Home / Kajian / Sifat Ahlu Yakin

Sifat Ahlu Yakin

Orang-orang musyrik yang mencari Rasulullah telah sampai di goa Tsur. Tempat Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam bersama sahabat beliau Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu bersembunyi sebelum hijrah ke Madinah. Sekiranya  mereka melongokkan wajah ke dalam goa, tentu Rasulullah akan kelihatan. Saat itulah Abu Bakar sangat cemas memikirkan keselamatan Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam. Namun dengan tenang Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

مَا ظَنُّكَ بِاثْنَيْنِ اللَّهُ ثَالِثُهُمَا ، لاَ تَحْزَنْ ، إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا

Bagaimana persangkaanmu dengan dua orang sedangkan yang ke tiganya adalah Allah, jangan bersedih sesungguhnya Allah bersama kita.

Itulah keyakinan yang menghujam dalam jiwa Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam. Sehingga meskipun keadaan demikian genting, beliau tetap yakin dengan pertolongan Allah.

Yakin merupakan pilar keimanan. Bahkan yakin inti keimanan. Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata, Kedudukan yakin dalam keimanan adalah seperti kedudukan ruh bagi jasad.

Yakin termasuk pemberian yang paling berharga di dunia ini. Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda sebagaimana yang diriwayatkan sahabat Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ، إِنَّ الناس لَمْ يُعْطَوْا فِي الدُّنْيَا خَيْرًا مِنَ الْيَقِينِ ، وَالْمُعَافَاةِ ، فَسَلُوهُمَا اللهَ ، عَزَّ وَجَلَّ.(أخرجه أحمد 1/8(38)

“Wahai manusia sesungguhnya manusia tidak diberi di dunia ini sesuatu yang lebih baik daripada yakin dan keselamatan. Maka mintalah kedua hal tersebut kepada Allah.” (HR. Ahmad, dhaif).

 

Karakter Orang yang Memiliki Keyakinan

  1. Yakin dengan Perkara Ghaib

Perkara ghoib yaitu yang tidak terindera, seperti kematian, siksa atau nikmat kubur,  dan jannah serta neraka. Orang yang yakin sangat kuat keyakinannya dengan hal-hal ghaib ini sehingga mereka bersemangat untuk mengejar ridha Allah dan jannah-Nya. Allah berfirman (artinya):

Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.  dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. (Al Baqarah: 1-4).

Keyakinan yang kuat ini menjadikan Umair bin Hammam Radhiyallahu ‘Anhu saat perang Badar tidak mau berlama-lama menikmati kurma perbekalannya. Saat Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam menyeru kepada para sahabatnya: “Bangkitlah menuju jannah yang seluas langit dan bumi.” Umair bin Humam berkata, “Ya Rasulallah, Jannah seluas langit dan bumi?” Beliau menjawab, “Ya.” Umair Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Bakh.. bakh.” Rasulullah bertanya, “Apa yang membuatmu berkata bakh..bakh?” Umair berkata, “Tidak ya Rasulullah, kecuali saya berharap bisa menjadi penghuninya.” Beliau Shallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Engkau termasuk salah satu penghuninya.” Maka Umair bin Humam Radhiyallahu ‘Anhu pun mengeluarkan kormanya dan memakan sebagiannya. Kemudian beliau berkata, “Jika harus memakan korma-korma ini tentu kehidupan yang terlalu lama.” Kemudian beliau maju berperang sampai terbunuh, rahimahullah, semoga Allah merahmatinya. (Diriwayatkan oleh Ahmad).

Dan kisah kisah semisal begitu banyak dalam kehidupan salaf karena kuatnya keyakinan mereka dengan hal yang ghaib.

  1. Yakin dengan Rizki dari Allah

Ahlu yakin adalah orang yang telah terpateri dalam dirinya bahwa rizki telah terbagi. Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda kepada istri beliau, Ummu Habibah Radhiyallahu ‘Anha:

قَدْ سَأَلْتِ اللَّهَ لآجَالٍ مَضْرُوبَةٍ وَأَيَّامٍ مَعْدُودَةٍ وَأَرْزَاقٍ مَقْسُومَةٍ لَنْ يُعَجِّلَ شَيْئًا قَبْلَ حِلِّهِ أَوْ يُؤَخِّرَ شَيْئًا عَنْ حِلِّهِ

“Engkau telah meminta kepada Allah jatah ajal yang telah ditentukan, hari hari usia yang telah dipastikan, dan rizki yang telah dibagikan. Semua itu tidak akan disegerakan sebelum datang masanya dan juga tidak akan diakhirkan setelah datang masanya.”  (Shahih Muslim).

Bagus sekali perkataan penyair sebagai bahan renungan:

تَوَكَلْتُ فِيْ رِزْقِي عَلَى اللهِ خَالِقِي **** وَأَيْقَنْتُ أَنَّ اللهَ لَا شَكَّ رَازِقِي
وَمَا يَكْوْنُ مِنْ رِزْقِي فَلَيْسَ يَفُوْتُنِي **** وَلَوْ كَانَ فِي قَاعِ البِحَارِ العَوَامِقِ
سَيُأْتِي بِهِ اللهُ الْعَظِيْمُ بِفَضْلِهِ **** وَلَوْ لَمْ يَكَنْ مِنِّي اللِسَانُ بِنَاطِقٍ
فَفِيْ أَيِّ شَيْءٍ تَذْهَبُ النَفْسُ حَسْرَة **** وَقَدْ قَسَّمَ الرَّحْمَنُ رِزْقَ الْخَلَائِقِ

 

Saya bertawakkal kepada Penciptaku dalam masalah rizkiku

Dan saya tidak ragu sedikitpun bahwa Allah lah yang akan memberi rizki kepadaku

Apa yang menjadi jatah rizkiku tidak mungkin terlepas dariku

Meskipun ia berada di kedalaman lautan

Allah Yang Maha Agung dengan keutamaannya akan mendatangkannya untukku

Meskipun sekiranya lisankutidak bisa berbicara

Lalu mengapa jiwa harus merasa gelisah

Padahal Ar Rahman telah membagi rizki seluruh makhluk.

  1. Yakin dengan Al Qur’an sebagai Panduan Kehidupan

Allah berfirman:

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ (سورة السجدة: 24) .

“Dan kami jadikan di antara mereka para pemimpin yang memberi petunjuk dengan urusan kami ketika mereka bersabar dan mereka yakin dengan ayat ayat kami.” (As Sajdah: 24).

Orang beriman yang hatinya dipenuhi keimanan akan mensikapi Al Qur’an bukan sekedar untuk bacaan saja. Melainkan sebagai panduan kehidupan. Apapun urusannya rujukannya adalah kitabullah dan diperjelas dengan sunnah Rasulullah n.

Terhadap perintah-perintah Allah mereka bagaikan prajurit mendengar perintah komandannya. Kata yang muncul adalah kami mendengar dan kami patuh. Mereka berusaha kuat untuk merealisasikan ayat dalam ranah kehidupan.

Mereka benar-benar yakin dengan firman-Nya: “Kebenaran datangnya dari Rabbmu maka janganlah sekali kali kalian menjadi golongan orang yang ragu ragu.” (Al Baqarah: 147).

  1. Yakin hanya Allah yang Dapat Memberi Manfaat dan Bahaya

Keyakinan ini terbina dari taujih rabbani dan taujih Rasulullah, sehingga menancap dalam relung hati bahwa tidak ada yang bisa memberi manfaat dan bahaya kecuali atas kehendak dan kekuasaan Allah. Firman-Nya:

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (سورة يونس: 107).

“Jika Allah menimpakan bahaya kepadamu maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia dan jika Allah menghendaki kebaikan padamu maka tidak ada yang bisa menghalangi karunia-Nya, yang akan menimpa kepada siapa saja dari hamba-Nya yang Dia kehendaki sesungguhnya Dia Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” (Yunus:107).

Demikian pula Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَىْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَىْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَىْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَىْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ

“Ketahuilah bahwa sekiranya  ummat berkumpul untuk memberi manfaat kepadamu, tidak mungkin mereka mampu memberi manfaat kepadamu kecuali sesuai dengan apa yang ditakdirkan padamu. Dan sekiranya mereka berkumpul untuk memberikan bahaya kepadamu, maka mereka tidak mungkin bisa membahayakanmu kecuali sesuai dengan apa yang ditakdirkan untukmu.” (Sunan At Tirmidzi).

Keyakinan yang kuat bahwa manfaat dan bahaya hanya terjadi atas takdir Allah, membuat seseorang menjadi tenang dalam kehidupannya. Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu berkata:

الرِّضَا أَنْ لَا تُرْضِيَ النَّاسَ بِسَخَطِ اللهِ، وَلَا تَحْمَدَ أَحَدًا عَلَى رِزْقِ اللهِ، وَلَا تَلُمْ أَحَدًا عَلَى مَا لَمْ يُؤْتِكَ اللهُ، فَإِنَّ الرِّزْقَ لَا يَسُوقُهُ حِرْصُ حَرِيصٍ، وَلَا يَرُدُّهُ كَرَاهِيَةُ كَارِهٍ، وَاللهُ بِقِسْطِهِ وَعِلْمِهِ جَعَلَ الرَّوْحَ وَالْفَرَحَ فِي الْيَقِينِ وَالرِّضَا، وَجَعَلَ الْهَمَّ وَالْحُزْنَ فِي الشَّكِّ وَالسَّخَطِ (شعب الإيمان , للبيهقي 1/384).

“Ridha yaitu engkau tidak mencari ridha manusia dengan mengundang kemurkaan Allah. Dan engkau tidak memuji seorangpun atas rizki pemberian Allah dan tidak mencela seorangpun atas sesuatu yang belum Allah berikan kepadamu. Sesungguhnya rizki itu tidak mesti Dia berikan kepada orang ingin sekali mendapatkannya. Dan tidak terhalang dari orang yang tidak menghendakinya. Allah dengan keadilan dan ilmunya menjadikan ketenangan dan kegembiraan pada sifat yakin dan ridha, dan menjadikan kegundahan dan kesedihan dalam keraguan dan kemarahan terhadap takdir.” (Syu’abul Iman, Al Baihaqi).

  1. Yakin dan Siap Menghadapi Hidup setelah Mati

Mereka adalah orang yang relung hatinya dipenuhi keyakinan bahwa kehidupan dunia adalah kehidupan sementara. Bahwa mereka akan segera menuju kematian kemudian menghadapi alam barzakh dan alam akhirat. Semua amal di dunia akan dihisab Sang Pencipta. Keyakinan yang menguat inilah yang menjadikan arah hidup mereka di dunia jelas. Mereka sibuk beramal shalih untuk bekal kehidupan setelah mati, bukan menghabiskan waktunya untuk meramaikan kemegahan dunia.

Potensi kehidupan yang mereka miliki tidak segan-segan dikorbankan untuk Allah demi meraih ridha dan jannah-Nya.

Contoh nyata efek keyakinan terhadap hari akhir adalah seperti yang terjadi pada para penyihir Fir’aun yang telah bertaubat. Allah berfirman (artinya):

Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur dengan bersujud, seraya berkata: “Kami telah percaya kepada Tuhan Harun dan Musa”.

Berkata Fir’aun: “Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya”.

Mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Tuhan yang telah menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja.” (Thaha :71-72).

Orang-orang yang di dunia yakin inilah yang di akherat meraih keberuntungan. Firman-Nya (artinya):

“Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata: “Ambillah, bacalah kitabku (ini)”. Sesungguhnya aku yakin, bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku. Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai.” (Thaha:19-21).

Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan orang orang yang yakin, sebagai bukti keimanan kita. Wallahu a’lam bish shawwab.

 

 

Baca Juga

Keajaiban Istighfar

Tidak diragukan lagi bahwa kita telah berada di akhir zaman. Di antara ciri kehidupan akhir ...

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami