BerandaMateri KhutbahKhutbah JumatRezeki Halal di Tengah Godaan Instan

Rezeki Halal di Tengah Godaan Instan

- Advertisement -spot_img

Menjaga Keberkahan Harta di Era Pinjol, PayLater, Judi Online, dan Investasi Bodong

Khutbah Pertama

الحمدُ للهِ الَّذِي أَحَلَّ لَنَا الطَّيِّبَاتِ، وَحَرَّمَ عَلَيْنَا الْخَبَائِثَ وَالْمُحَرَّمَاتِ، وَأَمَرَنَا بِطَلَبِ الرِّزْقِ الْحَلَالِ، وَوَعَدَ الْمُتَّقِينَ بِالْبَرَكَاتِ وَالْخَيْرَاتِ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً نَرْجُو بِهَا النَّجَاةَ يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ، إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، الْمُبَلِّغُ عَنْ رَبِّهِ، وَالْمُبَيِّنُ لِأُمَّتِهِ طُرُقَ الْحَلَالِ وَالْحَرَامِ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ سَارَ عَلَى هَدْيِهِ، وَتَمَسَّكَ بِسُنَّتِهِ، وَاجْتَنَبَ الرِّبَا وَالْغِشَّ وَالْمَكْسَبَ الْحَرَامَ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ،

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى خَيْرُ زَادٍ لِلْعَبْدِ فِي دُنْيَاهُ وَأُخْرَاهُ، وَبِهَا تَحِلُّ الْبَرَكَةُ فِي الْأَرْزَاقِ، وَتَنْدَفِعُ الْفِتَنُ وَالْمِحَنُ.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾

وَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.

Mukadimah

Alhamdulillāh, segala puji hanya milik Allah Subḥānahu wa Ta’ālā. Dialah Dzat Yang Maha Pemberi rezeki, Yang melapangkan dan menyempitkan rezeki menurut hikmah-Nya. Kepada-Nya kita memohon pertolongan, ampunan, dan petunjuk agar setiap langkah kehidupan kita senantiasa berada di atas jalan yang diridhai-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, teladan terbaik yang mengajarkan kepada umatnya untuk mencari nafkah dengan cara yang halal, menjauhi segala bentuk kezaliman, serta menanamkan keyakinan bahwa keberkahan harta lebih berharga daripada banyaknya harta. Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa. Sebab hanya dengan ketakwaan, Allah akan menjaga agama kita, membersihkan harta kita, menenangkan hati kita, dan membukakan jalan keluar dari setiap kesulitan yang kita hadapi.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, kita hidup di zaman ketika hampir segala sesuatu dapat diperoleh dengan cepat dan instan. Uang dapat dipinjam hanya dalam hitungan menit melalui telepon genggam. Belanja cukup dengan sekali sentuh. Judi online dikemas layaknya permainan yang menghibur, sementara investasi bodong menawarkan keuntungan besar tanpa kerja keras. Sekilas semuanya tampak mudah dan menggiurkan. Namun, di balik kemudahan itu, tidak sedikit keluarga yang kehilangan keberkahan hidup, terjerat utang yang tak kunjung selesai, rumah tangga yang retak karena persoalan ekonomi, bahkan hati yang semakin jauh dari ketenangan. Inilah kenyataan yang patut kita renungkan bersama. Jangan-jangan persoalan terbesar kita hari ini bukan karena sulitnya mencari rezeki, melainkan karena semakin kaburnya batas antara yang halal dan yang haram dalam cara kita memperolehnya.

Islam Memerintahkan Mencari Rezeki yang Halal, Bukan Sekadar Banyak

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Islam tidak pernah mengajarkan umatnya sekadar menjadi orang yang kaya, tetapi mengajarkan bagaimana menjadi hamba yang memperoleh rezeki dengan cara yang halal dan penuh keberkahan. Karena itu Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا

“Wahai manusia! Makanlah dari apa yang ada di bumi yang halal lagi baik.” (QS. Al-Baqarah [2]: 168).

Perhatikanlah, Allah tidak hanya memerintahkan kita untuk makan, tetapi juga memastikan bahwa apa yang kita makan dan kita bawa pulang kepada keluarga berasal dari jalan yang halal lagi baik. Sebab ukuran keberhasilan seorang mukmin bukanlah seberapa cepat ia menjadi kaya, bukan pula seberapa banyak harta yang berhasil dikumpulkannya, melainkan seberapa besar keberkahan yang Allah limpahkan pada rezekinya. Harta yang sedikit namun halal akan menghadirkan ketenangan hati, kecukupan dalam kehidupan, dan menjadi sebab diterimanya amal saleh.

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, di tengah budaya yang mengagungkan kekayaan dan kesuksesan instan, jangan sampai kita tergoda menghalalkan segala cara demi mengejar keuntungan sesaat. Ingatlah sabda Rasulullah ﷺ,

إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا

“Sesungguhnya Allah itu Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang baik.” (HR. Muslim, no. 1015).

Renungkanlah, untuk apa harta yang melimpah jika diperoleh dengan cara yang dimurkai Allah? Untuk apa kemewahan yang dipamerkan jika hati dipenuhi kegelisahan dan doa-doa terhalang karena makanan, pakaian, dan nafkah berasal dari yang haram atau syubhat? Marilah kita mendidik diri dan keluarga agar lebih mencintai rezeki yang halal meskipun tampak sederhana, karena keberkahanlah yang menjadikan harta itu membawa ketenteraman di dunia dan menjadi bekal keselamatan di akhirat.

Godaan Rezeki Instan di Era Digital

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, salah satu ujian terbesar di zaman ini adalah hadirnya begitu banyak jalan pintas yang menawarkan kemudahan memperoleh harta. Pinjaman online berbunga hadir seolah menjadi solusi atas kesulitan ekonomi, padahal sering kali justru menjerat seseorang dalam lilitan utang yang semakin berat. Fasilitas paylater mendorong gaya hidup konsumtif hingga seseorang membeli bukan karena membutuhkan, tetapi karena tergoda kemudahan. Judi online dikemas layaknya hiburan, padahal sedikit demi sedikit menghabiskan harta, merusak akal, dan menghancurkan masa depan keluarga. Belum lagi investasi bodong yang menjanjikan keuntungan besar tanpa usaha dan tanpa risiko, sehingga banyak orang rela mempertaruhkan seluruh tabungannya demi iming-iming kekayaan instan. Padahal Allah Subḥānahu wa Ta’ālā telah memberikan batas yang sangat jelas:

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

“Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah [2]: 275).

Dan tentang perjudian, Allah memerintahkan,

فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Maka jauhilah perbuatan itu agar kalian beruntung.” (QS. Al-Mā’idah [5]: 90).

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, renungkanlah bersama. Mengapa semakin banyak orang yang mengejar kemudahan, tetapi justru semakin sedikit yang merasakan ketenangan? Mengapa teknologi semakin canggih, namun tidak sedikit keluarga yang kehilangan kebahagiaan karena persoalan ekonomi? Jawabannya bukan karena Islam melarang kita menjadi kaya, melainkan karena sebagian orang memilih jalan yang tidak diridhai Allah demi mendapatkan harta dengan lebih cepat. Ketahuilah, tidak ada jalan pintas menuju keberkahan. Harta yang diperoleh dengan melanggar syariat mungkin tampak mendatangkan keuntungan sesaat, tetapi sering kali meninggalkan penyesalan yang panjang. Sebaliknya, rezeki yang diperoleh melalui ikhtiar yang halal, meskipun datang dengan proses yang lebih lambat, akan menghadirkan ketenteraman hati, menjaga kehormatan diri, dan menjadi sebab turunnya keberkahan bagi keluarga. Inilah yang harus kita jaga di tengah derasnya godaan rezeki instan pada zaman digital ini.

Rezeki Halal Selalu Membawa Keberkahan

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, salah satu sebab seseorang mudah tergelincir ke dalam riba, penipuan, atau berbagai bentuk harta yang haram adalah karena ia merasa takut tidak mendapatkan rezeki. Padahal Rasulullah ﷺ telah menenangkan hati setiap orang beriman melalui sabdanya,

لَنْ تَمُوتَ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا

“Tidaklah suatu jiwa meninggal sampai ia menyempurnakan seluruh rezekinya.” (HR. Ibnu Mājah, no. 2144; dinilai sahih oleh Al-Albani).

Hadis ini mengajarkan kepada kita bahwa rezeki setiap hamba telah Allah tetapkan. Tidak akan berkurang hanya karena kita menolak riba, tidak akan tertukar karena kita meninggalkan judi, dan tidak akan hilang hanya karena kita menolak keuntungan yang berasal dari jalan yang haram. Yang perlu kita khawatirkan bukanlah sedikitnya rezeki, melainkan hilangnya keberkahan akibat cara kita memperolehnya.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, karena itu janganlah kepanikan terhadap urusan dunia membuat kita menggadaikan agama. Jangan sampai desakan kebutuhan atau keinginan hidup mewah mendorong kita menghalalkan segala cara. Percayalah, rezeki yang datang melalui jalan yang halal, meskipun tampak sederhana, akan lebih menenangkan daripada harta yang melimpah tetapi dipenuhi dosa dan penyesalan. Inilah makna yang dijelaskan oleh Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah ketika menerangkan hadis tersebut. Beliau mengatakan bahwa hadis ini mendorong seorang mukmin untuk memperbagus cara mencari rezeki dan tidak mencarinya dengan cara yang haram (Ibnu Rajab al-Hanbali, Jāmi’ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam, Jilid 2, hlm. 398).

Maka marilah kita tanamkan keyakinan dalam hati bahwa Allah tidak pernah terlambat memberikan rezeki kepada hamba-Nya, tetapi Allah menguji apakah kita bersedia bersabar menempuh jalan yang halal demi meraih keberkahan yang kekal.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ الزَّادِ لِيَوْمِ الْمَعَادِ تَقْوَى اللَّهِ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ﴾

Muhasabah

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, sebelum kita pulang dari majelis yang mulia ini, marilah kita bermuhasabah sejenak. Janganlah kita hanya sibuk menghitung berapa banyak harta yang telah kita kumpulkan, tetapi tanyakanlah kepada hati kita: benarkah seluruh harta yang kita bawa pulang berasal dari jalan yang halal? Masih adakah riba yang kita anggap sebagai sesuatu yang biasa karena sudah menjadi kebiasaan masyarakat? Jangan-jangan gaya hidup dan gengsi telah mendorong kita berutang demi memenuhi keinginan, bukan kebutuhan. Dan yang lebih penting lagi, sudahkah kita mendidik anak-anak kita untuk mencintai keberkahan, atau justru tanpa sadar kita mengajari mereka bahwa ukuran kebahagiaan adalah kemewahan dan banyaknya harta? Renungan-renungan inilah yang seharusnya memenuhi hati seorang mukmin, karena kehidupan dunia hanyalah persinggahan, sedangkan akhirat adalah tempat mempertanggungjawabkan setiap amanah yang Allah titipkan.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa pada hari kiamat kelak tidak seorang pun dapat melangkah meninggalkan tempat hisab sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Rabbnya. Di antaranya adalah tentang harta:

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ… وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ

“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat… hingga ditanya tentang hartanya, dari mana ia memperolehnya dan untuk apa ia membelanjakannya.” (HR. At-Tirmidzi, no. 2417; dinilai hasan sahih).

Perhatikanlah, yang akan ditanyakan bukan hanya berapa banyak harta yang kita miliki, tetapi bagaimana cara kita mendapatkannya dan ke mana kita menggunakannya. Betapa banyak harta yang tampak besar di dunia, namun menjadi beban yang berat di akhirat karena diperoleh dengan cara yang tidak diridhai Allah. Sebaliknya, betapa banyak rezeki yang sederhana, tetapi menjadi cahaya yang menyelamatkan pemiliknya karena setiap rupiahnya berasal dari usaha yang halal dan dibelanjakan di jalan yang diridhai-Nya. Maka, marilah kita pulang dengan tekad untuk menjaga setiap nafkah yang kita cari, karena keberkahan harta bukan hanya menentukan ketenangan hidup di dunia, tetapi juga keselamatan kita saat berdiri di hadapan Allah Subḥānahu wa Ta’ālā.

Penutup

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, marilah kita akhiri renungan pada hari ini dengan sebuah tekad yang tulus. Tinggalkanlah segala bentuk transaksi yang jelas mengandung riba, meskipun tampak menguntungkan. Jauhkan diri dan keluarga kita dari judi online dalam bentuk apa pun, karena tidak ada kemenangan sejati yang lahir dari perjudian. Berhati-hatilah terhadap investasi yang menjanjikan keuntungan besar tanpa usaha dan tanpa risiko yang jelas, sebab tidak sedikit yang berawal dari harapan manis, namun berakhir dengan penyesalan yang pahit. Biasakanlah hidup sederhana, bekerja dengan sungguh-sungguh, dan menggantungkan harapan hanya kepada Allah. Jangan sampai keinginan untuk hidup lebih mewah membuat kita rela mengorbankan keberkahan yang selama ini Allah titipkan kepada keluarga kita.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, yakinlah bahwa rezeki yang halal, meskipun tampak sedikit di mata manusia, jauh lebih menenangkan hati, menenteramkan rumah tangga, dan mendatangkan keberkahan daripada harta yang melimpah tetapi diperoleh dengan cara yang diharamkan. Sebab keberkahan tidak selalu tampak pada banyaknya harta, melainkan pada ketenangan hati, kemudahan dalam beribadah, keharmonisan keluarga, dan kebaikan yang terus mengalir darinya. Allah Subḥānahu wa Ta’ālā telah memberikan janji yang tidak pernah diingkari-Nya,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath-Thalāq [65]: 2–3).

Semoga kita termasuk hamba-hamba yang lebih memilih jalan yang halal daripada jalan yang mudah, lebih mencintai keberkahan daripada kemewahan, dan lebih mengutamakan keridaan Allah daripada keuntungan sesaat. Aamiin.

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ، اللَّهُمَّ اهْدِنَا إِلَى الْمَكَاسِبِ الْحَلَالِ، وَوَفِّقْنَا لِطَلَبِ الرِّزْقِ الطَّيِّبِ، وَبَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا، وَاصْرِفْ عَنَّا كُلَّ مَكْسَبٍ حَرَامٍ وَشُبْهَةٍ.

اللَّهُمَّ طَهِّرْ أَمْوَالَنَا مِنَ الْحَرَامِ، وَقُلُوبَنَا مِنَ الرِّيَاءِ وَالطَّمَعِ، وَاحْفَظْنَا مِنَ الرِّبَا وَالْغِشِّ وَالْخِيَانَةِ، وَمِنْ كُلِّ مَا يُسْخِطُكَ عَلَيْنَا، اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَرْزَاقِنَا، وَوَسِّعْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلِكَ، وَاجْعَلْهَا عَوْنًا لَنَا عَلَى طَاعَتِكَ، وَلَا تَجْعَلْهَا سَبَبًا لِغَفْلَتِنَا وَلَا لِمَعْصِيَتِكَ.

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا الْقَنَاعَةَ وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى بِكَ، وَاجْعَلْ أَيْدِيَنَا هِيَ الْعُلْيَا بِالْعَطَاءِ وَالْإِحْسَانِ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِمَّنْ يَمُدُّ يَدَهُ إِلَى الْحَرَامِ، اللَّهُمَّ اجْعَلِ الدُّنْيَا فِي أَيْدِينَا وَلَا تَجْعَلْهَا فِي قُلُوبِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا إِلَى النَّارِ مَصِيرَنَا، وَاجْعَلِ الْجَنَّةَ هِيَ دَارَنَا وَقَرَارَنَا.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا وَاسِعًا مُبَارَكًا فِيهِ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ الرِّبَا وَالْحَرَامِ وَالشُّبُهَاتِ، وَاهْدِنَا إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيمِ فِي أَقْوَالِنَا وَأَعْمَالِنَا وَمَكَاسِبِنَا، وَارْزُقْنَا الْقَنَاعَةَ وَالْبَرَكَةَ فِي أَرْزَاقِنَا، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْحُسْنَى، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي اجْتِمَاعِنَا، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِ هَذَا تَفَرُّقًا عَلَى طَاعَتِكَ وَرِضْوَانِكَ، وَلَا تَجْعَلْ هَذَا آخِرَ الْعَهْدِ مِنِ اجْتِمَاعِنَا، وَارْزُقْنَا لِقَاءً آخَرَ عَلَى طَاعَتِكَ وَمَحَبَّتِكَ وَبَرَكَتِكَ، وَاخْتِمْ لَنَا بِخَيْرٍ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

عبادَ اللهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
12,700PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
9,600PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami