Daftar Isi
Buletin Dakwah Masjid Baitul Makmur Edisi 25 – Pondok Pesantren Islam Darusy Syahadah
Oleh : Ustadz Adib Fattah Suntoro,M.Ag.
Pendahuluan
Di antara berbagai nikmat yang Allah anugerahkan kepada manusia adalah waktu. Setiap detik yang berlalu tidak akan pernah kembali, sementara umur manusia terus bergerak menuju akhir perjalanannya. Karena itu, Islam mengajarkan umatnya untuk menghargai waktu dan menjadikannya sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Salah satu momen yang mengingatkan manusia tentang pentingnya waktu adalah datangnya bulan Muharram, bulan pertama dalam kalender Hijriah.
Sayangnya, sebagian orang hanya menempatkan pergantian tahun sebagai pergantian angka pada kalender saja. Padahal bagi seorang Muslim, datangnya tahun baru Hijriah seharusnya memiliki makna yang lebih dalam. Ia menjadi kesempatan untuk melakukan muhasabah, menilai kembali perjalanan hidup yang telah dilalui, serta menyusun langkah-langkah perbaikan untuk masa yang akan datang. Muharram bukan sekadar awal tahun, melainkan awal dari sebuah perjalanan spiritual menuju kehidupan yang lebih baik.
Kedudukan Muharram dalam Islam
Muharram merupakan salah satu bulan yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Allah memasukkannya ke dalam empat bulan haram yang dimuliakan. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram.” (QS. At-Taubah: 36).
Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan empat bulan haram adalah Dzulqa‘dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Pada bulan-bulan tersebut, umat Islam diperintahkan untuk lebih menjaga diri dari perbuatan dosa dan memperbanyak amal kebajikan. Imam Ibn Katsir menjelaskan bahwa Allah memberikan kemuliaan khusus kepada bulan-bulan tersebut sehingga kezaliman dan kemaksiatan yang dilakukan di dalamnya memiliki konsekuensi yang lebih berat dibandingkan bulan-bulan lainnya (Ibn Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, Juz 4, hlm. 228).
Keistimewaan Muharram semakin tampak dalam hadis Nabi Muhammad ﷺ: “Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram.” (HR. Muslim no. 1163, dari Abu Hurairah). Penyebutan Muharram sebagai Syahrullāh (bulan Allah) menunjukkan kemuliaannya yang agung. Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri menjelaskan bahwa penyandaran nama bulan tersebut kepada Allah merupakan bentuk pemuliaan yang menunjukkan keutamaan Muharram dibandingkan bulan-bulan lainnya setelah Ramadhan (Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Minnatul Mun‘im fī Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim, Juz 2, hlm. 201).
Muharram dan Sejarah Peradaban Islam
Muharram memiliki hubungan yang erat dengan sejarah umat Islam. Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab ra., umat Islam mulai membutuhkan sistem penanggalan resmi untuk kepentingan administrasi pemerintahan yang semakin luas. Setelah bermusyawarah, para sahabat sepakat menjadikan peristiwa hijrah Rasulullah ﷺ dari Makkah ke Madinah sebagai awal kalender Islam.
Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Hijrah merupakan titik balik dalam sejarah Islam. Jika sebelumnya kaum Muslimin berada dalam posisi lemah dan mengalami berbagai tekanan, setelah hijrah mereka mampu membangun masyarakat Islam yang kuat, berdaulat, dan berperadaban. Karena itu, hijrah dipandang sebagai simbol transformasi besar dalam perjalanan dakwah Islam.
Meskipun peristiwa hijrah terjadi pada bulan Rabiul Awal, Muharram dipilih sebagai bulan pertama kalender Hijriah. Menurut Al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani, pemilihan Muharram didasarkan pada pertimbangan bahwa tekad hijrah mulai terbentuk setelah Baiat Aqabah yang terjadi pada musim haji, sedangkan Muharram merupakan bulan pertama setelah musim tersebut sehingga dianggap sebagai awal yang tepat bagi kalender Islam (Ibn Hajar, Fatḥ al-Bārī, Juz 7, hlm. 268).
Makna Hijrah dalam Kehidupan
Ketika mendengar kata hijrah, sebagian orang langsung membayangkan perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lain. Padahal makna hijrah dalam Islam jauh lebih luas daripada sekadar perpindahan geografis. Rasulullah ﷺ bersabda:
والمهاجرُ من هجر ما نهى اللهُ عنه
“Seorang muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (HR. Bukhari). Hadis ini menunjukkan bahwa hijrah adalah proses meninggalkan segala sesuatu yang menjauhkan manusia dari Allah menuju segala sesuatu yang mendekatkannya kepada-Nya.
Setiap manusia memiliki bentuk hijrah yang berbeda. Ada yang harus berhijrah dari kemalasan menuju kesungguhan, dari kebiasaan menunda salat menuju kedisiplinan ibadah, dari akhlak yang buruk menuju akhlak yang mulia, atau dari kesibukan dunia yang berlebihan menuju keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat. Karena itu, Muharram menjadi pengingat bahwa kehidupan seorang Muslim seharusnya selalu bergerak menuju perbaikan. Tidak ada ruang untuk merasa puas dengan kondisi keimanan saat ini, sebab setiap hari adalah kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik daripada hari sebelumnya.
Pelajaran dari Puasa Asyura
Di antara amalan yang paling dikenal pada bulan Muharram adalah puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram. Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi berpuasa pada hari tersebut. Mereka menjelaskan bahwa hari itu merupakan hari ketika Allah menyelamatkan Nabi Musa ‘alaihis salam dan Bani Israil dari kejaran Fir‘aun. Mendengar hal itu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.” Beliau kemudian berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa pada hari tersebut.
Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa penyelamatan Nabi Musa dan Bani Israil serta penenggelaman Fir’aun merupakan bukti nyata kekuasaan Allah dalam menolong orang-orang beriman dan membinasakan para penentang kebenaran. Peristiwa tersebut menjadi tanda (āyah) yang menunjukkan bahwa pertolongan Allah akan selalu datang kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan bersabar (Al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, Juz 13, hlm. 107). Kisah ini memberikan optimisme kepada umat Islam bahwa pertolongan Allah akan selalu menyertai orang-orang yang berpegang teguh kepada iman dan kesabaran.
Muharram di Tengah Tantangan Zaman
Setiap zaman memiliki tantangannya sendiri. Jika generasi terdahulu menghadapi ancaman fisik dan peperangan, maka manusia modern menghadapi tantangan yang lebih kompleks. Kemajuan teknologi memberikan banyak manfaat, tetapi juga menghadirkan berbagai godaan yang dapat melalaikan manusia dari tujuan hidupnya. Arus informasi yang begitu cepat sering membuat seseorang kehilangan waktu untuk merenung dan memperbaiki diri. Media sosial yang seharusnya menjadi sarana berbagi manfaat terkadang justru menjadi tempat penyebaran fitnah, ghibah, ujaran kebencian, dan berbagai hal yang tidak bernilai.
Dalam konteks ini, pesan Al-Qur’an untuk menjaga diri dari kezaliman dan kemaksiatan pada bulan-bulan haram menjadi semakin relevan. Imam al-Thabari dalam tafsirnya mengutip peryataan Ibnu Abbas tentang QS. At-Taubah ayat 36 bahwa meskipun larangan berbuat zalim berlaku sepanjang tahun, Allah memberikan kemuliaan khusus kepada empat bulan haram. Beliau berkata: “Allah menjadikan dosa pada bulan-bulan tersebut lebih besar, dan menjadikan amal saleh serta pahalanya juga lebih besar” (Al-Thabari, Al-Jāmi‘ al-Bayan, Juz 11, hlm. 444). Oleh karena itu, Muharram mengingatkan setiap Muslim agar lebih berhati-hati dalam menjaga lisan, perbuatan, dan niatnya, serta memperbanyak amal saleh sebagai bentuk penghormatan terhadap kemuliaan waktu yang telah Allah tetapkan.
Penutup
Muharram adalah bulan yang sarat dengan makna spiritual dan sejarah. Ia mengingatkan umat Islam tentang kemuliaan waktu, pentingnya hijrah menuju kehidupan yang lebih baik, serta perlunya menjaga hubungan dengan Allah di tengah berbagai tantangan zaman. Lebih dari sekadar penanda awal tahun, Muharram merupakan undangan untuk melakukan refleksi, memperbaiki diri, dan menumbuhkan semangat pembaruan dalam kehidupan.
Ketika lembaran tahun baru Hijriah kembali terbuka, yang terpenting bukanlah berapa tahun yang telah berlalu, melainkan sejauh mana perjalanan itu telah mendekatkan kita kepada Allah. Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang Muslim bukan terletak pada panjangnya usia, melainkan pada keberkahan dan kualitas amal yang mengisi setiap fase kehidupannya.
Daftar Pustaka
Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Beirut: Dār Ṭawq al-Najāh.
Al-Mubarakfuri, Shafiyyurrahman. Minnatul Mun‘im fī Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim. Riyadh: Dār al-Salām li al-Nasyr wa al-Tauzī‘, 1999.
Al-Qurthubi, Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad. Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān. Beirut: Mu’assasah al-Risālah.
Al-Thabari, Muhammad bin Jarir. Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān. Kairo: Dār Hajr.
Ibn Hajar al-‘Asqalani, Ahmad bin Ali. Fatḥ al-Bārī bi Syarḥ Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Beirut: Dār al-Ma‘rifah.
Ibn Kathir, Ismail bin Umar. Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm. Riyadh: Dār Ibn al-Jauzi.
Muslim bin al-Hajjaj. Ṣaḥīḥ Muslim. Beirut: Dār al-Ma‘rifah.




