BerandaKabar PondokMenjaga Warisan Ulama, Merawat Indonesia

Menjaga Warisan Ulama, Merawat Indonesia

- Advertisement -spot_img

Silaturahmi Darusy Syahadah ke Kantor PBNU Jakarta

 

Dalam semangat memperkuat ukhuwah Islamiyah dan komitmen kebangsaan, Pondok Pesantren Islam Darusy Syahadah melakukan kunjungan silaturahmi ke kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Jakarta pada hari Jum’at, 25 Juli 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari agenda bersama Wasathiyah Centre dalam membangun sinergi antar-lembaga keislaman di Indonesia.

Suasana hangat dan penuh keakraban menyambut kedatangan rombongan. Secara istimewa, jajaran lengkap pengurus PBNU turut hadir dalam pertemuan ini, termasuk Ketua Umum KH. Yahya Cholil Staquf, para wakil ketua, perwakilan dari Lakpesdam (Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia) NU, serta pengurus Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) NU.

Dalam forum yang berlangsung akrab dan penuh makna, KH. Yahya Staquf membuka perbincangan dengan refleksi sejarah kebangsaan. Beliau menyampaikan bahwa kehadiran Indonesia sebagai negara besar tidak terlepas dari peran umat Islam. Dahulu, wilayah nusantara terdiri dari banyak kerajaan Islam yang tersebar di berbagai penjuru. Namun, semangat persaudaraan Islam yang dirasakan oleh para haji di Makkah melahirkan gagasan besar: menyatukan negeri-negeri itu dalam satu cita bersama.

Gagasan tersebut berbuah dalam momentum historis Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928, ketika para pemuda Indonesia berikrar untuk bersatu dalam bangsa, tanah air, dan bahasa yang satu: Indonesia. Ketika kemerdekaan diraih, banyak kerajaan Islam secara sukarela menyerahkan kekuasaannya demi bergabung dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

  1. Yahya menegaskan, NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia berpegang teguh pada prinsip Ahlussunnah wal Jama’ah yang bersifat moderat dan toleran—bukan liberal dan jauh dari paham anti-jihad. Ia mencontohkan bagaimana pada masa-masa genting pasca-kemerdekaan, pendiri NU, Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, justru mengeluarkan fatwa jihad fi sabilillah melawan penjajah, sebagai bentuk tanggung jawab keislaman dan kebangsaan.

Dalam kesempatan tersebut, beliau juga membantah anggapan bahwa NU adalah representasi Islam liberal. “Ketika penulis Barat menyebut Gus Dur sebagai tokoh Islam liberal, beliau sendiri menolak. Gus Dur mengatakan bahwa NU itu toleran, bukan liberal,” tegasnya.

Lebih jauh, NU juga dikenal sebagai penjaga sanad keilmuan Islam. Tradisi keilmuan yang diwariskan dari para ulama terdahulu, seperti K.H. Nawawi al-Bantani dan lain-lain, terus dirawat dan dihidupkan. Prinsip keberislaman dalam NU tidak lahir dari ruang kosong, tetapi dari mata rantai keilmuan yang bersambung hingga Rasulullah ﷺ.

Menutup pertemuan, PBNU menyatakan kesiapan untuk bekerja sama dalam berbagai bidang demi kemaslahatan umat dan bangsa. KH. Yahya menyampaikan bahwa Indonesia yang damai dan beradab adalah tanggung jawab bersama, khususnya umat Islam sebagai mayoritas.

“Baiknya bangsa ini adalah baiknya umat Islam. Dan rusaknya bangsa ini berarti rusak pula umat Islam,” pungkas beliau.

Foto bersama pimpinan pesantren Darusy Syahadah dengan pengurus PBNU pusat di Jakarta.

Silaturahmi ini menjadi momen berharga, bukan sekadar pertemuan antar-lembaga, melainkan perjumpaan visi besar: merawat Indonesia dengan ilmu, menjaga umat dengan akhlak, dan menapaki jalan ulama dalam membangun peradaban.

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
12,700PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
9,600PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami