BerandaMateri KhutbahKhutbah JumatRamadhan Bukan Sekadar Lewat, Tapi Meninggalkan Pesan

Ramadhan Bukan Sekadar Lewat, Tapi Meninggalkan Pesan

- Advertisement -spot_img

KHUTBAH PERTAMA

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بَلَّغَنَا شَهْرَ رَمَضَانَ، وَمَنَّ عَلَيْنَا فِيهِ بِالصِّيَامِ وَالْقِيَامِ، وَفَتَحَ لَنَا فِيهِ أَبْوَابَ الرَّحْمَةِ وَالْغُفْرَانِ، وَجَعَلَهُ مَدْرَسَةً لِتَزْكِيَةِ النُّفُوسِ وَتَهْذِيبِ الْقُلُوبِ، لِنَخْرُجَ مِنْهُ بِالتَّقْوَى وَالْإِيمَانِ. نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِيَ الْمُقَصِّرَةَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ لِلْعَبْدِ فِي دُنْيَاهُ وَأُخْرَاهُ.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِينَ رَحِمَكُمُ اللَّهُ،

إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ نِعَمِ اللَّهِ عَلَيْنَا أَنْ بَلَّغَنَا شَهْرَ رَمَضَانَ، شَهْرَ الصِّيَامِ وَالْقُرْآنِ وَالْغُفْرَانِ. وَلٰكِنَّ الْعِبْرَةَ لَيْسَتْ فِي مُجَرَّدِ بُلُوغِ الشَّهْرِ، بَلْ فِي الرِّسَالَةِ الَّتِي يَتْرُكُهَا فِي قُلُوبِنَا بَعْدَ رَحِيلِهِ.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

 

Mukadimah: Ramadhan Hampir Berlalu, Tapi Apa yang Tertinggal di Hati?

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta‘ala atas segala nikmat yang Dia limpahkan kepada kita; nikmat iman, nikmat Islam, dan nikmat kesempatan untuk kembali bertemu dengan bulan Ramadhan yang penuh keberkahan. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarga beliau, para sahabatnya, dan seluruh umatnya yang setia mengikuti sunnahnya hingga hari kiamat. Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, karena takwa adalah bekal terbaik dalam perjalanan hidup seorang hamba menuju akhirat.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Ramadhan adalah bulan yang setiap tahun kita nantikan dengan penuh kerinduan. Di dalamnya kita melihat masjid-masjid hidup, ayat-ayat Al-Qur’an dilantunkan dengan khusyuk, doa-doa dipanjatkan dengan air mata, dan hati-hati yang lama kering kembali basah oleh taubat. Banyak di antara kita yang di malam hari berdiri dalam shalat, memohon ampunan atas dosa-dosa yang mungkin telah lama kita lakukan. Ramadhan seakan menjadi ruang sunyi bagi jiwa untuk kembali kepada Allah. Namun hari-hari Ramadhan terus berjalan, malam-malamnya satu demi satu berlalu, hingga tanpa terasa bulan yang agung ini hampir sampai di penghujungnya. Maka di saat-saat seperti ini, ada satu pertanyaan yang seharusnya kita ajukan kepada diri kita masing-masing: apakah Ramadhan hanya sekadar datang lalu pergi seperti bulan-bulan yang lain, ataukah ia benar-benar meninggalkan bekas yang hidup di dalam hati kita?

Sesungguhnya Allah tidak menjadikan puasa Ramadhan sekadar ritual tahunan yang berlalu tanpa makna. Ia adalah madrasah ruhani yang mendidik hati, membersihkan jiwa, dan menumbuhkan ketakwaan. Allah Ta‘ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa tujuan akhir dari Ramadhan bukanlah sekadar menahan lapar dan dahaga, bukan pula sekadar meramaikan masjid selama sebulan. Tujuan besarnya adalah lahirnya pribadi-pribadi yang bertakwa, yaitu manusia yang hatinya lebih dekat kepada Allah, lisannya lebih terjaga, dan hidupnya lebih lurus di jalan ketaatan. Karena itu Ramadhan bukanlah tujuan akhir perjalanan seorang mukmin, melainkan sebuah proses pembentukan jiwa agar setelah Ramadhan berlalu, ia keluar sebagai pribadi yang lebih baik, lebih lembut hatinya, dan lebih kuat komitmennya untuk hidup dalam ketaatan kepada Allah.

Pesan Pertama Ramadhan: Hidup Tanpa Maksiat Itu Mungkin

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Salah satu pesan besar yang diajarkan oleh Ramadhan kepada kita adalah bahwa hidup tanpa maksiat sebenarnya bukan sesuatu yang mustahil. Selama sebulan penuh kita dilatih untuk menahan diri. Kita menahan amarah ketika emosi memuncak, kita menjaga lisan dari kata-kata yang menyakitkan, kita menundukkan pandangan dari hal-hal yang diharamkan, bahkan kita meninggalkan makan dan minum yang pada hakikatnya halal bagi kita di luar waktu puasa. Semua ini menunjukkan satu kenyataan penting: manusia sebenarnya mampu mengendalikan dirinya. Ramadhan telah membuktikan kepada kita bahwa hawa nafsu bisa dikalahkan, kebiasaan buruk bisa ditinggalkan, dan dosa bisa dijauhi ketika hati benar-benar ingin mendekat kepada Allah.

Karena itulah Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa hakikat puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi menahan diri dari segala bentuk dosa dan keburukan. Beliau bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Al-Bukhari, no. 1903)

Hadits ini mengajarkan kepada kita bahwa puasa sejatinya adalah latihan untuk meninggalkan dosa. Jika selama Ramadhan kita mampu menjaga lisan, menahan emosi, dan menjauhi maksiat, maka seharusnya setelah Ramadhan pun kita mampu melakukan hal yang sama. Jangan sampai setelah Ramadhan berlalu, lisan kembali bebas melukai, mata kembali bebas melihat yang haram, dan hati kembali lalai dari mengingat Allah. Sebab Ramadhan sejatinya datang bukan hanya untuk mengubah kebiasaan kita selama sebulan, tetapi untuk mengubah arah hidup kita selamanya menuju ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala.

Pesan Kedua Ramadhan: Hati Kita Ternyata Butuh Al-Qur’an

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Pesan besar kedua yang diajarkan oleh Ramadhan kepada kita adalah bahwa hati manusia ternyata sangat membutuhkan Al-Qur’an. Selama bulan Ramadhan, kita menyaksikan sesuatu yang sangat indah: masjid-masjid menjadi lebih hidup, ayat-ayat Al-Qur’an dilantunkan di setiap sudut, dan banyak kaum muslimin yang kembali membuka mushaf yang mungkin selama berbulan-bulan jarang disentuh. Ada yang berusaha mengkhatamkan Al-Qur’an, ada yang memperbanyak tilawah setelah shalat, dan ada pula yang merasakan ketenangan ketika mendengarkan bacaan imam dalam shalat tarawih. Ramadhan seolah menghidupkan kembali hubungan yang lama terputus antara hati seorang hamba dengan kitab Tuhannya. Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ

“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Ayat ini mengingatkan kita bahwa Al-Qur’an bukan sekadar bacaan yang dilantunkan di bulan Ramadhan, tetapi ia adalah petunjuk hidup bagi manusia. Hati manusia tidak akan benar-benar hidup tanpa cahaya Al-Qur’an. Tanpa Al-Qur’an, hati akan mudah gelisah, hidup terasa hampa, dan arah kehidupan menjadi kabur. Karena itulah para ulama menggambarkan kedekatan dengan Allah sebagai kenikmatan yang luar biasa. Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah berkata:

فِي الدُّنْيَا جَنَّةٌ مَنْ لَمْ يَدْخُلْهَا لَمْ يَدْخُلْ جَنَّةَ الْآخِرَةِ

“Di dunia ini ada surga; siapa yang tidak memasukinya, ia tidak akan masuk surga akhirat.”
(Majmū‘ al-Fatāwā, 10/163)

Yang beliau maksud adalah kenikmatan ketika hati dipenuhi dengan zikir kepada Allah, dengan membaca Al-Qur’an, dan dengan kedekatan kepada-Nya. Oleh karena itu, jangan sampai setelah Ramadhan berlalu, mushaf kembali tertutup rapat, dan hubungan kita dengan Al-Qur’an kembali terputus. Jika Ramadhan telah mengajarkan kepada kita bahwa hati menjadi lebih tenang ketika dekat dengan Al-Qur’an, maka jadikanlah Al-Qur’an sebagai sahabat sepanjang hidup kita, bukan hanya sebagai tamu yang kita sambut selama satu bulan dalam setahun.

Pesan Ketiga Ramadhan: Ibadah Itu Mungkin Dilakukan dengan Sungguh-sungguh

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Pesan besar ketiga yang diajarkan oleh Ramadhan kepada kita adalah bahwa ibadah itu sebenarnya mampu dilakukan dengan sungguh-sungguh ketika hati benar-benar hidup. Lihatlah bagaimana suasana kaum muslimin di bulan Ramadhan. Masjid-masjid yang sebelumnya mungkin tidak terlalu ramai, di bulan ini dipenuhi oleh jamaah. Shalat malam yang pada hari-hari biasa terasa berat, di bulan Ramadhan justru dijalani dengan penuh semangat. Lisan menjadi lebih rajin berzikir, tangan menjadi lebih ringan untuk bersedekah, dan doa-doa dipanjatkan dengan penuh harap serta kerendahan hati. Semua itu menunjukkan satu kenyataan penting: bahwa manusia pada hakikatnya memiliki kemampuan besar untuk mendekat kepada Allah. Ketika hati dipenuhi oleh iman, maka ibadah yang sebelumnya terasa berat justru menjadi ringan, bahkan menghadirkan kenikmatan yang menenangkan jiwa.

Para ulama salaf memandang Ramadhan sebagai musim perlombaan dalam kebaikan. Hasan al-Basri rahimahullah berkata:

إِنَّمَا جُعِلَ رَمَضَانُ مِضْمَارًا لِخَلْقِ اللَّهِ يَسْتَبِقُونَ فِيهِ بِطَاعَتِهِ

“Sesungguhnya Ramadhan dijadikan sebagai arena perlombaan bagi hamba-hamba Allah untuk berlomba dalam ketaatan kepada-Nya.”
(Abū Nu‘aim, Hilyat al-Auliyā’, 2/147)

Maka Ramadhan ibarat sebuah medan perlombaan, tempat setiap mukmin berusaha memperbanyak amal, memperbaiki diri, dan mendekat kepada Rabb-nya. Namun pertanyaan penting yang harus kita renungkan bersama adalah: apakah perlombaan itu berhenti ketika Ramadhan berakhir? Apakah semangat ibadah yang begitu kuat di bulan ini akan ikut hilang bersama berlalunya Ramadhan? Seorang mukmin sejati tidak menjadikan Ramadhan sebagai satu-satunya waktu untuk beribadah, tetapi menjadikannya sebagai awal dari perjalanan panjang menuju ketaatan yang lebih baik. Karena Rabb yang kita sembah di bulan Ramadhan adalah Rabb yang sama yang kita sembah di bulan-bulan setelahnya.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Demikianlah beberapa pesan penting yang diajarkan oleh Ramadhan kepada kita. Ramadhan mengajarkan bahwa meninggalkan maksiat itu mungkin, bahwa hati manusia sangat membutuhkan Al-Qur’an, dan bahwa ibadah dapat dilakukan dengan sungguh-sungguh ketika iman hidup di dalam dada. Karena itu jangan sampai Ramadhan berlalu tanpa meninggalkan perubahan dalam diri kita. Jangan sampai Ramadhan hanya menjadi kenangan yang indah, tetapi tidak meninggalkan bekas dalam perilaku dan kehidupan kita setelahnya. Seorang mukmin yang benar-benar mengambil pelajaran dari Ramadhan akan keluar dari bulan ini dengan hati yang lebih bersih, iman yang lebih kuat, dan tekad yang lebih kokoh untuk terus berjalan di jalan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

 

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ الزَّادِ لِقَاءِ اللَّهِ تَقْوَى اللَّهِ تَعَالَى.

Muhasabah: Apakah Kita Berubah atau Hanya Melewati Ramadhan?

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Di penghujung Ramadhan ini, ada satu perkara penting yang perlu kita renungkan bersama, yaitu melakukan muhasabah terhadap diri kita masing-masing. Ramadhan yang diterima oleh Allah bukan hanya Ramadhan yang dipenuhi dengan berbagai ibadah, tetapi Ramadhan yang meninggalkan perubahan nyata dalam kehidupan seorang hamba. Sebab tujuan ibadah bukan sekadar dilakukan, melainkan untuk memperbaiki hati dan perilaku. Karena itu Allah Subhanahu wa Ta‘ala mengingatkan kita agar selalu melihat kembali apa yang telah kita persiapkan untuk kehidupan di masa depan, terutama untuk kehidupan akhirat. Allah Ta‘ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok (akhirat). Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)

Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa seorang mukmin tidak hanya sibuk beramal, tetapi juga senantiasa mengevaluasi dirinya: apakah ibadah yang dilakukan benar-benar membawa perubahan dalam hidupnya, atau hanya sekadar menjadi rutinitas yang berlalu begitu saja.

Para ulama juga memberikan satu kaidah yang sangat indah dalam menilai diterimanya sebuah amal. Mereka mengatakan:

ثَوَابُ الْحَسَنَةِ الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا

“Balasan dari sebuah kebaikan adalah kebaikan setelahnya.” (Hilyat al-Auliya, karya Abu Nu’aym al-Asbahani, 2/147)

Artinya, salah satu tanda bahwa sebuah amal diterima oleh Allah adalah munculnya amal kebaikan berikutnya setelah itu. Jika setelah Ramadhan seseorang semakin rajin shalat berjamaah, lisannya semakin terjaga dari ucapan yang buruk, hatinya semakin dekat dengan Al-Qur’an, dan kehidupannya semakin dipenuhi dengan ketaatan, maka itu adalah pertanda baik bahwa Ramadhan telah meninggalkan cahaya dalam hatinya. Namun sebaliknya, jika setelah Ramadhan berlalu seseorang kembali kepada kebiasaan lama—shalat mulai ditinggalkan, lisan kembali bebas menyakiti, dan hati kembali jauh dari mengingat Allah—maka itu menunjukkan bahwa pesan Ramadhan belum benar-benar meresap ke dalam jiwanya. Oleh karena itu, marilah kita jadikan Ramadhan ini sebagai titik awal perubahan menuju kehidupan yang lebih baik dan lebih dekat kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala.

Pesan Terakhir: Jadikan Ramadhan Awal Perubahan, Bukan Akhir Ibadah

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Pesan terakhir yang perlu kita renungkan dari Ramadhan adalah bahwa Ramadhan bukanlah garis akhir dari ibadah kita, melainkan titik awal perjalanan kita menuju Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Ramadhan datang untuk melatih hati kita agar terbiasa dengan ketaatan, agar jiwa kita akrab dengan ibadah, dan agar kehidupan kita lebih dekat dengan Allah. Karena itu, jangan sampai semangat ibadah yang begitu hidup selama Ramadhan justru padam ketika bulan ini berlalu. Ketahuilah bahwa Allah yang kita sembah di bulan Ramadhan adalah Allah yang sama yang kita sembah di bulan-bulan setelahnya. Dia bukan hanya Rabb di bulan Ramadhan, tetapi Rabb sepanjang tahun, Rabb yang selalu melihat amal kita, dan Rabb yang senantiasa menunggu taubat hamba-hamba-Nya.

Karena itu para ulama salaf memberikan nasihat yang sangat dalam maknanya:

كُونُوا رَبَّانِيِّينَ وَلَا تَكُونُوا رَمَضَانِيِّينَ

“Jadilah kalian hamba Allah sepanjang waktu, jangan hanya menjadi hamba Ramadhan.” (Abd al-Aziz ibn Baz, Majmū‘ Fatāwā wa Maqālāt Mutanawwi‘ah, 15/414)

Artinya, jangan sampai ketaatan kita hanya hidup di bulan Ramadhan lalu mati setelahnya. Bawalah pesan Ramadhan ke bulan-bulan berikutnya: tetaplah menjaga shalat berjamaah di masjid, tetaplah dekat dengan Al-Qur’an, tetap menjaga lisan dan hati dari dosa, serta tetap memperbanyak sedekah dan amal kebaikan. Jika kebiasaan-kebiasaan baik ini terus kita jaga setelah Ramadhan, maka itulah tanda bahwa Ramadhan benar-benar telah meninggalkan cahaya dalam hati kita dan menuntun langkah kita menuju kehidupan yang lebih dekat kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala.

Penutup: Doa agar Ramadhan Diterima dan Diberi Keistiqamahan

فَيَا عِبَادَ اللَّهِ أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى زَادُ الْقُلُوبِ، وَنُورُ الطَّرِيقِ، وَعِصْمَةُ الْعَبْدِ فِي الشِّدَّةِ وَالرَّخَاءِ. فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَاسْتَمْسِكُوا بِالْهُدَى، وَأَكْثِرُوا مِنَ الِاسْتِغْفَارِ، فَإِنَّهُ أَمَانُ الْعِبَادِ وَسَبَبُ الرَّحْمَةِ وَدَفْعِ الْبَلاءِ.

فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ  إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.

اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَرُكُوعَنَا وَسُجُودَنَا وَتِلَاوَتَنَا لِكِتَابِكَ، اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا رَمَضَانَ، وَاجْعَلْنَا فِيهِ مِنَ الْمَقْبُولِينَ، وَلَا تَجْعَلْنَا فِيهِ مِنَ الْمَحْرُومِينَ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا كُلَّهَا، دِقَّهَا وَجِلَّهَا، أَوَّلَهَا وَآخِرَهَا، سِرَّهَا وَعَلَانِيَتَهَا، وَتُبْ عَلَيْنَا تَوْبَةً نَصُوحًا يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

اَللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَاَرْزُقْنَا الِاسْتِقَامَةَ بَعْدَ رَمَضَانَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِمَّنْ يَعْبُدُكَ فِي رَمَضَانَ فَقَطْ، بَلْ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ الَّذِينَ يَسْتَقِيمُونَ عَلَى طَاعَتِكَ طُولَ أَعْمَارِهِمْ. اَللَّهُمَّ بَلِّغْنَا رَمَضَانَ أَعْوَامًا كَثِيرَةً وَأَزْمِنَةً مَدِيدَةً وَنَحْنُ فِي صِحَّةٍ وَإِيمَانٍ وَعَافِيَةٍ، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْحُسْنَى، إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْمُجِيبُ.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ. وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Sumber : santridarsya.xo.je

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
12,700PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
9,600PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami