BerandaMateri KhutbahKhutbah JumatKemerdekaan dan Amanah Generasi

Kemerdekaan dan Amanah Generasi

- Advertisement -spot_img

“Kemerdekaan yang diwariskan harus dijaga dengan iman dan amal”

KHUTBAH PERTAMA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً نَرْجُو بِهَا النَّجَاةَ يَوْمَ نَلْقَاهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَصَفِيُّهُ وَخَلِيلُهُ، وَخِيَرَتُهُ مِنْ خَلْقِهِ، أَرْسَلَهُ اللَّهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ، وَحُجَّةً عَلَى الْخَلْقِ أَجْمَعِينَ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِيَةِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ الْمَعَادِ.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

وَقَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ۝ يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ، وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.

وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.

وَقَالَ تَعَالَى : وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

Kemerdekaan bukan sekadar peristiwa sejarah

Segala puji bagi Allah ﷻ yang telah melimpahkan kepada kita begitu banyak nikmat, terutama nikmat iman, Islam, kesehatan, keamanan, dan kesempatan untuk menjalani kehidupan dalam keadaan tenteram. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti petunjuk beliau hingga hari kiamat. Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, karena takwa adalah bekal terbaik menuju kehidupan yang kekal.

Pada kesempatan yang penuh berkah ini, marilah kita merenungkan salah satu nikmat besar yang kita rasakan sebagai bangsa, yaitu kemerdekaan. Kemerdekaan bukan sekadar peristiwa yang kita rayakan setiap bulan Agustus, tetapi sebuah nikmat sekaligus amanah yang diwariskan oleh generasi terdahulu kepada kita. Karena itu, pertanyaannya bukan hanya apakah kita telah menikmati kemerdekaan, tetapi sudahkah kita menjaganya dengan iman, mengisinya dengan amal, dan mewariskan kebaikan kepada generasi yang akan datang?

Jamaah Jumat rahimakumullah, setiap bulan Agustus kita kembali menyaksikan bendera merah putih berkibar, upacara digelar, berbagai perlombaan diadakan, dan kemerdekaan dirayakan dengan penuh suka cita. Semua itu adalah bentuk syukur dan penghormatan kepada jasa para pendahulu. Namun sebagai seorang mukmin, kita tidak cukup hanya bertanya, “Kapan negeri ini merdeka?” Ada pertanyaan yang jauh lebih penting untuk kita renungkan: “Untuk apa kemerdekaan ini kita gunakan?” Sebab kemerdekaan bukan sekadar peristiwa sejarah, bukan pula sekadar kebebasan untuk melakukan apa saja. Kemerdekaan adalah nikmat sekaligus amanah dari Allah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Allah ﷻ berfirman,

﴿ثُمَّ لَتُسْـَٔلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ﴾

“Kemudian pada hari itu kalian benar-benar akan ditanya tentang kenikmatan.” (QS. At-Takatsur: 8).

Maka keamanan, kesempatan, kebebasan, ilmu, kesehatan, bahkan kesempatan untuk hidup di negeri yang merdeka, semuanya adalah nikmat yang harus kita syukuri dan gunakan untuk kebaikan.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, generasi sebelum kita telah berjuang dengan pengorbanan yang tidak ringan untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Mereka telah selesai dengan perjuangannya, tetapi kita belum selesai dengan amanah kita. Jika dahulu perjuangan dilakukan dengan mengangkat senjata, maka hari ini perjuangan kita adalah melawan kebodohan dengan ilmu, melawan kemalasan dengan kerja keras, melawan korupsi dengan kejujuran, melawan perpecahan dengan persaudaraan, dan melawan kerusakan moral dengan iman dan akhlak. Jangan sampai kita mewarisi kemerdekaan, tetapi gagal mewariskan kebaikan. Jangan sampai anak cucu kita kelak bertanya, “Apa yang kalian lakukan dengan kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh generasi sebelum kalian?” Maka mari kita isi kemerdekaan ini dengan amal yang nyata, dengan menjadi manusia yang bermanfaat, menjaga persatuan, mendidik generasi, dan semakin dekat kepada Allah ﷻ. Karena kemerdekaan yang diwariskan adalah nikmat, tetapi menjaganya dengan iman dan amal adalah amanah.

 

Mensyukuri kemerdekaan dengan syukur yang benar

Jamaah Jumat rahimakumullah, kemerdekaan adalah salah satu nikmat yang patut kita syukuri. Namun syukur tidak cukup hanya dengan mengucapkan alhamdulillah, memasang bendera, atau ikut meramaikan perayaan kemerdekaan. Syukur yang sebenarnya adalah menggunakan nikmat sesuai dengan kehendak Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman:

 ﴿لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ﴾

“Sungguh, jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, sesungguhnya azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim [14]: 7).

Imam as-Sa‘di rahimahullah menjelaskan bahwa hakikat syukur adalah mengakui nikmat Allah dalam hati, memuji Allah atas nikmat tersebut, dan menggunakan nikmat itu dalam perkara yang diridai-Nya (Tafsir as-Sa‘di, tafsir QS. Ibrahim [14]: 7).

Maka, jika kita mengaku bersyukur atas kemerdekaan, hendaknya kemerdekaan itu melahirkan ketaatan, ilmu yang berkembang, kehidupan yang aman, masyarakat yang bermartabat, dan semakin banyaknya amal kebaikan.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing: setelah puluhan tahun menikmati kemerdekaan, apakah kita semakin dekat kepada Allah atau justru semakin jauh dari-Nya? Apakah kebebasan yang kita miliki melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak dan bertanggung jawab, atau justru generasi yang mudah terpecah, larut dalam hiburan, terjebak dalam kemaksiatan, dan menghabiskan waktunya tanpa arah? Di zaman ketika informasi begitu mudah didapat, tetapi kebijaksanaan semakin langka; ketika manusia semakin bebas berbicara, tetapi semakin sulit menjaga lisan; ketika teknologi semakin maju, tetapi akhlak belum tentu ikut maju, di sinilah makna syukur harus kita tegakkan. Kemerdekaan yang tidak melahirkan syukur bisa berubah menjadi kelalaian. Kebebasan yang tidak dibimbing iman bisa berubah menjadi kebebasan untuk merusak. Karena itu, mari kita jadikan kemerdekaan bukan sekadar sesuatu yang kita nikmati, tetapi nikmat yang kita jaga dengan iman, kita isi dengan amal, dan kita wariskan kepada generasi berikutnya dalam keadaan lebih baik.

Kemerdekaan harus dijaga dengan iman

Jamaah Jumat rahimakumullah, kemerdekaan yang kita nikmati tidak cukup hanya dijaga dengan kekuatan ekonomi, kemajuan teknologi, pembangunan infrastruktur, atau melimpahnya sumber daya alam. Semua itu memang penting, tetapi ada sesuatu yang jauh lebih mendasar, yaitu iman dan ketakwaan. Allah ﷻ berfirman:

 ﴿وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ﴾

“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (QS. Al-A‘raf [7]: 96).

Ayat ini mengingatkan kita bahwa keberkahan sebuah negeri tidak hanya diukur dari seberapa maju pembangunannya, tetapi juga dari seberapa kuat iman dan ketakwaan penduduknya. Sebab ilmu tanpa iman dapat disalahgunakan, kekuasaan tanpa takwa dapat melahirkan kezaliman, kekayaan tanpa syukur dapat menumbuhkan keserakahan, dan kebebasan tanpa batas dapat menyeret manusia kepada kerusakan.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, hari ini kita hidup di zaman ketika teknologi membuat segala sesuatu semakin mudah, informasi dapat tersebar dalam hitungan detik, dan setiap orang memiliki ruang yang luas untuk berbicara dan berpendapat. Namun kemajuan itu tidak selalu berbanding lurus dengan kemajuan akhlak. Karena itu, menjaga kemerdekaan bukan hanya tugas mereka yang berada di pemerintahan atau mereka yang memegang senjata, tetapi tugas kita semua dengan menjaga iman, kejujuran, persaudaraan, dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Jangan sampai kita begitu sibuk menjaga merah putih di tiang, tetapi lupa menjaga “merah putih” di dalam hati dengan iman dan akhlak. Jangan sampai negeri ini merdeka dari penjajahan bangsa lain, tetapi generasinya justru terjajah oleh hawa nafsu, kecanduan dunia, kebodohan, kemalasan, dan kemaksiatan. Maka kemerdekaan akan benar-benar menjadi nikmat apabila ia melahirkan generasi yang semakin beriman, semakin berilmu, semakin berakhlak, dan semakin bermanfaat bagi sesama.

Amanah kemerdekaan adalah amanah setiap generasi

Jamaah Jumat rahimakumullah, kemerdekaan yang kita nikmati bukan hanya sebuah warisan, tetapi juga sebuah amanah yang harus kita jaga dan pertanggungjawabkan. Allah ﷻ berfirman:

﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا﴾

“Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 58).

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Al-Bukhari no. 893; Muslim no. 1829).

Maka amanah menjaga negeri bukan hanya berada di pundak pemerintah atau pejabat negara. Orang tua memiliki amanah mendidik anaknya, guru memiliki amanah membimbing muridnya, pedagang memiliki amanah dalam jual belinya, pemuda memiliki amanah terhadap masa depannya, dan setiap kita memiliki tanggung jawab sesuai kedudukan dan kemampuan masing-masing. Ketika amanah dilaksanakan dengan jujur, sekecil apa pun peran seseorang, sesungguhnya ia sedang mengambil bagian dalam menjaga kebaikan negeri ini.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, di zaman ketika banyak orang sibuk menuntut hak tetapi lupa menunaikan kewajiban, kita perlu mengubah cara pandang. Jangan hanya bertanya, “Apa yang negara berikan kepadaku?” tetapi tanyakan kepada diri sendiri, “Apa yang sudah aku berikan kepada negeri ini?” Seorang ayah yang mendidik anaknya menjadi manusia saleh sedang berkontribusi bagi masa depan bangsa. Seorang guru yang mengajarkan ilmu dengan ikhlas sedang membangun generasi. Seorang pedagang yang jujur sedang menjaga kepercayaan masyarakat.

Seorang pemuda yang menjaga dirinya dari narkoba, kemaksiatan, tawuran, dan perilaku merusak sedang menjaga masa depan negeri. Bahkan seorang muslim yang menjaga lisannya dari fitnah, tidak menyebarkan berita yang belum jelas, dan tidak ikut memperuncing perpecahan di media sosial, ia pun sedang menjalankan amanahnya. Maka marilah kita sadari, menjaga kemerdekaan bukan selalu dengan melakukan sesuatu yang besar; terkadang ia dimulai dari kesetiaan menunaikan amanah kecil dengan penuh kejujuran. Karena sebuah negeri akan kuat bukan hanya karena banyaknya orang yang menuntut hak, tetapi karena banyaknya orang yang sadar akan tanggung jawabnya.

Generasi Muda: Jangan Hanya Menikmati Kemerdekaan, tetapi Lanjutkan Perjuangan

Jamaah Jumat rahimakumullah, generasi sebelum kita berjuang dengan tenaga, darah, air mata, bahkan mempertaruhkan nyawa demi masa depan yang belum tentu mereka nikmati. Hari ini kita menikmati hasil perjuangan itu dalam bentuk kemerdekaan, pendidikan, teknologi, dan berbagai kemudahan yang mungkin dahulu hanya menjadi impian. Tetapi perjuangan setiap zaman memiliki bentuknya masing-masing. Jika dahulu perjuangan dilakukan dengan mengangkat senjata, maka hari ini perjuangan dilakukan dengan melawan kebodohan dengan ilmu, melawan kemalasan dengan kerja keras, melawan korupsi dengan kejujuran, melawan perpecahan dengan persaudaraan, melawan kemaksiatan dengan ketakwaan, dan melawan derasnya pengaruh buruk zaman dengan iman. Rasulullah ﷺ mengingatkan kita:

 نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari no. 6412).

Hadis ini menjadi peringatan, terutama bagi generasi muda, bahwa masa muda, kesehatan, dan waktu adalah modal perjuangan yang tidak akan kembali ketika telah berlalu.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, di tengah kehidupan yang serba digital, tantangan generasi hari ini bukan lagi sekadar bagaimana mendapatkan informasi, tetapi bagaimana memilih informasi yang bermanfaat; bukan sekadar bagaimana menggunakan teknologi, tetapi bagaimana agar teknologi tidak justru menghabiskan waktu dan merampas perhatian kita. Jangan sampai berjam-jam kita habiskan di depan layar, tetapi ilmu tidak bertambah; jari kita begitu aktif menggulirkan berbagai konten, tetapi amal tidak bertumbuh; kita begitu cepat mengetahui kehidupan orang lain, tetapi lupa memperbaiki kehidupan diri sendiri. Dulu para pendahulu kita mempertaruhkan nyawa demi masa depan yang kita nikmati hari ini.

Maka jangan sampai kita menikmati masa depan itu, tetapi menyia-nyiakannya. Jadilah generasi yang meneruskan perjuangan dengan cara yang sesuai zamannya: belajar dengan sungguh-sungguh, bekerja dengan jujur, beribadah dengan istiqamah, menjaga kehormatan diri, menghormati orang tua dan guru, serta memberikan manfaat bagi sesama. Sebab perjuangan belum selesai; tongkat estafet telah berpindah ke tangan kita, dan kelak akan kita serahkan kepada generasi setelah kita.

Kemerdekaan harus melahirkan amal nyata

Kemerdekaan Harus Melahirkan Amal Nyata

Jamaah Jumat rahimakumullah, kemerdekaan akan kehilangan maknanya apabila tidak melahirkan perubahan dalam kehidupan kita. Allah ﷻ berfirman:

 ﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ﴾

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra‘d [13]: 11).

Ayat ini mengajarkan bahwa perubahan besar selalu berawal dari perubahan diri. Karena itu, mengisi kemerdekaan tidak harus selalu dengan sesuatu yang besar dan terlihat oleh banyak orang. Ia bisa dimulai dari seorang muslim yang menjaga shalatnya, jujur dalam pekerjaannya, disiplin terhadap waktu, bersungguh-sungguh menuntut ilmu, dan bertanggung jawab terhadap tugasnya. Seorang ayah yang mendidik anaknya dengan iman dan akhlak sedang membangun masa depan bangsa; seorang guru yang mendidik dengan ikhlas sedang menyiapkan generasi; dan seorang pemuda yang mengisi masa mudanya dengan ilmu, karya, ibadah, dan kontribusi sedang meneruskan perjuangan para pendahulunya.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, perubahan itu juga harus hadir dalam kehidupan bermasyarakat. Menjaga persatuan, membantu tetangga, menjaga kebersihan lingkungan, tidak mudah menyebarkan fitnah, tidak ikut memperkeruh keadaan, dan menjaga lisan dari permusuhan adalah bagian dari amal nyata untuk menjaga negeri ini. Di zaman ketika satu unggahan dapat memicu perdebatan, satu berita yang belum jelas dapat menyebarkan kebencian, dan satu tindakan kecil dapat berdampak luas melalui media sosial, kita dituntut semakin bijak dalam bertindak. Jangan sampai kita pandai berbicara tentang kemajuan bangsa, tetapi belum mampu memperbaiki diri dan keluarga. Jangan sampai kita hanya mengenang jasa para pahlawan setiap bulan Agustus, tetapi lupa melanjutkan nilai perjuangan mereka dalam kehidupan sehari-hari. Sebab kemerdekaan tidak akan bertahan hanya dengan mengenang jasa pahlawan; kemerdekaan akan bertahan apabila setiap generasi bersedia menjadi penerus perjuangan, mengubah iman menjadi amal, ilmu menjadi karya, dan kecintaan kepada negeri menjadi kontribusi yang nyata.

Inti Muhasabah: Apa yang Akan Kita Wariskan?

Jamaah Jumat rahimakumullah, mari sejenak kita merenung dan bertanya kepada diri sendiri: suatu hari nanti kita akan menjadi generasi yang disebut dalam sejarah sebagai generasi yang menerima kemerdekaan dari para pendahulunya. Lalu, apa yang akan kita wariskan kepada anak-anak kita? Apakah hanya gedung-gedung yang semakin tinggi, jalan-jalan yang semakin panjang, teknologi yang semakin canggih, dan kekayaan yang semakin banyak? Ataukah kita juga akan mewariskan iman, ilmu, akhlak, persatuan, dan semangat pengabdian? Sebab kemerdekaan sejatinya bukan hanya terbebas dari penjajahan, tetapi juga membebaskan manusia dari kebodohan, kemalasan, keserakahan, ketidakjujuran, perpecahan, dan penghambaan kepada hawa nafsu. Jangan sampai anak-anak kita hidup di negeri yang maju teknologinya, tetapi miskin keteladanan; mudah mendapatkan informasi, tetapi sulit menemukan kebenaran; memiliki banyak fasilitas, tetapi kehilangan arah kehidupan. Para pendahulu kita telah mewariskan kemerdekaan kepada kita dengan pengorbanan yang besar. Maka jangan sampai kita mewariskan kepada anak cucu sebuah negeri yang merdeka secara nama, tetapi kehilangan iman, akhlak, kejujuran dan persaudaraan. Biarlah kelak ketika nama kita disebut, anak cucu kita tidak hanya berkata, “Mereka pernah hidup di zaman kemerdekaan,” tetapi juga berkata, “Mereka telah menjaga kemerdekaan itu dengan iman, amal, dan pengorbanan.”

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ الزَّادِ لِيَوْمِ الْمَعَادِ تَقْوَى اللَّهِ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ﴾

Penutup: tiga amanah yang harus dibawa pulang

Jamaah Jumat rahimakumullah, sebelum kita meninggalkan masjid ini, marilah kita bawa pulang tiga amanah. Pertama, syukuri kemerdekaan dengan iman. Jangan jadikan kebebasan sebagai jalan untuk semakin jauh dari Allah, tetapi jadikan ia kesempatan untuk semakin banyak beribadah, berbuat baik, dan memberi manfaat. Kedua, jaga kemerdekaan dengan amanah. Setiap kita memiliki tanggung jawab sesuai perannya; sebagai orang tua, guru, pemuda, pekerja, pedagang, pemimpin maupun anggota masyarakat, tunaikan amanah itu dengan jujur dan sebaik-baiknya. Ketiga, isi kemerdekaan dengan amal. Jangan hanya menjadi penonton sejarah yang pandai mengenang perjuangan para pendahulu, tetapi jadilah bagian dari kebaikan sejarah dengan ilmu, kejujuran, persatuan, pengabdian dan amal nyata. Semoga Allah menjadikan kemerdekaan yang kita nikmati sebagai nikmat yang membawa keberkahan, bukan nikmat yang membuat kita lalai. Marilah kita berdoa:

اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اللَّهُمَّ احْفَظْ إِنْدُونِيسِيَا وَأَهْلَهَا مِنْ كُلِّ سُوءٍ وَمَكْرُوهٍ، وَاجْعَلْهَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، وَارْزُقْ أَهْلَهَا الْأَمْنَ وَالْأَمَانَ وَالسَّكِينَةَ وَالطُّمَأْنِينَةَ.

اللَّهُمَّ بَارِكْ فِي إِنْدُونِيسِيَا وَفِي أَرْضِهَا وَمِيَاهِهَا وَمَوَارِدِهَا، وَأَدِمْ عَلَيْهَا نِعَمَكَ وَخَيْرَاتِكَ، وَاصْرِفْ عَنْهَا الْبَلَاءَ وَالْفِتَنَ وَالْمَصَائِبَ وَالْكَوَارِثَ.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ بِلَادِنَا، وَأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَأَعِنْهُمْ عَلَى الْعَدْلِ وَالْأَمَانَةِ وَالْحَقِّ وَخِدْمَةِ الشَّعْبِ وَالْبِلَادِ.

اللَّهُمَّ احْفَظْ إِنْدُونِيسِيَا مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَاحْفَظْهَا مِنَ الْفَسَادِ وَالظُّلْمِ وَالْفُرْقَةِ وَالْعَدَاوَةِ وَالْكَرَاهِيَةِ.

اللَّهُمَّ اجْمَعْ قُلُوبَ أَبْنَاءِ إِنْدُونِيسِيَا عَلَى الْإِيمَانِ وَالْخَيْرِ وَالْمَحَبَّةِ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ، وَاجْعَلْهُمْ مُتَعَاوِنِينَ عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى.

اللَّهُمَّ احْفَظْ شَبَابَنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَأَصْلِحْهُمْ وَاهْدِهِمْ، وَاجْعَلْهُمْ جِيلًا صَالِحًا مُصْلِحًا، عَالِمًا نَافِعًا، مُخْلِصًا لِدِينِهِ، مُحِبًّا لِبِلَادِهِ، نَافِعًا لِعِبَادِكَ.

اللَّهُمَّ ارْزُقْ أَهْلَ إِنْدُونِيسِيَا الْإِيمَانَ وَالتَّقْوَى، وَالْعِلْمَ وَالْعَمَلَ، وَالرِّزْقَ الْوَاسِعَ الْحَلَالَ، وَالْحَيَاةَ الطَّيِّبَةَ، وَالْبَرَكَةَ فِي الْأَعْمَارِ وَالْأَرْزَاقِ وَالْأَعْمَالِ.

اللَّهُمَّ اشْفِ مَرْضَانَا، وَارْحَمْ مَوْتَانَا، وَفَرِّجْ كُرُبَاتِ الْمَكْرُوبِينَ، وَاقْضِ حَوَائِجَ الْمُحْتَاجِينَ، وَأَطْعِمْ جَائِعَنَا، وَاكْسُ عَارِيَنَا، وَآمِنْ خَائِفَنَا، وَاحْفَظْ ضُعَفَاءَنَا.

اللَّهُمَّ احْفَظْ إِنْدُونِيسِيَا مِنَ الزَّلَازِلِ وَالْبَرَاكِينِ وَالْفَيَضَانَاتِ وَالِانْهِيَارَاتِ وَالْحَرَائِقِ وَسَائِرِ الْكَوَارِثِ، وَالْطُفْ بِعِبَادِكَ فِي كُلِّ مَكَانٍ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ إِنْدُونِيسِيَا دَارَ أَمْنٍ وَإِيمَانٍ، وَدَارَ عِلْمٍ وَعُمْرَانٍ، وَدَارَ عَدْلٍ وَإِحْسَانٍ، وَاجْعَلْهَا بَلَدًا طَيِّبًا مُبَارَكًا، تَسُودُهَا الْعَدَالَةُ وَالطُّمَأْنِينَةُ وَالْأُخُوَّةُ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا، سَخَاءً رَخَاءً، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ، وَاحْفَظْهَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ وَسُوءٍ، وَزِدْهَا مِنْ خَيْرِكَ وَفَضْلِكَ وَبَرَكَاتِكَ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُسَاهِمِينَ فِي صَلَاحِ إِنْدُونِيسِيَا، وَاجْعَلْنَا سَبَبًا لِلْخَيْرِ وَالْإِصْلَاحِ، وَلَا تَجْعَلْنَا سَبَبًا لِلْفَسَادِ وَالْأَذَى، وَوَفِّقْنَا لِخِدْمَةِ دِينِنَا وَبِلَادِنَا وَعِبَادِكَ.

اللَّهُمَّ احْفَظْ إِنْدُونِيسِيَا وَأَهْلَهَا، وَاجْعَلْ مُسْتَقْبَلَهَا خَيْرًا مِنْ مَاضِيهَا، وَاجْعَلْ أَجْيَالَهَا الْقَادِمَةَ أَصْلَحَ وَأَهْدَى وَأَنْفَعَ، وَاخْتِمْ لَهَا بِالْخَيْرِ وَالْبَرَكَةِ وَالْأَمْنِ وَالِاسْتِقْرَارِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

عبادَ اللهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Oleh : Santri Darsya

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansSuka
12,700PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
9,600PelangganBerlangganan
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img

Silakan tulis komentar Anda demi perbaikan artikel-artikel kami