Boyolali – Suasana malam Sabtu (30 Agustus 2025) di Masjid Baitul Makmur, komplek Pondok Pesantren Darusy Syahadah Putra, Gunungmadu, Kedunglengkong, Simo, terasa penuh keberkahan. Sejak pukul 19.30 WIB, para asatidzah dan pengurus pesantren berkumpul dalam sebuah Majelis Ilmu dan Diskusi yang berlangsung hingga pukul 22.00 WIB.
Acara yang digagas oleh Bagian SDM Darusy Syahadah ini merupakan bagian dari program upgrading kepegawaian pesantren, dengan tujuan memberikan motivasi amal sholeh, berbagi pengalaman dakwah, serta menyegarkan ruhani para pengasuh dalam menjalankan tugas mulia membina generasi.

Rangkaian majelis dipandu oleh Ustadz Ibrahim Mandres sebagai MC. Acara kemudian diawali dengan sambutan dari mudir pesantren, Ustadz Qosdi Ridwanullah, yang menekankan pentingnya semangat kebersamaan dan penyamaan visi perjuangan. “Pesantren ini tidak akan kokoh kecuali dengan semangat dedikasi yang ikhlas dan totalitas para pengasuhnya. Inilah yang harus terus kita rawat,” ungkap beliau dalam sambutannya.

Puncak acara diisi oleh penyampaian materi dari Ustadz Azhari Dipo Kusumo, pimpinan sekaligus pengurus Pesantren Al-Ikhlas Lamongan. Beliau memiliki keistimewaan karena secara silsilah masih merupakan keturunan Pangeran Diponegoro, sosok ulama pejuang yang menjadi simbol perlawanan umat Islam terhadap penjajah.
Dalam materinya yang bertema “Menjadi Murobbi Penuh Dedikasi dan Totalitas Tinggi untuk Mewujudkan Generasi Rabbani Berkualitas Tinggi”, Ustadz Azhari mengupas sejarah perjuangan Islam di masa Diponegoro. Beliau menegaskan bahwa perjuangan Diponegoro bukan sekadar perlawanan fisik, melainkan jihad yang dilandasi iman, kesabaran, dan pengorbanan total demi tegaknya agama Allah.
“Nilai-nilai perjuangan Diponegoro harus kita warisi, bukan dalam bentuk angkat senjata, tetapi dalam bentuk pengabdian tulus sebagai murobbi. Mendidik generasi Islam adalah bagian dari jihad, karena dari tangan para pendidik lahir kader-kader Rabbani yang akan melanjutkan perjuangan umat,” jelas beliau.
Ustadz Azhari juga menekankan bahwa menjadi murobbi membutuhkan dedikasi penuh dan totalitas tinggi. Ia mengajak para asatidzah untuk tidak sekadar mengajar, tetapi membimbing dengan ruh, membentuk karakter, dan menanamkan visi perjuangan dalam jiwa santri. “Generasi Rabbani tidak lahir dari pendidikan yang setengah hati. Ia hanya lahir dari tangan-tangan ikhlas yang siap berkorban demi masa depan Islam,” tambahnya dengan penuh semangat.
Majelis ilmu ini berlangsung hangat, sarat inspirasi, dan meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh peserta. Diskusi yang terbuka membuat para pengurus semakin tergerak untuk merefleksikan kembali dedikasi mereka sebagai murobbi.
Dengan terselenggaranya acara ini, diharapkan spirit perjuangan Diponegoro dan semangat keikhlasan seorang murobbi mampu mengakar kuat dalam jiwa para pendidik Darusy Syahadah. Sehingga, cita-cita untuk mewujudkan generasi Rabbani yang berkualitas tinggi dapat benar-benar terwujud.




