Daftar Isi
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْمَسَاجِدَ بُيُوتًا لِعِبَادَتِهِ، وَمَوَاطِنَ لِذِكْرِهِ وَطَاعَتِهِ، وَجَعَلَ عِمَارَتَهَا مِنْ شَعَائِرِ الْإِيمَانِ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى نِعَمِهِ الَّتِي لَا تُعَدُّ وَلَا تُحْصَى، وَنَشْكُرُهُ عَلَى فَضْلِهِ وَهُدَاهُ، وَنَسْأَلُهُ الثَّبَاتَ عَلَى دِينِهِ وَالْحُبَّ لِبُيُوتِهِ وَالْمُدَاوَمَةَ عَلَى عِمَارَتِهَا.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً نَرْجُو بِهَا النَّجَاةَ يَوْمَ نَلْقَاهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، خَيْرُ مَنْ عَلَّمَ وَرَبَّى، وَأَرْفَقُ مَنْ دَعَا وَهَدَى، صَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ، وَهِيَ وَصِيَّةُ اللَّهِ لِلْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ﴾
وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ﴾
Masjid Ramai, tetapi Mengapa Generasi Muda Tidak Selalu Hadir?
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, marilah kita senantiasa memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta‘ala atas segala nikmat dan karunia-Nya, terutama nikmat iman, Islam, kesehatan, serta kesempatan untuk kembali memenuhi panggilan-Nya di rumah-rumah Allah. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti petunjuk beliau hingga hari kiamat. Selanjutnya, marilah kita berbekal dengan ketakwaan kepada Allah, karena sebaik-baik bekal dalam perjalanan menuju akhirat adalah takwa; dengan takwa kita belajar menaati Allah ketika dilihat maupun tidak dilihat, menjaga hati, memperbaiki akhlak, dan menghadirkan kebaikan di tengah kehidupan.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, pada kesempatan yang mulia ini marilah kita merenungkan kembali salah satu rumah Allah yang semestinya menjadi tempat tumbuhnya iman dan generasi: masjid. Kita sering bertanya, “Mengapa masjid semakin sepi dari generasi muda?” Namun sebelum kita menunjuk dan menyalahkan mereka, mungkin sudah saatnya kita bertanya kepada diri sendiri: sudahkah masjid kita menjadi tempat yang membuat generasi muda merasa diterima, dibimbing, dan ingin kembali?
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, kita mungkin pernah melihat sebuah pemandangan yang cukup menggelitik hati. Masjid kita ramai ketika shalat Jumat, ramai ketika Ramadan, bahkan ramai ketika ada pengajian besar. Tetapi di luar waktu-waktu tersebut, terutama dalam shalat berjamaah sehari-hari, kita sering melihat barisan jamaah didominasi oleh generasi yang sudah lebih tua. Sementara sebagian anak muda justru lebih mudah kita temui di kafe, lapangan olahraga, komunitas, pusat hiburan, atau sibuk dengan dunia mereka di layar handphone. Lalu kita bertanya, “Mengapa mereka tidak datang ke masjid?” Pertanyaan itu wajar. Tetapi hari ini, mungkin kita perlu menambahkan satu pertanyaan lagi: “Ketika mereka datang ke masjid, apa yang mereka rasakan?” Apakah mereka merasa diterima? Apakah mereka menemukan ketenangan? Apakah mereka menemukan orang-orang yang mau menyapa, membimbing, dan mendengarkan mereka? Ataukah mereka justru merasa bahwa masjid adalah tempat yang penuh dengan teguran dan aturan, tetapi sedikit ruang untuk memahami keadaan mereka?
Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman,
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir.” (QS. At-Taubah: 18).
Ayat ini mengingatkan kita bahwa memakmurkan masjid bukan hanya tentang banyaknya orang yang memenuhi shaf, tetapi tentang lahirnya manusia-manusia yang hidup hatinya karena masjid. Maka jangan sampai kita terlalu sibuk menghitung berapa banyak anak muda yang tidak datang ke masjid, tetapi lupa bertanya apakah kita sudah menghadirkan masjid yang membuat mereka ingin datang dan kembali. Jangan hanya mengeluhkan masjid yang sepi dari generasi muda; mari kita tanyakan kepada diri sendiri, jangan-jangan selama ini kita sibuk menunggu mereka datang, tetapi belum cukup berusaha membuat mereka merasa bahwa masjid adalah rumah mereka juga.
Nabi Mengajarkan Dakwah yang Membuat Orang Mendekat, Bukan Menjauh
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, kita harus jujur bahwa tidak semua kesalahan ada pada cara kita berdakwah. Sebagian anak muda memang sedang jauh dari agama. Ada yang terlalu larut dengan gadget, hiburan, pergaulan, bahkan ada yang mulai meninggalkan shalat. Itu adalah persoalan yang harus kita hadapi dengan serius. Tetapi pertanyaannya, apakah setiap kesalahan harus kita jawab dengan kemarahan? Allah Subhanahu wa Ta‘ala mengingatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ
“Maka berkat rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka.” (QS. Ali ‘Imran: 159).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ
“Sesungguhnya kelembutan tidaklah ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu kecuali akan membuatnya buruk.” (HR. Muslim, no. 2594).
Maka barangkali yang perlu kita evaluasi bukan hanya bagaimana pemuda mendekati masjid, tetapi juga bagaimana kita menyambut mereka ketika mereka mulai mendekat.
Boleh jadi ada pemuda yang menjauh bukan karena membenci masjid, tetapi karena belum menemukan seseorang yang membuatnya merasa diterima. Mungkin ia pernah datang, tetapi dipandang dengan curiga. Mungkin ia pernah melakukan kesalahan, lalu yang paling membekas dalam ingatannya bukan nasihat yang menuntunnya kepada Allah, melainkan teguran yang membuatnya merasa tidak pantas berada di rumah Allah. Padahal dakwah bukan sekadar mengatakan, “Kamu salah!” Dakwah juga harus membuat seseorang yakin bahwa “Meskipun aku pernah salah, aku masih punya jalan untuk kembali kepada Allah.” Jangan sampai lisan kita begitu cepat mengusir orang dari masjid, sementara hati kita lupa bahwa bisa jadi orang yang sedang kita tegur itulah yang sebenarnya sedang membutuhkan masjid untuk menyelamatkan hidupnya. Kita tidak hanya dipanggil untuk menunjukkan jalan kepada Allah, tetapi juga untuk membantu orang lain berani menempuh jalan itu.
Jangan Jadikan Masjid Tempat yang Membuat Anak Muda Takut Pulang
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, tentu masjid memiliki adab dan aturan yang harus kita jaga. Kita tidak sedang mengatakan bahwa semua perilaku harus dibiarkan atas nama keramahan. Anak muda yang datang dengan pakaian yang tidak sesuai tetap perlu dinasihati. Anak-anak yang mengganggu kekhusyukan tetap perlu diarahkan. Pemuda yang menggunakan masjid tanpa memperhatikan adab juga perlu dibimbing. Tetapi persoalannya bukan sekadar apa yang kita tegur, melainkan bagaimana cara kita menegurnya. Jangan sampai seorang anak muda datang ke masjid membawa langkah yang masih tertatih menuju kebaikan, tetapi pulang membawa kesan bahwa masjid bukan tempat untuknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menghadapi seorang Arab Badui yang buang air kecil di dalam masjid. Para sahabat hendak menghardiknya, tetapi Nabi bersabda,
دَعُوهُ، وَأَهْرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلًا مِنْ مَاءٍ
“Biarkan dia, dan siramlah bekas kencingnya dengan seember air.” (HR. Bukhari no. 220; Muslim no. 284).
Setelah itu, Nabi menjelaskan dan mendidiknya dengan cara yang bijaksana. Kesalahannya tidak dibenarkan, tetapi orangnya tidak diperlakukan seolah-olah tidak memiliki tempat di rumah Allah.
Maka jamaah yang dimuliakan Allah, kesalahan tetaplah kesalahan, tetapi orang yang melakukan kesalahan jangan sampai kita buat merasa bahwa dirinya tidak pantas kembali kepada Allah. Ada perbedaan antara menegakkan aturan dengan membuat orang merasa ditolak. Ada perbedaan antara menjaga kehormatan masjid dengan membuat seseorang takut datang ke masjid. Sebab mungkin saja pemuda yang hari ini kita tegur dengan keras adalah orang yang sedang berjuang meninggalkan keburukan; dan satu kalimat yang lembut dari kita bisa menjadi sebab ia kembali mencintai masjid. Karena itu, jangan sampai kita merasa telah berhasil berdakwah hanya karena teguran kita membuat seseorang diam. Dakwah bukan tentang memenangkan teguran, tetapi tentang memenangkan hati agar seseorang mau kembali kepada Allah. Masjid seharusnya menjadi tempat ketika seseorang jatuh, ia dibantu untuk bangkit; ketika ia tersesat, ia ditunjukkan jalan; dan ketika ia jauh dari Allah, ia menemukan tempat untuk pulang.
Generasi Muda Jangan Hanya Dijadikan Objek Dakwah, Libatkan Mereka Menjadi Bagian dari Masjid
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, mungkin selama ini kita sering mengatakan kepada generasi muda, “Datanglah ke masjid!” Tetapi barangkali ada pertanyaan yang lebih penting untuk kita ajukan: “Apa yang sudah kita lakukan agar mereka merasa bahwa masjid adalah bagian dari hidup mereka?” Generasi muda tidak hanya membutuhkan nasihat, tetapi juga membutuhkan ruang untuk belajar, berdiskusi, berkarya, melakukan kegiatan sosial, membangun persaudaraan, dan menyalurkan energi mereka dalam kegiatan yang tetap berada dalam koridor syariat. Masjid tidak perlu berubah menjadi kafe, tempat hiburan, atau kehilangan wibawanya sebagai rumah Allah. Yang perlu berubah mungkin adalah cara kita membuka pintunya dan cara kita merangkul generasi yang datang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidak menjauhkan generasi muda dari kehidupan masjid. Para sahabat muda seperti Ibnu Abbas, Ibnu Umar, dan Anas bin Malik mendapatkan perhatian, pendidikan, dan kepercayaan dari Rasulullah. Mereka bukan hanya menjadi pendengar ajaran Islam, tetapi tumbuh menjadi bagian penting dari umat ini.
Maka jamaah yang dimuliakan Allah, jangan sampai kita hanya sibuk mengeluhkan, “Mengapa anak-anak muda tidak memakmurkan masjid?” tetapi lupa mempersiapkan mereka untuk menjadi generasi yang akan memakmurkannya ketika kita sudah tidak ada. Kalau hari ini anak muda tidak mengenal masjid, siapa yang akan mengenalkan mereka? Kalau mereka tidak menemukan persaudaraan di masjid, ke mana mereka akan mencari persaudaraan? Dan kalau masjid tidak memberi mereka ruang untuk belajar dan bertumbuh, kepada siapa mereka akan belajar tentang agama dan kehidupan? Bisa jadi, yang kita butuhkan bukan sekadar lebih banyak pemuda yang datang ke masjid, tetapi lebih banyak orang dewasa yang bersedia membuka hati, memberi kepercayaan, membimbing, dan berjalan bersama mereka. Sebab masjid bukan hanya bangunan yang kita wariskan kepada generasi berikutnya; masjid adalah iman, ilmu, akhlak, dan rasa memiliki yang harus kita wariskan kepada mereka.
Masjid Harus Menjadi Tempat yang Dirindukan
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, masjid bukan sekadar bangunan berkubah, menara yang menjulang, karpet yang bersih, atau pengeras suara yang terdengar hingga jauh. Masjid adalah tempat seorang hamba mengenal Tuhannya; tempat seorang ayah menggandeng anaknya belajar shalat; tempat seorang pemuda menemukan arah ketika hidupnya mulai kehilangan arah; tempat seorang yang pernah jatuh dalam dosa menemukan keberanian untuk bertaubat; dan tempat hati yang gelisah menemukan ketenangan. Karena itu, jangan hanya bertanya, “Mengapa pemuda tidak memakmurkan masjid?” Mari kita bertanya lebih dalam, “Sudahkah kita memakmurkan masjid dengan ilmu, kasih sayang, keteladanan, dan keramahan sehingga generasi muda ingin memakmurkannya?” Jangan sampai suatu hari nanti masjid kita berdiri semakin megah, bangunannya semakin indah, tetapi generasi yang seharusnya meneruskan perjuangan justru merasa asing di dalamnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, di antaranya:
وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ
“Seseorang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid.” (HR. Bukhari no. 660 dan Muslim no. 1031).
Pertanyaannya sekarang bukan hanya, “Di mana anak-anak muda kita?” tetapi juga, “Sudahkah kita membantu hati mereka agar terpaut dengan rumah Allah?”
Maka jamaah yang dimuliakan Allah, barangkali tugas kita hari ini bukan sekadar mengajak anak-anak muda datang ke masjid, tetapi membuat mereka mengenal bahwa di masjid ada Allah yang mengampuni, ada ilmu yang menerangi, ada saudara yang menerima, ada ketenangan yang menenteramkan, dan ada tempat untuk pulang ketika dunia terasa begitu melelahkan. Bisa jadi, seorang pemuda yang hari ini duduk di pojok masjid dengan segala kekurangannya, yang mungkin belum sempurna shalatnya, belum baik akhlaknya, dan masih jatuh bangun dalam memperbaiki dirinya, justru kelak menjadi orang yang paling depan dalam memakmurkan masjid. Jangan kita usir orang yang sedang belajar pulang kepada Allah. Rangkul mereka, bimbing mereka, doakan mereka. Sebab masjid hari ini bukan hanya milik generasi kita. Masjid adalah amanah yang harus kita jaga dan kita wariskan kepada generasi setelah kita. Dan mungkin, salah satu tanda bahwa kita benar-benar mencintai masjid adalah ketika kita tidak hanya ingin melihat masjid ramai hari ini, tetapi juga berusaha memastikan bahwa setelah kita tiada, masih ada generasi yang merindukan masjid dan hatinya terpaut kepadanya.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ الزَّادِ لِيَوْمِ الْمَعَادِ تَقْوَى اللَّهِ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ﴾
Penutup: Jangan Biarkan Generasi Kita Kehilangan Rumahnya
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, marilah kita jadikan semua ini sebagai muhasabah, bukan untuk mencari siapa yang salah, tetapi untuk melihat apa yang bisa kita perbaiki bersama. Jangan hanya menyalahkan pemuda karena jauh dari masjid, dan jangan pula menyalahkan orang tua, pengurus, atau para dai; sebab kita semua memiliki tanggung jawab untuk menjadikan masjid sebagai tempat tumbuhnya iman, ilmu, akhlak, dan persaudaraan. Semoga masjid-masjid kita tidak hanya ramai oleh tubuh yang datang untuk shalat, tetapi juga ramai oleh hati-hati yang mencintai Allah; tidak hanya megah bangunannya, tetapi juga hidup ruh dan dakwahnya. Mari kita berdoa kepada Allah agar Dia melembutkan hati kita, memperbaiki cara kita membimbing generasi muda, menumbuhkan kecintaan mereka kepada masjid, dan menjadikan anak-anak kita serta generasi setelah kita sebagai generasi yang mencintai Al-Qur’an, mencintai shalat, mencintai masjid, dan istiqamah dalam ketaatan. Semoga Allah menjadikan kita bukan sekadar orang yang mewariskan bangunan masjid, tetapi orang-orang yang berhasil mewariskan kecintaan kepada masjid dan iman kepada generasi setelah kita. Amin, ya Rabbal ‘alamin.
اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اللَّهُمَّ وَفِّقْ شَبَابَنَا وَأَبْنَاءَنَا لِعِمَارَةِ مَسَاجِدِكَ، وَحَبِّبْ إِلَيْهِمُ الْمَسَاجِدَ، وَاجْعَلْهَا قُرَّةَ عَيْنٍ لَهُمْ، وَاجْعَلْهُمْ مِنْ أَهْلِهَا وَعُمَّارِهَا.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ مَسَاجِدَنَا بُيُوتًا لِلْهُدَى وَالْعِلْمِ وَالرَّحْمَةِ، وَاجْعَلْ قُلُوبَنَا مُعَلَّقَةً بِهَا، وَوَفِّقْنَا لِتَرْبِيَةِ أَبْنَائِنَا وَشَبَابِنَا بِالْحِكْمَةِ وَالرَّحْمَةِ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا سَبَبًا فِي هِدَايَةِ شَبَابِنَا، وَلَا تَجْعَلْنَا سَبَبًا فِي نُفُورِهِمْ عَنْ دِينِكَ وَبُيُوتِكَ.
رَبَّنَا احْفَظْ أَبْنَاءَنَا وَشَبَابَنَا، وَاجْعَلْهُمْ قُرَّةَ عَيْنٍ لِوَالِدِيهِمْ، وَذُخْرًا لِلْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِينَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عُمَّارِ مَسَاجِدِكَ، وَمِنَ الْمُحَافِظِينَ عَلَى الصَّلَاةِ فِيهَا، وَمِنَ الَّذِينَ تَعَلَّقَتْ قُلُوبُهُمْ بِهَا.
اللَّهُمَّ عَمِّرْ مَسَاجِدَنَا بِذِكْرِكَ وَطَاعَتِكَ، وَعَمِّرْهَا بِأَهْلِ الْإِيمَانِ وَالْعِلْمِ وَالْخَيْرِ، وَاجْعَلْهَا مَنَارَةً لِلْهُدَى وَالرَّحْمَةِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
عبادَ اللهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
Oleh : Santri Darsya




