BerandaMateri KhutbahKhutbah Idul FitriKembali ke Fitrah: Menjadi Hamba Allah yang Baru, Bukan Sekadar Berganti Hari

Kembali ke Fitrah: Menjadi Hamba Allah yang Baru, Bukan Sekadar Berganti Hari

- Advertisement -spot_img

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ،  اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ. لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ،  اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيدَهُ. أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَأَشْكُرُهُ، وَأَتُوبُ إِلَيْهِ وَأَسْتَغْفِرُهُ.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ،

فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

وَقَالَ تَعَالَى فِي آيَاتِ الصِّيَامِ:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ،  اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

Mukadimah

Segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya. Kita bersaksi tiada ilah yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan kita bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada beliau, kepada keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga hari kiamat. Jamaah Idul Fitri rahimakumullāh, marilah kita perbarui wasiat takwa, karena takwa adalah bekal terbaik menuju Allah. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102)

Inilah panggilan mulia di hari raya: setelah sebulan kita ditempa dengan puasa, qiyam, tilawah, dan doa, Allah mengundang kita keluar rumah bukan hanya untuk bergembira, tetapi untuk bertakbir mengagungkan-Nya dan kembali sebagai hamba yang lebih bertakwa.

Hadirin yang dimuliakan Allah, Idul Fitri bukan sekadar tradisi tahunan, bukan hanya tentang baju baru, hidangan melimpah, dan saling berkunjung dari rumah ke rumah. Idul Fitri adalah momentum kembali ke fitrah: hati yang bersih, jiwa yang ringan dari dosa, dan tekad baru untuk taat. Ramadhan telah mencuci ruh kita, maka jangan sampai hari ini justru kita kotori lagi dengan kelalaian dan maksiat. Jika kemarin kita menahan lapar demi Allah, maka hari ini kita seharusnya lebih mampu menahan hawa nafsu demi Allah. Jika kemarin kita menangis dalam doa malam, maka hari ini jangan biarkan langkah kita menjauh dari-Nya. Jadikan takbir yang kita kumandangkan sebagai janji: bahwa setelah Ramadhan kita bukan hanya berganti hari, tetapi benar-benar berganti diri—menjadi hamba yang lebih lembut hatinya, lebih bersih lisannya, dan lebih istiqamah ketaatannya.

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ،  اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

 

Makna Fitrah – Kembali Bersih di Hadapan Allah

Jamaah Idul Fitri rahimakumullāh, hari ini kita berbicara tentang makna fitrah. Kata “fitri” bukan sekadar penanda tanggal di kalender hijriah, tetapi isyarat bahwa kita kembali kepada keadaan paling asli: bersih, jernih, tanpa noda dosa, sebagaimana bayi yang baru dilahirkan. Inilah hari ketika seorang hamba diharapkan keluar dari madrasah Ramadhan dengan jiwa yang telah disucikan.

Jamaah Idul Fitri rahimakumullāh, ketika Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

 قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّىٰ ۝ وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّىٰ

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri, dan dia mengingat nama Rabb-nya lalu dia shalat” (QS. Al-A‘lā: 14–15),

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa ayat ini bukan sekadar perintah umum tentang kesucian jiwa, tetapi sangat selaras dengan syiar Idul Fitri. Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan:

 قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّىٰ أَيْ أَدَّى زَكَاةَ الْفِطْرِ، وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّىٰ أَيْ خَرَجَ إِلَى صَلَاةِ الْعِيدِ

“Yakni menunaikan zakat fitrah, dan keluar menuju shalat ‘Id.” (Tafsir Ibnu Katsir, tafsir QS. Al-A‘lā: 14–15, jilid 8, hlm. 377–378).

Seakan-akan Allah sedang menuntun kita: setelah sebulan berpuasa, sucikan dirimu dengan zakat, agungkan Aku dengan takbir, lalu datanglah bersujud dalam shalat sebagai tanda syukur.

Karena itu, Idul Fitri sejatinya bukan hari pesta semata, melainkan hari penyucian dan kepulangan jiwa kepada fitrah. Zakat fitrah membersihkan noda kekurangan puasa kita, takbir membesarkan nama Allah di lisan kita, dan shalat Id mengokohkan penghambaan kita. Semua rangkaian ini seperti proses terakhir pencucian ruh setelah Ramadhan. Maka betapa ruginya jika hati yang telah dibersihkan justru kembali kita kotori dengan maksiat. Hari ini seharusnya menjadi titik awal kehidupan baru: hati lebih jernih, amal lebih taat, dan langkah lebih dekat kepada Allah. Inilah makna kembali ke fitrah—pulang kepada-Nya dalam keadaan bersih, bukan sekadar berganti hari dan pakaian.

Dengan demikian, betapa ruginya jika hati yang telah dicuci selama sebulan penuh justru kembali ternoda di hari pertama Syawal. Padahal Rasulullah ﷺ telah memberi kabar gembira:

 مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Al-Bukhari, no. 38; Muslim, no. 760).

Dosa dihapus, catatan dilapangkan, lembaran baru dibuka. Maka jangan sampai kita seperti orang yang baru mandi bersih lalu sengaja terjun ke lumpur. Jangan sampai Allah telah mengampuni, tetapi kita sendiri yang kembali mengotori. Jadikan Idul Fitri sebagai titik awal kehidupan yang lebih taat: lisan lebih terjaga, pandangan lebih bersih, dan langkah lebih dekat kepada Allah. Itulah makna sejati kembali ke fitrah—bukan sekadar berganti pakaian, tetapi benar-benar berganti hati.

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ،  اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

Saling Memaafkan, Bukan Saling Menambah Dosa

Jamaah Idul Fitri rahimakumullāh, di antara keindahan hari raya ini adalah silaturahmi. Kita saling berkunjung, berjabat tangan, memeluk saudara, dan mengucapkan maaf dengan tulus. Inilah akhlak Islam: mencairkan hati yang beku, menghapus dendam yang lama tersimpan, dan menyambung kembali ukhuwah yang mungkin sempat retak. Allah menegaskan dalam Al-Qur’an:

 فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ

“Barang siapa memaafkan dan memperbaiki hubungan, maka pahalanya atas tanggungan Allah” (QS. Asy-Syūrā: 40).

Perhatikan, bukan sekadar memaafkan, tetapi juga memperbaiki. Artinya, Idul Fitri seharusnya menjadi momentum membersihkan hati, bukan hanya mengucapkan kata “maaf” di lisan. Kita datang dengan jiwa yang lapang, tanpa iri, tanpa dengki, tanpa permusuhan. Inilah makna kemenangan yang sejati: menang atas ego dan hawa nafsu kita sendiri.

Namun sayangnya, di tengah semangat silaturahmi itu, ada kekeliruan yang sering luput kita sadari. Kita berkumpul, tetapi lalai menjaga syariat. Ikhtilat dibiarkan bebas, bersalaman dengan non-mahram dianggap biasa, aurat dipamerkan, canda gurau melampaui batas. Hari yang seharusnya menghapus dosa justru berubah menjadi ladang dosa baru. Padahal Rasulullah ﷺ telah memberi peringatan keras:

 لَأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لَا تَحِلُّ لَهُ

“Ditusuk kepala seseorang dengan jarum besi lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya” (HR. Ath-Thabarani dalam Al-Mu‘jam Al-Kabir, no. 5045).

Ini menunjukkan bahwa dosa yang sering kita anggap kecil ternyata berat di sisi Allah. Maka jagalah kesucian hari ini. Jangan sampai Ramadhan telah membersihkan kita, tetapi Syawal justru menodai kembali. Biarlah Idul Fitri menjadi hari saling memaafkan, bukan hari saling menambah dosa.

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ،  اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

Menjadi Hamba Allah yang Baru – Istiqamah Setelah Ramadhan

Jamaah Idul Fitri rahimakumullāh, di antara pertanyaan terbesar setelah Ramadhan bukanlah “berapa banyak amal yang telah kita lakukan”, tetapi “apakah amal itu diterima oleh Allah?” Para ulama mengingatkan bahwa tanda diterimanya kebaikan bukan hanya terasa saat kita mengerjakannya, melainkan tampak setelahnya. Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata:

 مِنْ عَلَامَاتِ قَبُولِ الْحَسَنَةِ الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا

“Di antara tanda diterimanya kebaikan adalah adanya kebaikan setelahnya” (Lathaif al-Ma’arif hlm. 246).

Artinya, jika Ramadhan kita benar-benar diterima, maka Syawal kita akan lebih baik. Jika puasa kita tulus, maka shalat kita akan lebih khusyuk. Jika malam-malam kita hidup dengan doa, maka siang-siang kita akan lebih taat. Maka jangan sampai kita menjadi hamba musiman: rajin hanya ketika Ramadhan, lalu lalai ketika Ramadhan pergi.

Bayangkan seseorang yang telah mencuci pakaiannya hingga bersih dan harum, lalu dengan sengaja mencelupkannya kembali ke lumpur. Tentu itu perbuatan yang sia-sia. Begitulah permisalan hati kita. Selama sebulan penuh Allah telah membersihkannya dengan puasa, tilawah, sedekah, dan istighfar. Dosa-dosa diampuni, jiwa dilunakkan, air mata taubat mengalir. Maka betapa tidak masuk akalnya jika baru sehari setelah Id, hati itu kembali kita kotori dengan maksiat yang sama. Idul Fitri bukan garis akhir ketaatan, melainkan garis start kehidupan baru. Bukan penutup ibadah, tetapi pembuka istiqamah.

Karena itu, wahai kaum muslimin, buktikan bahwa Ramadhan benar-benar membekas. Jagalah shalat berjamaah sebagaimana kita menjaganya di bulan puasa. Tundukkan pandangan sebagaimana kita menahannya dari yang haram. Jaga adab silaturahmi, jangan sampai kebersamaan ternodai pelanggaran syariat. Lanjutkan puasa sunnah Syawal sebagai tanda cinta kepada amal. Dan tinggalkan maksiat-maksiat yang selama ini dianggap biasa, karena justru yang “biasa” itulah yang sering memberatkan timbangan dosa. Semoga kita menjadi hamba yang tidak hanya merayakan Idul Fitri dengan pakaian baru, tetapi juga dengan iman yang baru dan ketaatan yang terus tumbuh dari hari ke hari.

Bagian Penutup: Renungan dan Doa

Jamaah Idul Fitri rahimakumullāh, sebelum kita meninggalkan tempat ini, marilah sejenak kita menundukkan hati dan bertanya kepada diri sendiri dengan jujur. Hari ini kita mengenakan pakaian terbaik, rumah-rumah kita bersih, hidangan terhidang, senyum merekah di mana-mana. Namun pertanyaannya, apakah yang baru hanya baju kita, atau hati kita juga ikut baru? Apakah yang berganti hanya kalender dan tanggal, atau benar-benar jiwa dan akhlak kita? Betapa banyak orang yang merayakan Idul Fitri secara lahiriah, tetapi batinnya masih sama: dendam belum hilang, lisan masih tajam, pandangan masih liar, dan maksiat masih terasa ringan. Padahal makna “kembali ke fitrah” bukan sekadar pulang kampung, melainkan pulang kepada Allah dengan hati yang bersih.

Renungkanlah, sebulan penuh kita ditempa di madrasah Ramadhan. Kita lapar bukan karena tidak ada makanan, tetapi karena taat. Kita bangun malam bukan karena tak bisa tidur, tetapi karena cinta kepada Allah. Kita menangis dalam doa, memohon ampun dengan sungguh-sungguh. Maka jangan biarkan semua itu menjadi kenangan tanpa bekas. Jangan sampai Ramadhan hanya indah dalam cerita, tetapi tidak mengubah perilaku. Sungguh merugi orang yang telah dibersihkan oleh Allah, lalu ia sendiri mengotori dirinya kembali. Hari ini adalah awal perjalanan baru, bukan akhir perjuangan. Idul Fitri adalah janji untuk menjadi hamba yang lebih lembut hatinya, lebih jujur lisannya, dan lebih dekat langkahnya kepada Rabbnya.

Maka marilah kita menengadahkan tangan dengan penuh harap.

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ  إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.

اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَرُكُوعَنَا وَسُجُودَنَا وَتِلَاوَتَنَا وَدُعَاءَنَا، وَاجْعَلْهُ خَالِصًا لِوَجْهِكَ الْكَرِيمِ، وَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَطَهِّرْ قُلُوبَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَائِدِينَ إِلَى فِطْرَتِكَ، الثَّابِتِينَ عَلَى طَاعَتِكَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِمَّنْ يَنْقُضُ طَاعَتَهُ بَعْدَ رَمَضَانَ.

اللَّهُمَّ يَا رَبَّ رَمَضَانَ، يَا مَنْ وَفَّقْتَنَا لِلصِّيَامِ وَالْقِيَامِ، لَا تَجْعَلْ هَذَا الْيَوْمَ آخِرَ عَهْدِنَا بِطَاعَتِكَ، وَاجْعَلْنَا بَعْدَ رَمَضَانَ أَحْسَنَ حَالًا مِنْ قَبْلِهِ، وَارْزُقْنَا الِاسْتِقَامَةَ عَلَى طَاعَتِكَ حَتَّى نَلْقَاكَ.

اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ النِّفَاقِ، وَأَعْمَالَنَا مِنَ الرِّيَاءِ، وَأَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ، وَأَعْيُنَنَا مِنَ الْخِيَانَةِ، فَإِنَّكَ تَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ.
اللَّهُمَّ كَمَا أَعَدْتَنَا إِلَى هَذَا الْعِيدِ، فَأَعِدْنَا إِلَى فِطْرَتِنَا طَاهِرِينَ نَقِيِّينَ مِنَ الذُّنُوبِ وَالْخَطَايَا.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا كُلَّهَا، دِقَّهَا وَجِلَّهَا، أَوَّلَهَا وَآخِرَهَا، سِرَّهَا وَعَلَانِيَتَهَا.
اللَّهُمَّ لَا تَرُدَّنَا بَعْدَ رَمَضَانَ إِلَى الْمَعَاصِي، وَلَا تَجْعَلْنَا مِمَّنْ يَنْقُضُ الْعَهْدَ بَعْدَ الْمِيثَاقِ، وَاحْفَظْنَا مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاجْعَلْ هَذَا الْعِيدَ عِيدَ رَحْمَةٍ وَمَغْفِرَةٍ وَعِتْقٍ مِنَ النَّارِ، لَا عِيدَ غَفْلَةٍ وَلَا مَعْصِيَةٍ.
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا صِلَةَ الْأَرْحَامِ عَلَى مَا يُرْضِيكَ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ وَالْمُنْكَرَاتِ وَالْآثَامَ.

اللَّهُمَّ ثَبِّتْنَا عَلَى الصَّلَاةِ، وَحَبِّبْ إِلَيْنَا الْإِيمَانَ، وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوبِنَا، وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِينَ.
اللَّهُمَّ بَلِّغْنَا أَعْمَالًا صَالِحَةً بَعْدَ رَمَضَانَ، وَوَفِّقْنَا لِصِيَامِ السِّتِّ، وَدَوَامِ الذِّكْرِ، وَحُسْنِ الْعِبَادَةِ.

اللَّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِخَيْرٍ، وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ مُوَحِّدِينَ غَيْرَ مُبَدِّلِينَ وَلَا مُغَيِّرِينَ، وَاجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِيمَهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ لِقَائِكَ.

Ya Allah, Rabb kami Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, pada pagi yang mulia ini, di hari yang Engkau jadikan sebagai hari kemenangan bagi hamba-hamba-Mu, kami datang dengan hati yang penuh harap dan takut. Kami menengadahkan tangan kami kepada-Mu, sementara kami sadar betapa sedikit amal kami dan betapa banyak dosa kami. Ya Allah, terimalah puasa kami, qiyam kami, tilawah kami, sedekah kami, doa-doa kami di sepertiga malam, air mata yang jatuh dalam sujud-sujud panjang kami, dan seluruh amal Ramadhan kami. Jika di dalamnya ada riya, bersihkanlah. Jika di dalamnya ada lalai, sempurnakanlah. Jika di dalamnya ada kekurangan, tamballah dengan rahmat-Mu. Karena kami tahu, bukan amal kami yang memasukkan kami ke surga-Mu, tetapi kasih sayang-Mu semata.

Ya Allah, jangan Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang rajin hanya sesaat lalu lalai setelahnya, yang khusyuk hanya di bulan Ramadhan lalu kembali jauh setelahnya. Jangan Engkau jadikan Ramadhan hanya sebagai kenangan tanpa perubahan. Ya Allah, sebagaimana Engkau telah membersihkan jiwa kami selama sebulan penuh, maka jagalah kami dari maksiat setelah Engkau sucikan kami. Lindungi pandangan kami dari yang haram, jaga lisan kami dari dusta dan ghibah, jaga langkah kami dari tempat-tempat yang Engkau murkai. Teguhkan hati kami di atas ketaatan, kuatkan kami untuk istiqamah, jadikan kami hamba-hamba yang mencintai ibadah sebagaimana kami mencintai dunia. Jangan Engkau bolak-balikkan hati kami setelah Engkau beri hidayah.

Ya Allah, Engkau yang mempertemukan kami dengan hari Idul Fitri ini, pertemukanlah kami kembali dengan-Mu kelak dalam keadaan Engkau ridha kepada kami. Jadikan hari ini bukan sekadar hari raya, tetapi hari lahirnya jiwa-jiwa baru, hati-hati yang lembut, air mata taubat yang tulus, dan tekad untuk hidup hanya demi-Mu. Ampuni dosa kedua orang tua kami, keluarga kami, dan seluruh kaum muslimin. Satukan hati kami dalam kebaikan, jauhkan kami dari perpecahan dan permusuhan. Dan ketika ajal kami tiba, ya Allah, wafatkanlah kami dalam keadaan membawa fitrah yang suci, lisan kami mengucap syahadat, hati kami husnuzan kepada-Mu, dan wajah kami bercahaya karena rahmat-Mu. Masukkanlah kami ke dalam surga-Mu tanpa hisab dan tanpa azab.

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

 

Sumber : santridarsya.xo.je

 

 

 

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
12,700PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
9,600PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami