BerandaKajianFikihMeraih Dua Keutamaan: Tarawih Bersama Imam dan Witir Akhir Malam

Meraih Dua Keutamaan: Tarawih Bersama Imam dan Witir Akhir Malam

- Advertisement -spot_img

Ramadhan menghadirkan banyak peluang pahala. Di antara yang paling sering ditanyakan kaum muslimin adalah: mana yang lebih utama, ikut witir bersama imam setelah tarawih atau menunda witir hingga akhir malam saat tahajud?

Sebagian ingin meraih dua keutamaan sekaligus:

Pertama, pahala salat bersama imam sampai selesai, yang nilainya seperti salat semalam penuh.
Kedua, keutamaan mengakhirkan witir di penghujung malam, yang merupakan waktu terbaik untuk qiyamul-lail.

Apakah mungkin keduanya digabungkan?

Ternyata para ulama telah membahasnya secara rinci dalam literatur fiqih mazhab Syafi’i, dan mereka memberikan solusi yang sangat indah, ilmiah, sekaligus praktis.

Keutamaan witir di akhir malam

Nabi ﷺ menganjurkan agar witir dijadikan penutup salat malam. Dalam hadis sahih disebutkan:

اِجْعَلُوا آخِرَ صَلَاتِكُمْ مِنَ اللَّيْلِ وِتْرًا

“Jadikanlah akhir salat kalian di malam hari sebagai witir.” (HR. al-Bukhari, no. 998 dan Muslim, no. 751)

Karena itu, bagi orang yang yakin bisa bangun tahajud, mengakhirkan witir lebih utama. Inilah yang ditegaskan para ulama.

Dalam Annajmul Wahhaj (2/300) disebutkan:

فَقَدْ قَالُوا: إِنَّ مَنْ لَهُ تَهَجُّدٌ لَمْ يُوتِرْ مَعَ الْجَمَاعَةِ، بَلْ يُؤَخِّرُهُ إِلَى اللَّيْلِ، فَإِنْ أَرَادَ الصَّلَاةَ مَعَهُمْ صَلَّى نَافِلَةً مُطْلَقَةً، وَأَوْتَرَ آخِرَ اللَّيْلِ

“Mereka berkata: orang yang memiliki kebiasaan tahajud tidak berwitir bersama jamaah, tetapi mengakhirkannya ke malam hari. Jika ia ingin tetap salat bersama mereka, maka ia salat dengan niat salat sunnah mutlak, lalu berwitir di akhir malam.”

Perhatikan betapa jelas redaksinya: jangan witir bersama jamaah jika ingin tahajud, tetapi tetap boleh ikut salat dengan niat nafilah mutlak.

Keutamaan mengikuti imam sampai selesai

Di sisi lain, ada keutamaan besar ketika seseorang mengikuti imam tarawih hingga selesai. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ، فَإِنَّهُ يَعْدِلُ قِيَامَ لَيْلَةٍ

“Siapa yang salat bersama imam sampai imam selesai, maka dicatat baginya seperti salat satu malam penuh.” (HR. at-Tirmidzi, no. 806)

Karena itu, meninggalkan witir bersama imam terkadang membuat seseorang kehilangan pahala besar ini. Maka bagaimana solusinya?

Solusi yang diajarkan ulama

Di sinilah keindahan fiqih terlihat. Para ulama memberikan jalan tengah: ikut bersama imam sampai selesai, tetapi tidak meniatkan witir.

Dalam Nihayatul Muhtaj (2/72) disebutkan:

يُصَلِّي مَعَهُمْ نَافِلَةً؛ لِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ؛ فَإِنَّهُ يُعْدَلُ قِيَامُ لَيْلَةٍ

“Ia salat bersama mereka dengan niat salat sunnah (nafilah), karena sabda Nabi ﷺ: ‘Barang siapa salat bersama imam sampai selesai, maka itu setara qiyam satu malam.’”

Artinya, ketika imam melaksanakan witir tiga rakaat:

  • kita tetap ikut berjamaah,
  • tetapi niatnya bukan witir, melainkan salat sunnah mutlak,
  • sehingga witir kita belum terlaksana,
  • lalu di akhir malam kita bisa tahajud dan berwitir secara sempurna.

Dengan cara ini, dua keutamaan terkumpul sekaligus.

Praktik yang bisa dilakukan

Secara praktis, caranya sederhana:

Saat imam witir setelah tarawih:

  • tetap berdiri mengikuti imam,
  • niatkan: salat sunnah mutlak/naafilah, bukan witir.

Nanti ketika bangun malam:

  • kerjakan tahajud,
  • lalu tutup dengan witir.

Namun perlu diingat satu kaidah penting: tidak boleh dua witir dalam satu malam. Nabi ﷺ bersabda:

لَا وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ

“Tidak ada dua witir dalam satu malam.” (HR. Abu Dāwud, no. 1439 dan at-Tirmidzi, no. 470)

Karena itu, jangan sampai sudah niat witir bersama imam, lalu mengulang witir lagi di akhir malam.

Hikmah fiqih yang indah

Masalah ini menunjukkan bahwa fiqih bukan sekadar halal–haram, tetapi seni menempatkan ibadah secara proporsional. Ulama tidak memaksa kita memilih salah satu keutamaan saja, melainkan mengajarkan cara meraih keduanya dengan ilmu.

Inilah manhaj para fuqaha: ibadah dilakukan dengan pengetahuan, bukan sekadar semangat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk memakmurkan malam Ramadhan dengan ilmu, adab, dan amal yang paling sempurna. Wallahu A’lam bish Showab.

 

Sumber : santridarsya.xo.je

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
12,700PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
9,600PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami