BerandaMateri KhutbahKhutbah JumatHijrah Sepanjang Hayat: Memulai Tahun dengan Perubahan yang Nyata

Hijrah Sepanjang Hayat: Memulai Tahun dengan Perubahan yang Nyata

- Advertisement -spot_img

Khutbah Pertama

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

نَحْمَدُ اللّٰهَ تَعَالَى الَّذِي بَلَّغَنَا زَمَانًا جَدِيدًا، وَمَدَّ فِي أَعْمَارِنَا، لَا لِنَفْرَحَ بِتَغَيُّرِ الْأَيَّامِ وَالْأَعْوَامِ، وَلٰكِنْ لِنَزْدَادَ وَعْيًا بِمَسِيرِنَا إِلَيْهِ، وَلِنَسْأَلَ أَنْفُسَنَا: هَلْ تَغَيَّرَتْ قُلُوبُنَا كَمَا تَغَيَّرَتِ الْأَزْمَانُ؟ وَهَلْ كَانَتْ أَعْمَارُنَا إِلَى اللّٰهِ أَقْرَبَ، أَمْ إِلَى الْغَفْلَةِ أَشَدَّ؟

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، إِلٰهًا حَقًّا، وَرَبًّا صِدْقًا، نَشْهَدُ أَنَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَا يُعْبَدُ إِلَّا إِيَّاهُ، وَلَا يُطَاعُ إِلَّا فِيْمَا أَمَرَ.
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، بَلَّغَ الرِّسَالَةَ، وَأَدَّى الْأَمَانَةَ، وَنَصَحَ الْأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِي سَبِيْلِ اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ.

يَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ رَحِمَكُمُ اللّٰهُ،

إِنَّ أَحَقَّ النَّاسِ أَنْ نُكْثِرَ عَلَيْهِ الصَّلَاةَ وَالسَّلَامَ هُوَ نَبِيُّنَا وَقُدْوَتُنَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، الَّذِي عَلَّمَنَا أَنَّ الْهِجْرَةَ لَيْسَتْ خُطْوَةً فِي الْمَكَانِ فَقَطْ، بَلْ هِيَ تَغْيِيرٌ فِي الْقُلُوبِ وَالْوِجْهَةِ، وَمَسِيرَةٌ فِي الطَّاعَةِ حَتَّى نَلْقَى اللّٰهَ.

فَصَلُّوا وَسَلِّمُوا عَلَى نَبِيِّكُمُ الرَّحِيمِ، نَبِيِّ الْهِجْرَةِ وَالِاسْتِقَامَةِ، كَمَا أَمَرَكُمُ اللّٰهُ تَعَالَى بِذٰلِكَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ.

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، مَا تَعَاقَبَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ، وَمَا دَامَتِ الْهِجْرَةُ إِلَى اللّٰهِ سَبِيلَ الْمُؤْمِنِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ الْمَعَادِ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اتَّقِ اللّٰهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.

Mukadimah: Pergantian Tahun dan Pertanyaan tentang Arah Hidup

Sidang jama’ah jum’at rahimakumullah, segala puji hanya milik Allah, Rabb yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kita memuji-Nya atas nikmat iman yang terus Dia jaga, atas umur yang masih Dia panjangkan, dan atas kesempatan untuk kembali duduk di rumah-Nya pada hari yang mulia ini. Betapa sering kita lalai, betapa banyak khilaf yang kita ulang, namun pintu rahmat-Nya tetap terbuka, memberi kita waktu untuk memperbaiki diri dan menata kembali langkah hidup menuju ridha-Nya.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, teladan terbaik dalam setiap sisi kehidupan, pembimbing hijrah umat dari kegelapan menuju cahaya. Dialah Nabi yang kelak kita harapkan syafaatnya di hari ketika tidak ada pertolongan kecuali dengan izin Allah. Maka marilah kita perbanyak shalawat dan salam untuk beliau, sebagai tanda cinta, kerinduan, dan pengakuan bahwa hanya dengan mengikuti jejak beliau, hidup kita akan memiliki arah, makna, dan keselamatan hingga akhir perjalanan.

Jama’ah jum’at yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala, pergantian tahun kembali kita lewati. Angka pada kalender berubah, lembaran waktu berganti, dan kita pun melangkah memasuki hari-hari yang baru. Namun pertanyaannya bukan sekadar berapa usia kita sekarang, melainkan ke mana arah hidup ini berjalan. Bisa jadi tahun telah berganti, tetapi hati kita masih berada di tempat yang sama; langkah kaki terus melaju, sementara arah tujuan tidak pernah benar-benar ditentukan. Waktu terus bergerak maju, sedangkan kita masih sibuk menjalani hidup tanpa sempat berhenti bertanya: apakah perjalanan ini semakin mendekatkan kita kepada Allah, atau justru menjauh tanpa kita sadari?

Kaum muslimin yang berbahagia, dalam keseharian, banyak dari kita terjebak dalam rutinitas yang berulang: bangun, bekerja, pulang, lalu mengulanginya kembali, sementara dosa-dosa lama tetap setia menemani. Kesalahan yang sama diulang, taubat terus diucapkan, tetapi perubahan nyata selalu ditunda. Kita berjanji akan memperbaiki diri “nanti”, saat waktu lebih lapang, saat hati lebih siap, padahal waktu tidak pernah menunggu kesiapan kita. Maka di awal tahun ini, pantaslah kita bertanya dengan jujur kepada diri sendiri: apakah kita sungguh sedang melangkah menuju perbaikan, atau sebenarnya hanya berputar di tempat yang sama, sementara umur terus berkurang dan kesempatan kian menyempit?

Meluruskan Makna Hijrah: Bukan Sekadar Sejarah, Tapi Jalan Hidup

Sidang jama’ah jum’at yang dimuliakan Allah, hijrah Nabi Muhammad ﷺ dari Makkah ke Madinah bukanlah sekadar perpindahan tempat atau kisah sejarah yang kita kenang setiap tahun, tetapi titik awal perubahan besar dalam perjalanan umat manusia. Dari hijrah itulah lahir masyarakat beriman, tatanan hidup yang adil, dan peradaban yang berlandaskan tauhid. Karena itu, hijrah tidak pernah dimaksudkan hanya untuk satu generasi atau satu masa. Allah Ta‘ala berfirman:

﴿وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً﴾

“Dan barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya dia akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.” (QS. An-Nisā’: 100).

Ayat ini menegaskan bahwa hijrah adalah prinsip hidup yang terus berlaku: berpindah arah, berpindah orientasi, dan berpindah tujuan, dari hidup yang jauh dari Allah menuju kehidupan yang lebih dekat dengan-Nya.

Hakikat hijrah bukanlah perubahan lahiriah semata, tetapi perubahan niat, arah, dan kesungguhan dalam ketaatan. Dari lalai menuju sadar, dari maksiat menuju taat, dari hidup tanpa tujuan akhirat menuju kehidupan yang berorientasi pada ridha Allah. Inilah yang ditegaskan Nabi ﷺ dalam hadits yang sangat masyhur:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ

“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan. Maka barang siapa hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya…” (HR. al-Bukhārī, no. 1; Muslim, no. 1907).

Hadits ini meluruskan pemahaman kita bahwa hijrah bukan sekadar soal penampilan, komunitas, atau momentum tertentu, melainkan perjalanan panjang hati dan amal yang harus terus dijaga selama hayat masih dikandung badan.

Hijrah yang Paling Berat: Meninggalkan Dosa yang Terasa Biasa

Jama’ah jum’at rahimakumullah, hijrah yang paling berat sering kali bukan meninggalkan tempat, tetapi meninggalkan dosa-dosa yang terasa biasa dalam keseharian kita. Dosa yang tidak lagi membuat hati gelisah karena terlalu sering dilakukan, hingga akhirnya dianggap wajar dan sepele. Lisan yang ringan menyakiti, pandangan yang dibiarkan bebas, waktu yang dihabiskan dalam kelalaian, dan amanah yang ditunaikan setengah hati. Padahal Rasulullah ﷺ telah mengingatkan dengan sangat jelas tentang hakikat hijrah yang sejati, beliau bersabda:

وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

“Dan orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah.” (HR. al-Bukhārī, no. 10).

Hadits ini menegaskan bahwa ukuran hijrah bukanlah sejauh apa kaki melangkah, tetapi sejauh mana kita mampu meninggalkan larangan Allah dalam kehidupan nyata.

Para ulama menjelaskan bahwa dosa yang paling berbahaya bukan selalu yang besar di mata manusia, tetapi yang terus diulang tanpa rasa takut dan penyesalan. Sufyān ats-Tsaurī rahimahullah berkata:

إِنَّمَا الْمَعْصِيَةُ مَا أَقَامَتْ فِي الْقَلْبِ، فَأَمَّا مَا اسْتُغْفِرَ مِنْهَا فَقَدْ زَالَتْ

“Sesungguhnya maksiat itu adalah yang menetap di dalam hati. Adapun maksiat yang dimintakan ampun darinya, maka ia telah hilang.” (Dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam Madārij as-Sālikīn, 1/299).

Maka di sinilah letak muhasabah kita di awal tahun ini: dosa apa yang terus kita bawa dari tahun ke tahun, kita ulang dalam diam, dan belum pernah kita tinggalkan dengan tekad yang sungguh-sungguh? Hijrah sejati dimulai ketika seorang hamba berani jujur pada dirinya sendiri, lalu melangkah meninggalkan maksiat meski terasa berat, demi menyelamatkan hati sebelum ajal menjemput tanpa aba-aba.

Hijrah di Zaman Kini: Ujian yang Lebih Halus dan Kompleks

Hadirin jama’ah jum’at rahimakumullah, hijrah di zaman kita hari ini menghadapi ujian yang jauh lebih halus dan kompleks dibandingkan masa-masa sebelumnya. Maksiat tidak lagi harus dicari jauh-jauh, tetapi hadir dekat di genggaman tangan, cepat diakses, dan sering kali tersembunyi dari pandangan manusia. Banyak dosa dilakukan dalam sunyi, tanpa saksi kecuali Allah, hingga hati menjadi berani dan rasa takut pun perlahan memudar. Rasulullah ﷺ telah mengingatkan tentang bahaya meremehkan dosa-dosa yang dianggap kecil, beliau bersabda:

إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ، فَإِنَّهُنَّ إِذَا اجْتَمَعْنَ عَلَى الرَّجُلِ أَهْلَكْنَهُ

“Jauhilah oleh kalian dosa-dosa kecil, karena jika dosa-dosa itu berkumpul pada seseorang, niscaya akan membinasakannya.” (HR. Ahmad, no. 22341).

Hadits ini menjadi peringatan serius bahwa hijrah di era digital bukan hanya tentang dosa besar yang mencolok, tetapi juga tentang dosa-dosa kecil yang terus dikumpulkan tanpa rasa takut.

Di sisi lain, ujian hijrah hari ini juga tampak dalam budaya menunda taubat. Banyak orang berkata, “Nanti saja kalau sudah siap,” “Nanti kalau hidup sudah tenang,” atau “Nanti kalau sudah tua.” Padahal ajal tidak pernah menunggu kesiapan manusia. Al-Hasan al-Bashrī rahimahullah menasihati dengan sangat dalam, beliau berkata:

يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ، كُلَّمَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ

“Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari. Setiap kali satu hari berlalu, maka sebagian dari dirimu telah pergi.” (Hilyatul Auliyā’, karya Abū Nu‘aim, 2/148).

Maka hijrah di tengah tuntutan ekonomi, pekerjaan, dan lingkungan yang tidak selalu mendukung menuntut keberanian dan kejujuran iman. Hijrah bukan berarti meninggalkan tanggung jawab dunia, tetapi menata ulang prioritas agar dunia tidak membuat kita menunda taubat, dan kesibukan tidak menjadi alasan untuk terus menunda kembali kepada Allah.

Hijrah Bukan Perubahan Instan, Tapi Proses yang Konsisten

Kaum mulimin rahimakumullah, sering kali kita memiliki ekspektasi yang keliru tentang hijrah. Kita mengira hijrah harus selalu tampak besar, drastis, dan spektakuler, seolah perubahan yang tidak langsung sempurna berarti kegagalan. Padahal Islam mengajarkan bahwa hijrah adalah proses panjang yang menuntut kesinambungan, bukan sekadar lonjakan semangat sesaat. Rasulullah ﷺ bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. al-Bukhārī, no. 6464; Muslim, no. 783).

Hadits ini menenangkan hati orang-orang yang sedang berjuang memperbaiki diri, bahwa perubahan kecil yang dijaga dengan istiqamah jauh lebih bernilai di sisi Allah daripada semangat besar yang menyala sebentar lalu padam.

Hijrah sejati menuntut kesabaran, karena jalan perubahan tidak selalu lurus dan mudah. Ada kalanya seseorang jatuh kembali ke kesalahan lama, tergelincir dalam dosa yang sama, lalu merasa putus asa dan menyerah. Padahal Nabi ﷺ tidak pernah mengajarkan keputusasaan dalam proses memperbaiki diri. Dalam hadits qudsi, Rasulullah ﷺ menyampaikan bahwa Allah berfirman tentang hamba-Nya yang berulang kali berbuat dosa lalu bertaubat:

إِنَّ عَبْدًا أَذْنَبَ ذَنْبًا فَقَالَ: رَبِّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي… فَلْيَعْمَلْ مَا شَاءَ

“Seorang hamba melakukan dosa lalu berkata, ‘Wahai Rabbku, ampunilah dosaku’… maka lakukanlah apa yang ia kehendaki (selama ia terus kembali memohon ampun).” (HR. al-Bukhārī, no. 7507; Muslim, no. 2758).

Hadits ini mengajarkan bahwa hijrah bukan tentang tidak pernah jatuh, tetapi tentang selalu bangkit, kembali, dan tidak berhenti berjalan menuju Allah, meski langkah terasa tertatih dan air mata sering menyertai perjalanan.

Memulai Tahun dengan Hijrah yang Nyata dan Terukur

Jama’ah jum’at yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala, memasuki tahun yang baru ini, hijrah tidak cukup berhenti pada niat yang indah di lisan, tetapi harus diterjemahkan dalam langkah yang nyata dan terukur. Setiap dari kita perlu menetapkan arah perubahan yang jelas, sekecil apa pun, namun sungguh-sungguh untuk dijaga. Hijrah bisa dimulai dengan menjaga shalat tepat waktu yang selama ini sering ditunda, menahan lisan dari ucapan yang melukai, menata kembali waktu agar tidak habis dalam kelalaian, serta membersihkan hati dari dengki, iri, dan dendam yang selama ini disimpan diam-diam. Awal tahun bukan sekadar angka baru pada kalender, tetapi titik tolak untuk memulai perjalanan baru menuju Allah. Karena perubahan sejati tidak lahir dari banyaknya rencana, melainkan dari satu langkah kecil yang diulang dengan kesungguhan hingga Allah sendiri yang menumbuhkannya menjadi kebaikan besar.

Hijrah Hati: Dari Cinta Dunia Menuju Rindu Akhirat

Saudara-saudara seiman yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala, inti dari hijrah sejatinya bukanlah perubahan yang tampak oleh mata manusia, melainkan perubahan yang terjadi di dalam hati. Ketika hijrah hati mulai tumbuh, seseorang akan merasa lebih takut kepada dosa daripada kehilangan dunia, dan lebih rindu kepada ketaatan daripada pujian manusia. Ukuran ini pernah ditegaskan Rasulullah ﷺ dalam sabdanya:

 أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah, dalam tubuh ada segumpal daging; jika ia baik maka seluruh tubuh menjadi baik, dan jika ia rusak maka seluruh tubuh menjadi rusak. Ketahuilah, itulah hati.” (HR. al-Bukhārī, no. 52; Muslim, no. 1599).

Maka pada titik ini, marilah kita menilai ulang apa yang selama ini paling kita kejar, paling kita banggakan, dan paling kita pertahankan dalam hidup. Jika hati masih lebih gelisah kehilangan dunia daripada kehilangan kedekatan dengan Allah, bisa jadi hijrah kita masih berhenti di luar, belum benar-benar sampai ke dalam.

Penutup Khutbah Pertama: Ajakan Reflektif dan Transisi

Kaum muslimin rahimakumulllah, hijrah tidak pernah menunggu kita menjadi sempurna, karena kesempurnaan bukan syarat untuk kembali kepada Allah, melainkan buah dari perjalanan yang panjang bersama-Nya. Para ulama telah mengingatkan bahwa menunda kebaikan sering kali bukan karena tidak mampu, tetapi karena hati belum benar-benar sadar. Al-Hasan al-Bashrī rahimahullah berkata,

 “إِيَّاكَ وَالتَّسْوِيفَ، فَإِنَّهُ يَوْمُكَ الَّذِي أَنْتَ فِيهِ

“Waspadalah dari menunda-nunda, karena sesungguhnya hidupmu hanyalah hari yang sedang engkau jalani.” (Hilyatul Auliyā’, karya Abū Nu‘aim, 2/148).

Maka sebelum tahun ini berjalan lebih jauh, dan sebelum ajal datang tanpa aba-aba, marilah kita mulai hijrah hari ini juga; hijrah dengan kesadaran, dengan langkah kecil yang jujur, agar ketika Allah memanggil, kita tidak hanya membawa penyesalan, tetapi ikhtiar untuk berubah.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيمِ، وَنَفَعَنَا بِمَا فِيهِ مِنَ الآيِ وَالذِّكْرِ الحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ العَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

Jama’ah jum’at rahimakumullah, pada khutbah kedua ini, marilah kita meneguhkan kembali pesan yang telah kita renungkan bersama, bahwa hijrah bukanlah fase singkat yang berhenti pada semangat awal, tetapi perjalanan seumur hidup yang menuntut kesabaran dan keistiqamahan. Selama napas masih berhembus, selama pintu taubat masih terbuka, hijrah akan selalu memanggil kita untuk terus memperbaiki diri. Karena itu, marilah kita menundukkan hati dan memperbanyak doa kepada Allah, memohon agar Dia melembutkan hati-hati kita yang keras, menguatkan langkah-langkah kita yang sering goyah, serta menjauhkan kita dari dosa-dosa lama yang masih membayangi. Semoga tahun yang baru ini tidak sekadar menambah usia, tetapi benar-benar mendekatkan kita kepada Allah, memperbaiki keluarga-keluarga kita, menguatkan umat ini, dan mengantarkan kita semua kepada akhir hidup yang indah, akhir yang diridhai Allah, husnul khatimah. Aamiiin.

أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى زَادُ الْقُلُوبِ، وَنُورُ الطَّرِيقِ، وَعِصْمَةُ الْعَبْدِ فِي الشِّدَّةِ وَالرَّخَاءِ. فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَاسْتَمْسِكُوا بِالْهُدَى، وَأَكْثِرُوا مِنَ الِاسْتِغْفَارِ، فَإِنَّهُ أَمَانُ الْعِبَادِ وَسَبَبُ الرَّحْمَةِ وَدَفْعِ الْبَلاءِ.

فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ  إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا تَوْبَةً نَصُوحًا قَبْلَ الْمَمَاتِ.

اَللّٰهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَلَيِّنْ قُلُوبَنَا بَعْدَ قَسْوَتِهَا، وَنَقِّهَا مِنَ الذُّنُوبِ وَالْغَفْلَةِ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ هٰذَا الْعَامَ عَامَ هِجْرَةٍ إِلَيْكَ، هِجْرَةً مِنَ الْمَعْصِيَةِ إِلَى الطَّاعَةِ، وَمِنَ الْغَفْلَةِ إِلَى الْيَقَظَةِ، وَمِنْ حُبِّ الدُّنْيَا إِلَى الشَّوْقِ إِلَى الْآخِرَةِ.

اَللّٰهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ، وَارْزُقْنَا الِاسْتِقَامَةَ فِي الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ، وَلَا تَكِلْنَا إِلَى أَنْفُسِنَا طَرْفَةَ عَيْنٍ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا.

اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أُسَرَنَا، وَبَارِكْ فِي أَعْمَارِنَا، وَاجْعَلْ خَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ، وَاخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ.

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عبادَ اللهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
12,700PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
9,600PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami