Home / Sejarah / Sebuah Pengantar Sejarah Pesantren

Sebuah Pengantar Sejarah Pesantren

Beberapa waktu yang lalu BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) merilis daftar 19 Pesantren yang tertuduh menyebarkan atau mengajarkan radikalisme. Memang  belakangan ini nampak ada upaya sistematis  untuk mengkriminalkan Islam dan Pesantren. Padahal, bila kita mengkaji sejarah pesantren -lembaga pendidikan independen tertua di Indonesia- pesantren telah menorehkan sejarah gemilang dalam menjaga eksistensi bangsa Insonesia. Banyak tokoh-tokoh Nasional yang memiliki andil dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI lahir dari rahim pesantren .

Oleh karena itu sebagai upaya pembelajaran sejarah bagi generasi muda hari ini kami hadirkan. Kajian berseri tentang sejarah pesantren. Kami sajikan pula profil beberapa pesantren di Indonesia  serta peran serta mereka dalam memperjuangkan Islam di bumi Indonesia tercinta ini.

Apa Itu Pesantren?

Pesantren atau pondok pesantren berasal dari dua kata pondok dan pesantren. Pondok pesantren merupakan dua istilah yang menunjukkan satu pengertian. Pesantren menurut pengertian dasarnya adalah tempat belajar para santri, sedangkan pondok berarti rumah atau tempat tinggal sederhana terbuat dari bambu. Di samping itu, kata pondok mungkin berasal dari bahasa Arab Funduq yang berarti asrama atau hotel. Di Jawa termasuk Sunda dan Madura umumnya digunakan istilah pondok dan pesantren. Sedang di Aceh dikenal dengan Istilah dayah atau rangkang atau menuasa. Sedangkan di Minangkabau disebut surau (Wacana Islam, Ciamis Pusat Informasi Pesantren,Irfan Hielmy, hal. 120)

Pendapat lain menyatakan bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam. Rata-rata sistemnya  nonklasikal, di mana seorang kiai mengajarkan ilmu agama Islam kepada santri-santri berdasarkan kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh Ulama Abad pertengahan, dan para santrinya biasanya tinggal di pondok (asrama) dalam pesantren tersebut (Bilik-Bilik Pesantren Sebuah Potret Perjalanan oleh Nurcholish Majid, hal. 5)

Dalam literatur bahasa Arab ada satu istilah yang sepadan dengan pesantren yaitu ma’had. Ma’had adalah tempat hadir orang banyak yang didirikan untuk mengajarkan ilmu  (Al-Mu’jam Al-Wasith, 2/634)

Kapan Pertama Kali Pesantren Didirikan

Tentang kehadiran pesantren secara pasti di Indonesia pertama kalinya, dimana dan siapa pendirinya, tidak dapat diperoleh keterangan yang pasti. Berdasarkan hasil pendataan yang dilaksanakan oleh Departemen Agama pada tahun 1984-1985 diperoleh keterangan bahwa pesantren tertua didirikan pada tahun 1062 di Pamekasan Madura, dengan nama Pesantren Jan Tampes II. Akan tetapi hal ini  juga diragukan, karena tentunya ada Pesantren Jan Tampes I yang lebih tua. Kendatipun Islam tertua di Indonesia yang peran sertanya tidak diragukan lagi, adalah sangat besar bagi perkembangan Islam di nusantara.

Pendapat lain mengatakan bahwa orang yang pertama kali mendirikan pesantren adalah Raden Rahmat atau yang dikenal sebagai Sunan Ampel.  Beliau mendirikan pesantren di Kembang Kuning, yang pada waktu didirikan hanya memiliki tiga orang santri, yaitu Wiryo Suroyo, Abu Hurairah dan Kyai Bangkuning. Kemudian ia pindah ke Ampel Denta, Surabaya dan mendirikan  pondok pesantren di sana. Misi keagamaan dan pendidikan Sunan Ampel mencapai sukses, sehingga beliau dikenal oleh masyarakat Majapahit. Kemudian  bermunculan pesantren-pesantren baru yang didirikan oleh para santri dan putra  beliau. Misalnya oleh Raden Patah, dan Pesantren Tuban oleh Sunan Bonang (Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren Studi tentang Pandangan Hidup Kyai, LP3S. Hal: 49)

Elemen Dasar Sebuah Pesantren

  1. Pondok

Sebuah pondok pada dasarnya merupakan sebuah asrama pendidikan Islam tradisional di mana para siswanya (santri) tinggal bersama di bawah bimbingan seorang atau lebih guru yang lebih dikenal dengan Kyai atau Ustadz. Sistem ini menunjang terbentuknya iklim khas pesantren yang bersifat egaliter dan kekeluargaan  dalam interaksi antara Kyai dan santri, dan antara satu santri dengan santri yang lain. Dengan adanya sistem itu Sang kiayi pun lebih memungkinkan menanamkan nilai-nilai kepada para santri.  Sistem ini juga  memungkinkan para santri untuk lebih memperdalam ilmu agama secara lebh intensif.

  1. Masjid

Masjid merupakan elemen yang tak dapat dipisahkan dengan pesantren dan dianggap sebagai tempat yang paling tepat untuk mendidik para santri. Terutama dalam praktik ibadah lima waktu, khotbah dan shalat Jumat dan pengajaran kitab-kitab Islam klasik. Tradisi ini telah ada di masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  di mana masjid menjadi sentral segala aktivitas, utamanya adalah dalam mentransfer nilai-nilai Islam di kalangan para shahabat Subhanahu wa Ta’ala. Spirit inilah yang terus dipelihara dan menjadi tradisi pesantren.

  1. Pengajaran Kitab-kitab Klasik

Sejak tumbuhnya pesantren, pengajaran kitab-kitab klasik diberikan sebagai upaya untuk meneruskan tujuan utama pesantren yaitu mendidik calon-calon ulama yang setia terhadap paham Islam tradisional. Karena itu kitab-kitab Islam klasik merupakan bagian integral dari nilai dan paham pesantren yang tidak dapat dipisah-pisahkan.

Penyebutan kitab-kitab Islam klasik di dunia pesantren lebih populer dengan sebutan “kitab kuning”, tetapi asal usul istilah ini belum diketahui secara pasti. Mungkin penyebutan istilah tersebut guna membatasi dengan tahun karangan atau disebabkan warna kertas dari kitab tersebut berwarna kuning. Tetapi argumentasi ini kurang tepat sebab pada saat ini kitab-kitab Islam klasik sudah banyak dicetak dengan kertas putih.

Pengajaran kitab-kitab Islam klasik oleh pengasuh pondok (Kyai) atau ustadz biasanya dengan menggunakan sistem sorogan, wetonan, dan bandongan. Kitab-kitab Islam klasik yang diajarkan di pesantren menurut Zamakhsyari Dhofir dapat digolongkan ke dalam 8 kelompok, yaitu: (1) Nahwu (syntax) dan Sharaf (morfologi), (2) Fiqih (hukum), (3) Ushul Fiqh (yurispundensi), (4) Hadits, (5) Tafsir, (6) Tauhid (theologi), (7) Tasawuf dan Etika, (8) Cabang-cabang lain seperti Tarikh (sejarah) dan Balaghah (Tradisi Pesantren, Studi tentang Pandangan Hidup Kyai,Hal: 49)

  1. Santri

Santri merupakan sebutan bagi para siswa yang belajar mendalami agama di pesantren. Biasanya para santri ini tinggal di pondok atau asrama pesantren yang telah disediakan. Namun ada pula santri yang tidak tinggal di tempat yang telah disediakan tersebut yang biasa disebut dengan santri kalong .

Dalam menjalani kehidupan di pesantren, pada umumnya mereka mengurus sendiri keperluan sehari-hari dan mereka mendapat fasilitas yang sama antara santri yang satu dengan lainnya. Santri diwajibkan menaati peraturan yang ditetapkan di dalam pesantren tersebut dan apabila ada pelanggaran akan dikenakan sanksi sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan.

  1. Kyai

Istilah Kyai bukan berasal dari bahasa Arab, melainkan dari bahasa Jawa.  Kata Kyai mempunyai makna yang agung, keramat, dan dituahkan. Selain gelar Kyai diberikan kepada seorang laki-laki yang lanjut usia, arif, dan dihormati di Jawa. Gelar Kyai juga diberikan untuk benda-benda yang keramat dan dituahkan, seperti keris dan tombak. Namun pengertian paling luas di Indonesia, sebutan Kyai dimaksudkan untuk para pendiri dan pemimpin pesantren, yang sebagai muslim terhormat telah membaktikan hidupnya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala serta menyebarluaskan dan memperdalam ajaran-ajaran serta pandangan Islam melalui pendidikan.

Kyai berkedudukan sebagai tokoh sentral dalam tata kehidupan pesantren, sekaligus sebagai pemimpin pesantren. Dalam kedudukan ini nilai kepesantrenannya banyak tergantung pada kepribadian Kyai sebagai suri teladan dan sekaligus pemegang kebijaksanaan mutlak dalam tata nilai pesantren.  Demikianlah sekelumit sejarah awal pesantren di Indonesia semoga bermanfaat. (dari berbagai sumber)

 

Oleh : Ust. Syahidan Sulthoni, S.Psi

Baca Juga

Hakikat Sejarah

Istilah sejarah dalam bahasa arab dikenal dengan târîkh, dari akar kata arrakha yang berarti menulis ...

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami

DIBUKA KEMBALI PSB-2020/2021-Gel-(2) khusus Unit-DIDMulai 1 Maret 2020
+ +