BerandaKajianIbrohTipuan yang Menimpa Para Ulama

Tipuan yang Menimpa Para Ulama

- Advertisement -spot_img

Orang-orang yang tertipu dari kalangan ulama adalah mereka yang berhukum kepada ilmu syari’at dan akal. Tidak menjaganya dari kedurhakaan serta tidak menyertainya dengan ketaatan.

Mereka tertipu oleh ilmunya dan mengira bahwa mereka memperoleh kedudukan tertentu dari Allah. Andaikata mereka mau memandang dengan mata yang awas, tentu mereka akan mengetahui bahwa ilmu muamalah tidak dimaksudkan kecuali untuk amal.

Andaikata tidak ada amal, tentu dia tidak akan memiliki kesanggupan. Allah berfirman

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا (الشمس : ٩)

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu.” (QS. Asy-Syams:9)

Allah tidak berfirman, “Beruntunglah orang yang belajar bagaimana mensucikan jiwa”. Andaikata setan membacakan keutamaan-keutamaan para ulama kepadanya, maka hendaklah dia juga mengingat apa yang disebutkan tentang dunianya orang yang berbuat kekejian, sebagaimana firman-Nya

فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِن تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَث (الأعراف : ١٧٦)

“Maka perempamaannya seperti anjing, jika kamu menghalanginya dijulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarakannya dia menjulurkan lidahnya (pula).” (QS. Al-A’raf: 176)

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَاراً (الجمعة : ٥)

“Perumapamaan seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal.” (QS. Al-Jum’ah: 5)

Adapula golongan ulama yang berhukum kepada ilmu dan amal yang zhahir, tidak memeriksa hatinya, agar sifat-sifat yang tercela bisa disingkirkan, seperti takabur, dengki, riya’ mencari ketenaran dan menuruti hawa nafsu.

Mereka menghiasi zhahirnya dan mengabaikan batinnya. Mereka melupakan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

إِنَّ اللهَ لَايَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَإِنَّمَا يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ (رواه مسلم و أحمد و ابن ماجه و البغوي)

“Sesungguhnya Allah tidak mendatangkan rupa-rupa dan harta kalian, tetapi Dia hanya hati dan amal kalian.” (HR. Muslim, Ahmad, Ibnu Majah, dan Al-Baghawi)

Mereka memperhatikan amal tapi tidak memperlihatkan hati. Padahal hati merupakan pokok. Tidak ada yang selamat kecuali menemui Allah dengan hati yang selamat. Perumpamaan mereka seperti orang yang menanam benih tanaman.

Di samping tumbuhnya tanaman itu, juga tumbuh tanaman candu yang bisa merusak, lalu dia memerintahkan untuk menebang pohon candu itu. Tetapi hanya cabang dan ranting-rantingnya saja yang dipotong, tidak dicabut dengan akar-akarnya. Tentu saja tanaman candu itu masih tetap hidup dan bahkan akarnya semakin kuat.

Ada pula golongan ulama yang mengetahui bahwa akhlak batin seperti ini tercela. Hanya saja mereka mereasa ujub terhadap diri sendiri dan menganggap bahwa mereka mampu melepaskan diri darinya. Meraka merasa lebih tinggi kedudukannya di sisi Allah, sehingga tidak akan dicoba dengan akhlak-akhlak yang tercela itu.

Hanya orang awam saja yang tercela dengan akhlak tersebut. Jika ada tanda-tanda untuk bersikap takabur dan menghendaki suatu kedudukan, maka salah seorang di antara mereka berkata, ”Ini bukanlah takabur, tetapi ini mencari kemuliaan agama, menampakkan keunggulan ilmu dan memburukkan para ahli bid’ah.

Andaikan aku mengenakan sebuah pakaian, lalu mengenakan pakaian yang lain lagi di suatu majlis, maka musuh-musuh agama banyak mencaciku dan mereka senang dengan kehinaanku. Padahal kehinaanku adalah Islam.”

Rupanya dia lupa tipuan. Iblislah yang telah menyamarkan hal itu. Buktinya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat tetap tawadhu’ dan lebih mendahulukan kepentingan orang-orang fakir dan miskin.

Diriwayatkan dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu tatkala di Syam dia ditawari tempat air khusus namun dia tidak menggubris tawaran itu. Dia turun dari punggung ontanya, melapaskan selop dan memegangnya sendiri. Lalu dia turun ke kubangan air bersama-sama dengan ontanya.

Abu Ubaidah berkata, ”Pada hari ini engkau telah melakukan suatu perbuatan besar di mata para penghuni bumi.” Umar menepuk dada Abu Ubaidah sambil berkata, “Andaikan saja bukan engkau yang berkata seperti itu.

Kalian adalah orang-orang yang paling hina. Allah telah memuliakan kalian dengan Rasul-Nya. Andaikan kalian mencari kemuliaan dengan selain itu, maka Allah akan menghinakan kalian.”

Dalam sebuah riwayat juga dari Abu Ubaidah disebutkan, bahwa tatkala Umar bin Al-Khattab tiba di Syam, maka semua orang yang di sana menyambut kedatangannya, yang saat itu Umar masih duduk di atas punggung ontanya.

Lalu ada yang berkata, “Andaikan saja engkau mau menungang kendaraan yang ditarik beberapa ekor kuda sehingga engkau bisa bertemu para pemimpin manusia dan berhadapan langsung dengan mereka.”

Umar menjawab, “Aku tidak melihat kalian karena itu, tetapi permasalahannya adalah yang di sana.” Katanya sambil menunjuk ke arah langit, “Beri jalan bagi ontaku.”

Ada pula yang aneh, yaitu orang (ulama) yang tertipu mencari keduniaan dengan pakaian yang bagus dan tunggangan yang menarik atau kenikmatan sejenis itu. Jika di dalam hatinya terbesit riya’, dia berkata, “Maksudku adalah memperlihatkan ilmu dan amal, agar orang-orang mengikutiku, lalu mereka pun mau mengikuti agama.”

Jika itu tujuannya, berarti kesenangannya karena banyak orang yang mengikuti dirinya. Karena siapa yang tujuannya memperbaiki akhlak, tentu dia  akan meras senang jika manusia menjadi baik, atas usaha siapa pun.

Begitu pula orang memasuki tempat tinggal pemimpin, membuatnya senang, memuji-mujinya dan tawadhu’ kapadanya, lalu dia berkata, “Tujuanku ini adalah meminta ampunan bagi seorang muslim atau agar dia tidak mendapat bahaya.” Padahal Allah tahu, andaikan rekan-rekannya tahu bahwa dia menemui pemimpin itu, tentu mereka merasa keberatan.

Bahkan di antara mereka (ulama) ada yang tertipu, dengan mengambil harta yang haram, seraya berkata, “Harta ini tidak ada yang memiliki. Ini untuk kemaslahatan kaum muslimin. Sementara aku adalah salah satu dari imam mereka.” Dengan memutar balikkan ini dia dengan menunjuk diri sendiri dengan berdasarkan pendapatnya pula. Mungkin orang yang termasuk dajjal yang berkata, “Harta ini tidak ada yang memiliki.” Tujuan perkataan ini adalah untuk menciptakan kesimpangsiuran dalam masalah harta. Tentu saja hal ini tidak menghalangi untuk disebut haram.

Ada pula sebagian ada pula sebagian di antara mereka yang hanya berhukum kepada ilmu, mensucikan zhahir mereka dan mgnhiasinya dengan berbagai macam ketaatan. Merak juga memperlihatkan hati dan membersihkannyadari riya’, dengki, takabur, dan lain-lainnya. Tetapi di relung hatinya masih ada tipu daya setan dan tipuan nafsu yang tidak disadarinya atau diremehkannya. Engkau lihat salah seorang di antara mereka ada yang tidak tidur malam, menghabiskan waktu siang dengan illmu dan pendalamannya serta penulisan buku. Tujuannya adalah menempakkan agama Allah. Padahal boleh jadi ada terselip niat agar namanya terkenal dan tenar. Boleh jadi agar manusia memuji karya-karyanya, baik yang dinyatakannya secara terus-menerus lewat uraian-uraian yang panjang lebar, ataupun yang tidak langsung, denagan melancarakan serangan yang gencar terhadap orang lain agara ada anggapan bahwa dirinyalah yang lebih hebat dan lebih sarat ilmunya. Ini semua termsuk aib-aib yagn tersembunyi, yang tidak disadari kecuali orang yang kuat.

Siapa yagn sengang Karena kebaikannya dan siapa yang berduka karena keburukannya, maka masih ada yang bisa diharapkan darinya. Berbeda dangan orang yang mensucikan dirinya sambil mengira bahwa dia adalah orang yang paling baik. Lalu bagaimana dengan orang-orang yangn puas dengan ilmu yagn dianggap penting dan meninggalkan yang penting?

Di antara mereka (ulama) ada yang tidak menguasai ilmu fatwa dalam masalah-masalah yang hukumnya harus ditetapkan secara pasti dan masalah-masalah yang dipereselisihkan serat detil-detil mu’amalah keduniaan yang bisa berlaku dalam kehidupan manusia dan untuk kemaslahatan penghidupan mereka. Boleh jadi meraka menyia-nyiakan amalan yang zhahir lalu melakukan sebagian kedurhakaan, separti ghibah, memandang apa yang tidak boleh dipangdangnya, mendatangi tempat yang tidak boleh didatangi, tidak menjaga hati dari takabur, dengki, riya’, dan sifat-sifat yang merusak. Mereka tertipu dari dua sisi: Dari sisi amal dan dari sisi ilmu.

Perumpamaan mereka seperti orang sakit yang membolak-balik lembaran kertas yang berisi petunjuk obat dan mempelajari. Hanya sebatas itu. Bahkan tidak. Perumpamaan mereka seperti orang yang terkena radang paru-paru yang sudah kronis dan hanya menunggu ajal, namun justru sibuk mempelajari obat untuk wanita yang terlambat bulan. Dia terus-menerus melakukan hal ini. Tentu saja dia adalah yang orang yang tertipu.

Dia tertipu karena mendengar cerita orang-orang yang mengagung-agungkan permasalahan fiqih. Sementara dia tidak tahu bahwa yang dimaksud fiqih di sini adalah fiqih (memahami) tentang Allah, mengetahui tentang sifat-sifat-Nya, yang bisa membuat dirinya takut dan berharap, agar di dalam hatinya ada rasa takut lalu dia pun menjadi orang yang bertakwa. Allah berfirman:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُواْ كَآفَّةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُواْ فِي الدِّينِ (التوبة : ١٢٢)

“Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama?”…(QS. At-Taubah:122)    

Yang dimaksud dalam peringatan di sini bukan ilmu tersebut, tapi maksud ilmu itu adalah cara menjaga harta dengan syarat-syaratnya dalam mu’amalah, menjaga badan dengan badan dan menghindari tindak kejahatan yang melukai atau membunuh. Harta dalam jalan Allah adalah alat, sedangkan badan adalah tunggangan. Ilmu yang terpenting ialah mengetahui jalan yang dilewati, memotong perintang-perintang hati yang termasuk dalam sifat-sifat tercela, yaitu tabir yang menghalangi hamba dan Allah. Perumpamaan orang yang tidak memiliki keahlian dalam ilmu ini seperti orang yang mengabaikan jalan yang lurus ditempuhnya untuk haji, dan justru hanya memperhatikan ilmu tentang melubangi tempat air minum dan membuat selop. Tidak diragukan, bahwa yang kedua ini tidak begitu penting dalam pelaksanaan haji.

Di antara mereka ada yang meremehkan ilmu khilafiyah. Perhatiannya hanya tertuju pada cara berdebat, mempertahankan pendapat, mengabaikan kebenaran agar menang. Keadaan sepeti ini jauh lebih buruk dari keadaan sebelumnya. Perdebadan yang yang sampai mendetail dalam fiqih merupakan bid’ah yang tidak pernah dilakukan orang-orang salaf.

Dalil-dalil hukum mencakup ilmu pendapat, yaitu kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Sedangkan alas an dalam berdebat adalah hati, serangan, susunan kata-kata yang mematikan, yang diciptakan untuk mendapatkan kemenangan dan menampakkan kebanggaan.

Ada pula di antara mereka (ulama) yang haya sibuk dangan ilmu penyampaian kata-kata, berdebat karena dorongan nafsu dan cara menyanggah pendapat orang lain yang berbeda. Mereka ini bisa dibagi menjadi dua golongan: Golongan yang sesat dan golongan yang merasa dirinya benar.

Golongan sesat mengajak kepada selain sunnah, dan golongan yang merasa dirinya benar mengajak kepada sunnah, tapi mereka tidak lepas dari tipuan. Golongan yang sesat bisa terlihat jelas tipuannya. Sedangkan golongan yang merasa dirinya benar tertipu, karena mereka mengira bahwa berdebat adalah masalah yang paling penting dan taqarrub yang paling utama dalam agama Allah. Mereka menganggap bahwa agama seseorang tidak akan sempurna jika tidak dicari. Siap yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya tanpa membebaskan dalil, imannya tidak dianggap sempurna. Dengan anggapan yang salah seperti ini mereka habiskan umur hanya untuk mempelajari debat dan mencari kata-kata yang tepat dalam berdebat. Rupanya pandangan mereka sudah kabur dan bahkan buta. Merek tidak mau menengok ke periode pertama, dan Nabi J sendiri sudah memberi kesaksian bahwa mereka adalah sebaik-baik makhluk. Mere pun sudah melihat berbagai macam bid’ah dan hawa nafsu tetapi mereka tidak menghabiskan umur dan menjadikan agama mereka sebagai ajang perselisihan pendapat dan perdebatan. Mereka tidak lalai memperhatikan hati dan tindakan anggota badan. Bahkan mereka tidak berbicara kecuali jika diperlukan untuk menyanggah kesesatan, jika mereka melihat orang yang tetap bertahan pada bid’ahnya, mereka cukup menghindarinya, tanpa harus melibatkan dari dalam perdebatan dan kata-mengatai.

Telah diriwayatkan dalam sebuah hadits,

مَاضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى إِلَّا أُوْتُوا الْجَدَلَ (رواه الترمذي وابن ماجه وأحمد وابن أبي عاصم)

“Suatu kaum tidak akan tersesat setelah ada petunjuk, kecuali jika mereka saling berdebat.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan Ibnu Abi ‘Ashim)

Adapun di antara mereka (ulama) yang hanya menyibukkan diri dalam menyampaikan masalah nasehat. Derajat mereka yang paling tinggi ialah yang menyampaikan akhlak jiwa dan siaft-sifat hati, seperti takut, berharap, sabar, syukur, tawakal, zuhud, yakin, ikhlas, dan lain-lainnya. Mereka mengira bahwa jika mereka membicarakan masalah-masalah ini, sekalipun keadaan mereka tidak seperti yang disampaikannya, maka mereka sudah termasuk orang-orang yang memiliki sifat tersebut. Mereka adalah orang-orang yang menyeru kepada Allah, tapi justru mereka lari menghindari Allah. Sudah barang tentu mereka adalah orang-orang yang paling tertipu.

Ada pula di antara mereka (ulama) yang suka menggunakan syair-syair tentang jalinan cinta dan putus cinta yang merana. Tujuannya agar majlis mereka tampak segar dan mendapatkan respon dari pendengarnya, sekalipun tujuannya jelas rusak. Mereka inilah setan-setan yang berwujud manusia.

Ada pula segolongan di antara mereka (ulama) yang menghabiskan waktunya hanya untuk mendengarkan hadits, menghimpun riwayat-riwayatnya, sanad-sanadnya yang gharib dan yang benar.tujuan salah seorang di antara mereka adalah agar dapat berputar-putar ke berbagai pelosok dan dilihat beberapa syaikh, lalu dia berkata, “Akulah yang telah meriwayatkan dari Fulan, aku juga bertemu Fulan, dan akau mempunyai sanad yang tidak dimiliki orang lain.”

Ada pula di antara mereka (ulama) yang hanya sibuk mempelajari ilmu nhwu dan syair, lalu menganggap dirinya sebagai ulama umat. Mereka menghabiskan umur hanya untuk mendalami detil-detil ilmu nahwa dan bahasa. Andaikata mereka berakal, tentu mereka tahu bahwa orang yang menghabiskan umurnya untuk mendalami bahasa Arab, sama saja dengan orang yang menghabiskan umurnya untuk mendalami bahasa Turki. Boleh saja mereka mempelajari bahas Arab, tetapi sekedar mendalami syari’at. Sehingga cukup bagi mereka untuk menguasai dua jenis bahasa yang rumit, yaitu Al-Qur’an yang rumit dan bahasa hadits yang rumit, serta mempelajari ilmu nahwu yang memang dapat membantu pengucapan kata-kata. Mempelajari bahasa sehingga sampai hal-hal yang sangat mendetil dan tiada habis-habisnya, justru hanya akan mengalihkan dari hal-hal yang lebih layak untuk dipelajari,

Perumpamaan orang yang mempelajari ilmu itu hingga sangat mendalam, seperti orang yang menghabiskan umurnya dalam memperbaiki makhraj bacaan huruf-huruf Al-Qur’an, dan hanya sebatas itu. Tentu saja dia adalah orang yang tertipu. Sebab maksud dari keberadaan huruf-hauruf itu adalah maknanya. Huruf hanya sekedar faktor dan perangkat. Yang beruntung adalah yang mengambil perangkat-perangkat itu sekedar menurut kebutuhannya yang memang dipentingkan, tidak lebih dari itu, kemudian harus mempraktikkannya berupa amal dan berusaha membersihkannya dari cacat. Inilah tujuan yang harus dicapai.

Ada pula di antara mereka (ulama) yang tertipu besar, yaitu yang mencari-cari alas an untuk melepaskan diri dari hak. Mengira tindakan ini bermanfaat bagi mereka. Padahal mereka jelas tertipu. Seoran laki-laki yang menggauli istrinya dan dia mencari-cari alas an agar dia terbebas dari tanggung jawabnya dihadapan Allah. Begitu pula orang yang memberikan harta zakat kepada istrinya di akhir masa jatuh tempo dalam jangka satu tahun, atau memberikan hartanya kepada seseorang agar dia tidak terkena kewajiban membayar zakat. Tentu saja ini hanya sekedar alasan yang dicari-cari. Wallahu A’lam bish Showab

 

Artikel ini dilansir dari blog : Santri Darsya

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img

Memaknai Hakikat Rezeki

Related News
- Advertisement -spot_img

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami