BerandaKajianMenjaga Ilmu dengan Muraja'ah

Menjaga Ilmu dengan Muraja’ah

- Advertisement -spot_img

Menjaga Ilmu dengan Muraja’ah

Oleh Fina Nur Azizah
(Mahasantri Ma’had ‘Aly Darusy Syahadah li Ta’hil Al-Mudarrisat)

Muraja’ah

Dalam menempuh jalan menuntut ilmu, hendaknya para pencari ilmu meneladani ulama salaf. Sebab untuk menjadi pemenang, seseorang harus mengikuti jalan yang ditempuh oleh para pemenang.

Jika seseorang ingin menjadi ahli ilmu sebagaimana para salaf terdahulu, maka ia harus mengikuti jalan yang ulama tempuh dalam menuntut ilmu.

Imam Malik berkata

.لَا يَصْلُحُ آَخِرُ هَذِهِ الْأُمَّةِ ‌إِلَا ‌بِمَا ‌صَلُحَ بِهِ أَوَّلُهَ

“Generasi akhir daripada umat ini tidak akan menjadi baik kecuali dengan apa-apa yang membuat umat terdahulu menjadi baik.”[1]

Salah satu metode yang dibiasakan oleh para ulama dalam menjaga ilmu mereka adalah dengan muraja’ah ilmuMuraja’ah adalah mengulang kembali hafalan yang telah dimiliki sebelumnya agar hafalan tersebut semakin melekat kuat dalam ingatan.

Mengulang hafalan menjadi sangat penting untuk dilakukan karena sejatinya, ilmu adalah yang dihafal bukan yang berada di atas kertas saja. Abdur Razaq bin Hammam berkata,

.كُلُّ عِلْمٍ لَا يَدْخُلُ مَعَ صَاحِبِهِ الحَمَّامَ فَلَا تَعُدُّهُ

“Setiap ilmu yang tidak masuk bersama pemiliknya ke dalam kamar mandi, maka tidak dianggap sebagai ilmu.”[2]

Maksud dari perkataan di atas adalah ilmu yang tidak dihafal, tidak dianggap sebagai ilmu. Sebab kertas yang di dalamnya terdapat ilmu, tidak boleh dibawa masuk ke dalam kamar mandi.

Sedangkan ilmu yang dihafal tetap akan masuk ke dalam kamar mandi bersama orang yang telah menghafalnya.

Maka dari itu penuntut ilmu harus berusaha menghafal ilmu yang dipelajari, agar ilmu yang telah dipelajari tidak hanya berada di atas kertas, namun bisa dibawa di mana pun ia berada.

Adapun untuk menjaga ilmu yang telah dihafal, maka penuntut ilmu harus gigih dalam bermuraja’ah, baik dengan menulis kembali apa yang telah dipelajari, atau dengan cara menghafalnya di dalam benak.

Jika seseorang tidak bersungguh-sungguh dalam muraja’ah ilmu yang telah dipelajari maka sama saja ia telah menyia-nyiakan ilmunya.[3]

Mengenai hal tersebut az-Zuhri berkata

.إِنَّمَا يُذْهِبُ العِلمَ النِّسْيَانُ وَتَرْكُ المُذَاكَرَةِ

“Tidaklah ilmu itu hilang melainkan karena lupa dan meninggalkan pengulangan.”[4]

Tentang hal ini pula Ibrahim al-Ashbahany berkata

.كُلُّ مَنْ حَفِظَ حَدِيْثًا فَلَمْ يُذَاكِرْ بِهِ، تَفَلَّتَ مِنْهُ

“Setiap orang yang telah menghafal hadits dan tidak mengulang-mengulangnya, maka ia akan lepas darinya.”[5]

Bagaimana cara muraja’ah?

Adapun langkah-langkah yang ditempuh oleh para ulama salaf dalam muraja’ah ilmu adalah sebagai berikut:

  1. Mudzakarah

Mudzakarah adalah kegiatan mengulang ilmu bersama orang lain (bisa dua orang atau lebih) dengan cara saling mengutarakan ilmu yang telah mereka dapatkan dari guru masing-masing.

Kegiatan ini akan menjadi sangat bermanfaat jika dilaksanakan bersama orang-orang yang berambisi dalam menuntut ilmu.[6]

Mudzakarah merupakan hal yang dilazimi oleh ulama salaf untuk mengulang ilmu yang telah mereka pelajari.

Said bin Jubair menceritakan bahwa Ibnu Abbas pernah berkata kepadanya

 .يَا سَعِيدُ اخْرُجْ بِنَا إِلَى النَّخْلِ وَيَقُولُ: يَا سَعِيدُ حَدِّثْ قُلْتُ: أُحَدِّثُ وَأَنْتَ شَاهِدٌ؟ قَالَ: إِنْ أَخْطَأْتَ فَتَحْتُ عَلَيْكَ

“Wahai Said, mari kita keluar menuju kebun kurma.”

Setiba di kebun kurma, Ibnu Abbas berkata, “Wahai Said, bacakan hadits untukku.”

Said menjawab, “Aku membacakan untukmu dan kamu menyaksikanku?”

Ibnu Abbas menjawab, “Jika kamu salah maka aku yang akan membenarkanmu.”[7]

Kisah yang serupa, disampaikan oleh Yazid bin Abu Ziyad

الْتَقَى ابْنُ أَبِي لَيْلَى وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ شَدَّادِ بْنِ الْهَادِ فَتَذَاكَرَا الْحَدِيثَ فَسَمِعْتُ أَحَدَهُمَا يَقُولُ لِلْآخَرِ: يَرْحَمُكُ اللَّهُ فَرُبَّ حَدِيثٍ أَحْيَيْتَهُ فِي صَدْرِي كَانَ قَدْ مَاتَ

“Abu Laila dan Abdullah bin Syaddad keduanya bersandar, kemudian mereka melaksanakan mudzakarah hadits.

Aku mendengar salah seorang dari mereka berkata kepada yang lain, ‘Semoga Allah merahmatimu, banyak sekali hadits yang telah kau hidupkan kembali, setelah hadits-hadits tersebut telah mati’.”[8]

Namun apabila seorang penuntut ilmu tidak mendapatkan teman atau seseorang yang membantunya melaksanakan mudzakarah, hendaknya ia melakukan sendiri dan mengulang makna dan lafaz yang telah ia dengar dari gurunya dalam hati.

Sebab mengulang ilmu dengan hati itu sama halnya dengan mengulang secara lisan.[9]

Abu Ja’far al-Maraghy bercerita

دَخَلْتُ مَقْبَرَةً بِتَسَتُّرٍ فَسَمِعْتُ صَائِحًا يَصِيحُ: وَالْأَعْمَشُ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، وَالْأَعْمَشُ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، سَاعَةً طَوِيلَةً فَكُنْتُ أَطْلُبُ الصَّوْتَ إِلَى أَنْ رَأَيْتُ ابْنَ زُهَيْرٍ وَهُوَ يَدْرُسُ مَعَ نَفْسِهِ مِنْ حِفْظِهِ حَدِيثَ الْأَعْمَشِ.

“Aku memasuki sebuah pemakaman dan aku mendengar ada seseorang yang berteriak, ‘Dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah.’ dalam waktu yang lama.

Kemudian aku mencari sumber suara tersebut dan aku dapati Ibnu Zuhair sedang mengulang sendiri hafalan hadits dari al-A’masy.”

  1. Mengamalkan

Salah satu hal yang dapat menjadikan ilmu melekat kuat dalam ingatan adalah dengan mengamalkannya.

Semakin sering seseorang mengamalkan ilmunya maka semakin kuat pula ilmu itu melekat dalam ingatannya.

Para ulama sangat menekankan kepada penuntut ilmu untuk mengamalkan ilmu yang telah dipelajarinya.[10] Berikut beberapa perkataan ulama mengenai hal tersebut

  • Al-Sya’by berkata

.كُنَّا نَسْتَعِيْنُ عَلَى حِفْظِ الحَدِيْثِ بِالعَمَلِ بِهِ

“Kami menggunakan pengamalan untuk membantu kami dalam menghafalkan hadits.”[11]

  • Sufyan ats-Tsaury berkata

.العِلْمُ يَهْتِفُ بِالعَمَلِ فَإِنْ أَجَابَهُ وَإِلَّا ارْتَحَلَ

“Memanggil ilmu adalah dengan amal. Jika seseorang beramal maka ilmu akan menetap. Jika diabaikan maka ia akan pergi.”[12]

  • Waki’ bin al-Jarrah berkata

.إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَحْفَظَ الحَدِيْثَ فَاعْمَلْ بِهِ

“Jika kamu ingin hafal hadits maka amalkanlah.”[13]

  1. Mengajarkan

Jika seseorang menginginkan ilmu yang telah ia miliki melekat kuat dalam ingatan maka salah satu yang harus dilakukan adalah dengan mengajarkannya.

Ketika seseorang mengajarkan ilmunya, sama saja ia sedang memuraja’ah ilmu melalui lisan.

Jika hal tersebut ditinggalkan maka akan berakibat lupa terhadap apa yang dipelajarinya. Sufyan ats-Tsaury mengatakan

.مَنْ‌ بَخِلَ بِالْعِلْمِ ‌ابْتُلِيَ بِثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ يَمُوتَ فَيَذْهَبَ عَلِمُهُ، أَوْ يَنْسَاهُ، أَوْ يَتْبَعَ سُلْطَانًا

“Barang siapa yang bakhil dengan ilmunya maka ia akan diuji dengan tiga hal. Ia akan meninggal dan ilmunya akan hilang, atau ia akan lupa terhadap ilmunya, atau ia akan mengekor kepada penguasa.”[14]

Dalam mengajarkan ilmu seseorang tidak harus menjadi seorang guru yang mengajar dalam kelas. Namun, mengajarkan ilmu dapat dilakukan kepada keluarga sendiri dan orang-orang terdekat.

Jika seorang penuntut ilmu mampu memberikan manfaat kepada keluarganya, hal tersebut merupakan tanda keberkahan ilmu yang dimiliki.[15]

Wallhu a’lam bish shawab.

 

Referensi

[1] Al-Basyîr al-Ibrâhimy, Atsar al-Imam Muhammad al-Basyîr al-Ibrâhimy, Cet. I, (Beirut: Dar al-Gharby al-Islamy, 1997), vol. I, hal. 8.

[2] Abul Faraj bin al-Jauzy, al-Hatstsu ‘Ala Hifdzi al-Ilmi wa Dzikri Kibari al-Huffadz, (Beirut: Dar al-Hijrah, 1988),  hal. 39.

[3] Muhammad bin Shâlih al-Utsaimin, Panduan Lengkap Menuntut Ilmu, Terj. Abu Haidar Al-Sundawy, Cet. VII, (Jakarta: Pustaka Ibnu Katsir, 2006), hal.71.

[4] Abu Na’im Ahmad bin Abdullah al-Ashbahany, Hilyah al-Auliya, (Mathba’ah al-Sa’âdah, 1974) vol. 3, hal. 364.

[5]  Al-Khatîb al-Baghdady, al-Jami’ li Akhlâq al-Rôwy,  Cet. I, (Riyadh: Maktabah al-Ma’ârif, 1983), vol. 1, hal. 238.

[6] Shalih bin Abdullah bin Hamad al-Ushoimy, Syarh Bahjah al-Thulab fî Âdâb al-Thalab, vol. 1, hal. 14.

[7] Al-Khatîb al-Baghdady, al-Jami’ li Akhlâq al-Rôwy,  Cet. I, (Riyadh: Maktabah al-Ma’ârif, 1983), vol. 2 , hal. 269.

[8] Al-Khatîb al-Baghdady, al-Jami’ li Akhlâq al-Rôwy,  Cet. I, (Riyadh: Maktabah al-Ma’ârif, 1983), vol. 2 , hal. 273.

[9] Ibnu Jama’ah, Tadzkiratu As-Sâmi’ wa al-Muta’allim, Terj. Muhammad Zaini dan Tim Zaduna, Cet. I, (Sukoharjo: Taujih, 2022), hal. 233.

[10] Abdul Qoyyûm, al-Hifdzi Ahamiyyatuhu ‘Ajaib Thariiquhu Asbaabuhu, (Dar Al-Qosim), hal. 57.

[11] Abu Umar Yusuf bin Abdil Barri, Jâmiu Bayâni al-Ilmi wa Fadhlihi, Tahqiq: Abu al-Asybal al-Zuhairi, Cet. I, (Su’ûdiyyah: Dar Ibnu al-Jauzy, 1993), vol. 1, hal. 708.

[12] Ibid, hal. 706.

[13] Muhammad bin Muhammad, al-Wasîth fî ‘Ulûm wa Mustholah al-Hadîts,  Cet. I, (Dar al-Fikri al-Araby), hal. 178.

[14]  Al-Khatîb al-Baghdady, al-Jami’ li Akhlâq al-Rôwy,  Cet. I, (Riyadh: Maktabah al-Ma’ârif, 1983), vol. 1, hal.274.

[15] Abdus Salam bin Muhammad, Kaifiyyah al-Bad’i fii Thalab al-’Ilm, hal.17.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
12,700PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
9,600PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami