Home / Tarbiyah / Tafahum; Eratkan Ukhuwah

Tafahum; Eratkan Ukhuwah

Manusia diciptakan oleh Allah swt sebagai makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial tentu manusia sangat membutuhkan bergaul dengan yang lain, karena pergaulan adalah salah satu cara seseorang untuk bersosialisasi dengan lingkunganya. Bahkan pergaulan merupakan naluri alamiah dari setiap manusia, karena memang demikianlah fitrah manusia.  Dari pergaulan inilah kemudian muncul ikatan-ikatan yang dikenal dalam istilah Islam dengan ukhuwah.

Ikatan ukhuwah ini tentu tidak akan selamanya berjalan dengan baik. Apalagi manusia diciptakan oleh Allah swt dalam berbagai macam golongan, suku dan bangsa. Sebagaimana dalam firman Allah swt;

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

 “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat : 13)

Allah swt telah menjelaskan bahwa manusia memang diciptakan dalam kondisi yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Maka sangat wajar ketika nantinya dalam bergaul akan terjadi banyak perbedaan baik dari sifat, karakter maupun tingkah laku. Perbedaan-perbedaan inilah yang acap kali menimbulkan konflik dan perpecahan di antara sesama. Dan tentu Inilah bagian dari sebuah realita yang mesti dijalani sebagai pelengkap dari romantika kehidupan.

Maka dari itu, janganlah perbedaan menjadi penghalang kita untuk bergaul atau bersosialisasi dengan lingkungan sekitar kita. Anggaplah itu merupakan hal yang wajar, sehingga kita dapat menyikapi perbedaan tersebut dengan sikap wajar dan adil. Karena bisa jadi sesuatu yang tadinya kecil, tetapi karena salah menyikapi akan menjadi hal yang besar. Allah swt telah mengingatkan dalam firman-Nya:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آَيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu karena nikmat Allah, menjadilah kamu orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali-Imran: 103)

Untuk mengikis itu semua, maka seorang muslim harus memiliki sikap tafahum (saling memahami)  di antara sesama. Karena tafahum adalah kunci ukhuwah, tanpa tafahum maka ukhuwah tidak akan mungkin terjalin dengan baik. Tafahum inilah yang akan merubah dari keberagaman menjadi sebuah persatuan yang berbalut dengan keindahan. Karena dalam istilah Islam tidak ada sebuah perbedaan melainkan perbedaan itu adalah rahmat dari Allah swt.

Dengan saling memahami maka setiap individu akan mudah mengetahaui kekuatan dan kelemahanya. Demikian juga akan bisa dengan lapang dada menerima perbedaan. Sehingga akan terciptalah sebuah hubungan yang harmonis dan sinergis antara sesama kaum muslimin. Sebagiamana sabda Rasulullah n:

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا ثُمَّ شَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسًا إِذْ جَاءَ رَجُلٌ يَسْأَلُ أَوْ طَالِبُ حَاجَةٍ أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ فَقَالَ اشْفَعُوا فَلْتُؤْجَرُوا وَلْيَقْضِ اللَّهُ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِ مَا شَاءَ

“Seorang mukmin bagi mukmin lainnya laksana bangunan, satu sama lain saling menguatkan. Kemudian Nabi Muhammad menggabungkan jari-jari tanganya. Ketika itu Nabi Muhammad duduk, tiba-tiba datang seorang laki-laki meminta bantuan. Nabi hadapkan wajahnya kepada kami  dan bersabda: Tolonglah dia, maka kamu akan mendapatkan pahala. Dan Allah menetapkan lewat lisan Nabi-Nya apa yang dikehendaki” (HR. Bukhari, Muslim dan An-Nasa’i)

Rasulullah saw  juga bersabda dalam hadits yang dibawakan oleh An-Nu’mân bin Basyîr ra :

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan kaum mukminin satu dengan yang lainnya dalam hal saling mencintai, saling menyayangi dan saling berlemah-lembut di antara mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota badan sakit, maka semua anggota badannya juga merasa demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Bukhâri dan Muslim, sedangkan lafalnya adalah lafazh Imam Muslim)

Syaikh Muhammad bin Shâlih Al-‘Utsaimîn ra telah menjelaskan tentang pentingnya tafahum dengan mengatakan: “Sesungguhnya di antara pokok sikap Ahlu Sunnah dalam masalah khilâfiyah ialah, bahwa selama perselisihan pendapat itu lahir karena ijtihad (dari orang yang berhak berijtihad) dan masalahnya memang masih dalam batas yang diperbolehkan untuk diijtihadkan, maka para Salafush-Shalih saling memaklumi pendapat satu sama lain. Dan hal itu tidak menyebabkan adanya kedengkian, permusuhan dan kebencian di antara mereka. Bahkan mereka meyakini bahwa mereka harus tetap bersaudara meskipun terjadi perselisihan pendapat di antara mereka. Seseorang yang berpendapat bahwa memakan daging onta membatalkan wudhu’ tetap bermakmum kepada imam shalat yang habis memakan daging onta dan yang berpendapat bahwa itu tidak membatalkan wudhu’.”

Demikianlah para ulama kita dalam menyikapi perbedaan, meskipun mereka berbeda pendapat akan tetapi mereka tetap menjunjung tinggi perbedaan itu satu sama lain. Mereka kedepankan sikap tasamuh, demi terciptanya sebuah persatuan dan kesantuan. Karena persatuan dan kesantuan di antara umat adalah perkara yang lebih penting dari pada itu semua. Tentu ini adalah sebuah sikap positif yang harus ditiru dan dilestarikan dalam kehidupan setiap muslim. Wallahu a’lam bish shawwab.

 

Oleh : Ust. Ahsanul Huda

Baca Juga

Tawakal; Seleksa Keindahan Setelah Ikhtiyar

Dalam kehidupan keseharian kita banyak perkara dan urusan yang bakal kita lalui. Kesemuanya itu pasti ...

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami