BerandaMateri KhutbahKhutbah JumatJangan Menjadi Gangguan bagi Orang Lain

Jangan Menjadi Gangguan bagi Orang Lain

- Advertisement -spot_img

Ketika Iman Terlihat dari Hal-Hal yang Tidak Kita Sadari

KHUTBAH PERTAMA

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِمَكَارِمِ الأَخْلَاقِ، وَجَعَلَ مِنْ كَمَالِ الإِيمَانِ كَفَّ الأَذَى عَنِ النَّاسِ، وَمَنَّ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الإِسْلَامِ وَالإِيمَانِ، وَأَلْهَمَنَا سُبُلَ الْخَيْرِ وَالإِحْسَانِ، وَنَشْكُرُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى نِعَمِهِ الَّتِي لَا تُعَدُّ وَلَا تُحْصَى، وَنَسْأَلُهُ أَنْ يَجْعَلَنَا مِفْتَاحًا لِلْخَيْرِ، مِغْلَاقًا لِلشَّرِّ، سَبَبًا لِرَاحَةِ عِبَادِهِ، وَلَا سَبَبًا لِأَذَاهُمْ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً نَرْجُو بِهَا النَّجَاةَ يَوْمَ نَلْقَاهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الْمُعَلِّمُ لِمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ، وَالْمُرَبِّي عَلَى حُسْنِ الْمُعَامَلَةِ، الَّذِي قَالَ اللهُ فِي حَقِّهِ:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ، الَّذِي كَانَ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ، وَقُدْوَةً فِي حُسْنِ الْمُعَامَلَةِ وَكَفِّ الأَذَى عَنِ النَّاسِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللهِ هِيَ زَادُ الْمُؤْمِنِ، وَحِصْنُهُ مِنَ الزَّلَلِ، وَسَبِيلُهُ إِلَى رِضْوَانِ رَبِّهِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

وَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.

مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِينَ رَحِمَكُمُ اللهُ،

إِنَّ مِنْ عَظِيمِ مَعَانِي التَّقْوَى أَنْ يَكُونَ الْمُؤْمِنُ حَرِيصًا عَلَى سَلَامَةِ النَّاسِ مِنْ أَذَاهُ، وَأَنْ يَكُونَ وُجُودُهُ سَبَبًا لِلرَّاحَةِ وَالطُّمَأْنِينَةِ، لَا سَبَبًا لِلضِّيقِ وَالْمَشَقَّةِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ، وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ.

Gangguan Kecil yang Sering Kita Anggap Bukan Masalah

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, marilah kita senantiasa memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta‘ala atas segala nikmat yang telah dianugerahkan kepada kita, terutama nikmat iman, Islam, kesehatan, kesempatan, dan nikmat dipertemukan kembali dengan hari Jumat dalam keadaan dapat melaksanakan ibadah kepada-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti petunjuk beliau hingga hari kiamat. Selanjutnya, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, karena sesungguhnya takwa bukan hanya tampak dalam ibadah yang kita lakukan ketika berhadapan dengan Allah, tetapi juga tercermin dalam bagaimana kita memperlakukan sesama manusia.

Jamaah yang dimuliakan Allah, pada kesempatan yang singkat ini marilah kita merenungkan satu perkara yang sering kita anggap kecil, padahal dapat menjadi cermin iman dan akhlak kita: jangan sampai kehadiran kita menjadi gangguan bagi orang lain; jangan sampai apa yang kita lakukan, ucapkan, atau tinggalkan justru membuat kehidupan orang lain menjadi lebih sulit.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, dalam kehidupan sehari-hari ada banyak hal kecil yang mungkin tidak pernah kita anggap sebagai masalah. Kita memarkir kendaraan sedikit menutup jalan sambil berkata, “Ah, cuma sebentar.” Kita meletakkan motor di depan pintu orang karena merasa masih ada ruang untuk lewat. Kita menaruh barang di lorong, membuang sampah sembarangan dengan pikiran, “Nanti juga ada yang membersihkan.” Kita berkendara tanpa memikirkan orang di belakang, atau berbicara keras ketika orang lain sedang membutuhkan ketenangan. Barangkali kita tidak sedang berniat menyakiti siapa pun. Tidak ada niat jahat di dalam hati kita. Tetapi sering kali persoalannya bukan tentang niat untuk mengganggu, melainkan tentang kepekaan untuk menyadari bahwa apa yang kita lakukan bisa menjadi gangguan bagi orang lain. Kita terlalu sering bertanya, “Apakah saya nyaman?” tetapi lupa bertanya, “Apakah orang lain nyaman karena saya?” Kita melihat dari tempat kita berdiri, tetapi lupa bahwa orang lain juga memiliki ruang, kebutuhan, dan hak yang harus dihormati.

Karena itulah Rasulullah ﷺ mengajarkan sebuah amal yang mungkin terlihat sangat sederhana, tetapi ternyata bernilai ibadah. Beliau bersabda:

 وَإِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ

“Menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah.” (HR. Bukhari, no. 2827; Muslim, no. 1009).

Perhatikan, jamaah sekalian, sesuatu yang mungkin tidak kita anggap sebagai amal besar ternyata disebut sebagai sedekah. Sebab Islam mengajarkan bahwa menjadi baik bukan hanya tentang apa yang kita berikan kepada orang lain, tetapi juga tentang apa yang kita singkirkan agar orang lain tidak terganggu karenanya. Maka jangan remehkan kebaikan yang sederhana: menyingkirkan sesuatu dari jalan, merapikan barang agar tidak menghalangi, mengecilkan suara ketika orang lain membutuhkan ketenangan, atau memberi ruang kepada orang lain untuk lewat. Bisa jadi orang lain tidak pernah tahu bahwa kita telah memudahkannya, tetapi Allah mengetahuinya. Dan bisa jadi, justru dari hal-hal kecil semacam itulah Allah melihat bahwa iman dalam hati kita benar-benar telah melahirkan akhlak dalam kehidupan.

Iman Bukan Hanya Tentang Apa yang Kita Kerjakan, tetapi Juga Apa yang Kita Singkirkan

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, ketika berbicara tentang iman, sering kali yang terlintas dalam pikiran kita adalah shalat, puasa, sedekah, membaca Al-Qur’an, atau berbagai amal yang kita kerjakan. Padahal Rasulullah ﷺ memberikan gambaran yang sangat luas tentang iman. Beliau bersabda:

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

“Iman memiliki lebih dari tujuh puluh cabang. Yang paling utama adalah ucapan la ilaha illallah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang iman.” (HR. Bukhari, no. 9; Muslim, no. 35).

Perhatikan, jamaah sekalian, Rasulullah ﷺ menempatkan perbuatan yang sangat sederhana—menyingkirkan gangguan dari jalan—sebagai bagian dari iman. Maka iman ternyata bukan hanya tentang apa yang kita kerjakan di hadapan Allah, tetapi juga tentang apa yang kita lakukan terhadap sesama manusia. Bukan hanya berapa banyak kebaikan yang kita tambahkan, tetapi juga berapa banyak gangguan yang kita hilangkan.

Allah Ta’ala berfirman:

 وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى

“Tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan.” (QS. Al-Ma’idah: 2).

Jamaah yang dimuliakan Allah, ta’awun tidak selalu berbentuk memberikan uang, tenaga, atau bantuan yang besar. Kadang ia hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: memberi jalan kepada orang lain, tidak mengambil hak orang lain, memindahkan sesuatu yang menghalangi, menjaga kebersihan tempat yang digunakan bersama, atau sekadar menahan diri agar orang lain tidak terganggu karena kita. Mungkin tidak ada yang memuji. Mungkin tidak ada yang mengucapkan terima kasih. Bahkan mungkin tidak ada yang mengetahui bahwa kita telah melakukannya. Tetapi di situlah keikhlasan diuji. Sebab seorang mukmin bukan hanya sibuk menghitung kebaikan yang telah ia lakukan, tetapi juga peka menghitung gangguan yang telah ia singkirkan dari kehidupan orang lain.

Tidak Sengaja Bukan Berarti Tidak Berdampak

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, ada kalimat yang sering kita gunakan ketika menyadari bahwa perbuatan kita mengganggu orang lain: “Saya kan tidak bermaksud mengganggu.” Kalimat itu mungkin benar. Kita tidak berniat menyusahkan tetangga ketika memarkir kendaraan, tetapi ternyata kendaraan kita membuat orang lain tidak bisa keluar. Kita tidak bermaksud mengotori lingkungan, tetapi sampah yang kita tinggalkan akhirnya harus dibersihkan oleh orang lain. Kita tidak bermaksud mengganggu orang yang sedang beristirahat, tetapi suara kita terlalu keras. Kita tidak bermaksud membahayakan pengguna jalan, tetapi cara kita berkendara membuat orang lain harus menghindar. Di sinilah kita perlu belajar membedakan antara tidak berniat mengganggu dengan tidak mengganggu. Keduanya tidak selalu sama. Allah Ta’ala berfirman:

 وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ

“Dan janganlah engkau berbuat kerusakan di bumi.” (QS. Al-Qashash: 77).

Ayat ini mengingatkan kita bahwa seorang mukmin tidak cukup hanya memiliki niat yang baik, tetapi juga perlu memiliki kepekaan agar kebaikan dalam niatnya tidak berubah menjadi kesulitan bagi orang lain dalam praktiknya.

Jamaah yang dirahmati Allah, gangguan dalam kehidupan bermasyarakat tidak selalu berupa kerusakan besar. Kadang ia justru lahir dari hal-hal kecil yang dilakukan berulang-ulang: satu orang membuang satu sampah, satu orang memarkir sembarangan, satu orang menyalakan suara terlalu keras, satu orang berkendara tanpa peduli orang lain. Sendirian mungkin terlihat sepele, tetapi ketika semua orang melakukan hal yang sama, lingkungan menjadi penuh gangguan dan melelahkan. Karena itu, mari kita naikkan standar akhlak kita. Jangan hanya bertanya, “Apakah saya bermaksud buruk?”, tetapi tanyakan juga, “Apa dampak perbuatan saya terhadap orang lain?” Sebab kedewasaan iman bukan hanya ketika kita mampu mengendalikan niat buruk, tetapi juga ketika kita mampu membaca dampak dari setiap tindakan kita. Seorang mukmin belajar melihat bukan hanya dari tempat ia berdiri, tetapi juga dari tempat orang lain berdiri.

Hak Orang Lain Tidak Selalu Berupa Harta

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, ketika mendengar istilah hak orang lain, mungkin yang terlintas adalah harta, utang, atau barang yang kita ambil tanpa izin. Padahal dalam kehidupan sehari-hari, hak orang lain jauh lebih luas daripada itu. Ada hak orang untuk berjalan dengan aman, hak tetangga untuk beristirahat, hak pengguna jalan untuk mendapatkan ruang, hak masyarakat untuk menikmati fasilitas umum dengan nyaman, bahkan hak jamaah untuk mendapatkan ketenangan ketika beribadah di masjid. Rasulullah ﷺ bersabda:

 الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari, no. 10; Muslim, no. 40).

Perhatikan, Nabi ﷺ tidak hanya mengatakan bahwa seorang Muslim adalah orang yang banyak memberi manfaat, tetapi juga orang yang orang lain selamat dari gangguan yang berasal darinya. Ini mengajarkan kepada kita bahwa menjaga hak manusia tidak selalu harus dengan memberi sesuatu; terkadang justru dengan menahan diri, mengendalikan lisan, merapikan barang, memperlambat kendaraan, mengecilkan suara, atau tidak menggunakan sesuatu dengan cara yang merugikan orang lain.

Jamaah yang dimuliakan Allah, lisan bisa menjadi gangguan, tangan bisa menjadi gangguan, kendaraan bisa menjadi gangguan, bahkan kebiasaan-kebiasaan kecil kita pun bisa menjadi gangguan ketika kita tidak peka terhadap keadaan sekitar. Karena itu, ukuran kesalehan jangan hanya kita ukur dari seberapa banyak amal yang kita kerjakan ketika sendirian bersama Allah, tetapi juga dari seberapa aman orang lain ketika berhadapan dengan kita. Ketika kita datang, apakah orang merasa tenang atau justru waswas? Ketika kita menggunakan fasilitas bersama, apakah orang lain merasa terbantu atau kehilangan haknya? Dan ketika kita pergi, apakah kita meninggalkan kenyamanan atau meninggalkan masalah yang harus dibereskan orang lain? Seorang mukmin yang baik bukan hanya orang yang rajin berbuat baik, tetapi juga orang yang kehadirannya membuat orang lain merasa aman, nyaman, dan dihargai; ketika ia pergi, ia tidak meninggalkan beban, tetapi meninggalkan kebaikan.

Jadilah Orang yang Kehadirannya Membuat Lingkungan Lebih Nyaman

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, setelah kita berbicara tentang berbagai gangguan kecil yang sering tidak kita sadari, tentang iman yang juga terlihat dari apa yang kita singkirkan, tentang dampak perbuatan yang mungkin tidak pernah kita niatkan, dan tentang hak-hak orang lain yang kadang kita abaikan, maka pertanyaannya sekarang: apa yang bisa kita lakukan? Islam tidak menuntut kita menyelesaikan seluruh persoalan masyarakat. Kita tidak harus menjadi tokoh besar untuk membawa perubahan. Tetapi kita selalu bisa memulai dari sesuatu yang berada dalam jangkauan kita. Sebelum meninggalkan kendaraan, tanyakan: “Apakah saya menghalangi orang lain?” Sebelum membuang sesuatu, tanyakan: “Siapa yang akan membersihkannya?” Sebelum berbicara, tanyakan: “Apakah tempat dan waktunya tepat?” Dan sebelum melakukan sesuatu di ruang bersama, tanyakan kepada diri sendiri: “Kalau semua orang melakukan seperti yang saya lakukan, apakah tempat ini akan menjadi lebih nyaman atau justru lebih melelahkan?” Rasulullah ﷺ bersabda:

 لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (HR. Ibnu Majah, no. 2341; Malik dalam Al-Muwaththa’; Ahmad).

Sebuah kaidah yang mengajarkan bahwa seorang mukmin harus berusaha agar dirinya tidak menjadi sumber bahaya, kesulitan, dan gangguan bagi orang lain.

Jamaah yang dimuliakan Allah, mungkin kita tidak mampu memperbaiki seluruh lingkungan, tetapi kita selalu mampu memastikan bahwa diri kita tidak menjadi bagian dari masalah. Jangan menunggu menjadi orang besar untuk memberikan manfaat. Kadang menjadi orang yang tidak menyusahkan orang lain saja sudah merupakan bentuk akhlak yang sangat besar. Menyingkirkan sesuatu dari jalan, merapikan barang agar tidak menghalangi, memberi ruang kepada orang lain, menahan suara agar tetangga dapat beristirahat, atau berhenti sejenak untuk mempersilakan orang lain lewat—semuanya mungkin terlihat kecil di mata manusia, tetapi bisa menjadi besar di sisi Allah ketika dilakukan dengan iman dan keikhlasan. Maka mari kita pulang dengan satu pertanyaan yang sederhana tetapi semoga mengubah cara kita menjalani kehidupan: kalau semua orang hidup seperti saya, apakah lingkungan ini akan menjadi lebih nyaman atau lebih melelahkan? Jadilah orang yang ketika hadir tidak menambah beban, ketika berbicara tidak menambah luka, ketika menggunakan fasilitas tidak mengambil hak orang lain, dan ketika pergi meninggalkan keadaan yang lebih baik daripada sebelumnya.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ الزَّادِ لِيَوْمِ الْمَعَادِ تَقْوَى اللَّهِ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ﴾

Kesimpulan dan Penutup

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, dari apa yang telah kita renungkan, ternyata menjadi seorang Muslim yang baik tidak hanya diukur dari seberapa banyak kebaikan yang mampu kita kerjakan, tetapi juga dari seberapa sedikit gangguan yang keluar dari diri kita. Gangguan yang kita anggap kecil bisa menjadi beban bagi orang lain. Niat yang kita anggap baik belum tentu membuat dampaknya menjadi baik. Dan hak orang lain ternyata bukan hanya harta yang harus kita jaga, tetapi juga keselamatan, ketenangan, kenyamanan, waktu, ruang, dan hak untuk hidup tanpa terganggu oleh kelalaian kita. Maka marilah kita belajar menjadi pribadi yang lebih peka. Sebelum bertindak, lihat keadaan sekitar. Sebelum berbicara, pikirkan perasaan orang lain. Sebelum menggunakan sesuatu yang menjadi milik bersama, ingat bahwa ada hak orang lain di dalamnya. Karena terkadang bentuk kesalehan yang paling sederhana adalah tidak membuat orang lain repot karena kehadiran kita.

Maka setelah khutbah ini selesai, mungkin kita tidak perlu pulang dengan membawa banyak teori. Cukup bawa satu pertanyaan untuk kita renungkan setiap hari: “Apakah kehadiran saya membuat hidup orang lain sedikit lebih mudah, atau justru sedikit lebih sulit?” Jika hari ini kita bisa menyingkirkan satu gangguan, memudahkan satu orang, memberi ruang kepada satu orang, menjaga lisan dari satu perkataan yang menyakitkan, atau menahan satu tindakan yang mungkin merepotkan orang lain, maka lakukanlah. Bisa jadi tidak ada yang melihat, tidak ada yang memuji, dan tidak ada yang mengucapkan terima kasih. Tetapi Allah melihat semuanya. Jangan tunggu menjadi orang besar untuk memberi manfaat. Jadilah orang yang ketika hadir membawa kenyamanan, ketika berbicara membawa kebaikan, ketika menggunakan fasilitas menjaga hak orang lain, dan ketika pergi meninggalkan keadaan yang lebih baik daripada sebelumnya. Itulah di antara indahnya iman ketika ia benar-benar hidup dalam akhlak dan kehidupan kita.

اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُتَّقِينَ، وَزَيِّنَّا بِمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ، وَطَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الْأَنْانِيَّةِ وَالْغَفْلَةِ، وَاجْعَلْنَا سَبَبًا لِلْخَيْرِ وَالرَّاحَةِ، وَلَا تَجْعَلْنَا سَبَبًا لِلْأَذَى وَالْمَشَقَّةِ.

اللَّهُمَّ احْفَظْ أَلْسِنَتَنَا مِنْ أَذَى النَّاسِ، وَأَيْدِيَنَا مِنْ ظُلْمِهِمْ، وَجَوَارِحَنَا مِنْ إِضْرَارِهِمْ، وَوَفِّقْنَا لِرِعَايَةِ حُقُوقِ عِبَادِكَ، وَإِمَاطَةِ الْأَذَى عَنْ طُرُقِهِمْ وَمَجَالِسِهِمْ وَحَيَاتِهِمْ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ إِذَا حَضَرُوا نَفَعُوا، وَإِذَا تَكَلَّمُوا أَحْسَنُوا، وَإِذَا عَامَلُوا رَفَقُوا، وَإِذَا مَضَوْا تَرَكُوا خَيْرًا وَأَثَرًا طَيِّبًا.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَخْلَاقَنَا كَمَا أَصْلَحْتَ خَلْقَنَا، وَاجْعَلْنَا مِفْتَاحًا لِلْخَيْرِ، مِغْلَاقًا لِلشَّرِّ، نَافِعِينَ لِأَهْلِنَا وَجِيرَانِنَا وَمُجْتَمَعِنَا.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ، وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَبَارِكْ فِي أَعْمَالِنَا، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْإِيمَانِ وَالتَّقْوَى، وَاجْعَلْ خَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

عبادَ اللهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
12,700PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
9,600PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami