo: Pustaka Arafah, 2018) hal. 246.

[3] Nabilah Muhammad, “KPK Terima 2.707 Laporan Dugaan Korupsi pada Semester I 2023, Terbanyak dari Ibu Kota” dalam https://databoks.katadata.co.id/, diakses pada Jum’at, 26 Januari 2024 pukul 14.02

[4] Dwi Rizki, “Kasus Tilep Tabungan Viral, Guru di Pangandaran Kini Ngambek, Monyong Cemberuti Orangtua Siswa”, dalam https://wartakota.tribunnews.com/ diakses pada Jum’at, 26 Januari 2024 pukul 14.08

[5] Leo Prima, “Wanita Muda di Pontianak Tilep Uang Rp 4 Miliar dari Lembaga Pendidikan Ternama”, dalam https://kumparan.com/, diakses pada Jum’at, 26 Januari 2024 pukul 14.16

[6] Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah, Tuhfatul Maudud bi Ahkam al-Maulud, Tahqiq: Abdul Qodir Al-Arna’uth, Cet. I, (Damaskus: Maktabah Dar al-Bayan, 1971), hal. 240

[7] Muhammad Suwaid, Mendidik Anak… hal. 537

[8] Nashir bin Muhammad bin Masyri Al-Ghamidi, Al-‘Ibar fi Ahsan al-Qashas wa Rawa’i’ al-Siyar, Cet. I, (Mekkah: Dar Thaiba al-Khadra’, 2015), hal. 93.

[9] QS. Yusuf:  10

[10] QS Yusuf: 64-67

[11] Nashir bin Muhammad, Al-‘Ibar…, hal. 94-158

[12] Abu Al-Husain Muslim bin Al-Hajjaj, Shahih Muslim, Cet.I, (Riyadh: Mu’assasah al-Syaikh Abdullah bin Zaid, 2013), vol. 6, hal. 132, hadits no. 2429.

[13] QS. Yusuf: 5

[14] Muhammad bin Isa Al-Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi, Tahqiq: Ahmad Muhammad Syakir dkk, Cet. II, (Mesir: Syarikah Maktabah wa Mathba’ah Mushthafa al-Babi al-Halbi, 1975), vol. 4, hal. 341, hadits no. 1959

[15] Nashir bin Muhammad, Al-‘Ibar…, hal. 99.

[16] Abdullah Nashih ‘Ulwan, Pendididkan Anak Dalam Islam, Tahqiq: Ihsan Al-Utaibi, Terj.Arif Rahman Hakim, Cet. XII, (Sukoharjo: Insan Kamil, 2020), hal. 641.

[17] Khalid bin Hamid Al-Hazimi, Ushul al-Tarbiyah al-Islamiyah, Cet. I, (Madinah: Dar Alim al-Kutub, 2000), hal. 406

[18]  QS. Yusuf: 64

[19] Abu Manshur Al-Maturidi, Tafsir al-Maturidi, Tahqiq: Majdi Baslum, Cet. I, (Beirut: Darul Kutub al-‘Ilmiyah, 2005), vol. 6, hal. 260.

[20] Abdullah Nashih ‘Ulwan, Pendididkan Anak Dalam Islam, Tahqiq: Ihsan Al-Utaibi, Terj.Arif Rahman Hakim, Cet. XII, (Sukoharjo: Insan Kamil, 2020), hal. 558.

[21] QS. Yusuf: 67

[22] Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim, Cet. I, (Mekkah: Dar Thayyibah al-Khadra’, 2015), vol. 2, hal. 693.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
12,700PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
9,600PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami