Home / Adab / Meninggalkan Perdebatan

Meninggalkan Perdebatan

Hendaknya penuntut ilmu meninggalkan debat yang tidak ada manfaaatanya. Karena kebanyakan debat hanya akan mengakibatkan permusuhan, saling bantah, saling benci, saling mencela, mengeraskan hati dan lainnya. Oleh karena itu Rasulullah mengingatkan ummatnya dari bahaya suka berdebat ini. Dari Abu Umamah Rasulullah bersabda:

مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوا عَلَيْهِ إِلاَّ أُوتُوا الْجَدَلَ ،  ثُمَّ تَلاَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- هَذِهِ الآيَةَ: مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلاَّ جَدَلاً بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ

“Suatu kaum tidak akan tersesat setelah mendapatkan petunjuk, kecuali karena suka berdebat.” Kemudian beliau membaca ayat (artinya), Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah (mendebat) saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” (Az Zukhruf: 58).” (HR. At Tirmidzi)

Ma’ruf Al Karkhi berkata:

إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدٍ خَيْراً فُتِحَ لَهُ بَابُ الْعَمَلِ وَأُغْلِقَ عَنْهُ بَابُ الْجَدَلِ ، وَ إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدٍ شَرّاً أُغْلِقَ عَنْهُ بَابُ الْعَمَلِ وَفُتِحَ لَهُ بَابُ الْجَدَلِ

“Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba maka akan dibukan pintu amal baginya dan ditutp pintu debat. Jika Dia menghendaki keburukan bagi seorang hamba maka ditutup pintu amal dan dibuka pintu debat.” (Abu Nu’aim Al Ashbahani, Hilyatul Auliya’, VIII/361)

Imam Malik berkata:

اَلَمِرَاءُ وَالْجِدَالُ فِي الْعِلْمِ يُذْهِبُ بِنُوْرِ الْعِلْمِ مِنْ قَلْبِ الْرَجُلِ

“Berdebat dalam ilmu akan menghilangkan cahaya ilmu dari hati seseorang.” (Ibnu Rajab Al Hanbali, Jami’ul Ulum wal Hikam)

Beliau juga berkata:

اَلْمِرَاءُ فِي الْعِلْمِ يُقَسِّي الْقُلُوْبَ  وَيُوَرِّثُ الْضَغْنَ

“Berdebat dalam ilmu akan mengakibatkan kerasnya hati dan saling menuduh.” (Ibid)

Imam Hasan Al Bashri mendengar suatu kaum yang berdebat, maka beliau berkata, “Mereka itu kaum yang malas beribadah, menyepelekan setiap perkataan dan sedikit sekali sifat wara’nya  sehingga mereka suka berbicara (berdebat.”

Ibnu Rajab Al Hanbali berkata, “Orang-orang belakangan ini telah tertipu dalam masalah debat. Mereka menganggap bahwa orang yang banyak bicaranya, banyak berdebat dan berselisih dalam masalah agama dianggap orang pandai. Padahal bukan begitu yang sebenarnya. Bahkan hal itu merupakan kebodohan semata.”

 

Keutamaan Meninggalkan Debat

Meninggalkan debat banyak keutamaannya. Orang y ang mau meninggalkan debat walaupun dalam posisi yang benar akan dibangunkan rumah di surga oleh Allah. Diriwayat dari Abu Umamah, Rasulullah bersabda:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِى رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِى وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِى أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

“Saya menjamin rumah di pinggir surga bagi siapa saja yang meninggalkan debat walaupun ia benar. Saya (juga menjamin) rumah di tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan dusta walaupun hanya bercanda. Dan saya (juga menjamin) rumah di atas surga bagi siapa saja yang bagus akhlanya.”  (HR. Abu Dawud dan At Tirmidzi).

Maksud meninggalkan debat adalah debat yang menyebabkan permusuhan, perpecahan dan kebencian. Maka hendaknya setiap manusia menjauhi debat hingga bersih hati dan jiwanya.” (Abdul Muhsin Al Ibad, Syarh SUnan Abi Dawud, 27/433)

Dan diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:

لاَ يُؤْمِنُ الْعَبْدُ الإِيمَانَ كُلَّهُ حَتَّى يَتْرُكَ الْكَذِبَ فِى الْمُزَاحَةِ وَيَتْرُكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ صَادِقاً

“Seorang hamba tidak beriman dengan sempurna hingga ia meninggalkan dusta dalam bercanda dan meninggalkan debat walaupun benar” (HR. Ahmad)

 

Jika Harus Berdebat

Jika kita diharuskan untuk berdebat maka hendaknya kita niatkan untuk mencari kebenaran dan petunjuk. Bukan untuk menunjukkan kemampuan diri dan menjatuhkan orang lain. Imam Syafi’I berkata, “Tidaklah aku berbicara dengan seseorang kecuali saya hanya ingin mendapat taufiq (petunjuk), kebenaran, pertolongan dan penjagaan Allah darinya. Aku tidak mempedulikan saat berbicara dengan orang lain, apakah Allah menjelaskan kebenaran lewat diriku atau lawan bicaraku.” (Al Faqih wal Mutafaqqih, II/62)

Imam Ibnul Jauzi memberi peringatan kepada para penuntut ilmu dalam masalah debat ini, beliau berkata, “Sesungguhnya ada orang yang telah jelas kebenarannya namun ia tidak mau mengakuinya. Ia tidak tidak terima ketika kebenaran di pihak lawan (debatnya). Lalu boleh jadi ia berupaya menentangnya, padahal ia mengetahui bahwa itulah yang benar. Yang demikian merupakan seburuk-buruk keburukan. Karena diskusi sebenarnya untuk menjelaskan kebenaran.”

Imam Syafi’I berkata, “Bila aku berdiskusi dengan seseorang lalu ia mengingkari dalil, maka ia menjadi remeh dalam pandanganku. Namun jika ia menerimanya maka akupun menaruh hormat kepadanya.” (Talbis Iblis)

Demikian di antara adab penuntut ilmu. Yaitu meninggalkan debat walaupun di pihak yang benar. Karena debat hanya akan menyebabkan permusuhan, perpecahan dan kebencian di antara penuntut ilmu.  Wallahu a’lam bish shawwab.

Baca Juga

Mengamalkan Ilmu

Di antara adab menuntut ilmu adalah mengamalkan ilmu yang telah diketahui. Karena ilmu yang bermanfaat ...

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami

+ +