Home / Kabar Alumni / Berkiprah di Dunia Pesantren Demi Kepentingan Islam

Berkiprah di Dunia Pesantren Demi Kepentingan Islam

USTADZ DHIYA’ULLAH

(Angkatan Pertama di Darusy Syahadah)

 

Banyak yang beranggapan bahwa di pondok itu membosankan dan ketinggalan jaman. Tentu ini anggapan yang salah. Coba kita tengok alumni kita yang satu ini. Beliau tinggal pondok bertahun-tahun. Menjadi santri selama empat tahun dan mengabdikan diri di pondok hingga sekarang. Selain itu beliau pun tidak gagap teknologi. Beliaulah Ustadz Dhiya’ullah bin Mukhtar.

Terlahir di ibu kota jawa barat, 19 juli 1972 silam. Ustadz yang merupakan alumni pertama Darusy Syahadah ini mulai meretas pendidikan dasarnya di SDN Juntigirang. Kemudian melanjutkan jenjang pendidikan menengah pertamanya di MTs YUPPI Citaliktik Bandung dan lulus tahun 1992. Dua tahun kemudian tepatnya tahun 1994 beliau memilih melanjutkan studinya di pondok pesantren Darusy Syahadah atas saran paman beliau. Tahun 1994 merupakan tahun pertama pondok pesantren Darusy Syahadah membuka pendaftaran untuk santri berasrama. Sehingga beliau di pondok pesantren Darusy Syahadah termasuk angkatan pertama.

Menjadi santri periode awal di pesantren tentu tak lepas dari masa-masa sulit. Fasilitas yang serba terbatas, belum adanya aliran listrik, hingga urusan MCK pun harus bersusah-payah menuju sumber mata air. Namun, itu semua tidak menyurutkan semangat beliau dalam thalabul ‘ilmi. Hasbunallah wa ni’mal wakil.

Beliau menuturkan, di awal berdirinya pesantren ini, Darusy Syahadah hanya memiliki 7 anak didik. Kemudian bertambah menjadi 27 santri di semester berikutnya. Tahun 1995 ada beberapa santri pindahan dari pondok lain, sehingga jumlah santri Darusy Syahadah yang awalnya 27 orang menjadi 50 orang. Namun di akhir kelulusannya, angka ini merosot hingga hanya menelurkan alumni tak lebih dari 30 santri. Tahun 1998 beliau lulus dan resmi menjadi alumni Darusy Syahadah.

Setelah lulus dari pondok pesantren Darusy Syahadah, ustadz peraih peringkat pertama selama 3 tahun berturut-turut ini ditugaskan di pesantren tempat beliau menimba ilmu, yaitu Pondok pesantren Darusy Syahadah.

Ustadz asal Bandung ini mempunyai rasa haus yang luar biasa terhadap ilmu. Sehingga di sela-sela kesibukannya menjadi pengajar di Darusy Syahadah, anak pertama dari sepuluh bersaudara ini melanjutkan pengembaraan mencari ilmu. Beliau memutuskan untuk belajar lagi di Ma’had Abu Bakar, Universitas Muhammadiyah Surakarta tahun 2000. Ketika itu beliau langsung masuk di kelas empat. Itu artinya beliau hanya melalui dua semester saja. Salah satu keistimewaan Darusy Syahadah yang diakui kapasitas keilmuannya.

Kurang lebih tiga tahun, selain mengajar beliau juga diamanahi menjadi asisten sekretaris di Darusy Syahadah. Tahun ke empat masa tugas beliau ditunjuk menjadi ketua sekretaris, hingga sekarang. Jabatan sekretaris memang cocok bagi beliau. Karena sejak santri beliau sering menjadi sekretaris. Demikian pula ketika di IST (semacam OSIS) beliau juga menjabat sebagai sekretaris.

Kesibukan beliau menjadi sekretaris mengharuskan beliau bersinggungan dengan komputer setiap hari. “Katanya sih, saya menonjol di bidang kaligrafi dan melukis.” ujar ustadz pengampu extrakurikuler handycraft ini. “Namun pada akhirnya tidak dikembangkan, yang dikembangkan justru komputernya,” beliau melanjutkan.

Walaupun mempunyai bakat melukis dan kaligrafi, namun lebih fokus mendalami komputer karena tuntutan pekerjaan beliau. Dengan otak-atik komputer setiap hari,  akhirnya menjadikan beliau mampu membuat beberapa aplikasi. Beberapa aplikasi yang telah beliau buat di antaranya aplikasi raport, ijazah otomatis terintegrasi dengan nilainya, transkrip nilai D2 (sistem SKS), RAB (Rencana Anggaran Belanja) pesantren, data nama santri dengan sistem pencarian otomatis, dll. Jadi selama menjabat sebagai sekretaris pondok kurang lebih 22 tahun, beliau banyak menyumbangkan jasanya untuk kepentingan pesantren.

Adapun latar belakang pembuatan aplikasi raport, berawal dari rasa keprihatinan beliau melihat para wali kelas selalu lemburan dalam mengolah data raport dan selalu ada salah tulis karena masih pake tulisan tangan, sementara raport tidak boleh menggunakan tipe-x.

Ketika ditanya, mengapa beliau bisa betah di pondok, bapak dari 7 anak ini menjelaskan bahwa beliau sudah biasa prihatin jadi tidak begitu kaget dengan kehidupan pesantren yang sederhana.  Selain itu beliau belajar di pondok memang niatnya betul-betul thalabul ilmi (menuntut ilmu). Berbeda dengan beberapa teman beliau yang niatnya tidak benar, seperti ingin mencari ijazah. Setelah mengetahui di Darusy Syahadah tidak ada ijazahnya akhirnya keluar.

Adapun tentang keistiqomahan beliau mengabdi di Darusy Syahadah selama 22 tahun sejak awal tugas hingga sekarang, karena pihak pesantren menahan beliau untuk tetap di pondok. “Khusus Ustadz Dhiya’ jangan ‘dilempar’ kemana-mana, di sini aja terus,” ujar beliau menirukan Ust Mustaqim, selaku mudir ma’had kala itu.

“Bagi saya sih sebenarnya kalo mau ditempatkan di mana aja, asalkan masih dalam rangka untuk Islam gak masalah. Tapi kalau ternyata manfaat di sini ya sudah,” beliau melanjutkan.

Kepada para santri beliau berpesan agar senantiasa meningkatkan kualitas bahasa, baik arab maupun inggris. Dan menghimbau kepada mereka untuk meningkatkan skill dalam hal tulis-menulis dan menghitung cepat dengan aplikasi komputer sebagai bekal ketika tugas nanti. Beliau juga memberikan tips agar para santri betah di pondok, yaitu dengan meluruskan niatnya lillahi ta’ala murni karena tholabul ‘ilmi dan membiasakan diri hidup prihatin apa adanya. Tak lupa beliau juga berpesan kepada asatidzah agar meningkatkan rasa ukhuwah antara asatidzah dengan para santrinya dan memberikan tauladan yang baik kepada mereka.

Terakhir, beliau mengingatkan kepada kita perkataan Ali rodhiyallahu’anhu :

  • Sesungguhnya kebenaran itu tidak diukur dengan seseorang, maka kenalilah kebenaran itu hingga engkau mengenali pengikutnya.
  • Ketahuilah bahwa sesungguhnya dunia terus berjalan menjauh, sedangkan akhirat datang mendekat. Masing-masing memiliki generasi. Maka, jadilah generasi akhirat dan jangan menjadi generasi dunia.
  • Sungguh, hari ini adalah saat beramal tanpa hisab. Dan esok diakhirat yang ada hanya hisab, tak ada lagi waktu beramal. (Cokro)

 

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami

+ +