Daftar Isi
KHUTBAH PERTAMA
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْإِسْلَامِ وَالْإِيْمَانِ، وَهَدَانَا لِمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ وَحُسْنِ الْبَيَانِ، وَأَمَرَنَا بِحِفْظِ الْأَلْسِنَةِ عَنِ الْبَاطِلِ وَالْعُدْوَانِ، وَجَعَلَ خَيْرَ الْكَلَامِ مَا دَلَّ عَلَى الْخَيْرِ وَالْإِحْسَانِ وَالْإِصْلَاحِ بَيْنَ الْأَنَامِ. نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَشْكُرُهُ، وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً نَرْجُوْ بِهَا النَّجَاةَ يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُوْنَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَرْسَلَهُ اللّٰهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ، وَهَادِيًا إِلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ الْمُقَصِّرَةَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ الْمَعَادِ، وَهِيَ سَبَبُ النَّجَاةِ وَالْفَلَاحِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.
قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى:يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
وَرَوَى الْإِمَامُ التِّرْمِذِيُّ فِيْ سُنَنِهِ مِنْ حَدِيْثِ أَبِيْ ذَرٍّ وَمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ:
اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:۞ لَا خَيْرَ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنْ نَّجْوٰىهُمْ اِلَّا مَنْ اَمَرَ بِصَدَقَةٍ اَوْ مَعْرُوْفٍ اَوْ اِصْلَاحٍۢ بَيْنَ النَّاسِۗ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا
Mukadimah
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā yang masih melimpahkan kepada kita nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan sehingga pada hari yang mulia ini kita masih dapat menghadiri shalat Jum’at dalam keadaan penuh harap kepada rahmat-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, teladan terbaik dalam menjaga lisan, memperindah akhlak, dan mengarahkan manusia kepada kebaikan. Dan marilah kita memperkuat ketakwaan kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa, karena takwa adalah bekal terbaik menuju kehidupan akhirat.
Jamaah yang dimuliakan Allah, manusia hari ini hidup di tengah banjir komunikasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dari pagi hingga malam, hidup kita dipenuhi obrolan dan percakapan; tongkrongan di warung kopi, percakapan di grup WhatsApp, komentar di media sosial, podcast, live streaming, hingga candaan yang tidak pernah berhenti. Lisan berbicara, jari-jari mengetik, telinga mendengar, mata membaca, semuanya bergerak hampir tanpa jeda.
Namun, kaum muslimin rahimakumullah, semakin banyak bicara belum tentu semakin banyak pahala. Betapa sering waktu berjam-jam habis hanya untuk membahas kehidupan orang lain, memperdebatkan perkara yang tidak bermanfaat, menertawakan kekurangan seseorang, atau sekadar candaan yang melalaikan hati dari mengingat Allah. Tidak sedikit majelis yang awalnya dianggap hiburan biasa ternyata perlahan mengeraskan hati, menghabiskan umur, bahkan menjadi sebab lahirnya dosa yang terus mengalir. Malam-malam berlalu dengan obrolan panjang dan tawa yang keras, tetapi shalat Subuh menjadi berat, tilawah Al-Qur’an semakin jarang, doa semakin hambar, dan hati semakin jauh dari kekhusyukan. Ironisnya, manusia sering merasa lelah untuk ibadah, tetapi tidak pernah lelah untuk berbincang sia-sia sampai larut malam.
Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah, mari kita bertanya kepada diri kita masing-masing dengan penuh kejujuran: berapa banyak obrolan yang sudah kita lakukan sepanjang hidup ini? Berapa banyak percakapan yang benar-benar bernilai di sisi Allah? Berapa banyak kata yang menjadi pahala, dan berapa banyak yang justru menjadi penyesalan? Jangan sampai umur kita habis dalam ramainya percakapan, tetapi miskin nilai di hadapan Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Sebab setiap ucapan akan dicatat, setiap tulisan akan dihisab, dan setiap detik yang berlalu tidak akan pernah kembali. Maka seorang muslim yang cerdas bukan hanya pandai berbicara, tetapi juga pandai memilih mana ucapan yang mendekatkan dirinya kepada ridha Allah dan mana yang hanya menghabiskan sisa umurnya tanpa manfaat.
Ramainya Percakapan, Sedikitnya Nilai Kebaikan
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā memberikan peringatan yang sangat mendalam dalam firman-Nya:
۞ لَا خَيْرَ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنْ نَّجْوٰىهُمْ اِلَّا مَنْ اَمَرَ بِصَدَقَةٍ اَوْ مَعْرُوْفٍ اَوْ اِصْلَاحٍۢ بَيْنَ النَّاسِۗ
“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisik mereka, kecuali bisik-bisik dari orang yang menyuruh bersedekah, berbuat ma’ruf, atau mendamaikan manusia.” (QS. An-Nisā’: 114).
Perhatikanlah, jamaah yang dimuliakan Allah, Allah tidak mengatakan bahwa seluruh obrolan manusia itu buruk, tetapi Allah mengatakan “tidak banyak kebaikan” dalam kebanyakan percakapan mereka. Ini menunjukkan bahwa mayoritas pembicaraan manusia sering kali minim nilai di sisi Allah. Betapa banyak percakapan yang hanya menghabiskan waktu tanpa mendekatkan hati kepada-Nya. Ada obrolan yang panjang tetapi kosong dari hikmah, ramai dengan tawa tetapi sepi dari pahala, penuh komentar tetapi miskin manfaat. Ayat ini seperti tamparan keras bagi budaya ngobrol tanpa arah yang hari ini begitu akrab dalam kehidupan manusia; nongkrong berjam-jam tanpa tujuan, debat tanpa ilmu, candaan yang melukai, hingga kebiasaan membahas kehidupan orang lain seolah itu hiburan sehari-hari.
Kaum muslimin rahimakumullah,
Kadang kita begitu pandai menghabiskan waktu untuk berbicara, tetapi sangat sedikit berbicara yang benar-benar bernilai ibadah. Lisan begitu ringan berkomentar tentang urusan dunia, tetapi berat untuk berdzikir dan memberi nasihat. Jari-jari begitu cepat mengetik dalam percakapan yang sia-sia, tetapi lambat untuk menulis kalimat yang mengajak kepada kebaikan. Padahal setiap kata yang keluar tidak akan hilang begitu saja; semuanya tercatat di sisi Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Karena itu ayat ini mengajarkan kepada kita agar setiap majelis, setiap obrolan, dan setiap komunikasi diarahkan kepada sesuatu yang bernilai: mengajak kepada sedekah, mengingatkan kepada kebaikan, dan memperbaiki hubungan sesama manusia. Sebab seorang muslim yang cerdas bukanlah yang paling banyak bicara, tetapi yang paling mampu menjaga lisannya agar menjadi jalan pahala, bukan jalan penyesalan di hari kiamat.
Ketika Obrolan Menjadi Sebab Lalainya Hati
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Salah satu fenomena yang sangat akrab dalam kehidupan manusia hari ini adalah budaya berkumpul dan berbincang tanpa batas. Banyak orang menghabiskan malam demi malam untuk nongkrong sampai larut, duduk berjam-jam tanpa arah dan tujuan yang jelas. Warung kopi penuh hingga tengah malam, grup chat tidak pernah sepi dari percakapan, media sosial dipenuhi komentar dan candaan yang terus mengalir tanpa henti. Konten viral dijadikan bahan tertawaan, gosip dianggap hiburan, gibah dianggap hal biasa, bahkan membahas aib orang lain terkadang dianggap sebagai bentuk keakraban dalam pergaulan. Ironisnya, banyak manusia begitu takut kehilangan momen obrolan, tetapi tidak takut kehilangan keberkahan waktu dan ketenangan hati. Malam habis dalam tawa dan candaan, namun hati semakin jauh dari dzikir kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah,
Islam bukan agama yang melarang manusia bercanda, berkumpul, atau bersosialisasi. Rasulullah ﷺ juga bercanda bersama para sahabat, berbicara dengan keluarga, dan bergaul dengan manusia penuh keramahan. Akan tetapi Islam memberikan standar yang jelas terhadap setiap ucapan dan majelis. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Al-Bukhārī, no. 6018; Muslim, no. 47).
Hadis ini mengajarkan bahwa ukuran mulia tidaknya sebuah obrolan bukan pada seberapa ramai tawanya, tetapi pada seberapa besar manfaat dan nilai kebaikannya di sisi Allah. Karena itu seorang muslim harus bertanya kepada dirinya sendiri sebelum berbicara: apakah ucapan ini mendekatkan diriku kepada Allah atau justru menjauhkan? Sebab tidak semua yang lucu itu berpahala, tidak semua yang ramai itu membawa keberkahan, dan tidak semua yang dianggap hiburan itu selamat dari hisab di akhirat kelak.
Kaum muslimin rahimakumullah,
Para ulama sejak dahulu telah mengingatkan bahaya banyak bicara tanpa kendali. Disebutkan dalam sebuah nasihat:
مَنْ كَثُرَ كَلَامُهُ كَثُرَ سَقَطُهُ
“Siapa yang banyak bicaranya, maka banyak pula kesalahannya.” (Disebutkan oleh Al-Jāḥiẓ dalam Al-Bayān wa At-Tabyīn, jilid 1, halaman 316).
Betapa banyak manusia menyesal hanya karena satu kalimat yang keluar beberapa detik dari lisannya, tetapi dosanya bertahan bertahun-tahun. Ada ucapan yang merusak persaudaraan, menghancurkan rumah tangga, memutus hubungan keluarga, bahkan menjadi sebab permusuhan panjang. Lebih menyedihkan lagi, sebagian orang begitu menjaga penampilannya di hadapan manusia, tetapi tidak menjaga lisannya di hadapan Allah. Karena itu, sebelum waktu kita habis dalam obrolan yang sia-sia, marilah kita belajar menjadikan lisan ini lebih bernilai; lisan yang mengingatkan kepada kebaikan, menenangkan hati manusia, dan menjadi jalan keselamatan kita di akhirat nanti.
Tiga Obrolan yang Dicintai Allah
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Di tengah banyaknya percakapan yang sia-sia, Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā memberikan tiga jenis obrolan yang bernilai besar di sisi-Nya. Yang pertama adalah percakapan yang mengajak kepada sedekah dan kepedulian sosial. Betapa mulianya sebuah majelis ketika dari sana lahir bantuan untuk orang sakit, santunan bagi fakir miskin, donasi untuk korban musibah, atau kepedulian kepada sesama yang sedang kesusahan. Rasulullah ﷺ bersabda:
الدَّالُّ عَلَى الْخَيْرِ كَفَاعِلِهِ
“Orang yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti pelakunya.” (HR. Muslim, no. 1893).
Hadis ini mengajarkan bahwa sekadar mengajak kepada kebaikan pun sudah bernilai pahala besar di sisi Allah. Karena itu bayangkan jika obrolan-obrolan kita bukan lagi tempat dosa mengalir, tetapi menjadi tempat pahala mengalir. Bayangkan jika grup WhatsApp digunakan untuk menggalang bantuan, jika pertemuan anak-anak muda melahirkan gerakan sosial, dan jika lisan kita menjadi sebab hadirnya manfaat bagi orang lain. Sungguh, manusia terbaik bukan yang paling banyak berbicara, tetapi yang paling besar manfaatnya bagi sesama.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Yang kedua adalah obrolan yang mengajak kepada perkara ma’ruf dan kebaikan. Hari ini manusia lebih mudah saling mengomentari daripada saling menasihati. Padahal kadang seseorang sangat membutuhkan satu kalimat tulus untuk menyelamatkan dirinya dari dosa. Amar ma’ruf tidak selalu harus berupa ceramah panjang di atas mimbar. Terkadang cukup dengan ucapan sederhana: “Ayo shalat dulu,” “Sudahlah, jangan gibah,” atau “Kasihan kalau itu jadi dosa.” Kalimat-kalimat kecil seperti itu mungkin terdengar biasa, tetapi bisa menjadi sebab hidayah bagi seseorang sepanjang hidupnya. Bisa jadi ada orang yang mulai rajin shalat karena satu nasihat yang lembut, ada yang meninggalkan maksiat karena satu teguran yang penuh kasih sayang, dan ada yang terselamatkan dari dosa karena satu ucapan yang keluar dari lisan seorang sahabatnya. Maka jangan pernah meremehkan nasihat kecil yang disampaikan dengan hati yang ikhlas, sebab Allah mampu menjadikan satu kalimat sederhana sebagai pembuka pintu kebaikan yang besar.
Kaum muslimin rahimakumullah,
Yang ketiga adalah obrolan yang mendamaikan manusia. Inilah salah satu amal yang sangat dicintai Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Di zaman sekarang manusia begitu mudah bertengkar; karena politik, warisan, organisasi, media sosial, bahkan hanya karena perkara sepele. Ada orang yang gemar memanas-manasi keadaan, menyebarkan screenshot percakapan, mengadu domba, dan menikmati konflik yang terjadi di antara sesama muslim. Padahal Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa mendamaikan manusia lebih utama daripada banyak ibadah sunnah. Islam mengajarkan agar seorang muslim menjadi penyejuk, bukan penyulut permusuhan; menjadi pemersatu, bukan pemecah belah. Sebab kadang satu kalimat yang lembut mampu memadamkan permusuhan bertahun-tahun, dan kadang satu ucapan yang ceroboh mampu menghancurkan persaudaraan seumur hidup. Karena itu jagalah lisan kita agar menjadi jalan hadirnya ketenangan dan kasih sayang di tengah masyarakat, bukan menjadi sumber luka dan kebencian di antara sesama manusia.
Lisan dan Jemari yang Akan Dimintai Pertanggungjawaban
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Jika dahulu “najwa” atau bisik-bisik hanya terjadi dalam percakapan langsung antar manusia, maka hari ini bentuknya telah berubah menjadi jauh lebih luas dan lebih cepat menyebar. Kini manusia berbicara bukan hanya dengan lisan, tetapi juga dengan jemari. Komentar di media sosial, status harian, postingan, voice note, chat pribadi, hingga berbagai konten digital yang tersebar setiap hari; semuanya adalah bagian dari ucapan yang akan dicatat oleh Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Banyak manusia merasa aman ketika berbicara di balik layar handphone, padahal apa yang diketik sama saja nilainya dengan apa yang diucapkan. Betapa banyak dosa yang hari ini dilakukan bukan di mimbar atau di pasar, tetapi di kolom komentar, di grup percakapan, dan di ruang digital yang tidak terlihat manusia lain. Satu tulisan dapat menyebarkan fitnah, satu unggahan dapat membuka aib, dan satu komentar dapat melukai hati seseorang bertahun-tahun lamanya. Padahal manusia sering lupa bahwa semua itu tidak pernah luput dari pengawasan Allah.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Karena itu marilah kita bermuhasabah sebelum datang hari hisab yang sesungguhnya. Berapa banyak chat yang sudah menjadi pahala bagi kita? Berapa banyak status yang benar-benar mendekatkan diri kepada Allah? Dan berapa banyak obrolan, komentar, serta postingan yang justru akan menjadi saksi dosa di hadapan-Nya? Jangan sampai kita menjadi manusia yang sibuk menjaga penampilan di hadapan manusia, tetapi lalai menjaga lisan dan tulisannya di hadapan Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Ada orang yang sangat menjaga pakaian dan citranya agar terlihat baik, namun lisannya tajam menyakiti, jemarinya ringan menyebarkan gibah, dan komentarnya penuh caci maki. Padahal kehancuran banyak manusia bukan karena buruk rupa mereka, tetapi karena buruk ucapan mereka. Maka seorang muslim yang beriman hendaknya tidak hanya berhati-hati dalam melangkah, tetapi juga berhati-hati dalam berbicara dan mengetik, sebab setiap kata yang keluar akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.
Ramainya Ucapan, Sepinya Bekal Akhirat
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah, umur kita semakin hari semakin pendek, sementara waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun. Hari-hari berlalu, lisan terus berbicara, jemari terus mengetik, percakapan demi percakapan terus memenuhi hidup kita, namun semuanya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Betapa banyak manusia menghabiskan usianya dalam ramainya obrolan, tetapi sedikit sekali yang menjadi tabungan pahala untuk akhiratnya. Ada yang hafal cerita kehidupan orang lain, tetapi lupa memperbaiki dirinya sendiri. Ada yang begitu aktif berbicara di dunia maya, tetapi kering dari dzikir dan doa kepada Allah. Padahal setiap kata yang keluar tidak akan pernah hilang begitu saja; semuanya tercatat dan akan diperlihatkan kembali pada hari ketika manusia berdiri di hadapan Rabb semesta alam. Karena itu jangan sampai kita menjadi orang yang ramai lisannya di dunia, tetapi miskin pahala di akhirat. Jangan sampai waktu habis untuk percakapan yang sia-sia, sementara amal saleh semakin sedikit dan hati semakin jauh dari Allah. Maka sebelum ajal menjemput dan sebelum lembaran amal ditutup, marilah kita belajar menjaga ucapan, memperbaiki majelis, dan menjadikan lisan ini sebagai jalan menuju ridha Allah, bukan jalan menuju penyesalan yang panjang di hari kiamat kelak.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُ
Menjadikan Lisan Sebagai Jalan Kebaikan
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita mulai memperbaiki diri dari hal-hal yang sederhana namun sangat menentukan keselamatan kita di akhirat nanti. Kurangilah tongkrongan yang sia-sia, kurangi gibah yang mengotori hati, dan jauhilah debat kosong yang hanya melahirkan permusuhan serta menghabiskan waktu tanpa manfaat. Jadikan setiap majelis lebih bernilai dengan ilmu, nasihat, dzikir, dan obrolan yang membawa kebaikan. Sebab tidak semua pertemuan menghadirkan keberkahan, dan tidak semua percakapan mendatangkan pahala. Seorang muslim yang cerdas adalah yang mampu memilih mana obrolan yang mendekatkannya kepada Allah dan mana yang hanya menghabiskan sisa umurnya tanpa arti.
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah,
Semoga Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā menjadikan lisan kita sebagai penyejuk bagi manusia, pembawa nasihat yang lembut, penggerak sedekah dan kepedulian, serta pemersatu umat di tengah banyaknya perpecahan. Jangan sampai lisan yang Allah anugerahkan justru menjadi sebab luka, permusuhan, dan kotornya hati sesama muslim. Karena itu sebelum berbicara, sebelum menulis, dan sebelum berkomentar, hendaknya kita bertanya kepada diri sendiri: apakah ini akan menjadi pahala atau justru penyesalan di hadapan Allah pada hari kiamat kelak?
قَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي مَجَالِسِنَا، وَاجْعَلِ اجْتِمَاعَنَا اجْتِمَاعًا مَرْحُومًا، وَتَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُومًا، وَلَا تَجْعَلْ فِينَا وَلَا مِنَّا شَقِيًّا وَلَا مَحْرُومًا. اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ أَلْسِنَتِنَا، وَمِنْ كَلَامٍ لَا يُرْضِيكَ،
اللَّهُمَّ احْفَظْ أَلْسِنَتَنَا مِنَ الْغِيبَةِ وَالنَّمِيمَةِ وَالْكَذِبِ وَالْفُحْشِ وَالْبَهْتَانِ، وَاجْعَلْ كَلَامَنَا ذِكْرًا وَنُصْحًا وَخَيْرًا وَإِحْسَانًا.
اللَّهُمَّ اهْدِنَا وَسَدِّدْنَا وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا وَأَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ، وَاجْعَلْنَا مِفْتَاحًا لِلْخَيْرِ مِغْلَاقًا لِلشَّرِّ، اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى الْأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ، وَارْزُقْنَا الْحِكْمَةَ وَالْإِخْلَاصَ وَالْقَبُولَ، وَاجْعَلْ أَلْسِنَتَنَا دَالَّةً عَلَى الْخَيْرِ، دَاعِيَةً إِلَى الْهُدَى، مُصْلِحَةً بَيْنَ النَّاسِ، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.




