BerandaMateri KhutbahKhutbah JumatLiburan Anak, Ujian Orang Tua

Liburan Anak, Ujian Orang Tua

- Advertisement -spot_img

Mencegah Kemungkaran di Rumah Sendiri

KHUTBAH PERTAMA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَمَرَ بِأَدَاءِ الْأَمَانَاتِ، وَحَذَّرَ مِنَ الْخِيَانَةِ وَالتَّفْرِيطِ فِي الْمَسْؤُولِيَّاتِ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ، وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً نَرْجُو بِهَا النَّجَاةَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَدَّى الْأَمَانَةَ، وَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ، وَنَصَحَ الْأُمَّةَ، وَكَشَفَ اللّٰهُ بِهِ الْغُمَّةَ، وَتَرَكَ أُمَّتَهُ عَلَى الْمَحَجَّةِ الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيغُ عَنْهَا إِلَّا هَالِكٌ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِيَ الْمُقَصِّرَةَ بِتَقْوَى اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِنَّ التَّقْوَى خَيْرُ زَادٍ لِلْعَبْدِ فِي دُنْيَاهُ وَأُخْرَاهُ، وَهِيَ سَبَبُ الْفَلَاحِ وَالنَّجَاةِ وَالسَّعَادَةِ.

قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾

وَقَالَ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ: اتَّقِ اللّٰهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ﴾

 Mukadimah: Bahaya yang Sering Tidak Disadari

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah melimpahkan kepada kita berbagai nikmat yang tak terhitung jumlahnya. Dengan rahmat dan karunia-Nya, kita masih diberi kesempatan untuk menghadiri shalat Jumat, berkumpul di rumah-Nya, serta mendengarkan nasihat yang semoga menjadi sebab bertambahnya iman dan ketakwaan kita. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga beliau, para sahabatnya, serta orang-orang yang mengikuti petunjuk beliau hingga akhir zaman.

Jamaah Jumat rahimakumullah, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Ta’ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan adalah bekal terbaik dalam menjalani kehidupan dunia dan kunci keselamatan di akhirat. Pada kesempatan yang mulia ini, khatib mengajak diri khatib pribadi dan jamaah sekalian untuk merenungkan salah satu amanah terbesar yang Allah titipkan kepada kita, yaitu amanah menjaga, membimbing, dan menyelamatkan keluarga dari berbagai bentuk penyimpangan dan kemungkaran. Terlebih pada masa liburan seperti saat ini, ketika anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan membutuhkan perhatian, pengawasan, serta bimbingan yang lebih besar dari orang tua mereka.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Salah satu kenyataan yang perlu kita renungkan pada zaman ini adalah bahwa banyak orang tua sangat khawatir terhadap berbagai pengaruh buruk di luar rumah. Mereka cemas terhadap pergaulan anak, lingkungan pertemanan, dan berbagai ancaman yang ada di jalanan. Namun sering kali tanpa disadari, pintu-pintu kerusakan justru terbuka lebar dari dalam rumah itu sendiri. Kemungkaran hari ini tidak selalu datang dalam bentuk seseorang yang mengetuk pintu rumah kita, tetapi hadir melalui layar-layar kecil yang berada dalam genggaman anak-anak kita. Melalui gawai, berbagai tontonan yang merusak akhlak, budaya yang menjauhkan dari agama, hingga pemikiran yang menyimpang dapat masuk tanpa izin dan tanpa pengawasan. Terlebih pada masa liburan sekolah seperti sekarang, ketika anak-anak memiliki lebih banyak waktu luang di rumah, maka tanggung jawab orang tua untuk mengawasi dan membimbing mereka menjadi semakin besar.

Karena itulah Allah Ta’ala mengingatkan kita dengan firman-Nya:

 ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Taḥrīm: 6).

Ayat ini bukan hanya perintah untuk menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga perintah untuk menjaga keluarga dari sebab-sebab yang dapat menyeret mereka kepada kebinasaan. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menafsirkan ayat ini dengan perkataan:

عَلِّمُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمُ الْخَيْرَ وَأَدِّبُوهُمْ

“Ajarkanlah kepada diri kalian dan keluarga kalian kebaikan serta didiklah mereka” (Ath-Thabari, Jāmi’ Al-Bayān, 23/491).

Betapa banyak orang tua yang telah menyediakan makanan terbaik untuk anak-anaknya, tetapi belum cukup menyediakan bekal iman untuk hati mereka. Padahal kelak yang akan menyelamatkan anak-anak kita bukan kecanggihan teknologi yang mereka kuasai, melainkan keimanan yang tertanam kuat dalam jiwa mereka.

Ayah Bukan Hanya Pencari Nafkah

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Di antara kekeliruan yang sering terjadi pada sebagian orang tua adalah menganggap bahwa tugasnya telah selesai ketika kebutuhan materi keluarga telah terpenuhi. Mereka bekerja keras dari pagi hingga malam demi menyediakan makanan, pakaian, rumah yang nyaman, dan biaya pendidikan bagi anak-anaknya. Semua itu tentu merupakan kebaikan yang patut disyukuri. Namun hendaknya kita menyadari bahwa kebutuhan terbesar seorang anak bukanlah kebutuhan jasad semata, melainkan kebutuhan hatinya akan iman, petunjuk, dan bimbingan menuju surga. Sebab tidak sedikit anak yang tumbuh dalam kecukupan materi, tetapi miskin perhatian, miskin pengawasan, dan miskin pendidikan agama. Padahal keberhasilan sejati bukanlah ketika anak meraih gelar yang tinggi atau pekerjaan yang bergengsi, melainkan ketika ia tumbuh menjadi hamba yang mengenal Rabb-nya, menjaga shalatnya, dan istiqamah di atas agamanya.

Karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas orang-orang yang berada di bawah kepemimpinannya.” (HR. Bukhari, no. 893 dan Muslim, no. 1829).

Setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, termasuk seorang ayah terhadap keluarganya. Maka marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing: apakah kita mengenal teman-teman dekat anak kita sebagaimana kita mengenal rekan kerja kita? Apakah kita mengetahui apa yang mereka tonton setiap hari sebagaimana kita mengetahui perkembangan berita dan media sosial? Berapa jam mereka menghabiskan waktu bersama gawainya, dan berapa banyak waktu yang mereka habiskan bersama Al-Qur’an? Apakah mereka menjaga shalat lima waktu dengan baik, atau justru sering melalaikannya tanpa kita pedulikan? Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin terasa berat, namun kelak di hadapan Allah Ta’ala, pertanyaan yang jauh lebih berat sedang menunggu jawaban dari setiap ayah yang pernah diberi amanah keluarga.

Kemungkaran Modern yang Masuk ke Rumah

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Pada masa lalu, para orang tua lebih banyak mengkhawatirkan anak-anak mereka ketika berada di luar rumah. Mereka takut anaknya terpengaruh lingkungan yang buruk, pergaulan yang rusak, atau tempat-tempat maksiat yang dapat merusak akhlak. Namun pada zaman yang kita hadapi hari ini, ancaman itu telah berubah bentuk. Anak-anak bisa tetap berada di kamar mereka, tetapi pada saat yang sama menjelajahi dunia yang tidak pernah kita ketahui. Berbagai bentuk kemungkaran dapat masuk melalui layar gawai tanpa harus melewati pintu rumah. Konten pornografi, kecanduan game, media sosial yang merusak adab, budaya pacaran yang dinormalisasi, hingga pemikiran yang menyimpang dari aqidah Islam dapat hadir setiap saat dalam kehidupan mereka. Karena itu, tidak cukup bagi orang tua hanya memastikan anak berada di rumah, tetapi juga memastikan apa yang masuk ke dalam hati dan pikiran mereka.

Allah Ta’ala mengingatkan kita dalam firman-Nya:

 ﴿وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا﴾

“Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau ketahui ilmunya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isrā’: 36).

Ayat ini mengajarkan kepada kita agar berhati-hati terhadap segala informasi, tontonan, dan pengaruh yang masuk ke dalam diri kita dan keluarga kita. Betapa banyak anak yang tidak rusak karena jauhnya rumah dari masjid, tetapi karena dekatnya gawai dengan tangannya. Betapa banyak hati yang dahulu bersih, kemudian berubah karena tontonan yang tidak terjaga dan pergaulan digital yang tidak diawasi. Maka pada masa liburan seperti ini, ketika anak-anak memiliki waktu yang lebih longgar dan akses yang lebih besar terhadap dunia digital, pengawasan orang tua bukan lagi sekadar bentuk kasih sayang, melainkan bagian dari amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta’ala.

Liburan: Momentum Mendidik atau Membiarkan?

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Liburan sekolah adalah waktu yang dinanti-nantikan oleh anak-anak, tetapi pada saat yang sama ia juga menjadi ujian bagi orang tua. Liburan bisa menjadi ladang pahala yang besar apabila diisi dengan kegiatan yang mendekatkan anak kepada Allah, namun bisa pula menjadi awal berbagai kerusakan apabila dibiarkan berlalu tanpa arah dan pengawasan. Tidak sedikit penyimpangan yang berawal dari waktu luang yang tidak terkelola. Ketika seorang anak tidak memiliki kesibukan yang bermanfaat, maka ia akan mencari kesibukannya sendiri. Ketika tidak ada kegiatan yang membangun, maka berbagai hiburan yang melalaikan akan dengan mudah mengambil alih waktunya. Karena itulah Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:

إِنَّ النَّفْسَ إِنْ لَمْ تَشْغَلْهَا بِالْحَقِّ شَغَلَتْكَ بِالْبَاطِلِ

“Sesungguhnya jiwa, jika tidak disibukkan dengan kebenaran, maka ia akan menyibukkanmu dengan kebatilan” (Madarij As-Salikin, 3/129).

Oleh sebab itu, tugas orang tua bukan hanya melarang anak dari keburukan, tetapi juga menyediakan jalan menuju kebaikan. Liburan hendaknya menjadi kesempatan untuk membiasakan shalat berjamaah, menghafal Al-Qur’an, menghadiri kegiatan masjid, membaca buku-buku yang bermanfaat, membantu pekerjaan rumah, serta mempererat hubungan dengan teman-teman yang baik. Sebab anak-anak yang hatinya dipenuhi dengan kebaikan akan lebih kuat menghadapi godaan keburukan. Kelak yang akan kita kenang bukan berapa banyak permainan yang berhasil mereka selesaikan selama liburan, melainkan berapa banyak nilai iman, akhlak, dan amal saleh yang berhasil kita tanamkan dalam jiwa mereka. Mungkin liburan hanya berlangsung beberapa pekan, tetapi pengaruhnya bisa membentuk arah kehidupan seorang anak untuk bertahun-tahun, bahkan hingga akhir hayatnya.

Keteladanan Orang Tua adalah Dakwah Terkuat

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Salah satu metode pendidikan yang paling efektif bukanlah banyaknya nasihat yang diucapkan, melainkan keteladanan yang ditunjukkan. Anak-anak belajar lebih banyak melalui penglihatan daripada pendengaran. Mereka memperhatikan bagaimana ayahnya berbicara, bagaimana ibunya bersikap, bagaimana kedua orang tuanya menjaga shalat, menggunakan waktu, dan berinteraksi dengan sesama. Karena itu, tidak mengherankan apabila Allah Ta’ala mengabadikan nasihat Luqman kepada putranya dalam Al-Qur’an (QS. Luqman: 13-19), sebagai gambaran bahwa pendidikan keluarga dibangun di atas bimbingan, perhatian, dan keteladanan yang terus-menerus. Sebab kata-kata yang baik akan mudah terlupakan, tetapi contoh yang baik akan membekas dalam ingatan sepanjang kehidupan.

Di zaman sekarang, ketika anak-anak menghabiskan banyak waktu bersama orang tua selama masa liburan, keteladanan menjadi semakin penting. Sulit mengajak anak mencintai Al-Qur’an jika mereka jarang melihat orang tuanya membaca Al-Qur’an. Sulit mengajak mereka menjaga shalat berjamaah jika ayahnya sendiri sering menunda shalat. Sulit mengingatkan mereka agar tidak berlebihan menggunakan gawai jika orang tua lebih sibuk dengan layar daripada berbicara dengan keluarganya. Imam Malik rahimahullah berkata:

 كَانُوا يَتَعَلَّمُونَ الْهَدْيَ كَمَا يَتَعَلَّمُونَ الْعِلْمَ

“Mereka dahulu mempelajari adab dan keteladanan sebagaimana mereka mempelajari ilmu” (Al-Khatib Al-Baghdadi, Al-Jāmi’ li Akhlāq Ar-Rāwi, no. 1580).

Maka sebelum kita menuntut anak-anak menjadi baik, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita menjadi teladan yang layak mereka ikuti? Sebab sering kali dakwah yang paling berpengaruh bukanlah yang disampaikan dari mimbar, melainkan yang dipraktikkan setiap hari di dalam rumah.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah kita jadikan rumah-rumah kita sebagai tempat tumbuhnya iman, ilmu, dan akhlak mulia. Semoga Allah Ta’ala menolong kita untuk menunaikan amanah keluarga dengan sebaik-baiknya dan menjadikan anak-anak kita sebagai generasi yang saleh, penyejuk mata bagi orang tuanya di dunia dan akhirat.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَخَطِيئَةٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ وَتُوبُوا إِلَيْهِ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ، الْجَوَادُ الْكَرِيمُ، الْبَرُّ الرَّؤُوفُ الرَّحِيمُ.

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.أَمَّا بَعْدُ،

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، اتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى حَقَّ التَّقْوَى، وَاغْتَنِمُوا دُخُولَ شَهْرِ اللَّهِ الْمُحَرَّمِ فِي مُحَاسَبَةِ أَنْفُسِكُمْ وَتَجْدِيدِ تَوْبَتِكُمْ، فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ الصَّادِقَ يَجْعَلُ مِنْ تَعَاقُبِ الْأَيَّامِ وَالسِّنِينَ فُرْصَةً لِلرُّجُوعِ إِلَى اللَّهِ وَالِازْدِيَادِ مِنَ الطَّاعَةِ. وَاعْلَمُوا أَنَّ الْهِجْرَةَ الْحَقِيقِيَّةَ هِيَ هِجْرَةُ الْمَعَاصِي وَالذُّنُوبِ إِلَى طَاعَةِ اللَّهِ، وَهِجْرَةُ الْهَوَى إِلَى الْهُدَى، فَمَنْ غَلَبَ نَفْسَهُ فَقَدْ فَازَ، وَمَنْ غَلَبَتْهُ نَفْسُهُ فَقَدْ خَسِرَ.

Penutup dan Muhasabah

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Di penghujung khutbah ini, marilah kita bermuhasabah sejenak. Mungkin kita telah memasang pagar yang tinggi di sekeliling rumah, memasang kunci yang kuat pada setiap pintu, dan berusaha melindungi anak-anak dari berbagai bahaya yang tampak oleh mata. Namun, sudahkah kita menjaga hati mereka? Sudahkah kita menjaga aqidah mereka? Sudahkah kita menjaga akhlak mereka? Sudahkah rumah yang kita bangun dengan susah payah ini benar-benar menjadi madrasah iman yang membuat anak-anak merasa dekat dengan Allah, mencintai Al-Qur’an, dan rindu kepada masjid? Ataukah justru rumah itu hanya menjadi tempat mereka menghabiskan waktu bersama layar dan berbagai kesibukan yang melalaikan?

Masa liburan hanya berlangsung beberapa pekan, tetapi pengaruhnya bisa membentuk karakter seorang anak selama bertahun-tahun. Karena itu, sebelum kita sibuk memperbaiki masyarakat, marilah kita memastikan bahwa dakwah pertama telah kita tegakkan di rumah kita sendiri. Sebab lahirnya generasi yang saleh tidak dimulai dari mimbar-mimbar besar, melainkan dari ruang keluarga yang dipenuhi iman, nasihat, dan keteladanan. Jangan sampai kelak kita menyesali anak-anak yang jauh dari agama, padahal kesempatan untuk mendekatkan mereka kepada Allah pernah berada di hadapan kita, namun kita sia-siakan begitu saja. Wallahu a’lam bish shawab.

قَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

‎اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

‎اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ  إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ أَبْنَاءَنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ لَنَا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَاجْعَلْهُمْ مِنَ الصَّالِحِينَ الْمُصْلِحِينَ، الحَافِظِينَ لِكِتَابِكَ، وَالثَّابِتِينَ عَلَى سُنَّةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

اللَّهُمَّ أَلْهِمْنَا حُسْنَ التَّرْبِيَةِ وَالصَّبْرَ عَلَى هَذِهِ الأَمَانَةِ العَظِيمَةِ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَهْلِنَا وَفِي أَعْمَارِنَا وَفِي أَعْمَالِنَا.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ بُيُوتَنَا، وَنَوِّرْهَا بِالْإِيمَانِ وَالْقُرْآنِ، وَاجْعَلْهَا مَوَاطِنَ لِذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ، وَأَعِذْنَا وَأَهْلِينَـا مِنْ كُلِّ فِتْنَةٍ ظَاهِرَةٍ وَبَاطِنَةٍ.

اللَّهُمَّ احْفَظْ أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتِنَا مِنْ شَرِّ الإِنْتِرْنِتِ والفَوَاحِشِ، وَمِنْ كُلِّ رَفِيقِ سُوءٍ، وَمِنْ كُلِّ مَا يُفْسِدُ القُلُوبَ وَالأَخْلاقَ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا، إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ العَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.

وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ.

عبادَ اللهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

 

Oleh : Santri Darsya

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
12,700PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
9,600PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami