Daftar Isi
Awal tahun Hijriyah adalah saat yang tepat untuk mengubah arah hidup dari mengikuti hawa nafsu menuju ridha Allah.
KHUTBAH PERTAMA
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْأَزْمَانَ مَوَاسِمَ لِلطَّاعَاتِ، وَفَضَّلَ بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ بِحِكْمَةٍ وَرَحْمَةٍ وَبَرَكَاتٍ، وَجَعَلَ شَهْرَ اللَّهِ الْمُحَرَّمَ مِنَ الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ الَّتِي عَظَّمَهَا، وَأَمَرَ فِيهَا بِتَعْظِيمِ حُرُمَاتِهِ وَاجْتِنَابِ ظُلْمِ النَّفْسِ. نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ، وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً نَرْجُو بِهَا النَّجَاةَ يَوْمَ نَلْقَاهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَرْسَلَهُ اللَّهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ، وَحُجَّةً عَلَى الْخَلْقِ أَجْمَعِينَ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا وَإِمَامِنَا وَقُدْوَتِنَا مُحَمَّدٍ، رَحْمَةِ اللَّهِ لِلْعَالَمِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِيَ الْمُقَصِّرَةَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى خَيْرُ زَادٍ لِلْعَبْدِ فِي دُنْيَاهُ وَأُخْرَاهُ، وَهِيَ سَبِيلُ الْفَلَاحِ وَالنَّجَاةِ، وَبِهَا تَحْصُلُ السَّعَادَةُ فِي الدَّارَيْنِ.
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
MUKADIMAH: TAHUN BERGANTI, SUDAHKAH KITA BERUBAH?
Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Marilah kita senantiasa memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subhānahu wa Ta‘ālā atas segala nikmat yang telah Dia limpahkan kepada kita, terutama nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan sehingga pada hari yang mulia ini kita dapat kembali menghadiri shalat Jum’at. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallāhu ‘alaihi wa Sallam, teladan terbaik umat manusia, yang telah membimbing kita menuju jalan kebenaran dan keselamatan.
Pada kesempatan yang penuh berkah ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada seluruh jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhānahu wa Ta‘ālā dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebab ketakwaan adalah bekal terbaik dalam menjalani kehidupan, penuntun di tengah berbagai ujian dan godaan, serta jalan menuju kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Aamiin.
Kaum muslimin rahimakumullah,
Kita telah memasuki bulan Muharram, bulan pertama dalam kalender Hijriyah dan salah satu bulan yang dimuliakan oleh Allah Subhānahu wa Ta‘ālā. Setiap kali Muharram datang, kita diingatkan pada peristiwa besar yang menjadi titik balik perjalanan Islam, yaitu hijrah Rasulullah Shallallāhu ‘alaihi wa Sallam dari Makkah menuju Madinah. Namun, Muharram bukan sekadar penanda pergantian tahun. Ia adalah panggilan untuk berhenti sejenak, menoleh ke belakang, lalu bertanya kepada diri sendiri: apa yang telah berubah dalam hidup kita selama satu tahun terakhir? Banyak orang menyambut tahun baru dengan berbagai harapan dan target, tetapi tidak sedikit yang hanya mengganti kalender tanpa mengganti kebiasaan, hanya berganti angka tahun tanpa memperbaiki kualitas iman. Padahal hakikat waktu yang berlalu bukanlah bertambahnya usia semata, melainkan berkurangnya jatah kehidupan yang Allah berikan kepada kita.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Muharram mengajak kita untuk melakukan muhasabah yang jujur. Sejak Muharram tahun lalu hingga Muharram tahun ini, apakah kita semakin dekat kepada Allah atau justru semakin larut dalam kesibukan dunia? Apakah ibadah kita semakin baik, atau masih berjalan di tempat? Apakah hati kita semakin lembut ketika mendengar ayat-ayat Allah, atau justru semakin keras karena terlalu sering mengikuti keinginan diri? Pertanyaan-pertanyaan ini penting kita renungkan, karena Muharram sejatinya adalah momentum perubahan. Ia mengajarkan bahwa hijrah bukan hanya peristiwa sejarah yang diceritakan dari mimbar ke mimbar, tetapi sebuah perjalanan yang harus terus hidup dalam diri setiap muslim. Sebab ketika berbicara tentang hijrah, sering kali yang terbayang adalah perpindahan tempat, padahal hijrah yang paling berat dan paling menentukan adalah hijrah dari kebiasaan buruk menuju kebaikan, dari kemaksiatan menuju ketaatan, dan dari dominasi hawa nafsu menuju kepatuhan kepada Allah Subhānahu wa Ta‘ālā.
MAKNA HIJRAH YANG SESUNGGUHNYA
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah,
Ketika mendengar kata hijrah, banyak orang langsung membayangkan perpindahan tempat sebagaimana yang dilakukan Rasulullah Shallallāhu ‘alaihi wa Sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum dari Makkah menuju Madinah. Memang, peristiwa itu adalah hijrah yang agung dan menjadi tonggak penting dalam sejarah Islam. Namun Rasulullah Shallallāhu ‘alaihi wa Sallam mengajarkan kepada umatnya bahwa makna hijrah tidak berhenti pada perpindahan fisik semata. Beliau bersabda:
وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
“Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah.” (HR. Al-Bukhari, no. 10)
Hadits ini mengajarkan bahwa hijrah adalah perjalanan yang harus dilakukan setiap hari sepanjang hidup. Ketika seseorang meninggalkan kebiasaan berdusta, ia sedang berhijrah. Ketika ia berusaha meninggalkan pandangan yang haram, menahan lisannya dari ghibah, meninggalkan kemalasan dalam ibadah, atau berjuang melepaskan diri dari dosa yang selama ini mengikatnya, sesungguhnya ia sedang menjalani hijrah yang diperintahkan oleh Allah. Karena itu, hijrah bukan hanya milik masa lalu, melainkan tugas setiap muslim hingga akhir hayatnya.
Jamaah Jum’at rahimakumullah,
Bila kita renungkan lebih dalam, setiap dosa yang berhasil ditinggalkan adalah bentuk hijrah. Setiap hawa nafsu yang berhasil dikendalikan adalah bentuk hijrah. Setiap langkah menuju majelis ilmu, setiap upaya memperbaiki shalat, setiap perjuangan untuk menjadi pribadi yang lebih jujur, lebih sabar, dan lebih taat, semuanya adalah bagian dari hijrah menuju Allah Subhānahu wa Ta‘ālā. Akan tetapi, mengapa hijrah sering terasa berat? Mengapa seseorang yang ingin berubah justru sering kembali terjatuh pada kebiasaan lama? Mengapa niat baik yang begitu kuat di awal sering melemah di tengah jalan? Jawabannya karena ada musuh yang selalu menyertai manusia ke mana pun ia pergi. Musuh itu tidak terlihat oleh mata, tidak datang dari luar, tetapi bersemayam di dalam diri. Musuh itulah yang terus membisikkan penundaan, kemalasan, kesenangan sesaat, dan berbagai alasan untuk menjauh dari ketaatan. Ia adalah hawa nafsu yang tidak dikendalikan. Oleh karena itu, hijrah yang paling berat bukanlah berpindah dari satu tempat ke tempat lain, melainkan berpindah dari dominasi hawa nafsu menuju kepatuhan kepada Allah Subhānahu wa Ta‘ālā.
MUSUH TERBESAR ITU BERNAMA HAWA NAFSU
Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Sering kali manusia merasa bahwa musuh terbesarnya adalah orang lain. Ada yang sibuk memusuhi pesaingnya, ada yang terus menyalahkan keadaan, bahkan ada yang menganggap bahwa sumber seluruh masalah hidupnya berasal dari lingkungan di sekitarnya. Padahal Islam mengajarkan bahwa musuh yang paling berbahaya justru sering berada di dalam diri kita sendiri, yaitu hawa nafsu yang tidak dikendalikan. Allah Subhānahu wa Ta‘ālā berfirman:
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ
“Maka pernahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?” (QS. Al-Jatsiyah: 23).
Ayat ini memberikan peringatan yang sangat keras. Seseorang mungkin masih mengaku beriman, masih melaksanakan ibadah, namun ketika setiap keputusan hidupnya selalu ditentukan oleh keinginan pribadi, bukan oleh petunjuk Allah, maka tanpa sadar ia telah menempatkan hawa nafsunya sebagai sesuatu yang paling ditaati. Inilah sebabnya mengapa banyak orang gagal dalam hijrahnya. Bukan karena tidak mengetahui jalan yang benar, tetapi karena tidak mampu melawan dorongan hawa nafsu yang terus mengajaknya kembali kepada kebiasaan lama.
Kaum muslimin rahimakumullah,
Hawa nafsu tidak selalu datang mengajak kepada dosa-dosa besar secara terang-terangan. Justru sering kali ia hadir dalam bentuk yang tampak biasa dan dianggap sepele. Ia membisikkan rasa malas ketika azan berkumandang. Ia menumbuhkan keinginan untuk dipuji ketika beramal. Ia mendorong seseorang hidup berlebihan demi gengsi dan pengakuan manusia. Ia membakar kemarahan hingga merusak persaudaraan, dan menumbuhkan ambisi dunia yang tidak pernah mengenal kata cukup. Ketika hawa nafsu terus dituruti, perlahan hati menjadi keras dan semakin jauh dari Allah. Karena itulah Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,
مَا ضُرِبَ عَبْدٌ بِعُقُوبَةٍ أَعْظَمَ مِنْ قَسْوَةِ الْقَلْبِ وَالْبُعْدِ عَنِ اللَّهِ، وَخُلِقَتِ النَّارُ لِإِذَابَةِ الْقُلُوبِ الْقَاسِيَةِ، وَأَبْعَدُ الْقُلُوبِ مِنَ اللَّهِ الْقَلْبُ الْقَاسِي
“Tidaklah seorang hamba dihukum dengan hukuman yang lebih besar daripada kerasnya hati dan jauhnya dia dari Allah” (Madārij As-Sālikīn, 1/530).
Betapa banyak orang yang tampak sukses di hadapan manusia, tetapi kehilangan ketenangan dalam hatinya. Betapa banyak yang memiliki berbagai kenikmatan dunia, tetapi tidak merasakan manisnya iman. Salah satu cara hawa nafsu menguasai manusia adalah dengan mengaburkan batas antara apa yang benar-benar dibutuhkan dan apa yang sekadar diinginkan. Akibatnya, manusia sering mengikuti keinginan yang tidak ada ujungnya, sementara kebutuhan ruhani yang jauh lebih penting justru terabaikan.
KETIKA KEINGINAN MENYAMAR MENJADI KEBUTUHAN
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah,
Salah satu cara hawa nafsu menguasai manusia adalah dengan mengaburkan batas antara kebutuhan dan keinginan. Padahal keduanya tidaklah sama. Kebutuhan adalah sesuatu yang memang diperlukan untuk menunjang kehidupan dan mendekatkan diri kepada Allah, sedangkan keinginan sering kali muncul karena dorongan hawa nafsu, gengsi, atau pengaruh lingkungan. Tidak semua yang kita inginkan adalah kebutuhan, dan tidak semua yang kita mampu beli layak untuk dimiliki. Namun di zaman sekarang, batas antara keduanya semakin kabur. Kita hidup di tengah budaya yang terus mendorong manusia untuk merasa kurang dan terus menginginkan lebih. Akibatnya, banyak orang tidak lagi bertanya, “Apakah saya benar-benar membutuhkan ini?” tetapi lebih sering bertanya, “Apakah saya mampu membelinya?” Padahal kemampuan membeli tidak selalu berarti kebutuhan untuk memiliki.
Kaum muslimin rahimakumullah,
Fenomena ini dapat kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari. Ada yang mengganti gawai bukan karena rusak, melainkan karena muncul model terbaru. Ada yang berbelanja bukan karena memerlukan barang tersebut, tetapi karena tergiur potongan harga dan promosi. Bahkan ada yang merasa sedih bukan karena berkurangnya iman atau jauhnya diri dari Allah, melainkan karena kehilangan gengsi dan pengakuan manusia. Inilah salah satu penyakit masyarakat modern yang tanpa disadari terus dipupuk oleh budaya konsumtif dan hedonis. Manusia didorong untuk membeli, mengonsumsi, dan memuaskan diri tanpa henti, hingga akhirnya sulit merasakan nikmatnya qana’ah dan syukur. Padahal Allah Subhānahu wa Ta‘ālā telah mengingatkan,
وَلاَ تُسْرِفُوا إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
“Janganlah kalian berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31).
Ketika hawa nafsu terus dituruti, keinginan akan tumbuh lebih cepat daripada rasa syukur. Apa yang dimiliki terasa kurang, sementara apa yang belum dimiliki terasa sangat penting. Budaya seperti inilah yang kemudian melahirkan fenomena “ingin cepat puas” yang begitu dominan dalam kehidupan manusia pada zaman ini.
BUDAYA INGIN CEPAT PUAS DAN HEDONISME MODERN
Hadirin yang dirahmati Allah,
Salah satu ciri zaman yang kita rasakan hari ini adalah budaya serba instan. Banyak orang menginginkan hasil tanpa proses, ingin sukses tanpa perjuangan, ingin kaya tanpa kerja keras, ingin terkenal tanpa pengorbanan, bahkan ingin bahagia tanpa kesabaran. Padahal Allah Subhānahu wa Ta‘ālā menetapkan bahwa setiap keberhasilan memiliki harga yang harus dibayar, setiap cita-cita membutuhkan usaha, dan setiap kemuliaan harus diperjuangkan. Namun hawa nafsu selalu menawarkan jalan pintas yang tampak mudah dan menyenangkan. Akibatnya, banyak orang lebih tertarik pada hasil yang cepat daripada proses yang benar. Mereka ingin segera menikmati buah tanpa bersedia menanam dan merawat pohonnya. Ketika keinginan tidak segera terwujud, lahirlah rasa kecewa, gelisah, dan tidak puas terhadap kehidupan yang Allah tetapkan untuknya.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah,
Keadaan ini semakin diperparah oleh hadirnya media sosial yang membuat manusia begitu mudah membandingkan hidupnya dengan kehidupan orang lain. Setiap hari mata kita disuguhi berbagai pencapaian, kemewahan, perjalanan, dan kesenangan yang dimiliki orang lain. Jika hati tidak dijaga, maka perlahan akan tumbuh rasa iri, ambisi yang berlebihan, dan ketidakpuasan terhadap nikmat yang sudah Allah berikan. Seseorang tidak lagi menikmati apa yang ada di tangannya karena terlalu sibuk memandang apa yang ada di tangan orang lain. Karena itu Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah memberikan nasihat yang sangat berharga:
لَا تَزَالُ كَرِيمًا عَلَى النَّاسِ أَوْ لَا يَزَالُ النَّاسُ يُكْرِمُونَكَ مَا لَمْ تَتَعَاطَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ
“Engkau akan tetap mulia di mata manusia selama engkau tidak tamak terhadap apa yang ada di tangan mereka” (Hilyah Al-Auliyā’, 2/148).
Kemuliaan bukanlah ketika seseorang memiliki semua yang diinginkan, tetapi ketika ia mampu merasa cukup dengan apa yang Allah karuniakan kepadanya. Sebaliknya, kehinaan sering kali bermula ketika hati terus mengejar apa yang dimiliki orang lain tanpa pernah merasa puas dengan nikmat yang telah diberikan Allah. Lalu bagaimana cara agar kita tidak diperbudak oleh hawa nafsu dan mampu mengendalikan diri di tengah godaan zaman yang semakin besar ini?
LANGKAH PRAKTIS MENGALAHKAN DIRI SENDIRI
Kaum muslimin rahimakumullah,
Setelah memahami bahaya hawa nafsu, pertanyaan berikutnya adalah: bagaimana cara mengalahkannya? Sebab hawa nafsu tidak akan hilang dari diri manusia selama ia masih hidup. Yang diperintahkan bukanlah memusnahkannya, tetapi mengendalikannya agar tunduk kepada syariat Allah. Langkah pertama adalah memperbanyak muhasabah. Di tengah kesibukan yang begitu padat, sering kali kita sibuk menilai kesalahan orang lain tetapi lupa mengevaluasi diri sendiri. Padahal setiap hari kita perlu bertanya kepada diri kita: apakah keputusan yang saya ambil hari ini didorong oleh keimanan atau hanya oleh keinginan sesaat? Apakah langkah yang saya tempuh mendekatkan saya kepada Allah atau justru menjauhkan saya dari-Nya? Muhasabah yang jujur akan membuat seseorang lebih mudah menyadari kekurangan dirinya dan lebih cepat memperbaikinya. Selain itu, kita juga perlu membiasakan diri menunda kesenangan yang tidak perlu. Tidak semua yang kita inginkan harus segera dipenuhi. Terkadang menahan diri untuk tidak membeli, tidak mengikuti tren, atau tidak menuruti emosi adalah latihan berharga untuk membangun kesabaran dan hidup sederhana. Sebab orang yang selalu menuruti semua keinginannya pada akhirnya akan menjadi budak bagi hawa nafsunya sendiri.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Di antara sarana yang sangat efektif untuk melatih pengendalian diri adalah memperbanyak puasa sunnah. Rasulullah Shallallāhu ‘alaihi wa Sallam menjelaskan bahwa puasa mampu melemahkan syahwat dan membantu seseorang menjaga dirinya. Beliau bersabda,
“…hendaklah ia berpuasa, karena puasa dapat menjadi perisai baginya” (HR. Al-Bukhari, no. 5066; Muslim, no. 1400).
Selain itu, kita juga perlu memilih lingkungan yang baik, karena hati manusia sangat mudah dipengaruhi oleh teman dan suasana di sekitarnya. Lingkungan yang baik akan mengingatkan kita ketika lalai, menguatkan ketika lemah, dan mendorong kita untuk tetap istiqamah dalam ketaatan. Namun semua ikhtiar tersebut tidak akan sempurna tanpa pertolongan Allah. Karena itu, perbanyaklah berdoa memohon keteguhan hati, sebagaimana Nabi Shallallāhu ‘alaihi wa Sallam yang sering berdoa agar Allah menetapkan hatinya di atas agama-Nya. Sebab pada akhirnya, kemenangan terbesar dalam hidup bukanlah ketika kita berhasil mengalahkan orang lain, meraih kedudukan yang tinggi, atau mengumpulkan harta yang banyak. Kemenangan terbesar adalah ketika kita mampu mengalahkan diri sendiri, menundukkan hawa nafsu, dan menjadikan ridha Allah sebagai tujuan utama dalam setiap langkah kehidupan.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَخَطِيئَةٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ وَتُوبُوا إِلَيْهِ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ، الْجَوَادُ الْكَرِيمُ، الْبَرُّ الرَّؤُوفُ الرَّحِيمُ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، اتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى حَقَّ التَّقْوَى، وَاغْتَنِمُوا دُخُولَ شَهْرِ اللَّهِ الْمُحَرَّمِ فِي مُحَاسَبَةِ أَنْفُسِكُمْ وَتَجْدِيدِ تَوْبَتِكُمْ، فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ الصَّادِقَ يَجْعَلُ مِنْ تَعَاقُبِ الْأَيَّامِ وَالسِّنِينَ فُرْصَةً لِلرُّجُوعِ إِلَى اللَّهِ وَالِازْدِيَادِ مِنَ الطَّاعَةِ. وَاعْلَمُوا أَنَّ الْهِجْرَةَ الْحَقِيقِيَّةَ هِيَ هِجْرَةُ الْمَعَاصِي وَالذُّنُوبِ إِلَى طَاعَةِ اللَّهِ، وَهِجْرَةُ الْهَوَى إِلَى الْهُدَى، فَمَنْ غَلَبَ نَفْسَهُ فَقَدْ فَازَ، وَمَنْ غَلَبَتْهُ نَفْسُهُ فَقَدْ خَسِرَ.
PENUTUP DAN MUHASABAH
Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Kita telah memasuki tahun baru Hijriyah. Pergantian tahun ini hendaknya tidak hanya menjadi peristiwa yang berlalu begitu saja tanpa makna. Jangan sampai yang berubah hanya angka pada kalender, sementara arah hidup kita tetap sama. Jangan sampai yang bertambah hanya usia, sementara amal saleh tidak bertambah. Banyak orang sibuk menyusun target dunia, merencanakan karier, usaha, pendidikan, dan berbagai urusan kehidupan lainnya. Semua itu tentu tidak salah. Namun, sudahkah kita menyusun target akhirat sebagaimana kita menyusun target dunia? Sudahkah kita menetapkan tujuan untuk memperbaiki shalat, memperbanyak tilawah Al-Qur’an, meninggalkan dosa-dosa yang masih kita lakukan, atau mempererat hubungan dengan Allah Subhānahu wa Ta‘ālā? Sebab seorang mukmin yang cerdas bukan hanya memikirkan bagaimana hidupnya menjadi lebih nyaman, tetapi juga bagaimana akhir hidupnya menjadi lebih baik di hadapan Allah.
Kaum muslimin rahimakumullah,
Sebelum kita meninggalkan majelis yang penuh berkah ini, marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing dengan penuh kejujuran. Berapa banyak keputusan yang selama ini kita ambil karena dorongan iman, dan berapa banyak yang hanya mengikuti keinginan sesaat? Ketika memilih pekerjaan, pergaulan, hiburan, bahkan ketika menggunakan waktu dan harta, siapakah yang sebenarnya memimpin hidup kita: petunjuk Allah atau hawa nafsu?
Muharram mengajarkan kepada kita bahwa hijrah terbesar bukanlah berpindah dari satu tempat ke tempat lain, melainkan berpindah dari dominasi hawa nafsu menuju ketaatan kepada Allah. Inilah perjuangan yang akan berlangsung sepanjang hidup seorang mukmin. Dan ketahuilah, kemenangan yang paling membanggakan bukanlah kemenangan atas lawan, pesaing, atau orang lain, melainkan kemenangan atas diri sendiri. Barang siapa mampu menundukkan hawa nafsunya dan menjadikan ridha Allah sebagai tujuan hidupnya, maka dialah pemenang sejati, baik di dunia maupun di akhirat. Semoga Allah menjadikan Muharram tahun ini sebagai awal perubahan yang lebih baik bagi diri kita, keluarga kita, dan umat Islam seluruhnya. Wallahu a’lam bish shawab.
قَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي مُسْتَهَلِّ هَذَا الْعَامِ الْهِجْرِيِّ الْجَدِيدِ إِيمَانًا صَادِقًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا، وَعَمَلًا صَالِحًا مُتَقَبَّلًا، وَتَوْبَةً نَصُوحًا لَا نَنْقُضُهَا أَبَدًا.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ هِجْرَتَنَا هِجْرَةً مِنَ الْمَعَاصِي إِلَى الطَّاعَاتِ، وَمِنَ الْغَفْلَةِ إِلَى الذِّكْرِ، وَمِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَمِنْ سَخَطِكَ إِلَى رِضْوَانِكَ.
اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى مُجَاهَدَةِ أَنْفُسِنَا، وَقَهْرِ أَهْوَائِنَا، وَتَزْكِيَةِ قُلُوبِنَا، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُتَّقِينَ.
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا إِلَى النَّارِ مَصِيرَنَا، وَاجْعَلِ الْجَنَّةَ هِيَ دَارَنَا وَقَرَارَنَا.
اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الرِّيَاءِ وَالْعُجْبِ وَالْكِبْرِ وَالْحَسَدِ، وَأَصْلِحْ نِيَّاتِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَأَعْمَالَنَا.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ دُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ.
اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَيَا مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ.
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا الْقَنَاعَةَ وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى بِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الشَّاكِرِينَ لِنِعَمِكَ الرَّاضِينَ بِقَضَائِكَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا كُلَّهَا، دِقَّهَا وَجِلَّهَا، أَوَّلَهَا وَآخِرَهَا، سِرَّهَا وَعَلَانِيَتَهَا.
اللَّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا هَذَا الْعَامَ بِالْمَغْفِرَةِ وَالرِّضْوَانِ، وَاجْعَلْ مَا بَقِيَ مِنْ أَعْمَارِنَا خَيْرًا مِمَّا مَضَى، وَتَوَفَّنَا وَأَنْتَ رَاضٍ عَنَّا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
Oleh : Santri Darsya




