BerandaMateri KhutbahKhutbah JumatIsra’ Mi’raj: Perjalanan Langit yang Menghidupkan Hati dan Meneguhkan Iman

Isra’ Mi’raj: Perjalanan Langit yang Menghidupkan Hati dan Meneguhkan Iman

- Advertisement -spot_img

Khutbah Pertama

الحمدُ للهِ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَىٰ، ثُمَّ عَرَجَ بِهِ إِلَى السَّمَاوَاتِ الْعُلَىٰ، رِحْلَةً سَمَاوِيَّةً أَحْيَتِ الْقُلُوبَ بَعْدَ إِعْيَائِهَا، وَثَبَّتَتِ الْإِيمَانَ فِي النُّفُوسِ عِنْدَ الشَّدَائِدِ وَالِابْتِلَاءِ. نَحْمَدُهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ، وَنَشْكُرُهُ عَلَىٰ مَا أَوْلَانَا مِنْ فَضْلِهِ وَإِحْسَانِهِ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، إِلٰهًا أَحَدًا صَمَدًا، لَمْ يَتَّخِذْ صَاحِبَةً وَلَا وَلَدًا.
وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الْمَبْعُوثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ الطَّيِّبِينَ الطَّاهِرِينَ، وَصَحَابَتِهِ الْغُرِّ الْمَيَامِينِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَىٰ يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَأُوصِيكُمْ وَنَفْسِي الْخَاطِئَةَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ أَمَرَنَا اللَّهُ بِالتَّقْوَىٰ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ، فَقَالَ تَعَالَىٰ:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

وَفِي السُّنَّةِ النَّبَوِيَّةِ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
اِتَّقِ اللّٰهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.

فَاتَّقُوا اللَّهَ عِبَادَ اللَّهِ، فَإِنَّ التَّقْوَىٰ هِيَ الزَّادُ فِي السَّفَرِ إِلَى اللَّهِ، وَهِيَ النُّورُ الَّذِي يُحْيِي الْقُلُوبَ، وَيُثَبِّتُ الْإِيمَانَ، كَمَا أَحْيَا اللَّهُ قَلْبَ نَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رِحْلَةِ الْإِسْرَاءِ وَالْمِعْرَاجِ.

 

Mukadimah: Membuka Kesadaran Hati

Segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam, yang dengan rahmat dan kekuasaan-Nya senantiasa membimbing hamba-hamba-Nya dari kegelapan menuju cahaya. Kepada-Nya kita bersyukur atas nikmat iman, Islam, dan kesempatan untuk kembali mengingat-Nya di hari yang mulia ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, teladan terbaik dalam keimanan, kesabaran, dan keteguhan hati dalam menjalani kehidupan. Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah, marilah kita senantiasa menanamkan takwa dalam setiap langkah hidup kita, karena takwa adalah bekal utama dalam perjalanan panjang menuju Allah, bekal yang tidak akan habis oleh waktu dan tidak akan sia-sia di akhirat kelak.

Hadirin yang dimuliakan Allah, Islam bukanlah sekadar kumpulan ritual yang dikerjakan secara lahiriah, tetapi ia adalah perjalanan ruhani yang membentuk kesadaran hati, membersihkan jiwa, dan melahirkan akhlak yang mulia. Salah satu peristiwa agung yang mengajarkan hakikat perjalanan ruhani ini adalah Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad ﷺ, sebuah tanda kebesaran Allah yang melampaui batas logika manusia, namun menghidupkan iman bagi hati yang tunduk dan berserah diri. Allah mengabadikan peristiwa ini dalam firman-Nya:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS. Al-Isrā’: 1).

Melalui peristiwa inilah Allah mengajak kita semua untuk membuka kesadaran hati, bahwa jalan menuju kedekatan dengan-Nya menuntut iman, ketundukan, dan kesiapan jiwa untuk terus diperbaiki.

Latar Belakang Isra’ Mi’raj: Datang Setelah Luka dan Ujian

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, peristiwa Isra’ Mi’raj tidak datang dalam suasana lapang dan nyaman. Ia justru hadir setelah Rasulullah ﷺ melewati fase paling berat dalam hidupnya, yang dikenal sebagai ‘ām al-ḥuzn, tahun kesedihan. Pada masa itu, Rasulullah ﷺ kehilangan dua penopang utama dakwahnya: Khadijah radhiyallāhu ‘anhā, istri yang setia menguatkan jiwa, dan Abu Thalib, paman yang melindungi beliau dari tekanan Quraisy. Belum cukup dengan itu, perjalanan dakwah ke Thaif justru berujung penolakan, cemoohan, bahkan lemparan batu yang melukai jasad beliau. Dalam kondisi luka lahir dan batin inilah Allah menghadirkan Isra’ Mi’raj, seakan menegaskan bahwa setelah kesabaran mencapai puncaknya, pertolongan Allah datang dengan cara yang tidak pernah disangka.

Hadirin yang dimuliakan Allah, pesan ini sejalan dengan sabda Rasulullah ﷺ dalam hadits yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbās radhiyallāhu ‘anhumā:

وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ، وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Ketahuilah bahwa pertolongan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bersama kesulitan ada kemudahan.” (HR. At-Tirmidzi, no. 2516).

Para ulama menjelaskan bahwa Isra’ Mi’raj adalah bentuk tasliyah ilāhiyyah, hiburan dan penguatan langsung dari Allah kepada Nabi-Nya. Ibnul Qayyim rahimahullāh dalam kitabnya Zād al-Ma‘ād fī Hadyi Khayr al-‘Ibād, jilid 3, halaman 38–39, menerangkan bahwa :

“Peristiwa Isra’ itu terjadi setelah beliau ﷺ mengalami gangguan dan penderitaan yang berat dari kaumnya. Maka Allah menghendaki untuk memuliakan beliau, menghiburnya, dan memperlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya.”

Dari sini kita belajar, bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang setia berjalan di jalan-Nya, meski harus melewati kesepian, kesedihan, dan penderitaan yang panjang.

Makna Isra’: Perjalanan Malam yang Menguatkan Misi

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah, bagian pertama dari peristiwa agung Isra’ Mi’raj adalah Isra’, yaitu perjalanan malam Rasulullah ﷺ secara nyata dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis. Perjalanan ini bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi sarat dengan makna misi yang mendalam. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa penyebutan dua masjid suci dalam satu ayat merupakan isyarat tentang kesatuan arah ibadah dan persatuan risalah para nabi. Imam al-Qurthubi rahimahullāh menegaskan bahwa Allah mengaitkan Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha karena keduanya merupakan pusat tauhid dan simbol kesinambungan dakwah para rasul sejak Nabi Ibrahim ‘alaihis salām hingga Nabi Muhammad ﷺ, sehingga Islam hadir sebagai kelanjutan dari risalah langit yang satu dan tidak terputus (Al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Isrā’: 1).

Hadirin yang dirahmati Allah, dari makna Isra’ ini lahir hikmah praktis yang sangat relevan dengan kehidupan umat hari ini. Jika Rasulullah ﷺ diperjalankan dari satu masjid ke masjid lainnya, maka hal itu menjadi pengingat bahwa masjid adalah pusat kehidupan ruhani umat, bukan sekadar tempat pelaksanaan shalat. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullāh menjelaskan bahwa peristiwa Isra’ menunjukkan kemuliaan Masjidil Aqsha dan menuntut umat Islam untuk memuliakan, menjaga, serta memiliki ikatan iman dengannya, meskipun terpisah oleh jarak dan zaman, karena ia bagian dari simbol kesatuan umat Islam secara global (Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Fatḥ al-Bārī bi Syarḥ Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Manāqib, Bāb Isrā’ an-Nabī ﷺ).

Makna Mi’raj: Kenaikan Ruhani Menuju Allah

Jamaah Jum’at Rahimakumullah, setelah perjalanan Isra’ yang bersifat horizontal, Rasulullah ﷺ diangkat dalam peristiwa Mi’raj, sebuah perjalanan vertikal dari bumi menuju langit, dari alam manusia menuju hadirat Allah Yang Maha Tinggi. Mi’raj bukan sekadar kisah keajaiban, tetapi pelajaran mendalam tentang hakikat kemuliaan seorang hamba. Para ulama menegaskan bahwa di hadapan Allah, yang meninggikan derajat bukanlah harta, jabatan, atau pengaruh dunia, melainkan kedekatan hati dan ketundukan jiwa kepada-Nya. Ibn Rajab al-Ḥanbalī rahimahullāh menjelaskan bahwa Allah mengangkat Nabi-Nya ke langit tertinggi untuk menunjukkan bahwa ketinggian derajat seorang hamba sebanding dengan sejauh mana ia meninggalkan ketergantungan kepada dunia dan mengarahkan hatinya sepenuhnya kepada Allah.

Hadirin yang dirahmati Allah, dari peristiwa Mi’raj ini kita belajar bahwa iman bukan keadaan statis, tetapi perjalanan yang menuntut proses naik dan usaha terus-menerus. Al-Imam al-Ghazālī rahimahullāh menerangkan bahwa hati manusia sering terikat oleh kesibukan dunia, sehingga membutuhkan latihan ruhani untuk terangkat menuju kesadaran akhirat. Shalat, dzikir, dan ketaatan adalah sarana Mi’raj bagi orang-orang beriman, yang mengangkat jiwa dari hiruk-pikuk dunia menuju ketenangan bersama Allah.

Maka Mi’raj mengingatkan kita bahwa hidup bukan sekadar tentang berapa banyak yang kita raih di dunia, tetapi sejauh mana iman kita tumbuh, naik, dan mendekatkan kita kepada Allah hingga akhir hayat.

Shalat sebagai Hadiah Utama Isra’ Mi’raj

Hadirin tamu undangan Allah yang berbahagia, dari seluruh peristiwa agung Isra’ Mi’raj, hadiah paling berharga yang dibawa Rasulullah ﷺ untuk umatnya bukanlah cerita tentang langit dan malaikat, melainkan kewajiban shalat. Shalat adalah buah utama dari perjalanan langit tersebut, ibadah yang Allah perintahkan secara langsung tanpa perantara, sebagai tanda betapa agung dan penting kedudukannya dalam kehidupan seorang mukmin. Rasulullah ﷺ bersabda:

الصَّلَاةُ عِمَادُ الدِّينِ

“Shalat adalah tiang agama.” (HR. At-Tirmidzi, no. 2616).

Hadits ini menegaskan bahwa tegak atau runtuhnya bangunan iman seseorang sangat bergantung pada kualitas shalatnya. Jika shalat terjaga, maka agama akan kokoh; namun jika shalat diabaikan, maka rapuhlah seluruh sendi keimanan.

Hadirin yang dirahmati Allah, para ulama menyebut shalat sebagai mi’raj-nya orang beriman, karena di dalam shalat seorang hamba berdiri menghadap Rabb-nya, berbicara dengan-Nya, dan mendekatkan hatinya kepada Allah. Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits yang sahih:

وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ

“Dan dijadikan penyejuk mataku di dalam shalat.” (HR. An-Nasā’ī, no. 3939).

Hadits ini mengajak kita untuk merenung, apakah shalat yang kita kerjakan sudah menjadi penenang jiwa dan penguat iman, ataukah masih sebatas rutinitas gerakan yang dilakukan tanpa kehadiran hati. Isra’ Mi’raj mengingatkan kita bahwa shalat bukan sekadar kewajiban yang menggugurkan dosa, tetapi jalan untuk menghidupkan hati dan mengangkat jiwa mendekat kepada Allah.

Reaksi Manusia terhadap Isra’ Mi’raj: Antara Iman dan Penolakan

Kaum muslimin Rahimakumullah, peristiwa Isra’ Mi’raj sejak awal telah menjadi ujian besar bagi keimanan manusia. Ketika Rasulullah ﷺ menyampaikan apa yang beliau alami, sebagian orang justru mendustakan, sebagian yang lain mulai goyah, bahkan ada yang sebelumnya beriman lalu ragu dan berpaling. Namun di saat yang sama, tampillah sosok Abu Bakar radhiyallāhu ‘anhu dengan keteguhan iman yang luar biasa. Tanpa menuntut bukti dan tanpa menimbang dengan logika semata, ia berkata, “Jika Muhammad yang mengatakannya, maka aku membenarkannya.” Sikap inilah yang mengantarkannya pada gelar ash-Shiddīq. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا دُعِيتُ أَحَدًا إِلَى الْإِسْلَامِ إِلَّا كَانَتْ لَهُ كَبْوَةٌ غَيْرَ أَبِي بَكْرٍ

“Aku tidak pernah mengajak seseorang kepada Islam, melainkan ia sempat ragu dan bimbang, kecuali Abu Bakar.” (HR. Ahmad, no. 6).

Hadits ini menunjukkan bahwa kualitas iman seseorang tampak jelas ketika ia berhadapan dengan perkara ghaib yang melampaui nalar manusia.

Hadirin yang dirahmati Allah, para ulama menjelaskan bahwa Isra’ Mi’raj menjadi pembeda antara iman yang hidup dan iman yang rapuh. Ibn Katsīr rahimahullāh menerangkan bahwa Allah menjadikan peristiwa Isra’ Mi’raj sebagai ujian, untuk menyingkap siapa yang membenarkan Rasul dengan hati yang tunduk dan siapa yang menolak karena dikalahkan oleh logika dan hawa nafsu (Ibn Katsīr, Al-Bidāyah wa an-Nihāyah, jilid 3).

Dari sini kita diajak bercermin, bagaimana sikap kita ketika ajaran Islam terasa berat, tidak sesuai selera, atau bertentangan dengan arus zaman. Apakah kita memilih jalan Abu Bakar yang mendahulukan iman dan kepercayaan kepada Allah dan Rasul-Nya, atau justru membiarkan keraguan menggerogoti keyakinan. Isra’ Mi’raj mengajarkan bahwa iman sejati bukanlah iman yang hanya kuat saat mudah, tetapi iman yang tetap teguh ketika diuji.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيمِ، وَنَفَعَنَا بِمَا فِيهِ مِنَ الآيِ وَالذِّكْرِ الحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ العَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

Ringkasan, Pesan Aktual untuk Kehidupan Umat Hari Ini, dan Ajakan Muhasabah dan Perubahan Diri

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah, dari seluruh rangkaian peristiwa Isra’ Mi’raj yang telah kita renungkan, kita dapati bahwa Allah menghadirkan perjalanan agung ini sebagai penghibur bagi hati yang terluka dan penguat bagi jiwa yang letih. Isra’ Mi’raj datang bukan di saat Rasulullah ﷺ berada dalam puncak kenyamanan, tetapi justru setelah beliau melewati masa-masa terberat dalam hidupnya. Dari sini kita belajar bahwa shalat yang diwajibkan dalam peristiwa tersebut adalah pengikat antara langit dan bumi, antara kelemahan hamba dan kekuasaan Rabb-nya. Iman sejati tidak selalu lahir dari pemahaman rasional yang lengkap, tetapi dari kepasrahan hati yang percaya bahwa setiap perintah Allah, betapapun beratnya, pasti mengandung kebaikan dan hikmah bagi kehidupan dunia dan akhirat.

Hadirin yang dimuliakan Allah, pesan Isra’ Mi’raj sangat relevan dengan kondisi umat hari ini. Ketika hidup terasa sempit, ujian datang silih berganti, dan hati mulai lelah, ingatlah bahwa Rasulullah ﷺ pun diuji dengan cara yang jauh lebih berat. Namun beliau tidak mencari pelarian yang keliru, tidak mengeluh kepada makhluk, melainkan menguatkan hubungannya dengan Allah. Maka sudah seharusnya Isra’ Mi’raj menjadi momentum muhasabah bagi kita semua: apakah shalat yang kita dirikan sudah mencegah kita dari perbuatan keji dan mungkar, ataukah masih sekadar rutinitas tanpa pengaruh pada akhlak. Apakah hati kita masih rindu kepada Allah di tengah hiruk-pikuk dunia, atau justru semakin jauh dan lalai. Marilah kita perbarui niat, kita perbaiki shalat, dan kita tata ulang orientasi hidup, agar perjalanan kita di dunia ini benar-benar mengarah menuju ridha Allah dan keselamatan di akhirat.

أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى زَادُ الْقُلُوبِ، وَنُورُ الطَّرِيقِ، وَعِصْمَةُ الْعَبْدِ فِي الشِّدَّةِ وَالرَّخَاءِ. فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَاسْتَمْسِكُوا بِالْهُدَى، وَأَكْثِرُوا مِنَ الِاسْتِغْفَارِ، فَإِنَّهُ أَمَانُ الْعِبَادِ وَسَبَبُ الرَّحْمَةِ وَدَفْعِ الْبَلاءِ.

فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ  إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا، وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ.
اللَّهُمَّ أَحْيِ قُلُوبَنَا بِذِكْرِكَ، وَثَبِّتْ إِيمَانَنَا عَلَىٰ طَاعَتِكَ، وَاجْعَلْ صَلَاتَنَا قُرَّةَ أَعْيُنِنَا، وَنُورَ صُدُورِنَا، وَسَبَبًا لِقُرْبِنَا مِنْكَ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ ذِكْرَى الْإِسْرَاءِ وَالْمِعْرَاجِ ذِكْرَى هِدَايَةٍ وَعِبْرَةٍ، لَا ذِكْرَى عَادَةٍ وَاحْتِفَالٍ فَقَطْ، وَأَنْ تُلْهِمَنَا فَهْمَ حِكْمَتِهَا، وَتُعِينَنَا عَلَىٰ تَطْبِيقِهَا فِي حَيَاتِنَا.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَارْفَعِ الْبَلَاءَ عَنْهُمْ، وَاحْفَظْهُمْ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. اللَّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا أَعْمَارَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ، وَاجْعَلْ آخِرَ كَلَامِنَا مِنَ الدُّنْيَا لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ. رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Author : Santri Darsya

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
12,700PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
9,600PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami