BerandaMateri KhutbahKhutbah JumatUtang dan Gaya Hidup: Terjebak Demi Gengsi

Utang dan Gaya Hidup: Terjebak Demi Gengsi

- Advertisement -spot_img

Ketika gengsi mengalahkan rasa syukur, utang bukan lagi jalan keluar, melainkan pintu masuk kegelisahan.

 

KHUTBAH PERTAMA

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَغْنَى مَنْ قَنِعَ بِرِزْقِهِ، وَأَذَلَّ مَنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ، وَجَعَلَ الْبَرَكَةَ فِي الْقَنَاعَةِ وَالْعَفَافِ، وَحَذَّرَ عِبَادَهُ مِنَ الْإِسْرَافِ وَالتَّبْذِيرِ وَالتَّكَالُفِ فِي الْمَعِيشَةِ. نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ، وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، الَّذِي كَانَ أَزْهَدَ النَّاسِ فِي الدُّنْيَا، وَأَقْنَعَهُمْ بِمَا آتَاهُ اللَّهُ، وَأَحْرَصَهُمْ عَلَى الْبُعْدِ عَنِ الدَّيْنِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.

أَمَّا بَعْدُ، فَأُوصِيكُمْ – وَنَفْسِيَ الْمُقَصِّرَةَ – بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ لِلْعَبْدِ فِي دِينِهِ وَدُنْيَاهُ، وَبِهَا تَحْصُلُ الْبَرَكَاتُ، وَتَنْدَفِعُ الْكُرُبَاتُ، وَتُقْضَى الْحَاجَاتُ.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾

وَقَالَ سُبْحَانَهُ:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ۝ يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا﴾

وَعَنْ أَبِي ذَرٍّ جُنْدُبِ بْنِ جُنَادَةَ وَأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ قَالَ:

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.

يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى فِي التَّحْذِيرِ مِنَ الْإِسْرَافِ وَمُجَاوَزَةِ الْحَدِّ فِي الْإِنْفَاقِ:

﴿يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ﴾

Mukadimah

Segala puji hanya milik Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā yang telah melimpahkan kepada kita nikmat iman, nikmat Islam, serta rezeki yang halal dan penuh keberkahan. Dialah Dzat Yang Maha Mencukupi hamba-hamba-Nya yang bersyukur dan merasa cukup dengan karunia-Nya. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muḥammad ﷺ adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada beliau, keluarga, para sahabat, serta seluruh pengikutnya hingga hari kiamat. Beliaulah teladan terbaik dalam hidup sederhana, qana’ah terhadap rezeki yang Allah berikan, dan senantiasa berlindung kepada Allah dari lilitan utang yang dapat memberatkan kehidupan seorang mukmin.

Jamaah Jumat rahimakumullah, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan bukan hanya tampak dalam ibadah kita, tetapi juga dalam cara kita mengelola harta, membelanjakan rezeki, serta menahan diri dari gaya hidup yang melampaui kemampuan. Sebab, tidak sedikit kegelisahan hidup hari ini berawal dari keinginan untuk terlihat mampu di hadapan manusia, padahal Islam mengajarkan bahwa kemuliaan bukan terletak pada kemewahan, melainkan pada ketakwaan, qana’ah, dan keberkahan hidup.

Hidup di Era “Harus Terlihat Sukses”

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Kita hidup di zaman ketika ukuran kesuksesan perlahan bergeser. Dahulu, seseorang dihormati karena kejujuran, amanah, dan akhlaknya. Namun hari ini, tidak sedikit orang yang dinilai dari apa yang dikenakannya, kendaraan yang dikendarainya, rumah yang ditempatinya, atau tempat-tempat yang dikunjunginya. Media sosial semakin memperkuat anggapan bahwa hidup harus selalu tampak sempurna. Setiap hari kita disuguhi berbagai potret kemewahan, sehingga tanpa disadari lahirlah keinginan untuk selalu mengikuti gaya hidup orang lain. Akibatnya, banyak orang lebih sibuk membangun citra daripada membangun karakter, lebih berusaha terlihat berhasil daripada benar-benar hidup dalam keberkahan.

Padahal, di balik penampilan yang tampak mewah, tidak sedikit yang sedang memikul beban yang berat. Demi menjaga gengsi, seseorang rela mengambil cicilan di luar kemampuannya, berutang untuk membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan, bahkan terjerumus ke dalam pinjaman online yang mencekik. Senyumnya mungkin tampak di hadapan kamera, tetapi hatinya dipenuhi kecemasan memikirkan tagihan demi tagihan. Inilah ironi kehidupan modern: kemewahan yang dipamerkan sering kali dibayar dengan hilangnya ketenangan. Padahal, kebahagiaan sejati tidak lahir dari pengakuan manusia, melainkan dari hati yang qana’ah, rezeki yang halal, dan kehidupan yang diberkahi oleh Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.

Islam Mengajarkan Kesederhanaan, Bukan Gaya Hidup Berlebihan

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Islam adalah agama yang seimbang. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk hidup miskin, juga tidak melarang seorang muslim memiliki harta, menikmati rezeki yang halal, atau mengenakan pakaian yang baik. Bahkan Allah Ta’ala memerintahkan hamba-Nya agar berhias dengan pantas dan menikmati nikmat yang telah dianugerahkan. Namun, Allah memberikan batas yang sangat jelas dalam firman-Nya:

﴿يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ﴾

“Wahai anak Adam! Pakailah pakaianmu yang indah setiap memasuki masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A‘rāf [7]: 31).

Ayat ini mengajarkan bahwa menikmati nikmat Allah adalah ibadah, tetapi melampaui batas adalah sesuatu yang dibenci oleh Allah. Isrāf bukan hanya berarti menghamburkan harta, tetapi juga memaksakan diri hidup di luar kemampuan demi memenuhi keinginan yang tidak pernah ada habisnya.

Fenomena yang kita saksikan hari ini menunjukkan bahwa banyak utang tidak lagi lahir karena kebutuhan yang mendesak, melainkan karena keinginan untuk menjaga gengsi. Ada yang berutang demi memiliki telepon genggam keluaran terbaru, kendaraan yang lebih mewah, atau menggelar pesta yang melampaui kemampuan, hanya agar tidak kalah dari orang lain. Padahal, hidup sederhana bukanlah tanda kegagalan, melainkan cerminan kedewasaan dan rasa syukur kepada Allah. Seorang mukmin tidak mengukur kebahagiaannya dari banyaknya barang yang dimiliki, tetapi dari ketenangan hati yang lahir karena qana’ah. Sebab, kemewahan yang dipaksakan sering kali hanya menghasilkan pujian sesaat, sedangkan kesederhanaan yang disertai syukur akan menghadirkan keberkahan yang bertahan lama.

Utang Boleh karena Kebutuhan, Bukan Demi Gaya Hidup

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Islam tidak mengharamkan utang. Dalam keadaan tertentu, utang bahkan menjadi jalan untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak atau menghadapi kesulitan hidup. Namun, Islam juga mengajarkan agar seorang muslim tidak meremehkan utang dan tidak menjadikannya sebagai kebiasaan, terlebih hanya demi memenuhi gaya hidup atau mengejar gengsi. Karena itulah Rasulullah ﷺ sering memohon perlindungan kepada Allah dengan doa:

 اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan dosa dan lilitan utang.” (HR. Al-Bukhārī, no. 832; Muslim, no. 589). Ketika para sahabat bertanya mengapa beliau begitu sering berdoa demikian, beliau menjelaskan:

 إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ، وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ

“Sesungguhnya seseorang apabila terlilit utang, ia akan berbicara lalu berdusta, dan berjanji lalu mengingkari.” (HR. Al-Bukhārī, no. 832).

Hadis ini menunjukkan bahwa utang bukan sekadar persoalan finansial, tetapi juga dapat menjadi ujian bagi kejujuran, amanah, dan kehormatan seorang mukmin.

Realitas yang kita saksikan hari ini membenarkan sabda Rasulullah ﷺ. Betapa banyak hubungan keluarga yang retak karena beban cicilan yang tak sanggup ditanggung, persahabatan yang renggang karena janji pembayaran yang terus diingkari, bahkan silaturahmi yang terputus akibat utang yang tak kunjung diselesaikan. Lebih memprihatinkan lagi, sebagian utang itu bukan lahir dari kebutuhan, melainkan dari keinginan untuk tampil lebih mewah daripada kemampuan yang dimiliki. Demi mempertahankan citra di hadapan manusia, seseorang rela kehilangan ketenangan di hadapan keluarganya dan bahkan mempertaruhkan amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.

Oleh karena itu, hendaklah seorang muslim menjadikan utang sebagai pilihan terakhir ketika benar-benar dibutuhkan, bukan sebagai jalan pintas untuk memenuhi keinginan yang didorong oleh hawa nafsu dan gengsi.

Qana’ah Adalah Kekayaan yang Sesungguhnya

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Di tengah budaya yang mengajarkan bahwa kebahagiaan diukur dari banyaknya harta dan kemewahan yang dimiliki, Islam justru mengajarkan ukuran kekayaan yang berbeda. Rasulullah ﷺ bersabda:

 لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya hati.” (HR. Al-Bukhārī, no. 6446; Muslim, no. 1051). Dalam hadis yang lain beliau juga bersabda:

 مَا قَلَّ وَكَفَى خَيْرٌ مِمَّا كَثُرَ وَأَلْهَى

“Yang sedikit tetapi mencukupi lebih baik daripada yang banyak tetapi melalaikan.” (HR. Aḥmad, no. 22363; dinilai ṣaḥīḥ oleh Al-Albānī dalam Ṣaḥīḥ Al-Jāmi‘, no. 5650).

Kedua hadis ini mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak bergantung pada banyaknya harta, tetapi pada hati yang merasa cukup atas karunia Allah. Sebab, seseorang yang qana’ah akan merasakan nikmat dalam kesederhanaan, sedangkan orang yang tidak pernah merasa cukup akan tetap gelisah meskipun hartanya terus bertambah.

Karena itu, qana’ah bukanlah sikap pasrah tanpa ikhtiar, melainkan kemampuan mengendalikan keinginan agar tidak melampaui batas kemampuan. Orang yang qana’ah tidak akan membeli sesuatu hanya untuk mendapatkan pujian atau pengakuan dari manusia, karena ia lebih mengutamakan ridha Allah daripada penilaian makhluk. Sebaliknya, hati yang selalu merasa kurang akan terus mengejar kepuasan yang semu. Hari ini ingin telepon genggam baru, esok ingin kendaraan yang lebih mewah, lusa ingin rumah yang lebih besar. Ketika penghasilan tidak lagi mampu mengimbangi keinginan, utang pun dijadikan jalan keluar. Padahal, bukan hartanya yang kurang, melainkan rasa syukurnya yang memudar. Oleh sebab itu, marilah kita mendidik hati agar merasa cukup dengan rezeki yang halal, karena hati yang qana’ah akan melahirkan kehidupan yang tenang, sedangkan hati yang dikuasai gengsi tidak akan pernah mengenal kata puas.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ الزَّادِ لِيَوْمِ الْمَعَادِ تَقْوَى اللَّهِ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ﴾

أَعَاذَنِي اللَّهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْخِيَانَةِ وَالْفَسَادِ، وَجَعَلَنَا مِنْ أَهْلِ الصِّدْقِ وَالْأَمَانَةِ، وَوَفَّقَنَا لِمَا يُحِبُّهُ وَيَرْضَاهُ.

Muhasabah, Nasehat dan Penutup

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Sebelum kita meninggalkan majelis yang mulia ini, marilah kita bermuhasabah dengan jujur di hadapan Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Berapa banyak barang yang kita miliki sebenarnya tidak pernah kita butuhkan? Berapa banyak cicilan yang kita tanggung bukan karena kebutuhan, melainkan karena keinginan untuk mengikuti gaya hidup orang lain? Dan yang lebih penting, apakah semua yang kita perjuangkan hari ini benar-benar sedang membangun masa depan keluarga kita, atau justru hanya membangun citra agar dipandang berhasil oleh manusia? Jangan sampai kita memperoleh pujian sesaat, tetapi kehilangan ketenangan yang selama ini kita cari. Sebab, ukuran keberhasilan seorang mukmin bukanlah seberapa mewah penampilannya, melainkan seberapa tenang hatinya dalam menaati Allah.

Para ulama telah mengingatkan bahwa akar kebahagiaan maupun kesengsaraan berada di dalam hati. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

 وَالْغِنَى فِي الْقَلْبِ، وَالْفَقْرُ فِي الْقَلْبِ

“Kekayaan berada di dalam hati, sedangkan kemiskinan berada di dalam hati.” (Ibnu Taimiyah, Majmū‘ Al-Fatāwā, jilid 10, hlm. 36).

Demikian pula Al-Ḥasan Al-Baṣrī rahimahullah berkata:

 لَيْسَ الزُّهْدُ بِتَحْرِيمِ الْحَلَالِ، وَلَكِنْ أَنْ تَكُونَ بِمَا فِي يَدِ اللَّهِ أَوْثَقَ مِنْكَ بِمَا فِي يَدِكَ

“Zuhud bukanlah mengharamkan yang halal, tetapi hendaknya keyakinanmu terhadap apa yang ada di sisi Allah lebih besar daripada apa yang ada di tanganmu.” (Abū Nu‘aim, Ḥilyah Al-Auliyā’, jilid 2, hlm. 149).

Nasihat ini mengajarkan bahwa ketenangan hidup tidak lahir dari bertambahnya harta, melainkan dari bertambahnya iman, rasa syukur, dan keyakinan kepada janji Allah.

Oleh karena itu, marilah kita membangun keluarga di atas nilai qana’ah, bukan di atas gengsi. Jadikan utang sebagai pilihan terakhir ketika benar-benar dibutuhkan, bukan sebagai jalan untuk memenuhi keinginan yang tidak ada ujungnya. Yakinlah bahwa Allah tidak pernah menyia-nyiakan hamba yang bertakwa. Dia telah berjanji:

 ﴿وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ﴾

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. Aṭ-Ṭalāq [65]: 2–3).

Semoga Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā mengaruniakan kepada kita hati yang qana’ah, rezeki yang halal dan penuh keberkahan, menjauhkan kita dari utang yang memberatkan, serta menjadikan kehidupan kita penuh ketenangan di dunia dan keselamatan di akhirat.

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ.  اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى. اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّاتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا.اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ نَفْسًا مُطْمَئِنَّةً، تُؤْمِنُ بِلِقَائِكَ، وَتَرْضَى بِقَضَائِكَ، وَتَقْنَعُ بِعَطَائِكَ.

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا، وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ، وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.

رَبِّ أَوْزِعْنَا أَنْ نَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيْنَا وَعَلَى وَالِدِينَا، وَأَنْ نَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ، وَأَصْلِحْ لَنَا فِي ذُرِّيَّاتِنَا، إِنَّا تُبْنَا إِلَيْكَ وَإِنَّا مِنَ الْمُسْلِمِينَ.

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا، وَاجْعَلْهُ عَوْنًا لَنَا عَلَى طَاعَتِكَ، وَارْزُقْنَا الْقَنَاعَةَ وَالْبَرَكَةَ وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى، وَاصْرِفْ عَنَّا الْإِسْرَافَ وَالتَّبْذِيرَ وَالدَّيْنَ، وَاجْعَلْ رِزْقَنَا حَلَالًا طَيِّبًا مُبَارَكًا، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

عبادَ اللهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Oleh : Santri Darsya

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
12,700PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
9,600PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami