BerandaMateri KhutbahKhutbah JumatMenang atas Diri Sendiri: Jihad yang Sering Dilupakan

Menang atas Diri Sendiri: Jihad yang Sering Dilupakan

- Advertisement -spot_img

Bukan tentang mengalahkan orang lain, tetapi mengalahkan hawa nafsu yang ada dalam diri.

KHUTBAH PERTAMA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَتُوبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَأَشْكُرُهُ عَلَى نِعْمَةِ الْإِيمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَعَلَى مَا وَفَّقَ أَوْلِيَاءَهُ لِمُجَاهَدَةِ النُّفُوسِ وَكَسْرِ الْهَوَى وَالثَّبَاتِ عَلَى طَاعَتِهِ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً نَرْجُو بِهَا النَّجَاةَ يَوْمَ نَلْقَاهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى هَدْيِهِ وَاتَّبَعَ سُنَّتَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّهَا خَيْرُ زَادٍ لِلْعَبْدِ فِي دِينِهِ وَدُنْيَاهُ وَأُخْرَاهُ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

وَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ الْجِهَادِ الَّذِي يَغْفُلُ عَنْهُ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ جِهَادَ النَّفْسِ وَمُجَاهَدَةَ الْهَوَى، فَإِنَّ الْمَعْرَكَةَ الْحَقِيقِيَّةَ لَيْسَتْ مَعَ الْآخَرِينَ، بَلْ مَعَ النَّفْسِ الَّتِي تَدْعُو إِلَى الشَّهَوَاتِ وَالْمُحَرَّمَاتِ وَالْغَفْلَةِ عَنْ طَاعَةِ اللَّهِ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى ۝ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى

Muqaddimah: Manusia Modern yang Menang di Luar, Tapi Kalah di Dalam

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang dengan limpahan nikmat-Nya kita masih diberi kesempatan untuk menghirup udara kehidupan, menikmati kesehatan, merasakan berbagai karunia yang tak terhitung jumlahnya, serta menghadiri majelis Jumat yang mulia ini dalam keadaan beriman dan berislam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, teladan terbaik sepanjang zaman, manusia paling sempurna dalam akhlak, yang telah membimbing umat manusia dari kegelapan hawa nafsu menuju cahaya petunjuk dan ketakwaan, serta kepada keluarga, para sahabat, dan seluruh pengikut beliau hingga akhir zaman.

Pada kesempatan yang penuh keberkahan ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada seluruh jamaah sekalian agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Ta’ala dengan sebenar-benar takwa; menjalankan segala perintah-Nya dengan penuh keikhlasan, menjauhi segala larangan-Nya dengan penuh kesungguhan, serta senantiasa berjuang memperbaiki diri dari hari ke hari. Sebab, ketakwaan bukan sekadar identitas yang diucapkan oleh lisan, melainkan cahaya yang membimbing langkah, kekuatan yang menahan diri dari kemaksiatan, dan bekal terbaik yang akan menyelamatkan seorang hamba ketika ia berdiri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari yang tidak bermanfaat lagi harta maupun keturunan, kecuali mereka yang datang kepada-Nya dengan hati yang bersih dan penuh ketundukan.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Jika kita memperhatikan kehidupan hari ini, kita akan menemukan sebuah kenyataan yang cukup menggelisahkan. Tidak sedikit orang yang berhasil menaklukkan berbagai medan kehidupan. Ada yang sukses membangun karier yang gemilang, memiliki usaha yang berkembang pesat, meraih gelar pendidikan yang tinggi, bahkan mendapatkan popularitas dan pengaruh yang luas di tengah masyarakat. Di mata manusia, mereka tampak sebagai orang-orang yang berhasil. Namun di balik semua pencapaian itu, tidak sedikit yang justru mengalami kekalahan yang jauh lebih besar, yaitu kekalahan terhadap dirinya sendiri. Ada yang mampu memimpin perusahaan besar, tetapi tidak mampu mengendalikan amarahnya. Ada yang mampu mengatur keuangan dengan sangat rapi, tetapi gagal mengendalikan syahwatnya. Ada yang disegani banyak orang, tetapi diperbudak oleh ego dan keinginannya sendiri.

Sungguh, tidak sulit menemukan orang yang menang di luar, tetapi kalah di dalam. Padahal sering kali kerusakan terbesar dalam hidup seseorang bukan datang dari musuh yang berada di luar dirinya, melainkan dari hawa nafsu yang tumbuh dan berkembang di dalam hatinya. Karena itulah, ketika kita melihat rumah tangga yang hancur, persahabatan yang retak, amanah yang dikhianati, korupsi yang merajalela, atau seseorang yang terjerumus dalam kemaksiatan padahal ia mengetahui hukumnya, penyebabnya sering kali bukan karena kurangnya pengetahuan, melainkan karena ketidakmampuan mengendalikan diri ketika berhadapan dengan godaan hawa nafsu.

Hadirin yang dimuliakan Allah, Islam mengajarkan bahwa kemenangan sejati tidak diukur dari seberapa banyak orang yang berhasil kita kalahkan, tetapi dari seberapa jauh kita mampu menaklukkan diri sendiri. Sebab manusia memiliki musuh yang selalu menemaninya ke mana pun ia pergi, tidak terlihat oleh mata namun sangat kuat pengaruhnya, yaitu hawa nafsu yang mengajak kepada kesenangan sesaat dan melalaikan akibat jangka panjang. Oleh karena itu Allah Ta’ala mengingatkan kita dalam firman-Nya:

 وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى ۝ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى

“Adapun orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan mampu menahan dirinya dari hawa nafsu, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nāzi’āt: 40–41).

Ayat ini mengajarkan bahwa jalan menuju surga bukanlah jalan yang dipenuhi dengan mengikuti semua keinginan diri, melainkan jalan perjuangan, kesabaran, dan pengendalian diri. Seorang mukmin sejatinya sedang menjalani perjalanan panjang untuk mendidik jiwanya, mengendalikan emosinya, menahan syahwatnya, serta memaksa dirinya tetap berada di atas ketaatan meskipun berat. Karena itu, selama nafas masih berhembus, perjuangan terbesar kita bukanlah mengalahkan orang lain, melainkan mengalahkan diri sendiri agar tetap tunduk kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Musuh Terdekat Manusia Adalah Dirinya Sendiri

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Salah satu kekeliruan yang sering terjadi dalam kehidupan manusia adalah terlalu sibuk mencari penyebab kesalahan di luar dirinya, sementara lupa mengoreksi apa yang ada di dalam dirinya. Ketika gagal, kita menyalahkan keadaan. Ketika terjatuh dalam kesalahan, kita menyalahkan lingkungan. Ketika hubungan rusak, kita menyalahkan orang lain. Seolah-olah sumber seluruh masalah selalu berada di luar diri kita. Padahal, Islam mengajarkan bahwa musuh yang paling dekat sekaligus paling berbahaya justru berada dalam diri manusia itu sendiri. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

 أَعْدَى عَدُوِّكَ نَفْسُكَ الَّتِي بَيْنَ جَنْبَيْكَ

“Musuhmu yang paling berbahaya adalah dirimu sendiri yang berada di antara kedua lambungmu.” (Madārij As-Sālikīn, jil. 2, hlm. 156).

Musuh ini tidak pernah meninggalkan kita, tidak pernah tidur, dan tidak pernah berhenti menggoda. Ia selalu berusaha menarik manusia menuju jalan yang paling mudah, paling nyaman, dan paling memuaskan keinginan sesaat, meskipun harus mengorbankan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Karena itu, banyak orang yang tampak kuat menghadapi tantangan hidup, tetapi rapuh ketika berhadapan dengan keinginan dirinya sendiri.

Hadirin yang dimuliakan Allah, setan sesungguhnya hanya membisikkan, sedangkan dunia hanya menawarkan berbagai kenikmatan dan godaan. Akan tetapi, yang membuka pintu, menerima ajakan, dan mengikuti bisikan itu adalah hawa nafsu manusia. Jika hawa nafsu berhasil dikendalikan, maka godaan setan akan menjadi lemah. Sebaliknya, jika hawa nafsu dibiarkan bebas tanpa kendali, maka ia akan menjadi kendaraan yang mengantarkan seseorang menuju berbagai bentuk dosa dan penyesalan. Cobalah kita merenung sejenak. Berapa banyak dosa yang kita lakukan bukan karena dipaksa, melainkan karena kita menuruti keinginan diri sendiri? Berapa banyak pertengkaran dalam keluarga, perselisihan di tempat kerja, dan retaknya persahabatan yang sebenarnya berawal dari ego yang tidak mau mengalah? Berapa banyak keputusan yang disesali seumur hidup hanya karena seseorang tidak mampu menahan amarah, syahwat, atau ambisi sesaat? Sering kali satu menit mengikuti hawa nafsu melahirkan penyesalan bertahun-tahun lamanya. Oleh sebab itu, seorang mukmin yang cerdas bukan hanya berusaha mengenali musuh-musuh di luar dirinya, tetapi lebih dahulu mengenali kelemahan, kecenderungan, dan hawa nafsu dalam dirinya sendiri. Sebab kemenangan yang paling menentukan masa depan dunia dan akhirat seseorang adalah kemenangan atas dirinya sendiri.

Bahaya Hawa Nafsu yang Tidak Terkendali

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Salah satu tipu daya hawa nafsu yang paling berbahaya adalah ia jarang mengajak manusia kepada dosa-dosa besar secara tiba-tiba. Hawa nafsu biasanya bekerja secara perlahan, bertahap, dan hampir tidak terasa. Ia memulai dari hal-hal yang dianggap sepele. Menunda shalat hanya beberapa menit hingga akhirnya menjadi kebiasaan. Menunda taubat dengan alasan masih muda atau masih ada waktu, hingga tanpa sadar usia terus berkurang. Membiarkan amarah sesaat menguasai hati hingga keluar kata-kata yang melukai orang lain. Menikmati pandangan yang haram dengan alasan hanya melihat sebentar, lalu hati mulai terbiasa dengan maksiat. Bahkan terkadang hawa nafsu mendorong seseorang untuk mencari berbagai alasan dan pembenaran atas kesalahan yang dilakukannya agar tidak merasa bersalah. Inilah yang membuat hawa nafsu sangat berbahaya. Ia tidak selalu menghancurkan seseorang dalam satu malam, tetapi sedikit demi sedikit mengikis keimanan, melemahkan rasa takut kepada Allah, dan menjauhkan hati dari jalan kebenaran. Karena itu, banyak orang yang tidak sadar bahwa dirinya sedang berjalan menuju jurang, sebab langkah-langkah awal yang ditempuh tampak kecil dan tidak mengkhawatirkan.

Hadirin yang dirahmati Allah, Allah Ta’ala memberikan peringatan yang sangat keras dalam firman-Nya,

 أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ

“Maka pernahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?” (QS. Al-Jātsiyah: 23).

Ayat ini bukan berarti seseorang benar-benar menyembah berhala yang bernama hawa nafsu, tetapi ia menjadikan keinginan dirinya sebagai ukuran utama dalam menentukan sikap dan pilihan hidup. Apa yang disukainya dianggap benar, sedangkan apa yang tidak disukainya dianggap salah, meskipun bertentangan dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Bukankah fenomena seperti ini semakin banyak kita temukan pada zaman sekarang? Tidak sedikit orang yang menjadikan perasaan sebagai kompas kehidupan. Yang penting saya nyaman. Yang penting saya bahagia. Yang penting saya suka. Akhirnya ukuran benar dan salah tidak lagi ditimbang dengan wahyu, tetapi ditimbang dengan selera dan keinginan pribadi. Padahal seorang mukmin sejati tidak bertanya, “Apa yang saya inginkan?” sebelum bertanya, “Apa yang Allah ridai?” Sebab ketika hawa nafsu menjadi pemimpin, manusia akan mudah tersesat. Namun ketika wahyu menjadi pemimpin, hawa nafsu akan tunduk dan kehidupan akan berjalan menuju keselamatan dunia dan akhirat.

Mujahadah: Jihad yang Paling Panjang Sepanjang Hidup

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Ketika mendengar kata jihad, sebagian orang mungkin langsung membayangkan perjuangan besar yang terjadi di medan peperangan. Padahal ada satu bentuk jihad yang jauh lebih dekat, lebih panjang, dan lebih sering dihadapi oleh setiap muslim sepanjang hidupnya, yaitu jihad melawan hawa nafsu. Jihad ini tidak berlangsung sehari atau dua hari, tetapi berlangsung sejak seseorang baligh hingga akhir hayatnya. Setiap hari seorang mukmin dihadapkan pada pilihan antara mengikuti petunjuk Allah atau mengikuti keinginan dirinya. Karena itulah para ulama sangat menaruh perhatian terhadap perjuangan ini. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,

أَفْضَلُ الْجِهَادِ جِهَادُ الْهَوَى

“Jihad yang paling utama adalah melawan hawa nafsu.” (Dinukil oleh Ibn Rajab rahimahullah dalam Jāmi’ Al-‘Ulūm wa Al-Hikam, jil. 2, hlm. 799).

Sebab musuh yang satu ini tidak pernah berhenti menyerang. Ketika seseorang berhasil mengalahkannya hari ini, ia akan kembali datang esok hari. Ketika berhasil menundukkannya dalam satu perkara, ia akan muncul dalam bentuk godaan yang lain. Oleh karena itu, kehidupan seorang mukmin sejatinya adalah arena mujahadah yang tidak pernah sepi dari perjuangan.

Hadirin yang dimuliakan Allah, mujahadah bukanlah sesuatu yang jauh dari kehidupan kita. Ia hadir dalam keputusan-keputusan kecil yang sering kali tidak dilihat manusia, tetapi sangat bernilai di sisi Allah. Mujahadah terjadi ketika alarm Subuh berbunyi sementara tubuh masih ingin melanjutkan tidur. Mujahadah terjadi ketika seseorang mampu menahan amarah padahal ia memiliki kesempatan untuk membalas. Mujahadah terjadi ketika pandangan ditundukkan di saat pintu-pintu maksiat terbuka lebar melalui layar gawai yang ada di genggaman. Mujahadah terjadi ketika seseorang menolak harta yang haram meskipun mudah diperoleh dan tampak menguntungkan. Mujahadah juga terjadi ketika seseorang memilih berlaku jujur meskipun kebohongan tampak lebih menguntungkan dirinya. Inilah makna yang dijelaskan oleh Rasulullah ﷺ dalam sabdanya,

 الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ

“Seorang mujahid adalah orang yang berjihad melawan dirinya untuk menaati Allah.” (HR. Ahmad, no. 23958). Hadis ini mengajarkan kepada kita bahwa kemenangan terbesar dalam hidup bukanlah ketika seseorang mampu mengalahkan lawan di hadapannya, tetapi ketika ia mampu memaksa dirinya tetap berada di atas jalan ketaatan meskipun hawa nafsunya menginginkan sebaliknya. Dan di situlah letak kemuliaan seorang hamba di sisi Allah Ta’ala, yakni ketika ia lebih memilih keridaan Rabbnya daripada kesenangan sesaat yang ditawarkan oleh hawa nafsunya.

Kisah Para Salaf Dalam Melawan Hawa Nafsu

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Salah satu rahasia keagungan para salaf adalah kesungguhan mereka dalam mengoreksi diri sendiri. Mereka tidak sibuk mencari kesalahan orang lain, tetapi lebih fokus memperbaiki kekurangan yang ada pada diri mereka. Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah berkata,

 حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا

“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.” (Muhāsabah An-Nafs li Ibn Abī Ad-Dunyā, hlm. 27). Kalimat ini mengajarkan bahwa orang yang benar-benar besar bukanlah orang yang selalu merasa paling benar, tetapi orang yang senantiasa mengevaluasi dirinya dan berusaha menjadi lebih baik dari hari ke hari. Di zaman sekarang, ketika begitu mudah melihat dan mengomentari kesalahan orang lain, nasihat ini menjadi sangat penting untuk kita renungkan.

Hadirin yang dimuliakan Allah, kisah Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah juga memberikan pelajaran yang berharga. Ketika beliau berada dalam kondisi sakit keras, beliau tetap berusaha menjaga lisannya dari keluhan yang tidak perlu. Setelah mendengar atsar tentang makruhnya banyak mengeluh, beliau semakin berhati-hati dalam menjaga ucapan. Dari sini kita belajar bahwa perjuangan melawan hawa nafsu tidak berhenti sampai seseorang menjadi alim, tua, atau dihormati manusia. Mujahadah adalah perjuangan yang berlangsung sepanjang hayat. Selama manusia masih hidup, selama itu pula ia harus terus berjuang mengendalikan dirinya.

Demikian pula Nabi Yusuf ‘alaihissalam ketika menghadapi godaan maksiat yang sangat besar. Saat semua pintu seakan terbuka untuk berbuat dosa, beliau justru berkata,

 مَعَاذَ اللَّهِ

“Aku berlindung kepada Allah.” (QS. Yūsuf: 23).

Beliau berhasil bukan karena tidak memiliki keinginan, tetapi karena mampu mengendalikan keinginannya demi menaati Allah. Inilah pelajaran penting bagi kita, bahwa kemenangan sejati bukanlah ketika seseorang tidak memiliki godaan, melainkan ketika ia mampu menahan dirinya dari godaan tersebut karena takut kepada Allah dan mengharapkan keridaan-Nya.

Langkah Praktis Mengalahkan Diri Sendiri

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Setelah memahami pentingnya melawan hawa nafsu, pertanyaannya adalah bagaimana cara memulainya dalam kehidupan sehari-hari? Langkah pertama adalah membiasakan muhasabah atau evaluasi diri setiap hari. Sebelum tidur, luangkan waktu sejenak untuk bertanya kepada diri sendiri: dosa apa yang telah saya lakukan hari ini, dan amal apa yang perlu saya perbaiki? Kebiasaan sederhana ini akan membuat hati lebih peka terhadap kesalahan dan tidak mudah merasa puas dengan keadaan diri. Selain itu, latihlah diri untuk tidak selalu menuruti setiap keinginan. Tidak semua yang kita inginkan harus kita ikuti, dan tidak semua yang kita sukai harus kita lakukan. Kemampuan menahan diri dari keinginan yang tidak perlu adalah salah satu bentuk kemenangan atas hawa nafsu.

Hadirin yang dimuliakan Allah, perjuangan mengendalikan diri juga membutuhkan bekal dan lingkungan yang baik. Karena itu, perkuatlah hubungan dengan Al-Qur’an, sebab hati yang jauh dari wahyu akan lebih mudah dikuasai oleh hawa nafsu dan godaan dunia. Dekatlah dengan orang-orang saleh yang dapat mengingatkan kita ketika lalai dan menguatkan kita ketika lemah. Dan yang tidak kalah penting, perbanyaklah berdoa memohon keteguhan hati kepada Allah Ta’ala. Sebab sekuat apa pun usaha seorang hamba, ia tetap membutuhkan pertolongan Rabbnya. Ketika hati terhubung dengan Al-Qur’an, lingkungan yang baik, dan doa yang tulus, maka jalan untuk mengalahkan diri sendiri akan terasa lebih ringan dan lebih mudah dijalani.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَخَطِيئَةٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ وَتُوبُوا إِلَيْهِ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ، الْجَوَادُ الْكَرِيمُ، الْبَرُّ الرَّؤُوفُ الرَّحِيمُ.

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.أَمَّا بَعْدُ،

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، اتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى حَقَّ التَّقْوَى، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالنَّجْوَى، وَاعْلَمُوا أَنَّ أَقْرَبَ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ إِذَا صَدَقَ فِي دُعَائِهِ وَافْتِقَارِهِ إِلَيْهِ، وَأَنَّ مَنْ لَزِمَ بَابَ اللَّهِ لَمْ يُرَدَّ خَائِبًا، وَمَنْ أَكْثَرَ مِنْ سُؤَالِهِ وَرَجَائِهِ وَجَدَ مِنْ فَضْلِهِ وَكَرَمِهِ مَا لَا يَخْطُرُ لَهُ عَلَى بَالٍ.

Penutup dan Muhasabah

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Mungkin selama ini kita merasa tidak memiliki musuh yang harus diwaspadai. Kita lebih sering melihat ancaman dari luar diri kita, padahal ada musuh yang selalu bersama kita ke mana pun kita pergi. Ia tidak terlihat oleh mata, tidak terdengar suaranya, dan tidak dapat disentuh oleh tangan. Namun pengaruhnya mampu menghancurkan kehidupan dunia dan akhirat seseorang. Musuh itu adalah hawa nafsu yang tidak dikendalikan. Oleh karena itu, sebelum meninggalkan majelis yang mulia ini, marilah kita bertanya dengan jujur kepada diri kita masing-masing: apa yang selama ini paling sulit saya lawan? Apakah amarah yang sering meledak? Kesombongan yang membuat sulit menerima nasihat? Syahwat yang menyeret kepada maksiat? Kemalasan yang menghalangi ketaatan? Kecanduan gawai yang melalaikan? Ataukah keinginan untuk selalu dipuji dan dihargai manusia?

Hadirin yang dimuliakan Allah, hari ini marilah kita memulai jihad yang sesungguhnya, yaitu jihad melawan diri sendiri. Sebab kemenangan terbesar dalam hidup bukanlah ketika kita berhasil mengalahkan orang lain dalam persaingan, perdebatan, atau kedudukan. Kemenangan terbesar adalah ketika kita mampu mengalahkan hawa nafsu yang ada dalam diri kita dan menjadikannya tunduk kepada perintah Allah Ta’ala. Semoga Allah menjadikan hati kita semakin dekat kepada-Nya, memberikan kekuatan untuk mengendalikan diri, menjaga kita dari godaan hawa nafsu, serta meneguhkan langkah kita di atas jalan ketaatan hingga akhir hayat.

قَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

‎اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

‎اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ  إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ التُّقَى وَالْهُدَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوسَنَا تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا، اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ،

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، اللَّهُمَّ اهْدِنَا لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ وَالْأَعْمَالِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنَّا سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنَّا سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ، اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ، اللَّهُمَّ مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ،

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا وَنَفْسًا مُطْمَئِنَّةً وَإِيمَانًا صَادِقًا وَعَمَلًا صَالِحًا مُتَقَبَّلًا، اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يَغْلِبُونَ أَهْوَاءَهُمْ وَيُجَاهِدُونَ أَنْفُسَهُمْ فِي مَرْضَاتِكَ، اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى أَنْفُسِنَا وَلَا تَكِلْنَا إِلَيْهَا طَرْفَةَ عَيْنٍ، اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ النِّفَاقِ وَالرِّيَاءِ وَالْكِبْرِ وَالْحَسَدِ وَسَائِرِ أَمْرَاضِ الْقُلُوبِ،

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا الْإِخْلَاصَ فِي الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ وَالثَّبَاتَ عَلَى الْحَقِّ حَتَّى نَلْقَاكَ، اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قُلُوبِنَا وَنُورَ صُدُورِنَا وَجَلَاءَ أَحْزَانِنَا وَذَهَابَ هُمُومِنَا وَغُمُومِنَا، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَلِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

 

Oleh: Santri Darsya

 

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
12,700PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
9,600PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami