Daftar Isi
Muslim Bukan Hanya Amanah dalam Harta
KHUTBAH PERTAMA
اَلْـحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَمَرَنَا بِتَأْدِيَةِ الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا، وَنَهَانَا عَنِ الْخِيَانَةِ وَالْغَدْرِ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنْجِي مَنْ قَالَهَا وَعَمِلَ بِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيبَنَا وَقُدْوَتَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَدَّى الْأَمَانَةَ، وَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ، وَنَصَحَ الْأُمَّةَ، فَجَزَاهُ اللّٰهُ عَنَّا خَيْرَ مَا جَزَى نَبِيًّا عَنْ أُمَّتِهِ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَىٰ يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ :
فَيَاأَيُّها النَّاسُ أُوصِيكُمْ وَنَفْسِيَ الْمُقَصِّرَةَ بِتَقْوَى اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ، حَيْثُ قَالَ تَعَالَىٰ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ بَعْدَ أَنْ أَعُوْذَ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِينَ رَحِمَكُمُ اللّٰهُ،
إِنَّ الْأَمَانَةَ مِنْ أَعْظَمِ أُصُولِ الْإِسْلَامِ، وَمِنْ خِصَالِ الْمُؤْمِنِينَ الصَّادِقِينَ. وَمَنْ حَفِظَهَا فَقَدْ نَالَ رِضْوَانَ اللّٰهِ، وَمَنْ خَانَهَا فَقَدْ بَاءَ بِسَخَطِهِ وَعِقَابِهِ.
Mukadimah
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah melimpahkan kepada kita nikmat yang tidak terhitung jumlahnya; nikmat iman, Islam, kesehatan, kesempatan, serta nikmat dapat berkumpul di rumah-Nya pada hari yang mulia ini untuk menunaikan ibadah Jumat. Hanya kepada-Nya kita bersyukur, memohon pertolongan, ampunan, dan petunjuk dalam setiap langkah kehidupan. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, suri teladan terbaik yang telah membimbing umat manusia dari kegelapan menuju cahaya Islam, beserta keluarga, para sahabat, dan seluruh pengikut beliau hingga hari kiamat. Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Ta’ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Sebab takwa adalah bekal terbaik dalam mengarungi kehidupan di dunia sekaligus bekal paling berharga untuk menghadap Allah pada hari ketika harta, jabatan, dan kedudukan tidak lagi bermanfaat, kecuali hati yang datang kepada-Nya dalam keadaan bersih dan penuh ketakwaan.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ketika mendengar kata “amanah”, kebanyakan orang langsung membayangkan uang titipan, barang pinjaman, atau harta yang harus dikembalikan kepada pemiliknya. Padahal, makna amanah dalam Islam jauh lebih luas daripada itu. Seluruh kehidupan yang Allah anugerahkan kepada kita adalah amanah. Nafas yang kita hirup, waktu yang terus berjalan, kesehatan yang kita nikmati, ilmu yang kita miliki, keluarga yang Allah titipkan, hingga informasi yang kita simpan dan aktivitas kita di dunia digital, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Ta’ala. Karena itu, seorang muslim sejatinya hidup di tengah amanah yang tidak pernah berhenti, sejak ia membuka mata di pagi hari hingga menutupnya kembali di malam hari.
Allah Ta’ala telah mengingatkan kita melalui firman-Nya:
﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا﴾
“Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisā’: 58)
Ayat ini tidak hanya berbicara tentang harta, tetapi juga mencakup seluruh bentuk amanah yang Allah bebankan kepada setiap hamba. Betapa banyak amanah yang tampak kecil di mata manusia, namun sangat besar nilainya di sisi Allah. Sebuah rahasia yang kita jaga, waktu yang kita gunakan dengan benar, jabatan yang kita tunaikan dengan adil, bahkan satu klik di media sosial yang dapat mendatangkan pahala atau dosa. Oleh sebab itu, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita menjadi hamba yang benar-benar menjaga amanah dalam setiap hembusan nafas kehidupan ini, atau justru tanpa sadar kita sedang menyia-nyiakan titipan Allah sedikit demi sedikit?
Amanah Lebih Luas daripada Sekadar Harta
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,
Janganlah kita mempersempit makna amanah hanya pada urusan harta benda. Dalam pandangan Islam, amanah adalah seluruh kewajiban yang Allah Ta’ala titipkan kepada setiap hamba. Shalat lima waktu adalah amanah yang tidak boleh disia-siakan. Lisan adalah amanah yang harus dijaga dari dusta, ghibah, dan ucapan yang menyakiti. Pendengaran dan penglihatan adalah amanah yang tidak boleh digunakan untuk mendengar atau melihat sesuatu yang diharamkan. Anak dan keluarga merupakan amanah yang harus dididik menuju ketaatan. Ilmu yang kita miliki adalah amanah untuk diamalkan dan diajarkan. Bahkan kesehatan, kesempatan, dan umur yang terus berkurang setiap hari pun merupakan titipan Allah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Allah Ta’ala menggambarkan betapa agung dan beratnya amanah itu melalui firman-Nya:
﴿إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ﴾
“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.” (QS. Al-Ahzāb: 72)
Ayat ini mengingatkan bahwa amanah adalah beban yang begitu besar, hingga langit, bumi, dan gunung enggan memikulnya, sementara manusialah yang menerimanya. Namun, sering kali kita lebih cemas kehilangan uang daripada kehilangan kejujuran, lebih takut harta berkurang daripada amanah Allah terabaikan. Padahal, yang akan menyelamatkan kita di hadapan Allah bukanlah banyaknya harta yang berhasil dikumpulkan, melainkan seberapa baik kita menjaga setiap amanah yang telah dititipkan kepada kita sepanjang hidup ini.
Amanah Rahasia: Tidak Semua yang Kita Tahu Harus Diceritakan
Kaum muslimin rahimakumullah,
Di antara bentuk amanah yang sering dianggap sepele adalah amanah menjaga rahasia. Tidak semua yang kita dengar harus kita ceritakan, dan tidak semua yang kita ketahui pantas untuk disebarluaskan. Betapa banyak rumah tangga retak karena rahasia keluarga dibuka kepada orang lain. Betapa banyak persahabatan berubah menjadi permusuhan karena cerita pribadi disebarkan tanpa izin. Di era digital, godaan untuk mengkhianati amanah ini semakin besar. Screenshot percakapan, rekaman suara, foto pribadi, hingga isi grup WhatsApp sering kali disebarkan hanya demi sensasi, candaan, atau mencari perhatian, padahal semua itu dapat menjadi sebab datangnya dosa dan rusaknya hubungan antarsesama.
Rasulullah ﷺ telah mengingatkan kita melalui sabdanya:
إِذَا حَدَّثَ الرَّجُلُ بِالْحَدِيثِ ثُمَّ الْتَفَتَ فَهِيَ أَمَانَةٌ
“Apabila seseorang menyampaikan suatu pembicaraan kemudian ia menoleh (agar tidak didengar orang lain), maka pembicaraan itu adalah amanah.” (HR. Abu Dawud, no. 4868; dinilai hasan oleh Al-Albani).
Hadits ini mengajarkan bahwa menjaga kepercayaan merupakan bagian dari akhlak seorang mukmin. Sebelum menyampaikan suatu cerita, bertanyalah kepada diri sendiri: apakah Allah meridhai jika aku menyebarkan ini? Ingatlah, tidak semua yang bisa dibagikan layak untuk dibagikan. Ada kalanya menahan lisan, menahan jari untuk tidak menekan tombol “kirim”, dan menyimpan sebuah rahasia justru menjadi ibadah yang besar nilainya di sisi Allah Ta’ala.
Amanah Waktu: Umur Tidak Bisa Dikembalikan
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Amanah berikutnya yang sering luput dari perhatian adalah amanah waktu. Harta yang hilang masih mungkin dicari kembali, jabatan yang lepas mungkin dapat diraih lagi, tetapi umur yang telah berlalu tidak akan pernah kembali walau hanya sedetik. Waktu adalah modal terbesar yang Allah titipkan kepada setiap manusia dengan jumlah yang sama setiap hari, namun hasilnya berbeda sesuai dengan cara kita menggunakannya. Ironisnya, kita begitu teliti menghitung pemasukan dan pengeluaran harta, tetapi sangat jarang menghitung berapa banyak umur yang telah habis tanpa nilai ibadah. Berjam-jam menggulir media sosial terasa begitu singkat, sementara beberapa menit membaca Al-Qur’an atau berzikir sering kali terasa begitu berat.
Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa setiap detik kehidupan akan dimintai pertanggungjawaban. Beliau bersabda:
لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ… وَعَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ
“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ditanya tentang umurnya, untuk apa ia habiskan.” (HR. At-Tirmidzi, no. 2417).
Karena itu, marilah kita merenung. Jangan sampai umur kita habis hanya untuk mengejar hal-hal yang fana, sementara bekal menuju akhirat begitu sedikit. Setiap hari yang berlalu sesungguhnya bukan sekadar bertambahnya usia, tetapi berkurangnya jatah kehidupan yang Allah berikan. Orang yang paling beruntung bukanlah yang hidup paling lama, melainkan yang paling baik memanfaatkan setiap waktu untuk meraih ridha Allah Ta’ala.
Amanah Jabatan: Semakin Tinggi Kedudukan, Semakin Berat Hisabnya
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,
Di antara amanah terbesar yang Allah titipkan kepada manusia adalah amanah jabatan. Jabatan bukan hanya milik para pejabat atau pemimpin negara. Seorang ayah adalah pemimpin bagi keluarganya, seorang ibu adalah pemimpin di dalam rumahnya, seorang guru memimpin murid-muridnya, seorang pegawai memikul tanggung jawab atas pekerjaannya, demikian pula pengurus masjid, pimpinan lembaga, dan siapa saja yang diberi kepercayaan oleh orang lain. Dalam pandangan Islam, jabatan bukanlah simbol kemuliaan yang patut dibanggakan, melainkan beban amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta’ala. Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar pula tanggung jawab dan semakin berat hisab yang menantinya apabila amanah itu diabaikan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban.” (HR. Al-Bukhari, no. 7138; Muslim, no. 1829).
Begitulah pemahaman para salaf terhadap amanah kepemimpinan. Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Seandainya seekor keledai tersandung di Irak, sungguh aku khawatir Allah akan meminta pertanggungjawabanku.” Padahal, beliau adalah seorang khalifah yang memimpin wilayah yang sangat luas. Ucapan ini menunjukkan betapa besar rasa takut mereka kepada Allah dalam memikul amanah. Maka, sebelum kita meminta jabatan yang lebih tinggi, hendaknya kita bertanya kepada diri sendiri: sudahkah amanah yang ada di tangan kita hari ini benar-benar kita tunaikan dengan jujur, adil, dan penuh rasa tanggung jawab?
Amanah Digital: Dosa Baru di Era Baru
Kaum muslimin rahimakumullah,
Pada zaman ini, amanah tidak hanya diuji di dunia nyata, tetapi juga di dunia digital. Password yang dipercayakan kepada kita, data pribadi orang lain, foto dan video yang bersifat privat, hingga dokumen penting yang kita simpan, semuanya adalah amanah yang wajib dijaga. Demikian pula setiap informasi yang kita terima melalui media sosial. Betapa mudah seseorang menekan tombol “forward” tanpa memastikan kebenarannya, menyebarkan kabar yang belum jelas, membocorkan percakapan pribadi, membuat akun palsu, atau menyebarkan aib orang lain demi memperoleh perhatian. Padahal, apa yang dianggap sepele di layar ponsel bisa menjadi dosa besar di sisi Allah Ta’ala karena telah merusak kehormatan dan kepercayaan sesama muslim.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ﴾
“Tidak ada satu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada malaikat yang selalu mengawasi dan mencatat.” (QS. Qāf: 18).
Ayat ini mengajarkan bahwa setiap kata yang diucapkan, ditulis, maupun dikirim melalui media digital tidak luput dari pengawasan Allah. Mungkin jejak digital dapat dihapus dari telepon genggam, server, atau media sosial, tetapi tidak pernah terhapus dari catatan amal yang dibawa oleh para malaikat. Oleh karena itu, sebelum menulis, mengunggah, atau membagikan sesuatu, hendaklah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah ini akan menjadi amal yang memberatkan timbangan kebaikan, atau justru menjadi penyesalan yang harus dipertanggungjawabkan pada hari ketika seluruh amal diperlihatkan di hadapan Allah Ta’ala?
Amanah Menjadi Ukuran Keimanan
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Pada hakikatnya, amanah bukan sekadar akhlak yang terpuji, tetapi merupakan cerminan kualitas iman seseorang. Semakin kuat iman seorang hamba, semakin besar rasa takutnya untuk mengkhianati amanah, sekecil apa pun bentuknya. Sebaliknya, ketika seseorang mudah berdusta, mengingkari janji, menyalahgunakan kepercayaan, atau meremehkan tanggung jawab yang dipikulnya, hal itu menunjukkan bahwa ada kelemahan dalam keimanannya. Karena itulah Rasulullah ﷺ menjadikan amanah sebagai salah satu ukuran keimanan seorang muslim, bukan sekadar penilaian manusia terhadap akhlaknya.
Beliau ﷺ bersabda:
لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ
“Tidak sempurna iman orang yang tidak memiliki amanah.” (HR. Ahmad, no. 12383; dinilai hasan oleh sebagian ulama).
Senada dengan itu, Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Bukanlah agama itu sekadar angan-angan, tetapi apa yang menetap di dalam hati dan dibuktikan dengan amal.” Maka, ukuran keimanan bukanlah indahnya ucapan atau banyaknya pengakuan, melainkan sejauh mana kita mampu menjaga amanah yang Allah dan manusia titipkan kepada kita. Sebab amanah adalah buah dari iman yang hidup di dalam hati, sedangkan khianat merupakan tanda bahwa iman itu sedang melemah dan membutuhkan perbaikan. Wallahu a’lam bish shawab.
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، رَحِمَكُمُ اللَّهُ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِيَّةِ، فَإِنَّ التَّقْوَى زَادُكُمْ فِي الدُّنْيَا، وَنُورُكُمْ فِي الْآخِرَةِ. تَذَكَّرُوا أَنَّ الْأَمَانَةَ مِنْ أَعْظَمِ مَقَاصِدِ الدِّينِ، فَمَنْ حَفِظَهَا نَجَا، وَمَنْ خَانَهَا هَوَى.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْأُمَنَاءِ، وَاحْفَظْنَا مِنَ الْخِيَانَةِ وَالزَّلَلِ، وَوَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ فِي كُلِّ زَمَانٍ وَمَكَانٍ، سِرًّا وَعَلَانِيَةً.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، اتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى حَقَّ التَّقْوَى، وَاغْتَنِمُوا دُخُولَ شَهْرِ اللَّهِ الْمُحَرَّمِ فِي مُحَاسَبَةِ أَنْفُسِكُمْ وَتَجْدِيدِ تَوْبَتِكُمْ، فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ الصَّادِقَ يَجْعَلُ مِنْ تَعَاقُبِ الْأَيَّامِ وَالسِّنِينَ فُرْصَةً لِلرُّجُوعِ إِلَى اللَّهِ وَالِازْدِيَادِ مِنَ الطَّاعَةِ. وَاعْلَمُوا أَنَّ الْهِجْرَةَ الْحَقِيقِيَّةَ هِيَ هِجْرَةُ الْمَعَاصِي وَالذُّنُوبِ إِلَى طَاعَةِ اللَّهِ، وَهِجْرَةُ الْهَوَى إِلَى الْهُدَى، فَمَنْ غَلَبَ نَفْسَهُ فَقَدْ فَازَ، وَمَنْ غَلَبَتْهُ نَفْسُهُ فَقَدْ خَسِرَ.
Penutup dan Muhasabah
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Sebelum kita mengakhiri khutbah ini, marilah kita bermuhasabah sejenak. Sudahkah kita menjaga rahasia yang dipercayakan kepada kita? Sudahkah waktu yang Allah karuniakan digunakan untuk hal-hal yang mendekatkan kita kepada-Nya? Sudahkah jabatan dan tanggung jawab yang kita emban menjadi jalan menuju surga, bukan justru sebab datangnya hisab yang berat? Dan sudahkah media sosial yang setiap hari kita gunakan menjadi ladang pahala melalui ilmu, nasihat, dan kebaikan, atau justru berubah menjadi ladang dosa karena ghibah, fitnah, dan penyebaran aib? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak membutuhkan jawaban dengan lisan, tetapi membutuhkan kejujuran hati di hadapan Allah Ta’ala.
Hadirin yang dimuliakan Allah, setiap pagi kita menghirup nafas baru, dan setiap hembusan nafas itu adalah amanah yang suatu saat akan diminta kembali oleh Pemiliknya. Jangan sampai kita mengembalikan amanah kehidupan ini dalam keadaan dipenuhi pengkhianatan terhadap perintah Allah dan hak sesama manusia. Jadilah hamba yang bukan hanya dikenal rajin beribadah, tetapi juga dikenal karena kejujuran, tanggung jawab, dan kemampuannya menjaga setiap amanah. Sebagaimana nasihat Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah, “Tiada yang lebih berat bagiku untuk kuperbaiki selain niatku.” Sebab dari hatilah lahir kejujuran, dan dari hati pula tumbuh kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap langkah kehidupan kita. Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang istiqamah menjaga amanah hingga akhir hayat. Wallahu a’lam bish shawab.
فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
اللّٰهُمَّ ٱجْعَلْنَا مِنَ ٱلَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ ٱلْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ، وَوَفِّقْنَا لِٱتِّبَاعِ نَبِيِّكَ ٱلْمُصْطَفَى ﷺ فِي ٱلْأَقْوَالِ وَٱلْأَفْعَالِ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا كُلَّهَا، دِقَّهَا وَجِلَّهَا، سِرَّهَا وَعَلَانِيَتَهَا، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الَّذِينَ يَحْفَظُونَ الْأَمَانَةَ فِي كُلِّ حَالٍ.
اَللّٰهُمَّ طَهِّرْ أَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ، وَأَيْدِيَنَا مِنَ الْخِيَانَةِ، وَقُلُوبَنَا مِنَ النِّفَاقِ، وَاحْفَظْنَا فِي الدُّنْيَا الرَّقْمِيَّةِ كَمَا تَحْفَظُنَا فِي الدُّنْيَا الْحَقِيقِيَّةِ.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يَسْتَعْمِلُ التِّقْنِيَةَ فِي طَاعَتِكَ، وَلَا تَجْعَلْهَا سَبَبًا فِي مَعْصِيَتِكَ. اَللّٰهُمَّ وَفِّقْنَا لِأَنْ نَكُونَ أُمَنَاءَ فِي كَلِمَاتِنَا، وَصُوَرِنَا، وَمَعْلُومَاتِنَا، وَاجْعَلْ كُلَّ كَلِمَةٍ نَكْتُبُهَا سَبَبًا لِرِضْوَانِكَ وَمَغْفِرَتِكَ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ شَبَابَ الْمُسْلِمِينَ وَفَتَيَاتِهِمْ، وَعَلِّمْهُمُ الْأَدَبَ وَالْأَمَانَةَ فِي الْعَالَمِ الرَّقْمِيِّ، وَاجْعَلْنَا جَمِيعًا مِفْتَاحًا لِلْخَيْرِ مَغْلَقًا لِلشَّرِّ.
اَللّٰهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِالسَّعَادَةِ وَالْإِيمَانِ، وَلَا تَخْتِمْ لَنَا بِالشَّقَاءِ وَالْعِصْيَانِ، وَصَلِّ اللّٰهُمَّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْـحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
عبادَ اللهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.




