BerandaKajianRenunganManusia dan Syukur: Refleksi Ayat “Wa Fi Anfusikum Afala Tubshirun”

Manusia dan Syukur: Refleksi Ayat “Wa Fi Anfusikum Afala Tubshirun”

- Advertisement -spot_img

Oleh: Ustadz Muhammad Zaini, M.Ag.

(Pengasuh Pesantren Darusy Syahadah)

 

Di tengah hiruk-pikuk modernitas, manusia sering kali mencari bukti kebesaran Tuhan pada fenomena alam yang masif, seperti galaksi yang membentang luas atau pegunungan yang menjulang tinggi. Namun, Al-Qur’an melalui Surah Adz-Dzariyat ayat 21 memberikan arahan yang jauh lebih personal: _”Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”_ Ayat ini bukanlah sekadar retorika keagamaan, melainkan sebuah undangan ilmiah untuk menilik ke dalam tubuh sendiri—sebuah mikrokosmos (dunia kecil) yang bekerja tanpa henti tanpa pernah kita instruksikan secara sadar. Di sinilah relevansi _tafsir ilmi_ (penjelasan Al-Qur’an berbasis penemuan sains) menjadi sangat krusial. Pendekatan ini membantu kita menyingkap tabir keagungan Sang Pencipta melalui data-data objektif, membuktikan bahwa setiap temuan mikroskopis di laboratorium sebenarnya adalah penjelasan nyata atas pertanyaan retoris yang Allah ajukan ribuan tahun silam.

 

Jika kita membedah anatomi manusia dengan kacamata sains, kita akan menemukan sebuah pabrik raksasa yang beroperasi dalam ruang yang sangat terbatas. Di dalam lambung kita, terdapat 35 juta kelenjar dengan struktur yang sangat kompleks, termasuk satu miliar _parietal cells_ (sel penghasil asam) yang bertugas menyekresi (mengeluarkan) asam klorida atau HCl untuk mencerna setiap butir makanan yang kita telan. Turun sedikit ke sistem pencernaan, bagian _duodenum_ (usus dua belas jari) dan jejunum (usus kosong) kita dilapisi oleh 3.600 _villi_ (jonjot-jonjot kecil) pada setiap satu sentimeter perseginya. Bayangkan, dengan panjang usus halus yang mencapai delapan meter, terdapat jutaan villi yang bekerja keras menyerap nutrisi agar energi kita tetap terjaga setiap harinya.

 

Keajaiban ini terus berlanjut hingga ke tingkat seluler yang lebih halus. Lidah kita dilengkapi dengan 9.000 tunas pengecap yang memungkinkan kita membedakan rasa manis, asam, pahit, dan asin. Sementara itu, selaput lendir mulut kita melakukan regenerasi (pembaruan sel) yang luar biasa dengan mengganti 500.000 sel secara instan setiap lima menit sekali. Namun, barangkali performa yang paling mencengangkan terletak pada sistem kardiovaskular (sistem peredaran darah). Sel darah merah dalam satu tubuh manusia, jika dideretkan dalam satu baris, mampu mengelilingi bumi sebanyak lima hingga enam kali. Di tengah sistem ini, jantung bekerja sebagai pompa kehidupan yang tidak pernah lelah; ia berdenyut lebih dari 100.000 kali sehari, memompa sekitar 8.000 liter darah per hari atau setara dengan 56 juta galon sepanjang usia rata-rata manusia. Semua data ini menunjukkan bahwa tubuh manusia adalah sebuah mahakarya teknis yang bekerja melampaui efisiensi mesin buatan manusia mana pun.

 

Secara biologis, setiap organ tersebut adalah “pelayan” yang bekerja sukarela demi keberlangsungan hidup kita. Namun, di sinilah letak ironi terbesar; piramida syukur kita sering kali terbalik. Kita cenderung lebih mudah mensyukuri hal-hal besar yang tampak di luar, seperti pencapaian materi atau jabatan, sementara kita sering mengabaikan operasional internal tubuh yang harganya tak ternilai. Ketika jantung tetap berdetak normal dan ginjal tetap menyaring racun, kita sering menganggapnya sebagai hal biasa atau taken for granted, padahal setiap detiknya adalah akumulasi dari ribuan proses kimiawi dan mekanis yang sangat rumit.

 

Sebagai upaya untuk menyelaraskan antara pengetahuan biologi dan kesadaran spiritual, kita perlu mengimplementasikan bentuk syukur minimal yang mencakup tiga dimensi utama. _Pertama_ adalah syukur qalbi (hati), yakni mengakui dengan tulus bahwa setiap sel yang bekerja adalah pemberian murni dari Allah. _Kedua_ adalah syukur lisani (lisan), dengan senantiasa memuji-Nya atas kesehatan yang sering kali tidak kita sadari nilainya sebelum rasa sakit itu datang. _Ketiga_ adalah syukur amali (tindakan), yaitu menjaga amanah tubuh ini dengan pola hidup yang sehat serta menggunakannya hanya sebagai instrumen ketaatan kepada Sang Pemilik Nyawa.

 

Sebagai penutup, realitas manusia saat ini sering kali terjebak dalam kondisi kurang bersyukur karena mereka baru “memperhatikan” tubuhnya saat alarm penyakit berbunyi. Selama organ-organ tersebut bekerja dalam keheningan, kita sering kali menggunakannya untuk kemaksiatan atau mengeluh atas kekurangan-kekurangan kecil dalam hidup. Ketidakmampuan untuk melihat mukjizat di balik kulit dan tulang sendiri membuat manusia menjadi makhluk yang rakus namun hampa secara spiritual. Padahal, melalui kacamata tafsir ilmi, kita diingatkan bahwa untuk sekadar bernapas dan berdiri tegak hari ini, Allah telah menggerakkan jutaan komponen dalam diri kita dengan penuh cinta. Sungguh, kekufuran manusia bermula dari kebutaan mereka terhadap diri sendiri.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
12,700PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
9,600PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami