Daftar Isi
“Ketika Hati Gelisah, Kembalilah kepada Allah”
KHUTBAH PERTAMA
الحمدُ للهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عِبَادِهِ الْقُرْآنَ شِفَاءً لِمَا فِي الصُّدُورِ، وَجَعَلَ ذِكْرَهُ سَبَبًا لِطُمَأْنِينَةِ الْقُلُوبِ، وَفَتَحَ لِعِبَادِهِ أَبْوَابَ الرَّجَاءِ وَالتَّوَكُّلِ وَحُسْنِ الظَّنِّ بِهِ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ، وَنَسْأَلُهُ أَنْ يَجْعَلَ قُلُوبَنَا مُطْمَئِنَّةً بِذِكْرِهِ، وَأَنْ يُذْهِبَ عَنَّا الْهَمَّ وَالْحَزَنَ وَالْقَلَقَ وَالضِّيقَ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً نَرْجُو بِهَا النَّجَاةَ يَوْمَ نَلْقَاهُ.
وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا. أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِنَّ التَّقْوَى خَيْرُ زَادٍ لِلْعَبْدِ فِي دِينِهِ وَدُنْيَاهُ وَأُخْرَاهُ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾
[آل عمران: ١٠٢]
عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ قَالَ: اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.
فَقَالَ عَزَّ مِنْ قَائِلٍ:
﴿الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ﴾
Mukadimah
Alhamdulillāh, segala puji hanya milik Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Dialah Rabb Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang melimpahkan nikmat iman, Islam, kesehatan, serta ketenangan hati kepada hamba-hamba-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarga, para sahabat, dan seluruh pengikut beliau hingga akhir zaman. Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Takwa bukan hanya menjadi bekal menuju akhirat, tetapi juga menjadi sumber kekuatan hati dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Jamaah Jumat rahimakumullāh, salah satu ujian yang banyak dirasakan manusia pada zaman ini adalah kegelisahan jiwa. Di tengah kemajuan teknologi, kemudahan komunikasi, dan derasnya arus informasi, ternyata tidak sedikit orang yang hidup dalam kecemasan, overthinking, merasa tidak berharga, bahkan kehilangan ketenangan batin. Banyak wajah yang tampak tersenyum, namun menyimpan hati yang lelah dan pikiran yang penuh beban. Islam datang bukan hanya mengajarkan tata cara ibadah lahiriah, tetapi juga membawa cahaya yang menenangkan hati. Al-Qur’an, zikir, doa, tawakal, dan husnuzan kepada Allah merupakan terapi ruhani yang membimbing seorang mukmin agar mampu menghadapi berbagai tekanan hidup dengan hati yang kokoh, jiwa yang tenang, dan keyakinan bahwa pertolongan Allah selalu dekat bagi hamba-hamba-Nya yang beriman.
Kegelisahan adalah Bagian dari Ujian Kehidupan
Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh,
Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā telah mengingatkan bahwa kehidupan di dunia memang merupakan tempat ujian, bukan tempat yang bebas dari kesedihan dan kegelisahan. Allah berfirman,
﴿وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ﴾
“Dan sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 155)
Ayat ini mengajarkan bahwa rasa takut, cemas, kehilangan, dan berbagai tekanan hidup adalah bagian dari sunnatullah yang akan dialami oleh setiap manusia. Karena itu, ketika hati kita pernah diliputi kegelisahan, janganlah terburu-buru menganggap bahwa Allah telah meninggalkan kita atau bahwa iman kita tidak lagi bernilai. Justru dalam keadaan seperti itulah Allah sedang menguji kualitas iman, kesabaran, dan ketergantungan seorang hamba kepada Rabb-nya.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, para nabi dan rasul, yang merupakan manusia pilihan, juga pernah merasakan kesedihan, ketakutan, dan tekanan yang berat. Nabi Ya‘qub ‘alaihissalām bersedih hingga matanya memutih karena kehilangan putranya. Nabi Mūsā ‘alaihissalām pernah diliputi rasa takut ketika menghadapi Fir‘aun, sementara Rasulullah ﷺ pun mengalami kesedihan yang mendalam pada tahun wafatnya Khadijah radhiyallāhu ‘anhā dan Abu Thalib, hingga dikenal sebagai ‘Āmul Ḥuzn (Tahun Kesedihan). Namun, mereka tidak larut dalam keputusasaan. Mereka mengembalikan segala beban kepada Allah dengan doa, kesabaran, dan tawakal. Inilah yang membedakan seorang mukmin dengan yang lainnya: bukan karena ia tidak pernah diuji, tetapi karena ia memilih tetap beriman, tetap berharap, dan tetap mendekat kepada Allah di tengah ujian yang menyesakkan hati.
Hati Tidak Akan Tenang Tanpa Mengingat Allah
Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh,
Di antara penyebab terbesar kegelisahan manusia adalah ketika hati jauh dari mengingat Allah. Banyak orang berusaha mencari ketenangan melalui berbagai cara; sebagian mencarinya dengan memperbanyak hiburan, tenggelam dalam media sosial, mengejar kesenangan dunia, atau berusaha melupakan masalah dengan berbagai kesibukan. Namun, sering kali semua itu hanya mampu mengalihkan pikiran untuk sementara, bukan benar-benar menyembuhkan luka yang ada di dalam hati. Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā telah memberikan kunci ketenangan jiwa melalui firman-Nya:
﴿الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ﴾
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra‘d [13]: 28)
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, zikir bukan sekadar rangkaian kalimat yang diucapkan oleh lisan, tetapi merupakan ibadah yang menghidupkan hati, menguatkan jiwa, dan menumbuhkan keyakinan bahwa Allah selalu bersama hamba-Nya. Ketika seseorang memperbanyak zikir, ia sedang menghubungkan hatinya dengan sumber ketenangan yang hakiki. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan dalam kitab Al-Wābil ash-Shayyib bahwa zikir memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan hati. Beliau berkata:
أَنَّ الذِّكْرَ يَطْرُدُ الشَّيْطَانَ وَيَقْمَعُهُ وَيَكْسِرُهُ، وَأَنَّهُ يُرْضِي الرَّحْمَنَ عَزَّ وَجَلَّ، وَأَنَّهُ يُزِيلُ الْهَمَّ وَالْغَمَّ عَنِ الْقَلْبِ، وَأَنَّهُ يَجْلِبُ لِلْقَلْبِ الْفَرَحَ وَالسُّرُورَ وَالْبَسْطَ، وَأَنَّهُ يُقَوِّي الْقَلْبَ وَالْبَدَنَ
“Sesungguhnya zikir dapat mengusir setan, membuatnya tunduk dan melemahkannya; zikir mendatangkan keridaan Allah; menghilangkan kegelisahan dan kesedihan dari hati; mendatangkan kegembiraan, kebahagiaan dan kelapangan hati; serta menguatkan hati dan badan…”
(Al-Wābil ash-Shayyib min al-Kalim ath-Thayyib, karya Ibn Qayyim al-Jauziyyah, pembahasan faḍā’il adz-dzikr/manfaat zikir, sekitar hlm. 65).
Maka, ketika hati terasa berat, pikiran dipenuhi kekhawatiran, dan jiwa merasa kehilangan arah, janganlah hanya mencari ketenangan dari dunia yang terbatas. Kembalilah kepada Allah dengan memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, memperbanyak doa, dan menghadirkan Allah dalam setiap keadaan. Sebab hati manusia tidak akan pernah benar-benar tenang kecuali ketika ia dekat dengan Rabb yang menciptakannya.
Overthinking Lahir Ketika Tawakal Melemah
Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh,
Di antara penyakit hati yang banyak dirasakan manusia pada zaman ini adalah terlalu larut dalam pikiran yang berlebihan atau overthinking. Seseorang terus memikirkan sesuatu yang belum terjadi, mengkhawatirkan masa depan yang belum datang, bahkan berusaha mengendalikan perkara-perkara yang sebenarnya berada di luar kemampuan dirinya. Akibatnya, hati menjadi lelah, jiwa menjadi gelisah, dan ketenangan perlahan hilang. Padahal Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā telah mengajarkan kepada orang-orang beriman agar setelah melakukan usaha, mereka menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan penuh keyakinan. Allah berfirman:
﴿وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا﴾
“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya). Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.”
(QS. At-Ṭalāq [65]: 3)
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, tawakal bukan berarti meninggalkan usaha dan hanya menunggu pertolongan datang, tetapi tawakal adalah ketenangan hati setelah seorang hamba melakukan ikhtiar terbaiknya. Seorang mukmin berusaha dengan tangannya, berpikir dengan akalnya, berdoa dengan lisannya, namun hatinya tetap bergantung kepada Allah. Karena banyak kegelisahan muncul bukan karena besarnya masalah, tetapi karena lemahnya keyakinan bahwa Allah Maha Mengatur segala sesuatu. Ketika seorang hamba memahami bahwa rezekinya, masa depannya, dan segala ketentuan hidupnya berada dalam ilmu dan hikmah Allah, maka hatinya akan lebih tenang. Ia tidak lagi sibuk memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi, tetapi memilih memperbaiki apa yang mampu ia lakukan hari ini sambil percaya bahwa Allah akan memberikan yang terbaik bagi dirinya.
Husnuzan kepada Allah Mengobati Insecure dan Putus Asa
Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh,
Di antara sebab seseorang kehilangan ketenangan hati adalah ketika ia memiliki prasangka buruk terhadap dirinya sendiri dan terhadap Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Ada orang yang merasa dirinya tidak berarti, merasa terlalu banyak kekurangan, merasa masa lalunya terlalu kelam, atau menganggap bahwa Allah tidak lagi memberikan kebaikan kepadanya. Perasaan seperti ini dapat melemahkan jiwa dan membuka pintu keputusasaan. Padahal seorang mukmin harus senantiasa menjaga ḥusnuzan (prasangka baik) kepada Allah, karena Allah Maha Mengetahui keadaan hamba-Nya, lebih mengetahui potensi yang tersimpan dalam diri kita, dan lebih memahami jalan terbaik yang harus kita tempuh. Rasulullah ﷺ meriwayatkan bahwa Allah Ta‘ālā berfirman dalam sebuah hadits qudsi yang berbunyi:
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي…»
“Allah Ta‘ālā berfirman: Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku…”
(HR. Al-Bukhārī, no. 7405; Muslim, no. 2675)
Jamaah Jumat rahimakumullāh, ḥusnuzan kepada Allah bukan berarti menutup mata dari kesulitan, tetapi meyakini bahwa di balik setiap takdir Allah terdapat hikmah dan kasih sayang-Nya. Jangan pernah merasa bahwa diri kita tidak berharga di hadapan Allah, karena kemuliaan seorang hamba bukan diukur dari penilaian manusia, harta, jabatan, atau kesempurnaan duniawi, tetapi dari iman dan kedekatannya kepada Allah. Ketika hati dipenuhi keyakinan bahwa rahmat Allah lebih luas daripada kesalahan kita, pertolongan-Nya lebih dekat daripada yang kita bayangkan, dan rencana-Nya lebih baik daripada keinginan kita, maka rasa takut, insecure, dan putus asa akan perlahan tergantikan dengan harapan, keteguhan, dan ketenangan jiwa.
Perbanyak Doa karena Allah Dekat
Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh,
Di antara bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya adalah Dia selalu membuka pintu komunikasi melalui doa. Ketika manusia merasa lelah, ketika hati dipenuhi kegelisahan, ketika tidak ada seorang pun yang mampu memahami apa yang dirasakan, Allah mengajarkan agar seorang hamba kembali mengadu kepada-Nya. Allah tidak pernah jauh dari hamba yang memohon kepada-Nya. Allah berfirman:
﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ﴾
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 186)
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, janganlah kita memikul seluruh beban kehidupan sendirian hingga hati menjadi semakin berat. Curahkanlah segala kegelisahan, kesedihan, dan harapan kepada Allah sebelum kita mengadu kepada manusia. Rasulullah ﷺ mengajarkan sebuah doa ketika menghadapi kegelisahan:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan kikir, serta aku berlindung kepada-Mu dari lilitan utang dan tekanan manusia.”
(HR. Al-Bukhārī, no. 2893)
Doa bukan tanda kelemahan, tetapi tanda bahwa seorang hamba masih memiliki harapan. Orang yang berdoa sedang mengakui bahwa dirinya membutuhkan pertolongan Allah, dan inilah kekuatan seorang mukmin. Ketika lisan terus berdoa dan hati yakin kepada Allah, maka masalah yang berat sekalipun akan terasa lebih ringan, karena seorang hamba tidak lagi menghadapi kehidupan sendirian, tetapi bersama pertolongan dan penjagaan Allah.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ الزَّادِ لِيَوْمِ الْمَعَادِ تَقْوَى اللَّهِ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ﴾
Penutup dan Refleksi
Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh,
Pada akhirnya, marilah kita menyadari bahwa tidak semua luka dapat dilihat oleh mata manusia. Ada hati yang tampak kuat di hadapan banyak orang, tetapi sebenarnya sedang berjuang melawan kesedihan, kecemasan, dan berbagai beban yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun. Karena itu, jadilah seorang mukmin yang dekat dengan Allah dan memiliki hati yang lembut kepada sesama. Jangan mudah meremehkan kesulitan orang lain, tetapi hadirkan kepedulian, doa, dan dukungan bagi mereka yang sedang membutuhkan. Bisa jadi, satu kalimat kebaikan yang kita ucapkan menjadi sebab Allah memberikan kekuatan kepada seseorang yang sedang lemah.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, jangan pernah merasa malu untuk meminta pertolongan kepada Allah ketika jiwa sedang berat dan hati sedang gelisah. Kembalilah kepada-Nya dengan doa, zikir, dan keyakinan bahwa rahmat Allah selalu lebih luas daripada masalah yang kita hadapi. Namun demikian, ketika seseorang menghadapi persoalan kejiwaan yang berat, Islam juga mengajarkan untuk mengambil sebab dengan mencari bantuan dari orang-orang yang amanah dan memiliki kemampuan. Ikhtiar ruhani melalui kedekatan kepada Allah dan ikhtiar pengobatan atau pendampingan dapat berjalan bersama sebagai bentuk usaha seorang hamba. Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman:
﴿قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ﴾
“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Az-Zumar [39]: 53)
فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ قَلْبًا مُطْمَئِنًّا بِذِكْرِكَ، وَنَفْسًا رَاضِيَةً بِقَضَائِكَ، وَصَدْرًا مُنْشَرِحًا بِنُورِ إِيمَانِكَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قُلُوبِنَا، وَنُورَ صُدُورِنَا، وَذَهَابَ هُمُومِنَا وَأَحْزَانِنَا.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ.
اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَى قُلُوبِنَا سَكِينَتَكَ، وَأَذْهِبْ عَنَّا الْقَلَقَ وَالْخَوْفَ وَالْحُزْنَ، وَارْزُقْنَا حُسْنَ الظَّنِّ بِكَ وَالتَّوَكُّلَ عَلَيْكَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ تَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِكَ، وَتَقْوَى نُفُوسُهُمْ بِالثِّقَةِ بِكَ، وَتَسْكُنُ أَرْوَاحُهُمْ بِقُرْبِكَ.
اللَّهُمَّ اشْرَحْ صُدُورَنَا، وَيَسِّرْ أُمُورَنَا، وَفَرِّجْ هُمُومَنَا، وَاغْفِرْ ذُنُوبَنَا، وَارْحَمْ ضَعْفَنَا.
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ لِلْيَأْسِ سَبِيلًا إِلَى قُلُوبِنَا، وَاجْعَلْنَا دَائِمًا رَاجِينَ لِرَحْمَتِكَ، مُتَوَكِّلِينَ عَلَيْكَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
عبادَ اللهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.




