BerandaMateri KhutbahKhutbah JumatJangan Biarkan Ramadhan Hanya Menjadi Kenangan

Jangan Biarkan Ramadhan Hanya Menjadi Kenangan

- Advertisement -spot_img

 

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بَلَّغَنَا شَهْرَ رَمَضَانَ فَصُمْنَاهُ وَقُمْنَاهُ، وَوَفَّقَنَا فِيهِ لِأَنْوَاعِ الطَّاعَاتِ وَالْقُرُبَاتِ، وَجَعَلَ أَيَّامَهُ مِضْمَارًا لِلسَّابِقِينَ إِلَى الْخَيْرَاتِ، وَأَيَّامَ مَا بَعْدَهُ مَيْدَانًا لِمَنْ أَرَادَ الثَّبَاتَ وَالِاسْتِقَامَةَ عَلَى الطَّاعَاتِ. نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَشْكُرُهُ عَلَى نِعْمَةِ الْإِيمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَنَسْأَلُهُ الْقَبُولَ وَالْإِتْمَامَ.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً نَرْجُو بِهَا النَّجَاةَ يَوْمَ نَلْقَاهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَرْسَلَهُ اللَّهُ هَادِيًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا، وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَأُوصِيكُمْ وَنَفْسِيَ الْخَاطِئَةَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى زَادُ الْمُؤْمِنِينَ وَوَصِيَّةُ اللَّهِ لِلْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِينَ رَحِمَكُمُ اللَّهُ،
إِنَّ شَهْرَ رَمَضَانَ قَدْ مَضَى بِمَا فِيهِ مِنْ نَفَحَاتِ الرَّحْمَةِ وَمَوَاسِمِ الطَّاعَةِ، وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ الصَّادِقَ لَا تَنْقَطِعُ طَاعَتُهُ بِانْقِضَاءِ الشُّهُورِ، بَلْ يَظَلُّ ثَابِتًا عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ وَمُسْتَمِرًّا فِي عِبَادَتِهِ.

وَ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

Mukadimah: Ramadhan Telah Berlalu, Ujian Sesungguhnya Baru Dimulai

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah

Marilah kita menundukkan hati seraya memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Dialah Rabb yang dengan kasih sayang-Nya telah mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan, membimbing kita melalui hari-hari penuh ibadah, lalu mengantarkan kita memasuki bulan Syawal. Betapa banyak nikmat yang sering kali luput dari kesadaran kita: nikmat iman yang menenangkan hati, nikmat kesehatan yang memungkinkan kita berdiri dalam shalat, serta nikmat kesempatan untuk bertaubat dan memperbaiki diri. Ramadhan mungkin telah berlalu, namun rahmat dan ampunan Allah tidak pernah berhenti mengalir. Karena itu, di bulan Syawal ini, marilah kita terus menumbuhkan rasa syukur dengan menjaga amal-amal yang telah kita bangun selama Ramadhan, agar ibadah tidak berhenti sebagai kenangan, tetapi terus hidup dalam perjalanan kehidupan kita.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, teladan agung yang mengajarkan kepada umatnya bagaimana menjaga istiqamah dalam ketaatan. Beliaulah yang menunjukkan bahwa ibadah kepada Allah bukanlah musiman, bukan hanya hidup di bulan Ramadhan lalu padam setelahnya, tetapi merupakan jalan hidup yang terus dijaga sepanjang usia. Melalui tuntunan beliau, kita belajar bahwa keimanan harus terus dipelihara, amal saleh harus terus dirawat, dan hati harus terus disucikan. Semoga dengan memperbanyak shalawat kepada beliau, hati kita semakin lembut, langkah kita semakin lurus, dan kita diberi kekuatan oleh Allah untuk mengarungi bulan-bulan setelah Ramadhan—termasuk bulan Syawal ini—dengan semangat iman yang tetap menyala dan tidak pernah padam.

Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh

Ramadhan yang baru saja kita lalui sejatinya bukan sekadar pergantian bulan dalam kalender hijriah. Ia adalah madrasah ruhani yang Allah siapkan untuk mendidik jiwa manusia. Selama sebulan penuh kita dilatih menahan diri, bukan hanya dari makan dan minum, tetapi juga dari amarah, dari kata-kata yang sia-sia, dari pandangan yang tidak terjaga, dan dari berbagai dorongan hawa nafsu. Di bulan itu kita belajar bangun di sepertiga malam, berdiri lama dalam shalat, memperbanyak tilawah Al-Qur’an, serta merasakan lembutnya hati ketika berbagi dengan sesama. Ramadhan telah membentuk suasana yang begitu indah: masjid hidup dengan lantunan ayat-ayat Allah, tangan-tangan terangkat dalam doa, dan hati-hati terasa lebih dekat kepada Rabbnya. Namun pertanyaannya, wahai kaum muslimin, setelah Ramadhan berlalu—apakah semua itu hanya akan menjadi kenangan, ataukah ia benar-benar meninggalkan perubahan dalam kehidupan kita?

Sesungguhnya ukuran keberhasilan Ramadhan tidak diukur dari meriahnya suasana ibadah selama sebulan, tetapi dari sejauh mana nilai-nilai Ramadhan tetap hidup setelah bulan itu pergi. Jika setelah Ramadhan hati kita tetap lembut, shalat kita tetap terjaga, dan lisan kita lebih berhati-hati, maka itulah tanda bahwa Ramadhan telah meninggalkan bekas yang baik dalam diri kita. Sebaliknya, jika semangat ibadah itu perlahan memudar begitu Ramadhan usai, maka kita perlu bertanya pada diri sendiri: apakah kita benar-benar belajar dari madrasah Ramadhan, atau sekadar singgah sebentar dalam suasana spiritual yang berlalu begitu saja. Karena itu Allah mengingatkan kita dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102).

Ayat ini seakan mengingatkan kita bahwa takwa bukanlah ibadah musiman yang hanya hidup di bulan Ramadhan, tetapi jalan hidup yang harus dijaga hingga akhir hayat. Ramadhan telah berlalu, namun ujian sesungguhnya justru dimulai sekarang: mampukah kita menjaga ruh Ramadhan itu tetap hidup dalam hari-hari kita setelahnya.

Ramadhan Adalah Madrasah, Bukan Sekadar Musim Ibadah

Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh

Sesungguhnya Ramadhan bukan sekadar musim ibadah yang datang lalu berlalu setiap tahun. Ia adalah madrasah yang Allah siapkan untuk mendidik jiwa manusia. Di dalamnya kita dilatih untuk menundukkan hawa nafsu dan mengendalikan keinginan diri. Selama sebulan penuh kita menahan diri dari makan dan minum di siang hari, padahal keduanya adalah perkara yang halal. Kita menahan diri bukan karena tidak mampu, tetapi karena kita sadar bahwa Allah memerintahkan kita untuk menahannya. Inilah pelajaran besar dari Ramadhan: jika seorang hamba mampu meninggalkan sesuatu yang halal karena ketaatan kepada Allah, maka seharusnya ia lebih mampu lagi meninggalkan perkara yang haram setelah Ramadhan berlalu. Ramadhan mengajarkan bahwa kekuatan seorang mukmin bukan terletak pada kemampuan menuruti keinginan, tetapi pada kemampuan mengendalikan dirinya demi mencari ridha Allah.

Karena itu Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa hakikat puasa tidak berhenti pada menahan lapar dan dahaga semata. Beliau bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Al-Bukhārī, no. 1903).

Hadits ini mengajarkan kepada kita bahwa puasa sejatinya adalah pendidikan akhlak dan pembentukan karakter takwa. Ia melatih lisan agar jujur, melatih hati agar bersih, dan melatih perilaku agar terjaga dari keburukan. Maka jika setelah Ramadhan seseorang masih mudah berdusta, masih ringan lisannya menyakiti orang lain, dan masih mudah melakukan kemaksiatan, itu berarti pelajaran besar dari madrasah Ramadhan belum sepenuhnya meresap ke dalam jiwanya. Ramadhan seharusnya tidak hanya mengubah jadwal makan kita, tetapi juga mengubah cara kita berbicara, bersikap, dan menjalani kehidupan.

Tanda Diterimanya Amal Ramadhan

Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh

Salah satu pertanyaan yang sering muncul setelah Ramadhan berlalu adalah: apakah amal ibadah kita di bulan itu diterima oleh Allah atau tidak? Tidak ada seorang pun yang dapat memastikan hal tersebut, karena penerimaan amal adalah rahasia Allah. Namun para ulama memberikan sebuah tanda yang bisa menjadi bahan renungan bagi setiap mukmin. Mereka mengatakan bahwa amal yang diterima biasanya akan melahirkan amal kebaikan berikutnya. Hati yang telah merasakan manisnya ketaatan di bulan Ramadhan akan terdorong untuk terus mendekat kepada Allah setelahnya. Jika setelah Ramadhan seseorang lebih menjaga shalatnya, lebih dekat dengan Al-Qur’an, lebih berhati-hati dalam berbicara, dan lebih peka terhadap kebaikan, maka itu adalah pertanda baik bahwa Ramadhan telah meninggalkan bekas yang hidup dalam jiwanya.

Sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama salaf:

مِنْ عَلاَمَةِ قَبُولِ الْحَسَنَةِ الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا

“Di antara tanda diterimanya suatu kebaikan adalah kebaikan yang dilakukan setelahnya.” (Disebutkan oleh Ibnu Rajab dalam Lathā’if al-Ma‘ārif).

Oleh karena itu, wahai kaum muslimin, marilah kita menjadikan perkataan ini sebagai cermin untuk menilai diri kita sendiri. Apakah setelah Ramadhan ibadah kita semakin hidup, atau justru kembali seperti sebelum Ramadhan datang? Apakah masjid masih kita datangi dengan langkah yang ringan, atau mulai terasa berat? Apakah Al-Qur’an masih kita buka setiap hari, atau kembali tersimpan rapi di rak tanpa tersentuh? Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan diri, tetapi untuk mengajak kita bermuhasabah, agar semangat kebaikan yang tumbuh di bulan Ramadhan tidak padam begitu saja setelah bulan itu berlalu.

Bahaya Jika Ramadhan Hanya Menjadi Kenangan

Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh

Di antara bahaya yang sering tidak kita sadari adalah ketika Ramadhan hanya tinggal sebagai kenangan, bukan sebagai perubahan. Banyak orang merindukan datangnya Ramadhan setiap tahun, menunggu suasana ibadah yang begitu hidup, merasakan indahnya kebersamaan dalam shalat tarawih, lantunan Al-Qur’an yang menggema di masjid, serta hati yang terasa lebih lembut dan mudah tersentuh oleh nasihat. Namun sayangnya, tidak sedikit yang hanya merindukan suasananya, bukan membawa nilai-nilainya. Ketika Ramadhan berlalu, perlahan suasana itu pun ikut memudar. Masjid yang sebelumnya penuh menjadi kembali lengang, mushaf Al-Qur’an yang selama Ramadhan sering dibuka kembali tersimpan rapi di rak, dan kebiasaan-kebiasaan lama yang dahulu sempat ditinggalkan perlahan kembali menghampiri kehidupan kita.

Karena itu, wahai kaum muslimin, kita perlu merenung dengan jujur di dalam hati kita masing-masing. Jangan sampai semangat ibadah hanya hidup ketika suasana Ramadhan hadir, tetapi padam ketika bulan itu pergi. Seolah-olah ketaatan hanya memiliki waktu tertentu dalam setahun, padahal Allah yang kita sembah di bulan Ramadhan adalah Allah yang sama yang kita sembah di bulan-bulan lainnya. Ibadah bukan sekadar suasana, tetapi komitmen hati kepada Allah. Jika Ramadhan benar-benar telah mendidik jiwa kita, maka semangatnya tidak akan berhenti pada akhir bulan itu. Ia akan terus hidup dalam langkah-langkah kita, dalam shalat yang kita jaga, dalam Al-Qur’an yang tetap kita baca, dan dalam akhlak yang kita perbaiki. Inilah ujian sesungguhnya setelah Ramadhan: mampukah kita menjaga cahaya iman yang telah dinyalakan selama sebulan penuh, agar tidak padam dalam perjalanan hari-hari setelahnya.

Penutup Khutbah Pertama

Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh

Sebelum kita melanjutkan pembahasan ini, marilah sejenak kita menundukkan hati untuk bermuhasabah kepada diri kita masing-masing. Ramadhan telah kita lalui dengan berbagai amal dan ibadah, namun pertanyaan yang perlu kita renungkan adalah: apakah kita hanya merayakan Ramadhan sebagai sebuah suasana tahunan, ataukah kita benar-benar belajar darinya? Apakah Ramadhan hanya meninggalkan kenangan indah dalam ingatan kita, ataukah ia meninggalkan perubahan yang hidup dalam hati dan perilaku kita? Inilah pertanyaan yang hendaknya kita jawab dengan kejujuran di hadapan Allah. Pada khutbah kedua nanti, marilah kita bersama-sama merenungkan bagaimana cara menjaga ruh Ramadhan agar tetap hidup dalam diri kita, sehingga semangat ketaatan yang telah tumbuh selama bulan suci itu tidak padam ketika Ramadhan telah berlalu.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَتَقَبَّلْ صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُتَّقِينَ.
أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

 

Cara Menjaga Ruh Ramadhan Sepanjang Tahun

Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh

Setelah Ramadhan berlalu, pertanyaan penting yang harus kita renungkan adalah: bagaimana cara menjaga ruh Ramadhan agar tetap hidup sepanjang tahun? Salah satu caranya adalah dengan menjaga hubungan kita dengan Al-Qur’an. Jika selama Ramadhan kita mampu membaca Al-Qur’an setiap hari, bahkan menamatkannya lebih dari sekali, maka setelah Ramadhan setidaknya jangan sampai kita meninggalkannya sama sekali. Walaupun hanya beberapa ayat setiap hari, yang penting hubungan itu tetap terjaga. Sebab Al-Qur’an bukan sekadar bacaan Ramadhan, tetapi petunjuk hidup bagi seorang mukmin sepanjang waktu. Allah berfirman:

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus.” (QS. Al-Isra’: 9).

Selain itu, jagalah pula shalat berjamaah dan ibadah malam. Jika selama Ramadhan kita mampu bangun untuk qiyāmul-lail, maka setelah Ramadhan pun hendaknya kita berusaha menjaganya, walaupun hanya dua rakaat sebelum tidur atau beberapa rakaat di sepertiga malam. Sebab yang dicintai oleh Allah bukanlah amal yang besar tetapi hanya sesaat, melainkan amal yang terus dijaga dengan istiqamah. Rasulullah ﷺ bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling konsisten meskipun sedikit.” (HR. Al-Bukhārī, no. 6464; HR. Muslim, no. 783).

Selain menjaga ibadah, kita juga harus menjaga hati dari dosa dan kebiasaan buruk yang dahulu kita tinggalkan selama Ramadhan. Ramadhan telah melatih kita untuk mengendalikan diri—menahan lisan dari kata-kata yang sia-sia, menahan pandangan dari yang tidak halal, dan menahan hati dari amarah serta dengki. Jangan sampai setelah Ramadhan hawa nafsu kembali menguasai diri kita seperti sebelumnya. Sesungguhnya Ramadhan bukanlah garis akhir dari perjalanan ibadah kita, melainkan titik awal dari perubahan menuju kehidupan yang lebih baik. Ibarat seseorang yang baru saja lulus dari sebuah sekolah, ia tidak kembali menjadi pribadi yang sama seperti sebelumnya. Ia seharusnya menjadi lebih matang, lebih bijaksana, dan lebih bertanggung jawab. Demikian pula seorang mukmin setelah melewati madrasah Ramadhan; ia seharusnya keluar sebagai pribadi yang lebih kuat imannya dan lebih dekat hubungannya dengan Allah.

Oleh karena itu, wahai kaum muslimin, marilah kita berusaha menjaga api iman yang telah dinyalakan selama bulan Ramadhan. Jangan biarkan cahaya itu redup hanya karena kita kembali tenggelam dalam kesibukan dunia. Jadikanlah Ramadhan sebagai titik perubahan dalam hidup kita, sebagai momentum untuk memperbaiki diri dan memperkuat komitmen dalam ketaatan kepada Allah. Semoga Allah menerima amal ibadah yang telah kita lakukan selama Ramadhan, mengampuni dosa-dosa kita, dan memberi kita kekuatan untuk tetap istiqamah dalam kebaikan hingga kita kembali dipertemukan dengan Ramadhan yang akan datang dalam keadaan iman yang lebih kuat dan hati yang lebih bersih.

Gagasan Pesan Utama Khutbah

Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh

Pada akhirnya kita perlu menyadari bahwa Ramadhan bukan sekadar kenangan spiritual yang datang sekali dalam setahun lalu berlalu tanpa bekas. Ramadhan adalah madrasah kehidupan yang seharusnya meninggalkan jejak dalam cara kita berpikir, bersikap, dan menjalani hari-hari setelahnya. Keberhasilan seorang mukmin di bulan Ramadhan tidak diukur dari seberapa meriahnya ia menjalani suasana ibadah selama sebulan, tetapi dari seberapa kuat ia mampu menjaga semangat ketaatan itu setelah Ramadhan pergi. Orang yang benar-benar berhasil di bulan Ramadhan adalah mereka yang tetap membawa ruh Ramadhan dalam kehidupannya: hatinya lebih lembut, lisannya lebih terjaga, shalatnya lebih khusyuk, dan hubungannya dengan Al-Qur’an tetap hidup. Dengan demikian, Ramadhan tidak hanya berlalu sebagai sebuah peristiwa tahunan, tetapi menjadi titik perubahan yang terus menuntun langkah seorang mukmin menuju kehidupan yang lebih dekat kepada Allah.

فَيَا عِبَادَ اللَّهِ أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى زَادُ الْقُلُوبِ، وَنُورُ الطَّرِيقِ، وَعِصْمَةُ الْعَبْدِ فِي الشِّدَّةِ وَالرَّخَاءِ. فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَاسْتَمْسِكُوا بِالْهُدَى، وَأَكْثِرُوا مِنَ الِاسْتِغْفَارِ، فَإِنَّهُ أَمَانُ الْعِبَادِ وَسَبَبُ الرَّحْمَةِ وَدَفْعِ الْبَلاءِ.

فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ  إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.

اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا، وَرُكُوعَنَا وَسُجُودَنَا، وَتِلَاوَتَنَا لِكِتَابِكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ. اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ رَمَضَانَ آخِرَ عَهْدِنَا بِالطَّاعَةِ، وَلَا آخِرَ عَهْدِنَا بِالْقُرْآنِ، وَلَا آخِرَ عَهْدِنَا بِقِيَامِ اللَّيْلِ. اللَّهُمَّ أَحْيِ فِي قُلُوبِنَا رُوحَ رَمَضَانَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الَّذِينَ إِذَا عَرَفُوا طَرِيقَ الْخَيْرِ لَزِمُوهُ، وَإِذَا فُتِحَتْ لَهُمْ أَبْوَابُ الطَّاعَةِ لَمْ يُغْلِقُوهَا.

اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَيَا مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا إِلَى طَاعَتِكَ. اللَّهُمَّ اجْعَلْ مَا تَعَلَّمْنَاهُ فِي رَمَضَانَ بَاقِيًا فِي حَيَاتِنَا، وَاجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قُلُوبِنَا، وَنُورَ صُدُورِنَا، وَهُدًى لَنَا فِي طَرِيقِنَا. اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ يَسْتَقِيمُونَ عَلَى طَاعَتِكَ فِي كُلِّ زَمَانٍ وَمَكَانٍ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَاسْتُرْ عُيُوبَنَا، وَطَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ النِّفَاقِ وَالرِّيَاءِ، وَاجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِيمَهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ. اللَّهُمَّ بَلِّغْنَا رَمَضَانَ أَعْوَامًا عَدِيدَةً وَنَحْنُ فِي صِحَّةٍ وَإِيمَانٍ، وَاجْعَلْنَا فِي كُلِّ أَيَّامِنَا مِنَ التَّائِبِينَ الصَّادِقِينَ وَالْمُسْتَقِيمِينَ عَلَى طَاعَتِكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Sumber : santridarsya.xo.je

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
12,700PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
9,600PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami