KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَمَرَنَا بِالْأَمَانَةِ وَالْإِحْسَانِ فِي الْأَعْمَالِ، وَحَذَّرَنَا مِنَ الْخِيَانَةِ وَالْغِشِّ وَسُوءِ الْأَفْعَالِ، وَجَعَلَ كُلَّ عَمَلٍ نَعْمَلُهُ مَسْؤُولِيَّةً نُسْأَلُ عَنْهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الْعَظِيمَةِ وَآلَائِهِ الْجَسِيمَةِ، وَنَسْتَغْفِرُهُ مِنْ ذُنُوبِنَا وَخَطَايَانَا، وَنَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ تَقْصِيرِنَا وَتَفْرِيطِنَا.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهَدْيِهِ وَاسْتَنَّ بِسُنَّتِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ أَصْلُ كُلِّ خَيْرٍ، وَسَبِيلُ النَّجَاةِ يَوْمَ الْحِسَابِ، وَهِيَ الْمِيزَانُ الَّذِي يَضْبِطُ أَقْوَالَنَا وَأَعْمَالَنَا فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ.
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا.
Daftar Isi
Pekerjaan Bukan Sekadar Profesi, tetapi Amanah
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, marilah kita senantiasa bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala atas segala nikmat dan karunia-Nya, terutama nikmat iman, Islam, dan kesempatan untuk terus memperbaiki diri. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti petunjuk beliau. Selanjutnya, marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, termasuk dalam menjalankan amanah pekerjaan dan profesi kita. Sebab, ketakwaan bukan hanya tercermin dalam ibadah di masjid, tetapi juga dalam kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, dan integritas ketika bekerja. Oleh karena itu, marilah kita merenungkan kembali bagaimana seharusnya seorang muslim menjaga amanah profesinya agar setiap pekerjaan menjadi jalan mencari rezeki yang halal sekaligus bekal pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, hendaknya kita menyadari bahwa pekerjaan bukan sekadar profesi untuk mendapatkan gaji, melainkan amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Seorang guru memiliki amanah mendidik, seorang pegawai memiliki amanah melaksanakan tugas, seorang pedagang memiliki amanah menjaga kejujuran, dan seorang pemimpin memiliki amanah menegakkan keadilan. Allah berfirman dalam QS. An-Nisa’ ayat 58,
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.”
Ayat ini mengingatkan kita bahwa setiap tanggung jawab harus ditunaikan sebagaimana mestinya, bukan sekadar menggugurkan kewajiban atau memenuhi formalitas pekerjaan.
Karena itu, ukuran keberhasilan seorang muslim dalam bekerja tidak cukup dilihat dari besarnya gaji, tingginya jabatan, atau lamanya masa pengabdian, tetapi juga dari kejujuran dan kesungguhannya dalam menunaikan tanggung jawab. Jangan sampai kita begitu teliti menghitung hak yang harus diterima, tetapi lalai menghitung kewajiban yang harus ditunaikan. Jangan hanya bertanya, “Berapa gaji yang saya terima setiap bulan?” tetapi tanyakan pula, “Sudahkah pekerjaan yang menjadi tanggung jawab saya dilaksanakan dengan benar? Sudahkah hak orang lain saya penuhi? Sudahkah saya bekerja dengan jujur meskipun tidak ada orang yang mengawasi?” Sebab, manusia mungkin hanya menilai hasil pekerjaan yang terlihat, tetapi Allah mengetahui setiap usaha, kelalaian, dan pengkhianatan terhadap amanah yang tersembunyi.
Korupsi Tidak Selalu Berbentuk Uang
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, ketika mendengar kata korupsi, mungkin yang terbayang dalam benak kita adalah pejabat yang menyalahgunakan uang negara atau seseorang yang mengambil uang dalam jumlah besar. Padahal, kecurangan tidak selalu berbentuk uang dan tidak selalu dilakukan oleh orang yang memiliki jabatan tinggi. Ada pula yang mengambil hak orang lain melalui cara-cara yang dianggap sepele: sengaja mengulur waktu kerja, memanipulasi laporan, menggelembungkan anggaran, menyalahgunakan fasilitas kantor, atau menerima gaji tanpa menunaikan tanggung jawab sebagaimana mestinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan peringatan yang tegas dalam sabdanya,
مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا
“Barang siapa menipu kami, maka ia bukan golongan kami.” (HR. Muslim, no. 101).
Hadis ini mengingatkan kita bahwa kejujuran bukan perkara kecil yang boleh dikompromikan demi keuntungan pribadi. Setiap bentuk kecurangan yang merugikan orang lain harus kita waspadai, meskipun telah menjadi kebiasaan di lingkungan kerja atau dianggap lumrah oleh banyak orang.
Jamaah sekalian, tidak semua pencurian meninggalkan barang yang hilang. Ada yang mencuri waktu, merampas hak melalui laporan palsu, menggerogoti kepercayaan, dan menghilangkan kesempatan orang lain untuk memperoleh pelayanan yang semestinya. Ironisnya, seseorang terkadang merasa telah bekerja dengan baik hanya karena tidak pernah mengambil uang secara langsung, padahal ia sengaja mengabaikan tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Tentu, keterlambatan, kekeliruan, atau pekerjaan yang tidak selesai tidak serta-merta menjadi kecurangan; semuanya perlu dilihat berdasarkan sebab, kemampuan, dan kesepakatan kerja. Namun, ketika seseorang dengan sadar memanfaatkan celah untuk menghindari kewajiban atau memperoleh sesuatu yang bukan haknya, di situlah integritas sedang dipertaruhkan. Maka, sebelum merasa bersih dari korupsi, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Jangan-jangan selama ini kita begitu takut kehilangan uang, tetapi tidak cukup takut mengambil hak orang lain? Sebab, amanah tidak hanya diuji ketika kita memegang uang, tetapi juga ketika kita memegang waktu, kepercayaan, dan tanggung jawab.
Allah Melihat Apa yang Tidak Dilihat Atasan
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, di zaman sekarang, berbagai sistem pengawasan semakin canggih. Ada absensi digital untuk mencatat kehadiran, kamera CCTV untuk memantau aktivitas, laporan daring untuk mengevaluasi pekerjaan, dan audit untuk memeriksa penggunaan anggaran. Namun, secanggih apa pun sistem yang dibuat manusia, tetap ada celah yang tidak terjangkau oleh pengawasan. Seseorang mungkin terlihat rajin ketika pimpinan berada di dekatnya, tetapi mengabaikan tugas ketika atasannya pergi. Ia mungkin tertib ketika diperiksa, tetapi berbuat curang ketika merasa aman. Padahal, seorang muslim semestinya memiliki kesadaran bahwa pengawasan Allah tidak pernah terputus. Allah berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 105
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ
“Katakanlah, ‘Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.’”
Ayat ini mengingatkan kita bahwa setiap pekerjaan berada dalam pengetahuan Allah, baik yang terlihat oleh manusia maupun yang tersembunyi dari pandangan mereka.
Karena itu, integritas sejati tidak lahir semata-mata karena takut ditegur atasan, khawatir terkena sanksi, atau tidak ingin kehilangan pekerjaan. Integritas tumbuh dari keimanan yang membuat seseorang tetap jujur meskipun tidak diawasi, tetap bersungguh-sungguh meskipun tidak dipuji, dan tetap menolak kecurangan meskipun kesempatan terbuka lebar. Cobalah kita renungkan: jika semangat kerja kita hanya muncul ketika pimpinan hadir, kepada siapa sebenarnya kita sedang menunjukkan kesungguhan? Jika kita hanya jujur ketika ada pemeriksaan, apakah kejujuran itu benar-benar telah menjadi bagian dari diri kita? Jangan sampai kita sibuk mencari celah agar luput dari pengawasan manusia, tetapi lupa bahwa tidak ada satu pun perbuatan yang tersembunyi dari Allah. Sebab, orang yang benar-benar merasa diawasi oleh Allah tidak membutuhkan kehadiran atasan untuk mengingatkannya agar tetap amanah.
Profesionalisme adalah Bagian dari Akhlak Muslim
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, kesalehan seorang muslim tidak cukup diukur dari rajinnya ia beribadah di masjid, panjangnya doa yang dipanjatkan, atau banyaknya nasihat kebaikan yang disampaikan. Kesalehan juga semestinya tercermin dalam cara ia menjalankan pekerjaan: datang tepat waktu, menyelesaikan tugas dengan sungguh-sungguh, bersikap cermat, tidak melempar tanggung jawab, dan bersedia memperbaiki kesalahan. Allah memberikan gambaran tentang kualitas seorang pekerja yang baik melalui firman-Nya dalam QS. Al-Qashash ayat 26,
إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ
“Sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.”
Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, ketika menafsirkan ayat ini, bahwa sifat kuat berkaitan dengan kemampuan menjalankan pekerjaan, sedangkan sifat amanah berkaitan dengan tanggung jawab dan kepercayaan. Dengan demikian, seorang muslim yang baik dalam pekerjaannya bukan hanya orang yang mampu menyelesaikan tugas, melainkan juga orang yang dapat dipercaya dalam melaksanakannya. (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, jilid 6, hlm. 226).
Maka, jangan hanya sibuk mencari pekerjaan yang baik, mengharapkan gaji yang layak, atau mengejar jabatan yang tinggi, tetapi lupa mempersiapkan diri menjadi pribadi yang layak dipercaya. Sebab, kemampuan tanpa kejujuran dapat menjadi alat untuk melakukan kecurangan yang lebih besar, sedangkan kejujuran tanpa kesungguhan perlu dilengkapi dengan kemauan untuk terus belajar dan memperbaiki kualitas kerja. Seorang guru hendaknya tidak hanya pandai berbicara tentang akhlak, tetapi juga bertanggung jawab dalam mendidik; seorang pegawai tidak cukup sekadar hadir, tetapi harus menunaikan tugasnya; dan seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki kekuasaan, tetapi harus menggunakannya dengan adil. Marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah kehadiran kita di tempat kerja benar-benar membawa manfaat, atau justru menjadi beban bagi orang lain? Semoga pekerjaan kita bukan hanya mendatangkan penghasilan bagi keluarga, tetapi juga menjadi bukti akhlak yang baik, wujud ketakwaan, dan jalan meraih keridaan Allah.
Sebelum Dihisab, Hisablah Diri Sendiri
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, setiap amanah pada akhirnya akan dimintai pertanggungjawaban, sekecil apa pun amanah itu menurut pandangan manusia. Seorang pemimpin akan ditanya tentang kebijakan dan keadilan yang ditegakkannya, seorang pegawai tentang tugas yang diabaikannya, seorang pedagang tentang kejujuran dalam transaksinya, dan siapa pun yang mengelola uang atau fasilitas milik orang lain tentang bagaimana ia menggunakannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Al-Bukhari, no. 7138; Muslim, no. 1829).
Hadis ini mengingatkan kita bahwa tidak ada seorang pun yang terbebas dari tanggung jawab. Mungkin kita tidak memiliki jabatan tinggi, tidak mengelola anggaran besar, dan tidak mengambil keputusan penting, tetapi kita semua memiliki amanah sesuai kedudukan masing-masing. Karena itu, sebelum sibuk menilai kelalaian orang lain, marilah kita belajar menghisab diri sendiri sebelum tiba hari ketika seluruh amal diperhitungkan di hadapan Allah.
Jamaah sekalian, muhasabah bukan sekadar merasa bersalah, melainkan keberanian untuk mengakui kekurangan dan memperbaikinya. Cobalah kita bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita bekerja sesuai waktu dan tanggung jawab yang disepakati? Adakah laporan yang kita manipulasi, fasilitas yang kita salahgunakan, atau hak orang lain yang belum kita kembalikan? Jika seluruh pekerjaan kita diperlihatkan di hadapan Allah, adakah sesuatu yang membuat kita malu? Jika kita menemukan kekeliruan, jangan menundanya untuk diperbaiki; hentikan kecurangan, benahi laporan, kembalikan hak yang bukan milik kita, dan mintalah maaf jika telah merugikan orang lain. Jangan menunggu menjadi pejabat besar untuk belajar amanah, sebab tanggung jawab besar selalu dimulai dari perkara-perkara kecil yang dijaga dengan sungguh-sungguh. Jangan sampai kita sibuk menghitung penghasilan sepanjang hidup, tetapi lupa mempersiapkan jawaban atas pertanggungjawaban di akhirat. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang jujur, amanah, dan mampu menunaikan setiap tanggung jawab dengan sebaik-baiknya.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ الزَّادِ لِيَوْمِ الْمَعَادِ تَقْوَى اللَّهِ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ﴾
Muhasabah Amanah: Sudahkah Kita Bekerja dengan Jujur di Hadapan Allah?
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, marilah kita menutup renungan ini dengan bertanya kepada diri sendiri: sudahkah pekerjaan yang kita lakukan setiap hari benar-benar menjadi bagian dari ketaatan kepada Allah, atau justru menjadi ladang kelalaian yang tidak kita sadari? Sudahkah kita menunaikan amanah dengan jujur ketika tidak ada yang mengawasi, memberikan hak orang lain sebagaimana mestinya, serta bekerja dengan sungguh-sungguh tanpa harus selalu diingatkan? Jangan sampai kita begitu cermat menghitung gaji, tetapi lalai menghitung tanggung jawab; begitu takut kepada penilaian manusia, tetapi lupa bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Jika hari ini kita menemukan kekurangan, masih ada kesempatan untuk memperbaikinya; jika ada hak yang belum ditunaikan, segeralah mengembalikannya; dan jika selama ini kita terbiasa meremehkan amanah, marilah kita bertekad untuk berubah. Sebab, kemuliaan seorang muslim bukan hanya terletak pada apa yang ia ucapkan dan ibadah yang ia tampakkan, tetapi juga pada kejujuran dan tanggung jawab yang ia jaga dalam setiap pekerjaan. Semoga Allah menjadikan kita pribadi yang kuat dalam kemampuan, lurus dalam kejujuran, teguh dalam amanah, dan ikhlas dalam pengabdian, sehingga pekerjaan kita bukan sekadar jalan mencari penghidupan, melainkan juga jalan meraih keberkahan dan keridaan Allah.
اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْإِخْلَاصَ فِي الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ، وَالصِّدْقَ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ، وَالْأَمَانَةَ فِي كُلِّ مَسْؤُولِيَّةٍ، وَالْبَرَكَةَ فِي أَرْزَاقِنَا وَأَعْمَالِنَا. اللَّهُمَّ اجْعَلْ أَعْمَالَنَا صَالِحَةً، وَلِوَجْهِكَ خَالِصَةً، وَلَا تَجْعَلْ فِيهَا لِأَحَدٍ غَيْرِكَ شَيْئًا.
اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى أَدَاءِ الْأَمَانَاتِ، وَالْوَفَاءِ بِالْعُهُودِ، وَالْقِيَامِ بِالْوَاجِبَاتِ، وَالْبُعْدِ عَنِ الْغِشِّ وَالْخِيَانَةِ وَالظُّلْمِ وَأَكْلِ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ.
اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الرِّيَاءِ، وَأَعْمَالَنَا مِنَ الْخِيَانَةِ، وَأَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ، وَأَرْزَاقَنَا مِنَ الْحَرَامِ. اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا كَسْبًا حَلَالًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، وَجَنِّبْنَا الْمَالَ الْحَرَامَ وَالْمَكَاسِبَ الْمَشْبُوهَةَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يُحْسِنُونَ أَعْمَالَهُمْ، وَيَصْدُقُونَ فِي أَقْوَالِهِمْ، وَيُؤَدُّونَ حُقُوقَ غَيْرِهِمْ، وَيَخَافُونَكَ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ. اللَّهُمَّ حَاسِبْنَا حِسَابًا يَسِيرًا، وَاغْفِرْ لَنَا تَقْصِيرَنَا وَتَفْرِيطَنَا، وَوَفِّقْنَا لِلتَّوْبَةِ الصَّادِقَةِ وَرَدِّ الْمَظَالِمِ إِلَى أَهْلِهَا، وَأَعِنَّا عَلَى إِصْلَاحِ أَعْمَالِنَا قَبْلَ لِقَائِكَ.
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا وَأَوْقَاتِنَا وَجُهُودِنَا، وَاجْعَلْ أَعْمَالَنَا سَبَبًا لِرِضَاكَ وَدُخُولِ جَنَّتِكَ، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
عبادَ اللهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
Oleh : Santri Darsya






