BerandaKajianUsrohBermuhasabah Sebelum Memberi Nasihat Kepada Anak

Bermuhasabah Sebelum Memberi Nasihat Kepada Anak

- Advertisement -spot_img

Setiap kita, pasti ingin menjadi orang tua yang baik bagi anak-anaknya meski terkadang itu bukanlah perkara yang mudah. Banyak kendala dan sebab yang membuat orang tua terkadang merasa gagal menjadi orang tua.

Terutama saat seorang anak melakukan kesalahan, baik itu kecil maupun besar. Terlebih  yang dianggap fatal atau jika berkaitan dengan pelanggaran hukum syar’i. Naudzu billah min dzalik.

Saat anak kita melakukan kesalahan, entah itu hal besar atau kecil, entah itu ia lakukan di rumah atau di sekolah (mungkin dengan gurunya menelepon atau mengirim surat panggilan) atau bermasalah dengan anak tetangga, biasanya respon langsung dari orang tua adalah menasihati atau bahkan memarahi anak.

Terkadang juga menginterogasi dan yang pasti memberikannya banyak pesan dan wejangan yang intinya adalah bagaimana agar kesalahan ini tidak terulang lagi. Ini tidak salah dan mungkin merupakan salah satu tindakan yang perlu dilakukan.

Tapi pada kesempatan ini mari kita belajar sebuah karakter positif yang sangat penting untuk dimiliki oleh setiap pendidik, yakni kemampuan bermuhasabah/intropeksi dan melihat ke dalam diri sendiri.

Kemampuan bermuhasabah bukanlah perkara yang ringan. Ia membutuhkan sikap tawadhu dan kerendahan hati untuk menyadari bahwa ada kekurangan dalam diri dan bahwa kita tidak selalu benar.

Sehingga terkikislah rasa kesombongan dan perasaan benar sendiri. Ia juga membutuhkan kemampuan mendengar saran dan pendapat orang lain. Tidak menutup mata dari kemungkinan bahwa pandangan orang lain bisa jadi lebih tahu dan lebih benar.

Maka saat mendapati pelanggaran dari prilaku anak kita atau sesuatu yang tidak sesuai harapan orang tua, awalilah respon kita dengan beristighfar dan  memohon ampun kepada Allah dengan makna sebenarnya.

Karena bisa jadi dalam sebuah kesalahan anak ada peran dan andil kita di sana. Mungkin kesalahan yang dilakukan anak adalah karena kurangnya kita memberikan pengertian dan pemahaman  kepada mereka.

Atau disebabkan kurangnya perhatian dan waktu kita bersama mereka. Atau karena kurangnya ilmu kita dalam mengasuh dan membimbing mereka.

Atau mungkin juga disebabkan komunikasi yang kurang sehat, tidak nyambung, sikap terlalu menuntut, over protektif, dsb. Bisa jadi kesalahan itu bisa jadi juga disebabkan fasilitas yang kita berikan tanpa disertai kontrol, aturan atau kesepakatan.

Atau yang paling banyak terjadi adalah kesalahan yang dilakuakn anak disebabkan kurangnya keteladanan sehingga anak melakukan kesalahan  karena contoh tidak baik dari orang tuanya sendiri atau orang tua tidak melakukan apa  yang ia bicarakan.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ada sebuah kisah singkat dari Dr. Arun Gandhi, bahwa pada suatu ketika ia pergi mengantar ayahnya untuk sebuah acara seminar  dengan mengendarai mobil.

Setelah sampai di tujuan ia berencana membawa mobil itu ke bengkel dan berjalan-jalan sebentar di kota. Sebelumnya ia berjanji untuk menjemput ayahnya pada jam lima sore, tapi karena keasyikan berjalan-jalan ia lupa akan janjinya sampai ayahnya meneleponnya pada jam setengah enam.

Dengan berbohong ia berkata bahwa mobil yang diperbaiki baru saja selesai dan ia akhirnya sampai di tempat di mana ayahnya menunggu pada jam enam sore. Tanpa diketahuinya, ternyata sang ayah sudah menelepon pihak bengkel dan tahu bahwa ia berbohong.

Maka saat mereka bertemu, sang ayah berkata, “Arun, ada sesuatu yang salah dalam membesarkanmu sehingga kamu tidak punya keberanian untuk menceritakan kebenaran pada ayah. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, biarkan ayah pulang berjalan kaki dan memikirkannya baik-baik.”

Ada baiknya dalam proses intropeksi ini, kita kita juga berdialog dengan anak untuk mengetahui alasan, pendapat, perasaan mereka, sehingga dapat benar-benar ditemukan titik permasalahannya dan dapat segera dicarikan jalan keluar.

Suatu saat, ada seorang anak usia 10 tahun yang dibawa orang tuanya menemui psikolog karena adanya gangguan prilaku dan prestasinya yang menurun tajam padahal anak ini tergolong cerdas bahkan masuk di kelas akselerasi.

Sang Psikolog menganalisa bahwa anak ini merasa sangat tertekan dengan tuntutan dan pola asuh orang tuanya, maka  kemudian ia memberikan beberapa pertanyaan yang mungkin jawabannya bisa kita simak sebagai bahan renungan.

  1. Aku ingin ibuku…. Aku ingin ayahku….
  2. Aku ingin ibuku berbicara tentang…. Aku ingin ayahku berbicara tentang….
  3. Aku ingin ibuku setiap hari…. Aku ingin ayahku setiap hari….

Jawaban anak itu adalah

  1. (membiarkanku bermain walau sebentar) – (melakukan apa yang dikatakan/diperintahkannya )
  2. (yang penting saja) – (sebagian kesalahannya sehingga ia tidak selalu merasa benar dan sedikit bercanda)
  3. (memeluk dan menciumku seperti pada adikku ) – ( tersenyum)

Bila ternyata kesalahan ada pada orang tua, jangan berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Mari tidak segan untuk bicara terus terang dan meminta maaf karena ini akan membuat anak menghargai orang tuanya dan memberinya contoh untuk melakukan hal yang sama.

Dan selanjutnya, fokuslah pada solusi dan tahanlah diri dan emosi untuk tidak menyalahkan anak karena kesalahannya, atau menyalahkan pihak lain seperti gurunya, temannya, atau bahkan suami kita sendiri dengan ungkapan misalnya, “Makanya ibu kan sudah bilang, jangan seperti ayahmu, apa-apa susah dibilangin” atau “Gurumu itu nggak benar, ngasih tugas sebanyak ini sampai bangun kesiangan” dsb.

Karena itu akan menanamkan sikap menang sendiri dan selalu menyalahkan apa pun di luar dirinya. Wallahu Taala  alam bishshawwab.

 

Oleh: Ustadzah Suryani Arfa

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Must Read

Memaknai Hakikat Rezeki

- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami