Daftar Isi
KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَكْرَمَنَا بِنِعْمَةِ الْإِيمَانِ، وَهَدَانَا لِمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ وَمَحَاسِنِ الْأَعْمَالِ، وَجَعَلَ صَلَاحَ الْقُلُوبِ سَبَبًا لِصَلَاحِ الْأَفْعَالِ، وَصَلَاحَ الْأَفْرَادِ سَبَبًا لِصَلَاحِ الْمُجْتَمَعَاتِ.
نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى نِعَمٍ لَا تُعَدُّ، وَفَضَائِلَ لَا تُحْصَى، وَنَسْأَلُهُ قُلُوبًا تَعْرِفُ حَقَّهُ، وَنُفُوسًا تَخَافُهُ، وَأَخْلَاقًا تَنْفَعُ عِبَادَهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ مِنْ ذُنُوبٍ أَضْعَفَتْ إِيمَانَنَا، وَأَفْسَدَتْ أَخْلَاقَنَا، وَأَضَرَّتْ بِعَلَاقَاتِنَا.
وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً نَرْجُو بِهَا نَجَاتَنَا يَوْمَ نَلْقَاهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، خَيْرُ مَنْ عَبَدَ رَبَّهُ، وَأَحْسَنُ مَنْ عَامَلَ خَلْقَهُ، وَأَعْظَمُ مَنْ تَرَكَ فِي الْأَرْضِ أَثَرًا مِنَ الرَّحْمَةِ وَالْهُدَى.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، الَّذِي كَانَ قُرْآنًا يَمْشِي بَيْنَ النَّاسِ، فَجَمَعَ بَيْنَ عِبَادَةِ رَبِّهِ، وَحُسْنِ خُلُقِهِ، وَالرَّحْمَةِ بِخَلْقِهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اقْتَفَى أَثَرَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى لَيْسَتْ كَلِمَةً تُقَالُ، وَلَا مَظْهَرًا يُرَى، وَلَكِنَّهَا قَلْبٌ يَخْشَى اللَّهَ، وَجَوَارِحُ تَسْتَقِيمُ لَهُ، وَأَخْلَاقٌ يَسْلَمُ النَّاسُ مِنْهَا وَيَنْتَفِعُونَ بِهَا.
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.
أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ رَحِمَكُمُ اللَّهُ،
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى : وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ.
Pembukaan: Seperti Apa Akhlak Kita Setelah Keluar dari Masjid?
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, marilah kita senantiasa memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala nikmat, terutama nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan sehingga pada hari yang mulia ini kita dapat kembali berkumpul di rumah Allah dalam keadaan mengharap rahmat dan ampunan-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, teladan terbaik dalam ibadah, akhlak, dan kehidupan bermasyarakat, beserta keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti petunjuk beliau hingga hari kiamat. Selanjutnya, marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan sebenar-benar takwa; menjalankan segala perintah-Nya, menjauhi segala larangan-Nya, serta menghadirkan kesadaran bahwa Allah senantiasa melihat setiap ucapan dan perbuatan kita.
Jamaah Jumat rahimakumullah, ketakwaan bukan hanya sesuatu yang kita rasakan di dalam hati atau kita tunjukkan ketika berada di masjid. Ketakwaan semestinya memiliki jejak dalam kehidupan sehari-hari: dalam cara kita berbicara, memperlakukan tetangga, menggunakan jalan, menjaga kebersihan, menghormati ketertiban, dan memastikan orang lain merasa aman dari keberadaan kita. Karena itu, pada kesempatan ini marilah kita merenungkan kembali: ketika kita keluar dari masjid, apa yang ikut keluar bersama kita? Apakah hanya tubuh kita, ataukah juga ketakwaan dan akhlak yang telah kita bawa dari hadapan Allah?
Hadirin yang dimuliakan Allah, setiap Jumat kita datang ke masjid dengan membawa harapan yang sama: mendekat kepada Allah, menenangkan hati, membersihkan diri dari dosa, dan menguatkan kembali iman yang mungkin melemah sepanjang perjalanan hidup. Kita berwudu, berdiri dalam salat, mendengarkan ayat-ayat Allah, berzikir dan berdoa. Namun ada satu pertanyaan yang layak kita bawa pulang: seperti apa akhlak kita setelah kaki meninggalkan masjid? Apakah ketenangan yang kita rasakan dalam salat masih terlihat ketika berada di jalan? Apakah kesabaran dalam ibadah masih hadir ketika harus mengantre, berhadapan dengan kemacetan, atau ketika kepentingan kita berbenturan dengan kepentingan orang lain? Dan apakah rasa takut kepada Allah tetap hidup ketika tidak ada mata manusia yang melihat dan tidak ada yang menegur ketika kita mengambil hak orang lain?
Di sinilah kita perlu menyadari bahwa masjid bukan sekadar tempat kita memperbaiki hubungan dengan Allah, tetapi juga tempat kita belajar menjadi manusia yang lebih baik bagi sesama. Sebab, ibadah yang benar semestinya meninggalkan jejak pada akhlak kita. Salat seharusnya membuat kita lebih mampu menahan diri, zikir membuat hati lebih lembut, dan takwa membuat kita berpikir sebelum merugikan orang lain. Jangan sampai kita begitu khusyuk ketika berdiri di hadapan Allah, tetapi membuat orang lain tidak tenang ketika berhadapan dengan kita. Jangan sampai masjid mengajarkan kita kedamaian, tetapi setelah keluar darinya, lingkungan justru merasakan gangguan dari ucapan, tangan, perilaku, atau ketidakpedulian kita. Maka marilah kita bertanya kepada diri sendiri dengan jujur: ketika kita keluar dari masjid, apa yang ikut keluar bersama kita? Hanya tubuh kita, ataukah juga iman, takwa, dan akhlak yang telah kita latih di hadapan Allah?
Iman Tidak Berhenti pada Kesalehan Pribadi
Saudara-saudara kaum muslimin yang dirahmati Allah, Islam tidak pernah mengajarkan kita menjadi manusia yang hanya baik untuk dirinya sendiri. Ketakwaan memang bermula dari hati, tetapi ia tidak boleh berhenti di dalam hati. Allah menggandengkan antara kebaikan dan ketakwaan ketika berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ.
“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan, dan janganlah tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 2).
Ayat ini mengingatkan kita bahwa iman yang hidup akan melahirkan kepedulian. Orang yang bertakwa semestinya membawa ketenangan, bukan keresahan; menghadirkan manfaat, bukan mudarat; menjaga hak orang lain, bukan mengambilnya; serta peduli terhadap keadaan lingkungan di sekitarnya. Sebab kita tidak hidup seorang diri. Ada tetangga yang membutuhkan ketenangan, ada pengguna jalan yang membutuhkan keamanan, ada masyarakat yang membutuhkan ketertiban, dan ada lingkungan yang membutuhkan kepedulian kita.
Hadirin yang Allah muliakan, mungkin kita rajin salat, gemar berzikir, senang menghadiri majelis ilmu, dan berusaha memperbanyak amal ibadah. Namun marilah kita bertanya lebih dalam: apakah kesalehan itu sudah dirasakan oleh orang-orang yang hidup di sekitar kita? Ketika kita berada di jalan, apakah orang lain merasa aman dari perilaku kita? Ketika berada di lingkungan rumah, apakah keberadaan kita membawa ketenteraman? Ketika melihat sampah berserakan, gangguan di jalan, atau hak orang lain terabaikan, apakah hati kita tergerak untuk peduli? Di sinilah kesalehan diuji. Karena ukuran kesalehan seorang muslim tidak cukup dilihat dari bagaimana ia beribadah ketika berada di hadapan Allah, tetapi juga bagaimana ia bersikap ketika berhadapan dengan makhluk Allah. Jangan sampai hubungan kita dengan Allah semakin baik, tetapi manusia di sekitar kita justru semakin tidak nyaman karena akhlak kita.
Cermin Pertama: Bagaimana Kita Memperlakukan Lingkungan?
Kaum muslimin yang semoga senantiasa dijaga Allah, salah satu cermin sederhana yang dapat menunjukkan kualitas iman kita adalah bagaimana kita memperlakukan lingkungan di sekitar kita. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ
“Bersuci itu separuh iman.” (HR. Muslim no. 223).
Perhatikan bagaimana Islam mengajarkan kita untuk peduli terhadap kebersihan. Ketika hendak salat, kita memastikan badan bersih, pakaian bersih, tempat salat bersih, bahkan kita berusaha agar tidak membawa sesuatu yang mengganggu kekhusyukan orang lain. Namun pertanyaannya, apakah kepedulian itu berhenti ketika kita keluar dari masjid? Bagaimana ketika kaki kita menginjak jalan, ketika berada di pasar, di tempat kerja, di sekolah, atau di lingkungan rumah? Apakah kita masih merasa bahwa kebersihan adalah bagian dari iman, atau kita hanya merasa berkepentingan dengan kebersihan ketika kebersihan itu menyangkut diri kita sendiri?
Saudaraku yang dirahmati Allah, persoalan lingkungan terkadang bukan karena tidak ada petugas kebersihan, tetapi karena masih ada orang yang merasa bahwa kebersihan adalah urusan orang lain. Kita ingin jalan yang bersih, tetapi masih membuang sampah sembarangan. Kita ingin selokan lancar, tetapi tidak peduli ketika sampah menumpuk di dalamnya. Kita ingin halaman masjid rapi, tetapi setelah sebuah acara selesai, kita meninggalkan bekas makanan, botol, dan sampah begitu saja. Maka marilah kita mengubah cara pandang: jangan hanya menjadi orang yang senang menikmati lingkungan yang bersih, tetapi jadilah bagian dari orang-orang yang menjaganya. Sebab ketika tangan kita mengambil sampah yang bukan milik kita, ketika kita membersihkan sesuatu yang bukan menjadi tugas kita, dan ketika kita menahan diri untuk tidak meninggalkan kotoran di tempat umum, sesungguhnya kita sedang menunjukkan bahwa iman itu benar-benar memiliki buah dalam kehidupan.
Cermin Kedua: Apakah Orang Lain Aman dari Kita?
Hadirin yang dimuliakan Allah, cermin kedua dari kualitas iman kita adalah satu pertanyaan sederhana, tetapi sangat dalam: apakah orang lain merasa aman ketika berhadapan dengan kita? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. al-Bukhari no. 10; Muslim no. 40).
Lisan hari ini tidak hanya berbicara secara langsung. Ia juga bisa hadir melalui pesan singkat, komentar di media sosial, unggahan, ejekan, gosip, sindiran, bahkan kalimat yang kita anggap sekadar candaan tetapi meninggalkan luka di hati orang lain. Begitu pula tangan tidak hanya berarti memukul atau menyakiti secara fisik. Tangan dapat menjadi sebab rusaknya fasilitas umum, membuang sesuatu yang membahayakan, mengambil hak orang lain, atau bahkan digunakan untuk menekan dan merugikan sesama melalui berbagai sarana yang ada di zaman ini.
Saudara-saudara kaum muslimin rahimakumullah, mari kita renungkan lebih dalam. Ketika orang lain bertemu dengan kita, apakah mereka merasa aman atau justru harus berhati-hati? Apakah tetangga merasa tenang dengan keberadaan kita, atau terganggu oleh suara, sikap, dan perilaku kita? Apakah orang yang berada di belakang kendaraan kita merasa terlindungi, atau justru cemas karena cara kita berkendara? Apakah orang yang membaca tulisan kita di media sosial mendapatkan manfaat, atau justru membawa pulang luka karena ucapan kita? Bisa jadi kita tidak pernah merasa telah menyakiti siapa-siapa, tetapi ada hati yang diam-diam terluka karena lisan kita; ada orang yang merasa takut karena tindakan kita; ada pengguna jalan yang terancam karena kecerobohan kita. Maka, menjadi seorang muslim bukan hanya tentang seberapa banyak orang mengenal kesalehan kita, tetapi juga tentang seberapa banyak manusia merasa aman dari lisan, tangan, dan keberadaan kita. Inilah akhlak yang lahir dari iman: hadirnya kita tidak menambah ketakutan, tetapi menghadirkan rasa aman.
Cermin Ketiga: Seberapa Peduli Kita terhadap Keselamatan Orang Lain?
Hamba-hamba Allah yang semoga senantiasa dirahmati-Nya, terkadang kita mengira bahwa berbuat baik harus selalu dengan sesuatu yang besar. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan bahwa kepedulian kepada keselamatan orang lain pun dapat bernilai sedekah. Beliau bersabda:
وَتُمِيطُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ
“Menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah.” (HR. al-Bukhari no. 2827; Muslim no. 1009).
Bahkan dalam riwayat Muslim disebutkan:
مَرَّ رَجُلٌ بِغُصْنِ شَوْكٍ عَلَى ظَهْرِ الطَّرِيقِ فَأَخَّرَهُ، فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ
“Seseorang melewati sebuah dahan berduri yang berada di tengah jalan, lalu ia menyingkirkannya. Allah pun berterima kasih kepadanya dan mengampuninya.” (HR. Muslim no. 1914).
Perhatikan, jamaah sekalian, orang tersebut tidak sedang melakukan sesuatu yang spektakuler. Ia hanya melihat sesuatu yang berpotensi mencelakakan orang lain, lalu ia menyingkirkannya. Sederhana, tetapi lahir dari hati yang peduli. Ia tidak hanya berpikir, “Apa yang saya butuhkan?” tetapi juga, “Apa yang mungkin membahayakan orang lain?”
Hadirin yang dirahmati Allah, semangat hadis ini sangat dekat dengan kehidupan kita hari ini. Mungkin bukan lagi dahan berduri yang kita temukan di jalan, tetapi pecahan kaca, sampah yang membuat orang terpeleset, lubang yang tidak terlihat, kabel yang melintang, kendaraan yang menghalangi jalan, atau parkir yang membuat pengguna jalan lain kesulitan. Kadang kita melihatnya, tetapi memilih berlalu karena berpikir, “Bukan urusan saya.” Padahal bisa jadi beberapa menit setelah kita pergi, ada seorang anak yang terjatuh, seorang lansia yang tersandung, atau pengendara yang mengalami kecelakaan karena benda yang sebenarnya bisa kita singkirkan. Di sinilah kepedulian menjadi bukti iman. Seorang mukmin tidak hanya berusaha agar dirinya selamat dari keburukan, tetapi juga berusaha agar orang lain selamat dari sesuatu yang membahayakan. Maka jangan remehkan kebaikan yang tampak kecil. Bisa jadi benda yang kita singkirkan dari jalan menjadi sebab keselamatan seseorang, dan bisa jadi kepedulian yang kita anggap sederhana menjadi amal yang kelak membuat Allah berterima kasih kepada kita.
Cermin Keempat: Apakah Kita Menghormati Hak Orang Lain?
Jamaah Jumat yang Allah muliakan, cermin berikutnya dari akhlak seorang mukmin adalah bagaimana ia menghormati hak orang lain. Ketertiban sering kali dianggap sekadar aturan yang dibuat manusia, padahal di balik setiap aturan yang baik terdapat hak orang lain yang harus kita jaga. Ketika kita antre dengan tertib, kita sedang menghargai waktu dan hak orang di belakang kita. Ketika kita tidak menyerobot, tidak parkir sembarangan, tidak menggunakan jalan seolah milik pribadi, tidak membuat kebisingan yang mengganggu, serta menjaga fasilitas umum, sesungguhnya kita sedang mempraktikkan adab dalam kehidupan bermasyarakat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan sebuah prinsip yang sangat agung:
لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ
“Tidak boleh menimbulkan bahaya bagi diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (HR. Ibn Majah no. 2340).
Maka seorang mukmin tidak hanya bertanya, “Apakah saya boleh melakukan ini?” tetapi juga bertanya, “Apakah perbuatan saya akan mengganggu, merugikan, atau mengambil hak orang lain?”
Hadirin yang dirahmati Allah, kita sering berharap hak kita dihormati, tetapi sudahkah kita belajar menghormati hak orang lain? Kita ingin didahulukan ketika sedang terburu-buru, tetapi apakah kita rela memberi kesempatan kepada orang lain? Kita ingin jalan yang lancar, tetapi apakah kita ikut menjaga agar jalan tidak terhalang oleh kendaraan kita? Kita ingin lingkungan yang tenang, tetapi apakah suara dari rumah kita sudah mempertimbangkan ketenangan tetangga? Di sinilah akhlak diuji: bukan ketika melakukan sesuatu yang mudah, tetapi ketika kepentingan kita bertemu dengan kepentingan orang lain. Karena orang beriman tidak hidup dengan prinsip, “Yang penting saya tidak dirugikan,” melainkan dengan kesadaran, “Jangan sampai kenyamanan saya dibangun di atas kesusahan orang lain.” Ketertiban akhirnya bukan sekadar soal menaati aturan, tetapi bentuk nyata dari kasih sayang, penghormatan, dan ketakwaan kepada Allah.
Akhlak Sejati Terlihat Ketika Tidak Ada yang Melihat
Hadirin yang Allah muliakan, pada akhirnya semua pembahasan tentang kebersihan, keamanan, keselamatan, dan ketertiban kembali kepada satu pertanyaan: seperti apa akhlak kita ketika tidak ada yang melihat? Di masjid kita bisa terlihat khusyuk, di majelis kita bisa terlihat santun, dan di hadapan manusia kita bisa terlihat baik. Tetapi akhlak yang sesungguhnya justru diuji ketika tidak ada yang memuji, tidak ada yang menegur, dan tidak ada keuntungan yang kita dapatkan. Apakah kita tetap membuang sampah pada tempatnya ketika tidak ada petugas kebersihan? Apakah kita tetap tertib ketika tidak ada polisi? Apakah kita tetap menjaga hak orang lain ketika tidak ada seorang pun yang mengenal kita? Di situlah iman berbicara. Sebab mudah berbuat baik ketika dilihat manusia, tetapi kejujuran akhlak tampak ketika hanya Allah yang melihat kita.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, inilah puncak dari semua yang kita renungkan hari ini: akhlak bukan sekadar bagaimana kita terlihat di hadapan manusia, tetapi bagaimana kita bersikap ketika kita sadar bahwa Allah selalu melihat kita. Kesadaran inilah yang membuat seseorang tetap menjaga kebersihan meski tak dipuji, tetap tertib meski tak diawasi, tetap menghormati hak orang lain meski tidak dikenal, dan tetap berbuat baik meski tidak mendapatkan balasan. Maka jangan ukur kesalehan hanya dari apa yang tampak di masjid, tetapi lihat pula apa yang terjadi setelah kita meninggalkan masjid. Karena akhlak seorang mukmin tidak hanya terlihat ketika ia berada di masjid, tetapi juga ketika ia berada di jalan, di rumah, di tempat kerja, dan di tengah masyarakat. Jika iman benar-benar hidup di dalam hati, maka kebaikannya akan tetap hadir bahkan ketika tidak ada seorang pun yang melihat—karena ia yakin, Allah selalu melihat.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ الزَّادِ لِيَوْمِ الْمَعَادِ تَقْوَى اللَّهِ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ﴾
Jangan Bertanya: “Siapa yang Bertanggung Jawab?”
Saudara-saudara kaum muslimin yang dimuliakan Allah, dalam kehidupan bermasyarakat kita sering kali lebih cepat bertanya, “Siapa yang bertanggung jawab?” ketika melihat persoalan: “Itu tugas pemerintah, tugas petugas kebersihan, tugas RT, bukan urusan saya.” Padahal tidak semua persoalan harus kita selesaikan sendiri, tetapi seorang mukmin selalu memiliki pertanyaan yang lebih mulia: “Apa yang bisa saya lakukan?” Jika melihat sampah, ambillah ketika mampu. Jika melihat sesuatu yang membahayakan, singkirkan atau berikan peringatan. Jika melihat orang membutuhkan pertolongan, bantulah sesuai kemampuan. Jika menggunakan fasilitas umum, tinggalkan dalam keadaan baik. Dan ketika berada di jalan, jangan sampai keberadaan kita justru menjadi sumber bahaya bagi orang lain. Sebab kepedulian tidak selalu menunggu jabatan, perintah, atau imbalan. Kadang Allah menghadirkan sebuah kebaikan di depan mata kita bukan agar kita bertanya siapa yang bertugas, tetapi agar kita memiliki kesempatan untuk menjadi orang yang berbuat. Bisa jadi apa yang kita anggap kecil—memungut sampah, memberi peringatan, membantu seseorang, atau memberi jalan—justru menjadi amal besar di sisi Allah.
Tiga Pertanyaan Sebelum Pulang dari Masjid
Hadirin yang semoga senantiasa dalam penjagaan Allah, sebelum kita melangkahkan kaki meninggalkan masjid hari ini, mari kita bawa pulang tiga pertanyaan sederhana untuk kita jawab dengan jujur di dalam hati: pertama, apakah keberadaan saya membuat lingkungan menjadi lebih baik, atau justru menambah persoalan? Kedua, apakah orang lain merasa aman ketika berada di sekitar saya, atau mereka justru harus berhati-hati karena ucapan dan perilaku saya? Ketiga, ketika saya pergi dari suatu tempat, apakah saya meninggalkan manfaat atau justru meninggalkan masalah? Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin sederhana, tetapi jika setiap muslim mau menjawabnya dengan jujur lalu memperbaiki apa yang masih kurang, insyaAllah banyak persoalan di tengah masyarakat akan berkurang. Karena perubahan lingkungan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar atau tangan orang lain; terkadang ia dimulai dari satu hati yang sadar, satu tangan yang mau membantu, satu lisan yang menjaga, dan satu pribadi yang bertekad: “Di mana pun saya berada, saya tidak ingin menjadi sumber masalah bagi orang lain, tetapi ingin menjadi sebab hadirnya kebaikan.”
Penutup: Jadilah Orang yang Kehadirannya Membawa Kebaikan
Hamba-hamba Allah yang dirahmati Allah, mungkin kita tidak mampu memperbaiki seluruh lingkungan, tidak pula mampu menyelesaikan semua persoalan masyarakat, tetapi kita selalu memiliki kesempatan untuk tidak menjadi bagian dari masalah, bahkan menjadi bagian dari kebaikan. Bersihkan apa yang bisa kita bersihkan, amankan apa yang bisa kita amankan, tertibkan apa yang bisa kita tertibkan, bantu siapa yang bisa kita bantu, dan jangan menyakiti siapa pun yang berada di sekitar kita. Jangan menunggu menjadi orang besar untuk melakukan kebaikan besar, karena sering kali kebaikan justru lahir dari perkara-perkara sederhana yang dilakukan dengan ikhlas dan istiqamah. Sebab seorang mukmin tidak hanya ditandai dengan banyaknya ibadah yang ia kerjakan, tetapi juga dengan banyaknya kebaikan yang dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya. Maka semoga ketika kita pulang dari masjid hari ini, bukan hanya hati kita yang menjadi lebih baik, tetapi juga rumah yang kita tinggalkan, jalan yang kita lewati, lingkungan tempat kita tinggal, tempat kita bekerja, dan masyarakat di sekitar kita menjadi sedikit lebih baik karena kehadiran kita. Jangan sampai orang hanya mengenang bahwa kita pernah hadir; semoga mereka mengenang bahwa kehadiran kita pernah membawa manfaat.
اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَحَسِّنْ أَخْلَاقَنَا، وَزَكِّ نُفُوسَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الصَّالِحِينَ الْمُصْلِحِينَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ، مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ، نَنْفَعُ عِبَادَكَ، وَلَا نَضُرُّهُمْ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا سَبَبًا لِلْأَمْنِ وَالسَّلَامِ، وَالْخَيْرِ وَالطُّمَأْنِينَةِ فِي بُيُوتِنَا وَمُجْتَمَعِنَا.
اللَّهُمَّ وَفِّقْنَا لِحِفْظِ حُقُوقِ النَّاسِ، وَكُفَّ أَذَانَا عَنْهُمْ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَسْعَوْنَ فِي الْخَيْرِ وَيَدُلُّونَ عَلَيْهِ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا نَافِعِينَ لِلنَّاسِ، وَاجْعَلْ حَيَاتَنَا زِيَادَةً فِي الْخَيْرِ، وَمَوْتَنَا رَاحَةً مِنَ الشَّرِّ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ بُيُوتَنَا، وَأَصْلِحْ مُجْتَمَعَنَا، وَاحْفَظْ بِلَادَنَا مِنَ الْفِتَنِ وَالْمَكَارِهِ، وَاجْعَلْهَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا.
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا، وَأَصْلِحْنَا وَأَصْلِحْ بِنَا، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ.
اللَّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِالْخَيْرِ، وَاجْعَلْ آخِرَ كَلَامِنَا مِنَ الدُّنْيَا شَهَادَةَ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
عبادَ اللهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
Oleh : Santri Darsya




