Boyolali – Suasana aula Pondok Pesantren Darusy Syahadah Putri, Grenjeng, Kedunglengkong, Simo, Kamis (4/8/2025) sore terasa penuh semangat keilmuan. Seluruh asatidzah dan ustadzat Darusy Syahadah hadir dalam agenda Kajian Fiqih Kebangsaan yang diselenggarakan oleh Bagian SDM Darusy Syahadah.
Kajian yang dimulai selepas salat Ashar pukul 15.30 WIB ini dipandu oleh ustadz Adib Fattah Suntoro, M.Ag. Adapun narasumber utama adalah Dr. Ahmad Zain An Najah, Lc, M.A., seorang ulama dan cendekiawan yang juga anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat.
Dalam penyampaiannya, beliau menekankan pentingnya kesadaran umat Islam terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. Salah satu pokok pikiran yang dikutip dari tokoh nasional Moh. Natsir menjadi sorotan:
“Kalau kita tidak belajar politik, maka kita akan dijadikan objek yang dipermainkan politik.”
Pernyataan tersebut mengingatkan bahwa keterlibatan umat dalam memahami dinamika kebangsaan adalah hal yang niscaya, agar tidak sekadar menjadi penonton atau korban arus politik.

Dr. Ahmad Zain An Najah juga menegaskan bahwa seorang negarawan sejati adalah mereka yang mampu memikirkan dan menanggung maslahat negara secara umum, bukan sekadar kepentingan kelompok atau golongan.

Lebih jauh, beliau menjelaskan bahwa konsep kebangsaan dalam Islam bukanlah sesuatu yang asing. Al-Qur’an, Sunnah, hingga sejarah peradaban Islam banyak memberikan pijakan tentang bagaimana umat harus berperan dalam menjaga persatuan, menegakkan keadilan, dan membangun peradaban yang berkeadilan.
Kajian ini disambut antusias oleh para peserta. Selain memperluas wawasan, acara ini juga memperkokoh komitmen para pendidik pesantren untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan yang islami kepada generasi muda.

Dengan adanya kegiatan seperti ini, Pondok Pesantren Darusy Syahadah terus berusaha menghadirkan pemahaman yang seimbang: mencetak santri yang kokoh dalam akidah dan ibadah, sekaligus peka terhadap realitas sosial dan kebangsaan.




