Home / Sejarah / Perkembangan dan Tipologi Pesantren

Perkembangan dan Tipologi Pesantren

 

 

Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia, tidak saja pendidikan Islam bahkan juga pendidikan di idoesia secara umum. Meski sudah ada lembaga pendidikan pra Islam (era Hindu dan Budha) namun lembaga-lembaga pendidikan itu tak lagi berkembang. Hal ini disebabkan karena lembaga pendidikan era Hindu-Budha bersifat elitis, hanya kalangan bangsawan dan pendeta saja yang boleh menikmatinya.

Berbeda dengan pendidikan era sebelumnya. Sejalan dengan Islam yang tak mengenal kasta. Pesantren semenjak dirintis melalui dakwah Maulaa Malik Ibrahim di Gresik  dan kemudian wujud melalui tangan Sunan Ampel, pesantren telah menjadi lembaga pendidikan yang merakyat.  Pesantren Sunan Ampel yang pada awalnya hanya memiliki tiga orag santri yaitu Wiryo Suroyo, Abu Huroirah dan Kiai Bengkuning, akhirnya mencapai kesuksesan. Pesantren beliau kemudian sangat di kenal di kalangan masyarakat Majapahit. Setelah itu bermunculan pesantren-pesantren lain yang didirikan oleh putra beliau dan alumni pesantren beliau. Misalnya pesantren yang dikelola oleh Raden Patah di Glagah Wangi (cikal bakal kerajaan Demak), pesantren di Tuban yang didirikan oleh Sunan Bonang. (Abdul Qadir Jaelani, Peran Ulama Dan Santri Dalam Perjuangan Politik Islam di Indonesia hal 12-13 )

Kesederhaaan pesantren dahulu sangat terlihat baik dari segi bangunan fisik, metode maupun sarana pembelajaran. Hal ini dilatarbelakangi oleh kondisi masyarakat dan  ekonomi saat itu yang sangat minim di tengah krisis yang tengah melanda Majapahit. Hal yang menjadi penopang utama kekuatan pesantren adalah keikhlasan para kiai dan santri. Hubungan kiai  dan santri tak sekadar hubungan guru dan murid, lebih dari itu kiai  dan santri laksana orang tua dan anak. Tak heran mereka sangat kerasan tinggal di pesantren meski kehidupannya sangat sederhana. Bentuk wujud keikhlasan santri kala itu, mereka tidak dipungut biaya tertentu, namun mereka bertani atau berdagang bersama-sama. Hasilnya kemudian digunakan untuk membiayai kehidupan sehari-hari di pesantren serta kebutuhan pendidikan seperti tinta, tikar, bangku kecil dan lain sebagainya.

Pembelajaran di pesantren kala itu juga sederhana. Buku yang dikaji adalah kitab-kitab turots (warisan) para ulama yang berkisar pada ilmu nahwu, shorof, fiqh, hadits dan lain sebagainya. Kitab-kitab itu dikenal sebagai kitab kuning. Namun yang paling menonjol adalah Nahwu dan Fiqh. Nahwu dianggap sebagai ilmu kunci untuk memahami bahasa Arab. Sedangkan fiqh dianggap sebagai solusi pemecahan masalah yang ada di masyarakat. Sehingga pesantren kala itu dikenal dengan dua orientasi. Nahwu oriented atau Fiqh oriented. Sampai saat ini  pun umumnya pembelajaran bahsa Arab di Indonesia memang masih berorientasi Nahwu (gramatikal). Penerjemahanya pun dengan terjemahan bahasa daerah yang ketat alur nahwunya. Metode ini sampai saat ini dikenal dengan metode ‘utawi iki-iku’ (akan di bahasa dalam artikel-artikel selajutnya).

Masa pendidikan saat itu juga tak ada ketetuan yang pasti. Semuanya menyesuaikan keinginan para santri. Atau bila dalam pandangan sang kiai sang santri sudah dianggap mumpuni maka ia akan diizzinkan meninggalkan pesantren untuk menyebarkan ilmunya. Ada pula yang diminta melanjutkan studi kepada kiai lain yang dianggap lebih ilmunya. Para santri yang dianggap tekun biasanya akan memperoleh ‘ijazah’. Biasanya ijazah terkait kemampuan menyelesaikan pengkajian satu kitab tertentu. Ijazah juga menandai tersambungnya ilmu sang santri dengan mata rantai ilmu sang kiai hingga ke guru-guru di atas sang kiai.

Pesantren juga sangat egaliter pada masa itu. Hal ini terlihat dari menyatunya kompleks pesantren dengan lingkugan masyarakat sekitar. Tak ada tembok dan pagar yang membatasi. Pesantren dan masyarakat tempo dulu begitu menyatu. Tak heran Islam begitu cepat diterima di Nusantara. Di beberapa pesantren kecil di sebagian wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat model seperti ini masih dipertahankan. Misalnya di desa Jejeran kecamatan Pleret, kabupaten Bantul, Yogyakarta. Di desa itu ada puluhan pesantren yang menyatu dengan masyarakat sekitar. Umumnya para santri mengkajji ilmu agama di sore dan malam hari. Pagi harinya mereka sekolah di sekolah formal yang dekat dengan lokasi pesantren.

 

Tipologi Pesantren.

Sejalan dengan perubahan situasi, zaman, kebutuhan masyarakat dan perkembangan dakwah Islam pesantren mengalami berbagai dinamika perkembangan. Perkembangan itu melahirkan beberapa model atau tipe pesantren yang telah dikenal saat ini. Paling tidak ada dua model pesantren yang saat ini dikenal yaitu:

  1. Pesantren Salafi (Tradsional)

Istilah salafi berasal dari kata salaf yang bermakna sesuatu yang dahulu dalam hal usia maupun kemuliaan (Lisanul Arab Vol. 9 hal 159). Secara terminologi istilah ini memliki makna orang yang mengikuti para shahabat Rasulullahg serta dua generasi berikutnya yaitu tabi’in dan tabi’ut tabi’in (Ma’alim Intilaqatul Kubra, abdul Hadi Al-Mishry , hal 58).  Namun di Indonesia istilah ini juga merujuk kepada model pesantren yang membatasi diri dengan pengajaran kitab-kitab klasik (kitab turots) atau kitab kuning tanpa pengajaran pengetahuan umum. Model pengajarannya menggunakan metode-metode seperti sorogan, wetonan dan bandongan (Masykur Anhari, Integrasi Sekolah ke Dalam Sistem Pedidikan Pesatren, hal 26-27)

Istilah sorogan berasal dari kata sorog (bahasa jawa) yang berarti menyodorkan, sebab setiap santri menyodorkan kitabnya di hadapan kyai atau pembantunya –asisten kiai. Sistem sorogan ini termasuk belajar secara individual, yaitu seorang santri berhadapan seorang guru dan terjadi interaksi saling mengenal di antara keduanya. Santri membaca kitab dan guru menyimak serta membetulkan kesalahan santri. Sistem ini memungkinkan seorang guru mengawasi, menilai dan membimbing secara maksimal kemampuan seorang murid dalam menguasai bahasa arab. (Zamaksysry Dhofier, Tradisi pesantren, hal 28). Metode ini dalam sistem pedidikan di timur tengah dikenal sebagai metode Talaqqi

Waton/bandongan atau wetonan ini berasal dari kata wektu (bhs.Jawa) yang berarti waktu, sebab pengajian tersebut diberikan pada waktu-waktu tertentu, sebelum atau sesudah melakukan shalat fardhu. Metode weton ini merupakan metode kuliah, yaitu para santri mengikuti pelajaran dengan duduk di sekeliling kiai yang menerangkan pelajaran secara kuliah, santri menyimak kitab masing-masing dan membuat catatan padanya. ( Zamakssyary Dhofier , Tradisi Pesantren , Hal 28)

  1. Pesantren Khalafi

Secara bahasa kata khalaf adalah lawan kata salaf, yang bermaka sesuatu yang datang belakangan. Dalam dunia pesantren di Indonesia istilah ini merujuk kepada suatu sistem pesantren yang telah menetapkan sistem pendidikan modern dan memasukkan pelajaran umum dalam pembelajarannya. Secara terminology istilah ini sama dengan pesatren modern. Pesantren ini menerapkan sistem klasial (madrasi) serta memasukkan pengetahuan umum dalam mata pelajarannya. Juga berbagai ilmu keterampilan. (Masykur Anhari, Integrasi Sekolah Ke Dalam Sistem Pedidikan Pesatren, hal 26-27). Oleh karena itu pesantren khalafi mengadopsi sistem klasifikasi dan jenjang sebagaimana yang diterapkan pemeritah mulai SD/MI, MTS/SMP, SMA /Aliyah da PT/ Ma’had ‘Aly.

Dalam perkembangan saat ini ada pula yang mencoba memadukan antara sistem Salaf dan sistem khalaf. Bahkan muncul pula model-model pesantren yang lain seperti pesantren kilat. Semua ini menambuktikan betapa pesantren merupakan lembaga pendidikan unggulan yang mampu beriteraksi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri. Oleh karena itu upaya kriminalisai pesantren sejatinya adalah uaya pembodohan bangsa dan umat Islam.

Wallahu a’lam.

 

 

 

 

 

Baca Juga

Hakikat Sejarah

Istilah sejarah dalam bahasa arab dikenal dengan târîkh, dari akar kata arrakha yang berarti menulis ...

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami