Home / Tarbiyah / Tasamuh ; Menjaga Persatuan dan Kesatuan

Tasamuh ; Menjaga Persatuan dan Kesatuan

Agama Islam adalah agama yang mengajarkan kepada umatnya untuk senantiasa menghargai dan menghormati orang lain. Sikap ini tentu tidak hanya sebatas kepada sesama muslim saja, akan tetapi kepada siapa saja sekalipun berbeda keyakinan. Karena manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT yang memiliki harkat dan martabat yang harus dihormati hak-haknya. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُونُواْ قَوَّامِينَ لِلّهِ شُهَدَاء بِالْقِسْطِ وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman hendaklah kamu sekalian menjadi orang-orang yang tegak membela (kebenaran) karena Allah menjadi saksi (pengukur kebenaran) yang adil. Dan janganlah kebencian kamu pada suatu kaum menjadikan kamu berlaku tidak adil. Berbuat adillah karena keadilan itu lebih mendekatkan pada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, karena sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Maidah: 18)

Tasamuh berasal dari bahasa Arab yang berarti toleransi yang mempunyai arti bermurah hati. Kata lain dari tasamuh adalah tasahul yang memiliki arti bermudah-mudahan. Dalam pengertian istilah umum, tasamuh adalah sikap akhlak terpuji dalam pergaulan, di mana terdapat rasa saling menghargai antara sesama manusia dalam batas-batas yang digariskan oleh ajaran Islam.

Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa toleransi mengandung sifat-sifat seperti lapang dada, tenggang rasa, menahan diri, dan tidak memaksakan kehendak orang lain. Sikap tasamuh juga dapat kita tunjukan dengan sikap sabar menghadapai keyakinan-keyakinan orang lain, pendapat-pendapat mereka dan amal-amal mereka walaupun bertentangan dengan keyakinan dengan keyakinan kita dan tidak sesuai dengan syariat Islam. Kita juga dilarang untuk menyerang, menyakiti dan mencela orang lain yang tidak sependapat dengan kita. Allah  SWT berfirman:

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah. Karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan”. (QS. Al-An’am:108)

Dalam sejarah Islam sikap toleransi ini telah di tampakkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Toleransi yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW terhadap agama-agama lain sangat jelas sebagaimana terungkap dalam sejarah. Pernah suatu saat para pendeta dari agama Nasrani datang kepada Rasulullah SAW untuk mengetahui tentang agama Islam. Dalam beberapa hari mereka hidup bersama umat Islam. Pada suatu saat sampailah mereka pada hari Ahad, hari di mana bagi orang Nasrani adalah hari beribadah untuk mengagungkan Tuhannya. Rasulullah SAW memberi kesempatan seluas-luasnya untuk melakukan itu. Namun di lingkungan umat Islam itu tidak ada gereja untuk mereka gunakan melakukan ritual ibadah, maka problem seperti ini disampaikan kepada Rasulullah SAW. Kemudian Rasulullah SAW merelakan dan mempersilakan para pendeta itu untuk melakukan ibadah sesuai dengan keyakinannya di masjid.

Bukan hanya pada zaman Rasulullah saja terjadi seperti itu, pada zaman Umar bin Khathab, yang di dalam sejarah Islam terkenal dengan zaman keemasan. Pada saat itu, ditaklukkannya kerajaan Persia, kerajaan Romawi, sehingga Islam berkembang sangat pesat pada saat itu. Bukan hanya meluas ke Timur, tetapi juga ke Barat. Di sana ditemukan beberapa umat yang berlainan agama. Kalau Umar pada saat itu ingin berlaku semena-mena, maka tidak menunggu waktu lama, mereka bisa dikikis habis. Tetapi, Umar malah memberi penghormatan kepada mereka, dan melindungi mereka untuk melakukan ibadah sesuai dengan keyakinan mereka, dengan catatan mereka tidak memusuhi dan menjadikan Islam sebagai musuh untuk dihancurkan.

Meskipun agama islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi sikap toleransi, akan tetapi sikap toleransi ini ada batasanya dan tidak boleh kebablasan. Dalam artian sikap toleransi ini harus dikembalikan pada asalnya, yaitu menghargai dan membiarkan agama lain melaksanakan ajaranya dan bukan malah ikut larut mengikuti ajaran mereka.

Misalnya, bulan ini orang-orang  Nasrani akan merayakan natalan, maka biarlah itu jadi hari raya mereka bukan hari raya kita. Karenanya tidak perlu repot-repot memakai atribut natal, mengucap selamat natal dan lain sebagainya. Jangan sampai malah karena dalih toleransi aturan agama sendiri dilanggar, ini bukanlah toleransi  tapi ini adalah maksiat.

Bergaul dan bermuamalah dengan siapapun manusia boleh, bahkan Islam sangat menghormati manusia, akan tetapi di dalam hal aqidah dan ibadah sendiri-sendiri. Allah swt berfirman:

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ ﴿١﴾ لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ ﴿٢﴾ وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ ﴿٣﴾ وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ ﴿٤﴾ وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ ﴿٥﴾ لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ ﴿٦﴾

 “Katakanlah: Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. (QS. Al-Kafirun: 1-6)

Demikianlah sikap tasamuh (toleran) yang benar. Mudah-mudahan kita bisa menempatkan sesuai dengan kadarnya dan tidak terjebak kepada sikap toleran yang kebablasan. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiin

Baca Juga

Mendidik Anak Untuk Jujur (Bagian 1)

Seorang ibu merasa kewalahan menghadapi puteranya yang berusia 9 tahun yang suka berbohong. Sang anak ...

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami