BerandaKabar PondokKilas PeristiwaTanggapi Berita Kekerasan Seksual di Pesantren, Universitas Islam di Bandung Gelar Seminar...

Tanggapi Berita Kekerasan Seksual di Pesantren, Universitas Islam di Bandung Gelar Seminar Dari Ukhti Untuk Ukhti

- Advertisement -spot_img

darusyahadah.com – Beberapa hari yang lalu warganet dihebohkan dengan ramainya berita kasus kekerasan seksual oleh oknum seorang ustadz kepada santriwatinya di pondok pesantren di Bandung. Tak ayal, kasus ini menuai tanggapan negative dari warganet. Hingga pimpinan pengasuh pondok pesantren Darut Tauhid, Aa Gym ikut bersuara menanggapi hal tersebut.

“Hal yang buruk bisa dilakukan oleh siapapun, namun ini sangat memprihatinkan karena membawa nama-nama agama, yang seharusnya menjadi suri teladan, Dan dicegah peluang seperti ini terjadi, sebetulnya bagi orang yang paham agama, tidak akan berbuat senista ini. Ini dilakukan orang yang tidak paham dan tidak punya iman, sehingga melakukan perbuatan tercela dan tidak layak disebut ustaz atau apapun,” Demikian ujar Aa Gym seperti yang dilansir dari detik.com

Beranjak dari kasus ini, respon kabar baiknya ada salah satu Kampus Islam di Bandung memberikan perhatian kepada masyarakat dan warga pesantren. Yaitu dengan menyelenggarakan workshop atau seminar bertemakan β€œHak dan Kesehatan Reproduksi dengan Perspektif Ilmu Kesehatan, Sosial, dan Agama.”

Acara tersebut diprakasai oleh Β Yayasan Anthrophile Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung dengan menggelar kegiatan DU3 (Dari Ukhti untuk Ukhti) kolaborasi Yayasan Kala Manusia (Anthrophile), Ruang Temu Generasi Sehat Indonesia (Rutgers) dan Pusat Studi Gender dan Anak Unpad yang dilangsungkan di pondok pesantren Riyadlul Ulum Wadda’wah Condong Cibeureum dan pondok pesantren Cipasung Singaparna Kabupaten Tasikmalaya.

“Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan wawasan para santri mengenai hak dan kesehatan reproduksi sebagai remaja perempuan dan laki-laki serta melakukan deklarasi Jaringan Anti Kekerasan Gender dan Seksual,”. Ujar perwakilan dari pusat studi gender dan anak Unpad Bandung Sakti Herdiansah kepada wartawan di Pondok Pesantren Riyadlul Ulum Wadda’wah, Condong, Kecamatan Cibeureum, Kota Tasikmalaya, Senin 24 Januari 2022.

Menurut Sakti, kegiatan tersebut terselenggara berawal dari kehawatiran karena dalam sebulan terakhir hangat sekali isu-isu yang kurang enak terutama di lingkungan pesantren terkait kekerasan seksual yang dilakukan oleh oknum tertentu.

Oknum tersebut memanfaatkan kekuasaan dan ketidaktahuan atau keterbatasan informasi dari pada para santri. “Jadi kami disini berusaha melakukan suatu kegiatan edukasi untuk masuk ke ranah yang dianggap oleh masyarakat umum sulit untuk dipenetrasi dalam tanda kutip yaitu lingkungan pesantren,” ujarnya.

“Tujuannya untuk memberikan pendidikan hak-hak kesehatan reproduksi dan seksualitas yang disesuaikan dengan prinsip dan norma keagamaan di lingkungan pesantren,” kata Sakti, menambahkan.

Selain itu, lanjut Sakti, pihaknya juga ingin memberikan gambaran bahwa sebetulnya pesantren itu bisa menunjukan kapasitasnya untuk memberikan edukasi dan melindungi para santri yang ada di lingkungan pesantren.

Menurutnya, ada tiga materi besar yang disampaikan. Pertama dari sisi tes kesehatan seperti memperkenalkan organ reproduksi, penyakit menular seksual, organ tubuh, pubertas dan yang lainnya yang berhubungan dengan biologis.

Kedua, memperkenalkan apa itu gender, apa itu seksualitas. “Itu perlu disampaikan karena bagaimanapun santri bakal dihadapkan pada dunia yang bertransformasi yang tentunya juga penyampaiannya disesuaikan dengan norma-norma pesantren,” katanya.

Ketiga, lanjut Sakti, setelah mereka mendapatkan pemahaman dasar dari sisi sosial dan biologisnya, materi yang disampaikan mulai masuk pada kasus-kasus kekerasan seksual.

“Sehingga para santri dan santriwati itu bisa melindungi dirinya dan bisa menjauhi terhadap terjadinya kekerasan seksual yang bisa saja terjadi dilingkungannya. Intinya tujuan kegiatan ini mengedukasi santri terkait seksualitas dan pendidikan seksualitas,” katanya.

Kegiatan dilaksanakan di Tasikmalaya karena Tasikmalaya merupakan kota santri atau kota dengan jumlah pesantren yang cukup banyak. “Sebenarnya sasarannya di seluruh Jawa Barat, namun saat ini fokus di TasikmalayaΒ  yang dikenal daerah seribu pesantren,” ujarnya.

Sakti menjelaskan, dengan melihat sejumlah kasus yang terjadi, edukasi seperti itu sudah menjadi sangat perlu dan sudah sangat mendesak untuk dilakukan.

“Karena bagaimanapun kita harus memperlihatkan kepada masyarakat umum bahwa pondok pesantren itu tidak seperti apa yang telah dilakukan oleh oknum-oknum yang telah mencoreng nama baik pondok pesantren,” ujarnya.

Jadi, kata dia, pesantren harus sangat familiar dengan bagaimana pendidikan seksual dan perlindungan kejahatan seksual.

“Setidaknya dengan kegiatan edukasi seperti ini, ketakutan akan bahaya-bahaya yang seperti kini muncul yang telah menimbulkan ketakutan publik, stigmanya bisa teredukasi. Sehingga santri ketika menghadapi adanya tendensi seksual dari siapa pun dia bisa melindungi dirinya,” ujarnya.

Peserta kegiatan cukup baik. Awalnya pesantren mempersilahkan semua santri dengan jumlah lebih 3000 orang dilibatkan.

“Namun dengan berbagai pertimbangan dan keterbatasan sehingga melibatkan hanya siswa kelas II SMA yang merupakan kelas usia emas untuk mendapatkan pendidikan seksual,” ujar Sakti.

 

Artikel ini dikutip dari detiknews.com dan kabarpriangan

[Editor : Azzam]

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Must Read

Meraih Happy Ending Kehidupan

- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami